Responsive Ad Slot

Showing posts with label Seni dan Budaya. Show all posts
Showing posts with label Seni dan Budaya. Show all posts

WoW... Cantiknya Gadis Penari Banyuwangi

No comments

Sunday, December 4, 2022


"Kalau ada festival tari, ribuan anak berlomba untuk ikutan. Hampir tiap gadis Banyuwangi bisa menari," tutur Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Tak hanya gemulai, para gadis ini juga terkenal cantik. Penasaran?

Ini adalah tahun ketiga Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar festival tari Gandrung. Akhir pekan lalu, 1.200 gadis menari Gandrung bersama di pesisir Pantai Boom.

detikTravel berkesempatan melihat para gadis bersiap sebelum pertunjukan. Saat melenggok di depan tamu dan wisatawan, banyak yang terhipnosis kecantikan mereka!

1. Para gadis penari
Sekitar 1.200 gadis Banyuwangi menari bersama di Pantai Boom. Mereka berasal dari 24 kecamatan di seantero Banyuwangi.

Para penari ini berasal dari ragam usia. Mayoritas masih SMU, ada pula yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

 
2. Kostum penari Gandrung 


Gandrung adalah salah satu tari khas Banyuwangi yang berintikan rasa syukur terhadap karunia Tuhan YME. Kostumnya didominasi warna merah, hitam, serta emas.

Mereka mengenakan mahkota dan membawa kipas, serta sapu lidi yang dihias pita warna-warni. Sapu lidi melambangkan pembersihan diri dan memohon ampun kepada Tuhan YME.


3. Bendera Merah Putih 
 
Di bagian belakang tubuh penari, terdapat 2 bendera Merah Putih. Alkisah, dulu tari Gandrung dipertunjukkan di depan pejabat kolonial Belanda. Namun tari ini juga merupakan 'kode' bagi para pribumi untuk melawan.

Bendera Merah-Putih itu adalah kodenya. Pada awalnya, penari Gandrung dibawakan seorang laki-laki berkostum perempuan. Namun lambat laun Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan perempuan.


4. Festival Gandrung Sewu 
 
Ini adalah festival ketiga yang mempertunjukkan tari Gandrung. Pertunjukan kolosal ini diawali dengan munculnya beberapa lelaki yang membawa penjor. Ceritanya, mereka adalah mantan prajurit Blambangan yang tengah berusaha mengumpulkan rekan-rekan seperjuangannya di masa lalu.

Setelah terkumpul beberapa orang, mereka menasbihkan diri sebagai Gandrung Marsan (Gandrung laki-laki). Kemunculan Gandrung Marsan ini tepat pada masa pemerintahan Bupati ke-5 Banyuwangi, yakni Bupati Pringgokusumo.


5. Gadis Banyuwangi yang lihai menari 
 
Rupanya bagi para gadis Banyuwangi, tarian tradisional merupakan satu keahlian yang krusial. Hampir semua gadis di Banyuwangi bisa menari. Oleh karena itu, tak sulit mencari 1.200 gadis untuk menari Gandrung bersama.

"Waktu pertama diumumkan, peserta yang daftar mencapai 2.000 orang. Itupun harus diseleksi terlebih dahulu," tutur Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas kepada detikTravel beberapa waktu lalu.

Menurut Cerita, Nini Thowong Itu Saudara Perempuan Jailangkung dari Bantul Jogja

No comments

Tuesday, March 31, 2020


Nini Thowong merupakan sebuah hiburan tradisional masyarakat Jawa yang sangat unik karena tidak ditemukan di daerah lain. Selain ituNini Thowong sarat dengan unsur seni, tradisi dan mistis yang tinggi. Hal-hal tersebut yang membuat penulis tertarik untuk membahas tentang Nini Thowong.


Nini Thowong merupakan boneka perempuan yang menurut cerita adalah saudara perempuan dari jailangkung. Mengapa dinamakan Nini Thowong? Karena mukanya putih (thowong). Disebut “Nini”, karena jenis kelaminnya perempuan. Konon, dulu ada seorang gadis, yang perangainya jahat. Dia disihir oleh tetangganya, jadilah Nini Thowong.

Kebudayaan yang dimiliki setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai corak yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan adanya pengaruh lingkungan alam di sekitar masyarakat suku bangsa itu bertempat tinggal. Hasil kebudayaan itu diantaranya adalah bentuk peralatan hiburan dan kesenian tradisional. Di Daerah Istimewa Yogyakarta banyak sekali jenis-jenis peralatan hiburan dan kesenian tradisional tersebut.

Sebagai contoh permainan tradisional yaitu Nini Thowong. Permainan ini berasal dari Grudo, Panjangrejo, Pundong, Bantul. Nini Thowong adalah nama permainan berupa boneka dari tempurung kelapa, rangka bambu dan diberi pakaian seperti orang. Permainan Nini Thowong berfungsi sosial dan religius magis. Berfungsi sosial karena mampu mengumpulkan anak-anak desa bermain bersama. Berfungsi religius magis karena ada semacam kepercayaan bahwa Nini Thowong yang sudah kemasukan roh halus bisa menunjukkan obat bagi yang sakit, dan bila dituruti si sakit dapat sembuh. Permainan Nini Thowong ini menyebar dari mulut ke mulut

Nini thowong merupakan kesenian nenek moyang zaman dahulu yang dimainkan pada waktu senggang. Bentuk nini thowong tersusun dari siwur (gayung dari batok), enjet, angus (arang) untuk menggambar wajah. Bahan-bahan tersebut disusun menyerupai bentuk manusia lalu dipakaikan kebaya, sarung dan diberi daun-daun yang berasal dari kuburan. Setelah siap, boneka tersebut dibawa ke pohon besar yang angker dan diberi sesajen yang bertujuan untuk memanggil dan agar kemasukan arwah.

Pada zaman dahulu, Nini thowong dimainkan pada saat mongso ketigo (musim kemarau) di bawah bulan purnama. Tetapi pada zaman sekarang nini thowong dimainkan pada saat acara-acara tertentu dan pada malam minggu. Bentuk mukanya juga telah dimodifikasi dengan gabungan antara topeng dan siwur (gayung). Nini thowong dimainkan oleh perempuan, sedangkan yang membawa dan mengangkut dari tempat kediamannya adalah seorang laki-laki yang bernama Bapak Wahyudiyo.

Permainan ini tidak memiliki tujuan tertentu baik itu ritual maupun semacamnya. Pada saat memainkan boneka nini thowong ini tidak diperlukan sesajen, hanya mengalungkan bunga telon. Permainan ini diiringi oleh gejug lesung dan gamelan mega mendung. Pada zaman dulu diiringi tembang tetapi sekarang diiringi lagu Prahu Layar.

Nini Thowong dan Gejog Lesung sebagai sebuah kesenian budaya memiliki nilai sosial dan religius magis. Dimaksud nilai sosial karena pelestari kesenian ini merupakan warga desa dari desa wisata Kebon Agung, sehingga secara tidak langsung kesenian ini dapat menyatukan warga. Berfungsi religius magis karena ada semacam kepercayaan bahwa Nini Thowong yang sudah kemasukan roh halus bisa menunjukkan obat bagi yang sakit, dan bila dituruti si sakit dapat sembuh.

Jika Nini Thowong pada jaman dahulu merupakan sebuah budaya animisme yang ketika memainkan Nini Thowong ini mempunyai suatu maksud tertentu, saat ini Nini Thowong hanya merupakan sebuah pementasan yang bertujuan untuk menghibur tanpa mempunyai maksud magis apapun (misal upacara pemanggilan hujan atau ritual pengobatan).

Dalam tarian Nini Thowong sebuah patung atau boneka menjadi hal yang wajib, boneka inilah yang disebut dengan Nini Thowong. Boneka didandani dengan pakaian lengkap dan dirias layaknya seorang penari sungguhan. Selain sarat dengan unsur seni pada jaman dulu tarian nini thowong juga ada unsur magisnya.



.







PESANGGRAHAN AMBARKETAWANG , Tempat 'Leyeh-leyeh' Para Raja Ngayogyakarta Hadiningrat

No comments
Bekas Tempat Pesanggrahan Ambarketawang yang tersisa.

SALAH satu situs cagar budaya yang turut memperkaya Keistimewaan Yogyakarta adalah Pesanggrahan Ambarketawang. Selama ini Pesanggrahan Ambarketawang dikenal sebagai tempat tinggal sementara Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi) ketika menunggu selesainya pembangunan Kraton Yogyakarta pasca disepakatinya Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755.

Tidak disebutkan secara pasti berapa lama Sultan Hamengku Buwono I menempati Pesanggrahan Ambarketawang. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan bahwa landscape utama Kraton Yogyakarta diselesaikan 7 Oktober 1756 dan pada saat itu juga Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarganya menempati Kraton Yogyakarta.

Pesanggrahan Ambarketawang sejatinya sudah berdiri sebelum Perjanjian Giyanti ditandatangani. Tempat itu sebelumnya bernama Purapara yang berarti gedung bagi orang yang tengah bepergian. Raja-raja dinasti Mataram Islam menggunakan Purapara sebagai tempat beristirahat setelah berburu. Nama Ambarketawang sendiri berasal dari kata ambar yang berarti harum dan ketawang yang memiliki arti tempat yag tinggi.

Meski hanya ditinggali dalam waktu singkat tentu saja Pesanggrahan Ambarketawang pasti dilengkapi dengan fasilitas paling lengkap pada zamannya. Sebab yang menempati pesanggrahan itu adalah seorang raja yang memiliki kekuasaan cukup luas.

Sayangnya, dua abad kemudian hampir tidak ada lagi bangunan yang tersisa dari Pesanggrahan Ambarketawang. Tidak ada lagi bangunan-bangunan yang layaknya ada pada bangunan milik bangsawan atau raja semisal bangunan utama, patirtaan (pemandian), kandang kuda dan sebagainya. Yang masih tersisa dari Pesanggrahan Ambarketawang saat ini hanyalah sisa-sisa benteng, sisa-sisa bangunan dan urung-urung (saluran air). Saat ini Pesanggrahan Ambarketawang berada dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta.

Menurut Ating (28), petugas BPCB yang menjaga kebersihan situs cagar budaya ini, saat ini sesekali ada kunjungan dari berbagai pihak di Pesanggrahan Ambarketawang. Mahasiswa arkeologi beberapa universitas juga sesekali mengadakan penelitian ditempat itu. Dari buku tamu yang ada disodorkan Ating pada media memang cukup beragam kalangan yang mengunjungi tempat tersebut.

“Dahulu di tempat ini pada waktu-waktu tertentu digunakan acara macapatan penduduk sekitar, namun kegiatan itu terhenti setelah penggiatnya meninggal,” kata Ating.


Gila ! 250 Arsip Jawa Ada di Inggris

No comments

Sunday, July 21, 2019

Peter Carey (paling kiri) dan Annabel The Gallop saat menjadi pembicara dalam Khasanah Arsip Yogyakarta  yang diselnggrakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, 
Keberadaan Rafles yang hanya sebentar di Indonesia (1811-1816), mampu membawa perubahan yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya Yogyakarta. Salah satu sepak terjang Rafles di Yogyakarta yang hingga saat ini dirasakan dampaknya oleh masyarakat Yogyakarta adalah Bedhah Keraton Yogyakarta dahulu.
Bedhah Keraton tersebut mengakibatkan hilangnya semua babad dan naskah dari Gedung Pacarikan yang kemudian dibagikan kepada pejabat dan perwira tinggi Inggris dan di boyong ke Inggris paska 1816.
Hal tersebut disampaikan Peter Carey seorang sejarawan Inggris dalam seminar Khasanah Arsip Yogyakarta Di Masa Thomas Stamford Raffles yang diselnggrakan oleh Badan Perpustakaan dan ArsipDaerah (BPAD) DIY di Hotel Inna Garuda Yogyakarta.
Menurut sejerawan yang telah 40 tahun meneliti sejarah Jawa tersebut, dampak dari hilangnya pusaka sastra dari keraton Yogyakarta tersebut juga dirasakan oleh Pangeran Diponegoro.
Dijelesakannya, karena kehilangan pusaka sastra tersebut pengeran Diponegoro merasa seperti saat membangun keraton baru di kawasan Beligo Magelang yang harus memulai suatu hal dari awal kembali.
Sementara itu, juga hadir dalam seminar tersebut Lead Curator Southeast Asia British Library, Annabel The Gallop. Dikatakannya, British Library memiliki sekitar 10 ribu buku dan 500 naskah yang berasal dari Indonesia. Dari jumlah tersebut ada 250 naskah Jawa.
“Beberapa waktu yang lalu, saat rombongan BPAD DIY datang ke British Library mereka mengungkapkan kegembiraanya karena arsip yang berasal dari Yogyakarta terjaga dan terawat yang baik. Selain merawat arsip, kami juga melakukan digitalisasi terhadap arsip yang ada. Tetapi karena keterbatasan anggaran, baru sedikit arsip yang kami digitalisasikan,” ungkap Annabel.

Konon, Nini Thowong Itu Saudara Perempuan Jailangkung dari Bantul Jogja

No comments

Nini Thowong merupakan sebuah hiburan tradisional masyarakat Jawa yang sangat unik karena tidak ditemukan di daerah lain. Selain ituNini Thowong sarat dengan unsur seni, tradisi dan mistis yang tinggi. Hal-hal tersebut yang membuat penulis tertarik untuk membahas tentang Nini Thowong.

Nini Thowong merupakan boneka perempuan yang menurut cerita adalah saudara perempuan dari jailangkung. Mengapa dinamakan Nini Thowong? Karena mukanya putih (thowong). Disebut “Nini”, karena jenis kelaminnya perempuan. Konon, dulu ada seorang gadis, yang perangainya jahat. Dia disihir oleh tetangganya, jadilah Nini Thowong.


Kebudayaan yang dimiliki setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai corak yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan adanya pengaruh lingkungan alam di sekitar masyarakat suku bangsa itu bertempat tinggal. Hasil kebudayaan itu diantaranya adalah bentuk peralatan hiburan dan kesenian tradisional. Di Daerah Istimewa Yogyakarta banyak sekali jenis-jenis peralatan hiburan dan kesenian tradisional tersebut.

Sebagai contoh permainan tradisional yaitu Nini Thowong. Permainan ini berasal dari Grudo, Panjangrejo, Pundong, BantulNini Thowong adalah nama permainan berupa boneka dari tempurung kelapa, rangka bambu dan diberi pakaian seperti orang. Permainan Nini Thowong berfungsi sosial dan religius magis. Berfungsi sosial karena mampu mengumpulkan anak-anak desa bermain bersama. Berfungsi religius magis karena ada semacam kepercayaan bahwa Nini Thowong yang sudah kemasukan roh halus bisa menunjukkan obat bagi yang sakit, dan bila dituruti si sakit dapat sembuh. Permainan Nini Thowong ini menyebar dari mulut ke mulut.



Nini thowong merupakan kesenian nenek moyang zaman dahulu yang dimainkan pada waktu senggang. Bentuk nini thowong tersusun dari siwur (gayung dari batok), enjet, angus (arang) untuk menggambar wajah. Bahan-bahan tersebut disusun menyerupai bentuk manusia lalu dipakaikan kebaya, sarung dan diberi daun-daun yang berasal dari kuburan. Setelah siap, boneka tersebut dibawa ke pohon besar yang angker dan diberi sesajen yang bertujuan untuk memanggil dan agar kemasukan arwah.

Pada zaman dahulu, Nini thowong dimainkan pada saat mongso ketigo (musim kemarau) di bawah bulan purnama. Tetapi pada zaman sekarang nini thowong dimainkan pada saat acara-acara tertentu dan pada malam minggu. Bentuk mukanya juga telah dimodifikasi dengan gabungan antara topeng dan siwur (gayung). Nini thowong dimainkan oleh perempuan, sedangkan yang membawa dan mengangkut dari tempat kediamannya adalah seorang laki-laki yang bernama Bapak Wahyudiyo.


Permainan ini tidak memiliki tujuan tertentu baik itu ritual maupun semacamnya. Pada saat memainkan boneka nini thowong ini tidak diperlukan sesajen, hanya mengalungkan bunga telon. Permainan ini diiringi oleh gejug lesung dan gamelan mega mendung. Pada zaman dulu diiringi tembang tetapi sekarang diiringi lagu Prahu Layar.

Nini Thowong dan Gejog Lesung sebagai sebuah kesenian budaya memiliki nilai sosial dan religius magis. Dimaksud nilai sosial karena pelestari kesenian ini merupakan warga desa dari desa wisata Kebon Agung, sehingga secara tidak langsung kesenian ini dapat menyatukan warga. Berfungsi religius magis karena ada semacam kepercayaan bahwa Nini Thowong yang sudah kemasukan roh halus bisa menunjukkan obat bagi yang sakit, dan bila dituruti si sakit dapat sembuh.

Jika Nini Thowong pada jaman dahulu merupakan sebuah budaya animisme yang ketika memainkan Nini Thowong ini mempunyai suatu maksud tertentu, saat ini Nini Thowong hanya merupakan sebuah pementasan yang bertujuan untuk menghibur tanpa mempunyai maksud magis apapun (misal upacara pemanggilan hujan atau ritual pengobatan).

Dalam tarian Nini Thowong sebuah patung atau boneka menjadi hal yang wajib, boneka inilah yang disebut dengan Nini Thowong. Boneka didandani dengan pakaian lengkap dan dirias layaknya seorang penari sungguhan. Selain sarat dengan unsur seni pada jaman dulu tarian nini thowong juga ada unsur magisnya.



Budaya Memetri Sungai Kini Mulai Dikenal Masyarakat Yogyakarta

No comments
Art Performance di Bantaran Sungai Winongo.
Tradisi budaya yang sempat ada di Kali Winongo mulai diangkat kembali melalui ritual memetri sungai yang digelar. Jika dulu tradisi itu untuk membersihkan diri dari hal negatif, maka kini ditujukan sebagai komitmen warga dalam menjaga kelestarian sungai. 

Koordinator Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) Endang Rohjiani mengungkapkan, aksi budaya tersebut baru pertama kalinya ia gelar. "Kami ingin menarik perhatian warga agar terus mencintai sungai. Air adalah sumber kehidupan sehingga harus dijaga," terangnya di sela memetri yang digelar di pinggiran Kali Winongo Titik 5 Pakalan (Pakuncen-Ngampilan). 

Aksi budaya memetri sungai itu jadi rangkaian Festival dan Gelar Budaya Winongo 2014. Sebelum ritual dimulai, warga juga diajak susur sungai di bantaran Winongo guna melihat titik rawan sampah serta rawan longsor. 

Endang menambahkan, pada saat lalu terjadi banjir yang cukup besar di Kali Winongo. Kendati tidak berhulu di Merapi, namun luapan air tersebut menyebabkan ratusan rumah warga terendam. 

Oleh karena itu pihaknya akan terus mengajak masyarakat agar tidak membuang sampah maupun limbah ke sungai. Terlebih sudah ada perencanaan jangka panjang untuk menjadikan Kali Winongo sebagai pusat wisata pada 2030. "Kami sudah petakan delapan titik untuk penataan. Tahap pertama dijadikan sebagai ruang terbuka hijau dan nanti berkelanjutan untuk penataan lain," imbuhnya. 

Koordinator Titik 5 Pakalan Suharyanto menambahkan, guna menekan pembuangan sampah ke sungai, warga di bantaran kini terus disosialisasikan untuk membentuk bank sampah. Beberapa kelompok warga bahkan sudah aktif mengelola sekaligus mengolah sampah yang didampingi oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta. 

Terkait dengan aksi budaya memetri sungai, menurutnya akan selalu digelar menjadi agenda tahunan. Harapannya kelak tidak sekadar mengingatkan warga setempat untuk mencintai sungai, melainkan bisa menjadi daya tarik wisatawan. "Memetri itu kan sama halnya dengan uri-uri atau ngopeni. Kewajiban kita untuk menjadikan sungai sebagai sahabat," katanya. 

Seni Tradisional Jogja ! Jathilan, Nek Ora Ndadi Ora Njathil ...

No comments
Di pelataran Pakualaman digelar pertunjukan Jathilan yang meramaikan acara Atraksi Seni Budaya. Kelompok yang tampil pada hari ini ialah kelompok Jathilan Kudho Mudho Wirogo, dari desa Babadan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, dengan pimpinan Bapak Prapto Sudarmo.   

Penampilan Jathilan dari Kelompok Mudho Wirogo yang atraktif ini nampaknya mampu membuat penonton setia berdiri kepanasan dan berdesak-desakan selama berjam-jam. Apalagi saat klimaks pertunjukan, di mana para penari jathilan mulai ndadi atau memasuki kondisi kehilangan kesadaran pikiran. 

Beberapa penonton, terutama wanita mulai mundur menjauh dari lapangan pertunjukan, mereka mulai menggandeng tangan pasangannya, sembari berkata, “Mas, Aku wedi (Mas, Aku takut).” Meski berkata takut, tapi mata masih saja lekat tertuju pada penari yang ndadi.   

Biasanya si pasangan (laki-laki) akan menjawab ungkapan takut wanitanya dengan jawaban, “Ora usah wedi dek, kui ya uga iso mung etok-etok, kui direncanakan (Ga usah takut dik, itu bisa jadi Cuma pura-pura, itu direncanakan).   

Ekspresi-ekspresi semacam ini menunjukan bahwa, para penonton penasaran. Mereka takut ataupun tidak, para penari yang ndadi  sekedar akting atau memang benar-benar trance, mereka tidak peduli. Yang penting adalah mereka bisa menyaksikan atraksi Ndadi. “Njathil ora ndadhi yo ora asyik!,” ungkap Dedi (31) yang bersemangat menonton pertunjukan di Atraksi Seni Budaya. 

Jathilan dan Ndadi adalah satu kesatuan, ibarat sayur dan garam. Apalah enaknya sayur tanpa garam, begitupun apalah indahnya Jathilan tanpa Ndadi?

PESANGGRAHAN AMBARKETAWANG , Tempat Nyantai Para Raja Ngayogyakarta Hadiningrat

No comments
Bekas Tempat Pesanggrahan Ambarketawang yang tersisa.
SALAH satu situs cagar budaya yang turut memperkaya Keistimewaan Yogyakarta adalah Pesanggrahan Ambarketawang. Selama ini Pesanggrahan Ambarketawang dikenal sebagai tempat tinggal sementara Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi) ketika menunggu selesainya pembangunan Kraton Yogyakarta pasca disepakatinya Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755. 

Tidak disebutkan secara pasti berapa lama Sultan Hamengku Buwono I menempati Pesanggrahan Ambarketawang. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan bahwa landscape utama Kraton Yogyakarta diselesaikan 7 Oktober 1756 dan pada saat itu juga Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarganya menempati Kraton Yogyakarta. 

Pesanggrahan Ambarketawang sejatinya sudah berdiri sebelum Perjanjian Giyanti ditandatangani. Tempat itu sebelumnya bernama Purapara yang berarti gedung bagi orang yang tengah bepergian. Raja-raja dinasti Mataram Islam menggunakan Purapara sebagai tempat beristirahat setelah berburu. Nama Ambarketawang sendiri berasal dari kata ambar yang berarti harum dan ketawang yang memiliki arti tempat yag tinggi.

Meski hanya ditinggali dalam waktu singkat tentu saja Pesanggrahan Ambarketawang pasti dilengkapi dengan fasilitas paling lengkap pada zamannya. Sebab yang menempati pesanggrahan itu adalah seorang raja yang memiliki kekuasaan cukup luas. 

Sayangnya, dua abad kemudian hampir tidak ada lagi bangunan yang tersisa dari Pesanggrahan Ambarketawang. Tidak ada lagi bangunan-bangunan yang layaknya ada pada bangunan milik bangsawan atau raja semisal bangunan utama, patirtaan (pemandian), kandang kuda dan sebagainya. Yang masih tersisa dari Pesanggrahan Ambarketawang saat ini hanyalah sisa-sisa benteng, sisa-sisa bangunan dan urung-urung (saluran air). Saat ini Pesanggrahan Ambarketawang berada dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta. 

Menurut Ating (28), petugas BPCB yang menjaga kebersihan situs cagar budaya ini, saat ini sesekali ada kunjungan dari berbagai pihak di Pesanggrahan Ambarketawang. Mahasiswa arkeologi beberapa universitas juga sesekali mengadakan penelitian ditempat itu. Dari buku tamu yang ada disodorkan Ating pada media memang cukup beragam kalangan yang mengunjungi tempat tersebut.

“Dahulu di tempat ini pada waktu-waktu tertentu digunakan acara macapatan penduduk sekitar, namun kegiatan itu terhenti setelah penggiatnya meninggal,” kata Ating.

Menguak Dieng Culture Festival, Menikmati Seni Budaya di Udara Yang Maknyess !

No comments
Dieng Culture Festival 2014
Beberapa tempat wisata menggelar festival budaya untuk menarik minat para pengunjung yang berasal dari negara sendiri maupun mancanegara. Dataran tinggi Dieng sebagai salah satu kawasan wisata yang mulai dikenal luas tidak ingin menyia-nyiakan budaya masyarakatnya untuk ditampilkan dalam Dieng Culture Festival 2014. Festival ini digelar secara rutin setiap tahun dengan beragam rangkaian acara yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Bagi para wisatawan sangat dianjurkan untuk datang ke kawasan ini menjelang pembukaan festival yang kaya akan nilai budaya ini.
Dieng Culture Festival ke -5 tahun 2014 ini juga dijadikan sarana oleh pemerintah setempat untuk melestarikan adat istiadat yang mulai luntur karena tergerus jaman. Ada banyak sekali atraksi dan pertunjukan seni yang bisa anda nikmati diantaranya :
  • Karnaval seni budaya
  • Pementasan wayang kulit dan tari tradisional
  • Pameran kerajianan Dieng
  • Pesta kembang api
  • Ruwat cukur rambut anak gembel
Dieng Culture Festival 2014 sebagai pagelaran seni dan budaya terbesar di kawasan Dieng.
Info jadwal open trip ke Dieng tahun 2014, silahkan klik disini
Salah satu daerah yang menjadi destinasi wisata favorit Indonesia adalah Dieng. Dieng merupakan daerah yang termasuk kawasan vulkanik aktif, yang merupakan gunung api raksasa. Daerah Dieng terletak di kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Terjadi pembagian ke dalam dua kabupaten yang berbeda, karena Dieng sendiri memiliki wilayah yang cukup luas. Hingga menyentuh ke dalam wilayah dua kabupaten yang berbeda. Pembagian administrasi wilayah Dieng ke dalam dua kabupaten tersebut adalah sebagai berikut:
  • Dieng Kulon, yang merupakan wilayah Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara
  • Dieng Wetan, merupakan wilayah Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo
Meskipun terletak menyebar hingga menyentuh dua kabupaten yang berbeda, daerah Dieng sendiri bisa dikatakan masuk kategori daerah terpencil. Melihat letak geografis dan sarana akomodasi untuk sampai di daerah wisata alam ini.


Daerah Dieng yang merupakan wilayah vulkanik aktif, menjadikan Dieng memiliki tanah yang subur sehingga digarap sebagai lahan pertanian sayur-mayur. Sepanjang mata memandang akan disuguhi pemandangan hijau nan asri, jauh dari kata polusi. Sehingga sesuai untuk aktifitas refreshing mengusir kepenatan setelah berkutat dengan kesibukan harian yang menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Selain pemandangan yang menggugah mata memandang, anda juga akan menikmati udara yang bersih lagi segar. Suhu udara di daerah Dieng sendiri berkisar antara 15-20o C, sehingga anda bisa membuang jauh-jauh kipas milik anda.

Suhu daerah Dieng bisa mencapai 10o C pada malam hari, hal ini mengakibatkan adanya embun beku pada pagi harinya. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan istilah “bun upas” (embun racun), sebab embun ini dapat merusak tanaman sekitar. Sehingga saat hendak mengunjungi wisata vulkanik aktif ini sebaiknya mempersiapkan pakaian yang tebal, jangan pula melupakan obat-obatan pribadi. Hal ini bertujuan untuk menghindari flu, alergi dingin, dan gangguan kesehatan lainnya, sehingga wisata anda tetap nyaman.

Dieng Culture Festival 2014, Menikmati Seni Budaya di Udara Yang Maknyess !

No comments

Sunday, December 7, 2014

Dieng Culture Festival 2014
Beberapa tempat wisata menggelar festival budaya untuk menarik minat para pengunjung yang berasal dari negara sendiri maupun mancanegara. Dataran tinggi Dieng sebagai salah satu kawasan wisata yang mulai dikenal luas tidak ingin menyia-nyiakan budaya masyarakatnya untuk ditampilkan dalam Dieng Culture Festival 2014. Festival ini digelar secara rutin setiap tahun dengan beragam rangkaian acara yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Bagi para wisatawan sangat dianjurkan untuk datang ke kawasan ini menjelang pembukaan festival yang kaya akan nilai budaya ini.
Dieng Culture Festival ke -5 tahun 2014 ini juga dijadikan sarana oleh pemerintah setempat untuk melestarikan adat istiadat yang mulai luntur karena tergerus jaman. Ada banyak sekali atraksi dan pertunjukan seni yang bisa anda nikmati diantaranya :
  • Karnaval seni budaya
  • Pementasan wayang kulit dan tari tradisional
  • Pameran kerajianan Dieng
  • Pesta kembang api
  • Ruwat cukur rambut anak gembel
Dieng Culture Festival 2014 sebagai pagelaran seni dan budaya terbesar di kawasan Dieng.
Info jadwal open trip ke Dieng tahun 2014, silahkan klik disini
Salah satu daerah yang menjadi destinasi wisata favorit Indonesia adalah Dieng. Dieng merupakan daerah yang termasuk kawasan vulkanik aktif, yang merupakan gunung api raksasa. Daerah Dieng terletak di kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Terjadi pembagian ke dalam dua kabupaten yang berbeda, karena Dieng sendiri memiliki wilayah yang cukup luas. Hingga menyentuh ke dalam wilayah dua kabupaten yang berbeda. Pembagian administrasi wilayah Dieng ke dalam dua kabupaten tersebut adalah sebagai berikut:
  • Dieng Kulon, yang merupakan wilayah Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara
  • Dieng Wetan, merupakan wilayah Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo
Meskipun terletak menyebar hingga menyentuh dua kabupaten yang berbeda, daerah Dieng sendiri bisa dikatakan masuk kategori daerah terpencil. Melihat letak geografis dan sarana akomodasi untuk sampai di daerah wisata alam ini.


Daerah Dieng yang merupakan wilayah vulkanik aktif, menjadikan Dieng memiliki tanah yang subur sehingga digarap sebagai lahan pertanian sayur-mayur. Sepanjang mata memandang akan disuguhi pemandangan hijau nan asri, jauh dari kata polusi. Sehingga sesuai untuk aktifitas refreshing mengusir kepenatan setelah berkutat dengan kesibukan harian yang menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Selain pemandangan yang menggugah mata memandang, anda juga akan menikmati udara yang bersih lagi segar. Suhu udara di daerah Dieng sendiri berkisar antara 15-20o C, sehingga anda bisa membuang jauh-jauh kipas milik anda.

Suhu daerah Dieng bisa mencapai 10o C pada malam hari, hal ini mengakibatkan adanya embun beku pada pagi harinya. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan istilah “bun upas” (embun racun), sebab embun ini dapat merusak tanaman sekitar. Sehingga saat hendak mengunjungi wisata vulkanik aktif ini sebaiknya mempersiapkan pakaian yang tebal, jangan pula melupakan obat-obatan pribadi. Hal ini bertujuan untuk menghindari flu, alergi dingin, dan gangguan kesehatan lainnya, sehingga wisata anda tetap nyaman.

PEREMPUAN Dalam Perspektif Ke-Jawa-an

No comments

Wednesday, October 15, 2014

Postingan  ini khusus saya persembahkan kepada pembaca Kabar Jogja Lho dan seluruh pemerhati gender, kepada seluruh pembaca yang budiman, untuk berbicara, memberikan sumbang sih, membahas, berdiskusi seputar falsafah hidup, pandangan, persepsi, terhadap kaum perempuan. Tentu saja hal ini akan membawa kita ke dalam khasanah ideologi gender –feminisme– di mana ideologi feminisme bermula dari adanya PENILAIAN yang dilakukan oleh (terutama) otoritas/kekuasaan/dominasi kaum laki-laki (maskulin) terhadap kaum perempuan. Pada gilirannya penilaian tersebut mengkonstruksi SISTEM NILAI, di mana di dalamnya terdapat cara pandang (mind set) masyarakat terhadap kaum perempuan. Sistem nilai yang telah mengakar ke dalam tatanan masyarakat, mengkristal menjadi sistem sosial yang berlaku menjadi pedoman hidup, yang “dibakukan” ke dalam norma sosial, bahkan seringkali norma sosial tentang feminisme dijustifikasi dan dilegitimasi melalui norma hukum (hukum positif).
Celakanya, ideologi feminisme, terkonstruksi bukan melalui mekanisme sosial yang bersifat OBYEKTIF, alias tidak berlagsung apa adanya secara alamiah. Sebaliknya ideologi feminisme lebih merupakan PRODUK dari DOMINASI MASKULIN. Produk yang bersumber dari kekuasaan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan. Bahkan seringkali dalam ranah spiritual, kaum perempuan tetap saja dipandang remeh atau prioritas kedua setelah kaum laki-laki. Dengan kata lain perempun sekedar berperan sebagai pelengkap penderita. Jika kita mau jujur mengakui, isi kitab suci pun memberikan kesan seolah tuhan itu berjenis kelamin laki-laki. Lebih parah lagi, pada akhirnya tak sedikit dari kaum perempuan sendiri pun ikut-ikutan memberikan penegasan dominasi maskulin, melalui berbagai stigma yang dilekatkan pada dirinya sendiri.
Walau begitu tidak seluruh sistem sosial demikian adanya, terutama di dalam tatanan sosial masyarakat modern, masyarakat dengan tingkat kemakmuran yang tinggi seperti negara-negara di belahan Skandinavia, Eropa Barat, beberapa wilayah Amerika Serikat, Latin. Namun terasa ideologi gender yang cenderung berat sebelah, menampakkan dominasi kaum laki-laki (patriarchard dan patrilineal) terjadi di negara-negara benua Asia meliputi Timur Tengah, China, Indonesia, India, Malaysia.
Sebagai bukti bahwa ideologi gender yang bersifat berat sebelah, tidak adil, tidak seimbang,  telah sedemikian dalam mengkonstruksi pola pikir masyarakat dunia, yakni dirasukinya isi kitab suci dengan dominasi nilai-nilai maskulin. Sementara itu nilai feminin hanya menjadi obyek penderita saja, sebagai subordinat dari otoritas konsep tuhan yang cenderung maskulinisme. Sehingga membuat imajinasi kita sulit sekali membayangkan tuhan sebagai figur perempuan, oleh karena doktrin agama yang telah dijejalkan bertubi-tubi sejak kecil, baik melalui telinga, mata, maupun hidung. Saya berandai-andai, jika tuhan adalah perempuan, sepertinya dunia ini akan lebih tenteram dan damai. Tak ada lagi perang antar agama. Karena kaum perempuan, kenyataannya tidak memiliki nafsu mendominasi, mengalahkan, menghancurkan, yang berujung pada peperangan  sebesar yang dimiliki kaum laki-laki.
Pada kenyataannya, manusia telah membuat definisi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian menampakkan kadar subyektif dan berat sebelah dalam menilai. Diakui atau tidak, munculnya stigma (“stempel” negatif) terhadap kaum perempuan, hanya berdasar penilaian pada sisiminus-nya saja, bukan pada sisi plus dan esensinya.

EMPU
Coba sekarang kita buka lagi lembaran lama khasanah spiritual nusantara. Di mana kaum wanita disebut sebagai PER-EMPU-AN. Empuadalah istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki daya linuwih, waskita, berilmu tinggi, ahli sastra, menguasahi ilmu kasampurnaning urip, pembuat suatu karya agung.  Maka sangatlah tepat para leluhur bangsa Nusantara ini memberikan istilah per-EMPU-an untuk kaum wanita, tidak hanya sekedar menyebutnya sesuai jenis kemaluannya saja, tetapi lebih mulia karena menyebutnya melalui aspek esensinya yang lebih manusiawi, dan sekaligus sebagai bentuk apresiasi rasa penghormatan tinggi terhadap kaum wanita. Ya…per-empu-an. Merupakan satu-satunya sebutan paling tepat dan hebat di muka bumi untuk menyebut kaum wanita.

Harapan Jawa-Suriname Yang Buyar di Negeri Asal

No comments

Thursday, October 9, 2014

Keinginan kembali dan memperbaiki nasib di negeri sendiri gagal karena kurang modal dan tanah susah diolah. Mereka kembali ke "negeri pengasingan."

DI sudut ruang pamer Erasmus Huis, Jakarta, di mana sekira 60 foto orang Jawa-Suriname dipamerkan dari 20 September-15 November 2014, film pendek berjudul Javaanse Jongen: Its Way of Life diputar berulang-ulang. Soundtrack-nya lagu pop Jawa-Suriname berjudul “Lagu Tentrem”, dinyanyikan Stanlee Rabidin yang juga tokoh sentral film tersebut. Dalam pameran ini juga tersedia belasan buku mengenai Jawa-Suriname yang bisa dibaca pengunjung.

Masyarakat Jawa-Suriname sedang hajatan
Tahun depan, genap 125 tahun migrasi orang Jawa ke Suriname, koloni Belanda. Mereka menjadi pekerja kontrak di perkebunan sebagai pengganti budak yang dilarang tahun 1863. Sebelum mereka, pekerja kontrak berasal dari India-Britania, yang banyak ulah dan menuntut upah besar.
Gelombang pertama imigran dari Jawa datang pada 1890. Mereka, berjumlah seratus orang Jawa, ditempatkan di Marienburg, perkebunan tebu terbesar di Suriname. Periode 1890-1916, rerata orang Jawa datang ke Suriname berjumlah 700 orang per tahun. Jumlahnya berlipat pada 1916 setelah pekerja kontrak India-Britania tak lagi dipakai.

Pekerja kontrak dari Jawa meneken kontrak kerja selama lima tahun. Gajinya 60 sen untuk pekerja pria dan 40 sen untuk pekerja perempuan. Setelah kontrak selesai, mereka diizinkan pulang ke Jawa. Jika ingin menetap, mereka diberi uang 100 gulden dan sepetak tanah.

Masyarakat Jawa di Suriname
Kehidupan kuli kontrak mengenaskan. Pemerintah tak menyediakan sarana pendidikan. Pemerintah khawatir, jika mereka menjadi pandai, mereka keluar dari perkebunan dan bekerja di kota.
Johannes Coenraad Kielstra, mantan wakil jaksa di Hindia Belanda yang jadi gubernur Suriname (1933-1944), membuat kebijakan baru terhadap pekerja kontrak. Dia ingin membuat Suriname menjadi lebih berasa Asia. Imigran yang datang tidak ditempatkan langsung di perkebunan, melainkan disiapkan desa-desa khusus. Di desa ini, para imigran, termasuk dari Jawa, berhak membuat aturan sipil sendiri dan mengembangkan budaya asli mereka.

Hingga jelang Perang Dunia II, jumlah imigran dari Jawa mencapai 30 ribu orang. Tercatat 7.684 orang kembali ke Jawa ketika perang berakhir.
Gema kemerdekaan Indonesia sampai ke Suriname. Muncul keinginan kembali ke Jawa karena mereka merasa seperti di pengasingan. Namun mereka juga dihadapkan pada masalah kewarganegaraan. Pemerintah Belanda memberi waktu dua tahun kepada orang Jawa untuk memilih kewarganegaraan: warganegara Indonesia atau Belanda.
Situasi politik Suriname pun mendukung hal ini. Partai politik bisa dibentuk berdasarkan etnis. Orang Jawa membentuk dua partai: Persekutuan Bangsa Indonesia Suriname (PBIS) dan Kaum Tani Persatuan Indonesia (KTPI).

Wanita Jawa Suriname sedang jalan-jalan
KTPI, dipimpin Iding Soemita, memiliki komitmen memperbaiki nasib orang Jawa di Suriname dan menganjurkan anggotanya menjadi warganegara Indonesia. Sementara PBIS, dengan pentolannya, Salikin Hardjo, menganjurkan pendukungnya memilih warganegara Belanda. Ketika Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949, Salikin ditunjuk sebagai wakil masyarakat Jawa di Suriname.
Pendirian Salikin berubah setelah pengakuan kedaulatan. Dia mendirikan Jajasan ke Tanah Air (JTA) pada Mei 1951, yang mendorong orang Jawa Suriname kembali ke Jawa. Dalam waktu singkat dia berhasil menghimpun 2.000 keluarga.

Pemerintah Indonesia menerima permintaan JTA dengan syarat repatriasi tidak ditujukan ke Jawa karena sudah padat. Pemerintah memberi lahan seluas 2.500 hektar di daerah Tongar, sebelah utara Pasaman, Sumatra Barat. Mereka tiba di Tongar dengan kapal Lengkoeas pada 1954 dan mendirikan desa.

Asa membangun kehidupan yang lebih baik di negeri asal, buyar. Mereka menghadapi kesulitan keuangan. Tanah juga sulit diolah. Beberapa dari mereka akhirnya memilih kembali ke “tanah pengasingan”.

“Hanya hutan. Tak ada rumah, tak ada tempat buang hajat. Hanya barak besar yang disediakan. Setiap keluarga diberi jatah 4x4 meter. Tahun 1959, kami pindah ke Padang, sebab keadaan di sana tidak aman. Dan bulan Oktober 1964, kami memutuskan pulang kembali ke Suriname,” ujar Roemdjinah Wagina Soenawi, seperti dikutip Yvette Kopijn dan Harriette Mingoen dalam Stille Passanten: Levensverhalen van Javaans-Surinaamse Ouderen in Nederland.
Karena kesulitan itu, Salikin kena hujat. Orang Jawa di Suriname pun memutuskan tidak pulang ke Indonesia dan memilih menjadi warganegara Belanda.

The Misuh ( 1 ) : Misuh Itu Soal Rasa

No comments

Tuesday, September 30, 2014


Ekspresi Misuh
Saat  matahari bersinar cukup terik, Kru  menemui R Bima Slamet Raharja SS MA atau yang akrab disapa Mas Bimo ini di rumahnya, Jalan Balirejo, Timoho, Yogyakarta. Tanpa basa-basi, beliau langsung memberikan pendapatnya mengenai definisi misuh.

“Misuh itu dalam Bahasa Jawa punya dua arti. Arti yang pertama, misuh dari kata wisuh, yang artinya mencuci, yang kedua misuh yang artinya mengeluarkan kata-kata yang kurang enak didengarkan, atau pun dirasakan.”

Mas Bimo yang sehari-harinya aktif mengajar di Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini berpendapat pisuhan itu bisa muncul dengan berbagai tujuan. “Misuh itu bisa dilakukan untuk mengekspresikan ketidaksukaan terhadap pihak lain, menyatakan kekaguman, atau bahkan untuk mengumpat diri sendiri karena menyesal atas perbuatan sendiri. Ia adalah bahasa verbal yang muncul apa adanya, karena situasi hati orang yang mengeluarkan kata-kata pisuhan.”

Seperti halnya bahasa, lanjutnya, pisuhan itu lahir karena adanya kesepakatan antara penggunanya. Kosa kata yang dipakai sebagai kata pisuhan pun berkembang seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia. Kata-kata yang mengacu pada bagian tubuh, hewan, atau profesi tertentu jadi berubah fungsi jadi kata pisuhan dan dikenal luas.

Bahkan, dalam seni tradisi seperti pewayangan, misuh juga dikenal, meski tidak sembarangan dipakai, tergantung strata sosial dalam pertunjukkan wayang tersebut. Penggunaannya bisa secara langsung mau pun berupa sindiran (dalam bahasa Inggris disebut sarcasm.

“Kalau misuh itu disebut tradisi, memang benar, karena misuh itu sesuatu yang diturunkan, walau secara etika misuh jelas tidak pantas,” jelas pria kelahiran 24 Januari, 31 tahun yang lalu ini.
“Di dalam masyarakat kita, misuh itu sudah menjadi kebiasaan yang umum. Masalah bermoral tidaknya itu tergantung bagaimana masing-masing individu menyikapinya, karena masing-masing individu tumbuh dan berkembang di lingkungan pergaulan yang beda satu dengan yang lainnya.”
Sebenarnya, apa sih yang membuat pisuhan itu kasar, Mas?

“Yang jelas, kasar tidaknya pisuhan itu dimunculkan dari rasa yang dilahirkan dari si pengucap kata pisuhan. Bahasa itu memunculkan rasa, kalau kita terbiasa menggunakan bahasa yang halus, pasti orang akan menganggap kita pribadi yang halus dan santun.

Nah, kalau kita terbiasa menggunakan bahasa kasar seperti pisuhan, pasti orang memandang kita sebagai orang yang kasar. Selain itu, tentu saja situasi dan tempat juga akan mempengaruhi,” jawabnya.

Untuk perilaku misuh di lingkar pergaulan remaja, menurut Mas Bimo, ini adalah hasil dari budaya tiru yang diterima oleh remaja secara komunal. Ketika seorang remaja masuk ke dalam komunitas-komunitas yang ia temui, pasti ada satu istilah yang hanya dipahami oleh komunitas itu sendiri, salah satunya istilah yang digunakan untuk misuh.

“Ya di situ gaulnya remaja, ketika dia mengenal dan menggunakan kata-kata pisuhan, ada keakraban antar teman. Dan biasanya tiap daerah berbeda dalam menentukan kriteria gaul itu, karena tentu saja ada perbedaan budaya dan bahasa di setiap daerah,” ujarnya. *** Citta
Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde