Maukah engkau mendengar kisahku
aku ingin mendongeng padamu wahai bocah yang ayu nan lugu
sebuah kisah peradaban manusia di zamanku kini
zaman itu itu kusebut ia, zaman latto latto
Yang selalu bising meresahkan telinga
Jungkir balik abu-abu warna peradaban manusia di zaman itu
kamuflase neo-kompeni kembali mengebiri
untuk mimpi kuasa dunia dan berleha di satu kursi
bahtera meloncat-loncat menerobos gerbang angkasa
bumi diatur dari layar tanpa bicara
sulap dua jempol mengerakkan apa saja di dunia
Agama-agama menjadi alasan sengketa
saling benci hingga pertumpahan darah
bangsa-bangsa tak harus lagi ada identitas pembeda ia
adat dan budaya itu jaman usang
pasar-pasar rakyat keramaiannya tergilas hilang
manusia telah lupa ia manusia
wanita berpakaian pria, juga sebaliknya
Maling-memaling sibuk berjamaah
di atas mimbar bebas, kami asyik meraciknya
perniagaan syahwat bukan sebuah hal yang hina
yang bertahta lebih mulia dari para kharisma tetua
Semua anak wajib sekolah berjurusan kaya dan bertahta
bukan lagi jurusan siswa pemilik ilmu-ilmu bijaksana
yang salah menjadi benar, yang benar bisa masuk penjara
Kuatkan pondasiku dan saudara seiman-sebangsaku selalu, duh
gusti
menapaki jua mengembara di zaman latto latto ini
meski akar tunggang falsafah kami tengah di serabutkan
pilar-pilar karakter di gilas mafia penyusup pendidikan
oleh alunan madzab global yang kian bergentanyangan
Kurikulum memisahkan ilmu ber-Tuhan dan ilmu berkarir dunia
bukankah pencarian ilmu juga sebuah manivestasi tuk mengamba
wahai taman-taman karakter yang masih tersisa di zaman latto latto
teruslah engkau membuktikan
sebuah paradigma sejatinya apa itu pendidikan
membentuk manusia berkeadaban
bahwa di zaman latto latto ini
kami tak memulu mengejar akselerasi modern yang semakin tak
berperasaan
Ah, sungguh lucu dan asyiknya hidup di zaman latto latto itu
candaan kolosal yang selalu saja berulang sama
dalam tiap siklus perputaran zaman di hamparan bumi raya
rentengan mozaik berkeping-keping peradaban umat manusia


