Responsive Ad Slot

Kawruh Jawa : Antara Kasunyatan Budhi dan Kejawen

No comments

Sunday, August 31, 2014

Ajaran Jawa belum diketemukan sejarah awalnya, apa lagi dijelaskan dengan data-data. Kita seperti hanya bisa mendengar tanpa bisa menemukannya. Tetapi bukan berarti tidak ada dan tak dapat diketemukan. Di dalam ajaran yang sesungguhnya, hanya dapat dipahami melalui kesadaran instuisi kita. Seperti halnya ajaran Kasunyatan Jawa adalah tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan proses kejadian dari semua fenomena yang ada di alam semesta.
Kasunyatan Jawa adalah sabda nyata dan abadi. Ajaran ini tidak hanya berteori pada kansunyatan semata, namun memiliki banyak ilmu-ilmu kosmologi alamnya, simbol-simbol dan teknik spiritualitasnya yang unggul, serupa dengan masa-masa keunggulan Taoisme/Daoisme di Tiongkok. Kalau Kasunyatan Jawa dianggap tidak ada, maka tidak akan ada sejarah mencatat Siwa dan Budha bisa menemukan peradabannya di Jawa, apalagi seperti di Bali sekarang.
Pada zaman dulu, tidak ada perbedaan antara tradisi religi Jawa dengan Kansunyatannya. Kawruh Jawa sebagai filsafat disebut juga sebagai Kasunyatan, sementara tradisinya dalam tantra mantra dan yantra disebut juga sebagai Budho Jowo, atau juga disebut Siwo Budho Jowo, yang demikian karena tata caranya hampir bertradisi ritual seperti Hindu namun berperilaku seperti Budha.
Pada jamannya dikenal menjadi konsep perpaduan Tantrayana dengan karakter spiritualitas kejawaan tradisional. Kemudian terkondisikan masa keemasan budaya Candi-candi Hindu Budha dengan Candi-candi Pepunden di Jawa menemukan perpaduan konsepsi arsitektur yang unik dan khas, termasuk dalam seni sastra, budaya dan keagamaannya. Meski keragaman Hindu-Budha, namun masyarakat Jawa masih banyak yang memegang teguh pada tradisi candi pepunden dan ajaran keluhurannya.
Alkisah diceritakan banyaknya pendeta-pendeta Budho Jowo merasa sedih karena peperangan saudara di Jawa, hendak mencari kedamaian, hingga akhirnya meninggalkan pulau Jawa dan menetap ke Bali. Belakangan kisah ini menjadi inspirasi tentang Naskah Sabda Palon Naya Genggong. Sebelum pergi, Prabu Kerthabhumi, sang raja Majapahit terakhir, berusaha menahannya agar tidak pergi, namun usahanya gagal. Sabda Palon hanya berjanji akan kembali dengan orang-orang pilihannya beberapa ratus tahun kemudian. Karena terlanjur berjanji pada leluhur di tanah Jawa, akan menjaga keturunan-keturunannya di Bali, agar mereka rukun hidupnya dengan ajaran leluhurnya, pula bahagia dengan tradisi dan budayanya. Bagi Sabda Palon untuk memulihkan peradaban yang sedang sakit di Jawa, kelak akan kembali membawa keluhuran Jawa menyatu dengan alamnya setelah tersebarnya ajaran Budhi.
Kasunyatan Jawa, sebagai sebuah Kawruh Jawa dengan Siwaisme dan Buddhisme, bisa dikatakan telah bersinkretis dalam kehidupan masyarakat Jawa ratusan tahun lamanya, diakhir abad Lima hingga Lima Belas. Dalam sejarah keagamaan di Bali, kedatangan Sri Empu, Begawan, Bujangga maupun Brahmana dari Jawa dianggap sebagai pembawa sinkretis Siwa-Budha tiada henti di Bali. Hingga dalam perkembangannya kemudian, tradisi sastra keagamaan di Jawa berkembang menjadi bahasa persembahan dalam sesajian, banten, upakara maupun sastra-sastra mantranya. Filsafat maupun keagamaannya menjadi lebih khas dan berbaur dengan Hindu Bali sampai sekarang.
Sedangkan Kasunyatan Jawa di masyarakat Jawa sendiri, berkembang menjadi Kawruh Kejawen, menjadi tradisi yang menerapkan moralitas dan politik. Sementara Kawruh Budhi adalah keutamaan individual, yang lebih memusatkan dirinya dalam bentuk-bentuk paguyuban maupun penghayatan sendiri-sendiri. Gejolak bangkitnya Kejawen di Jawa, timbul dari kekecewaan masyarakat di Jawa atas situasi politik Demak akhir hingga Pajang berdiri, pada masa itu banyak sekali perbedaan pendapat antara Jawa Islam dengan kalangan penghayat Jawa tradisionalis.
Masa Sultan Agung, menjadikan Kejawen mulai menemukan tali simpulnya kembali, meski akhirnya berpengaruh menjadi Kejawen Islam di Jawa. Pada masa Kolonial Belanda, Kejawen menjadi lebih dikenal Kejawen Modern, yang menerapkan pola Tasawuf Islam, hingga dikalangan pesantren-pesantren berbasis Islam Jawa, para tokoh-tokohnya dikenal sebagai kalangan Makrifat Islam Jawa. Namun disebagiannya masih banyak yang sepenuhnya menolak adanya ajarannya bersinkretisme budaya Jawa.
Sedangkan masyarakat Jawa yang masih memegung teguh konsep Kasunyatan Jawa era paska Majapahit akhir hingga kekinian, yakni konsep tradisi dan ritualnya pada Pepunden, terus menurun jumlahnya. Perkembangan padepokan silat tradisional Jawa dan paguyuban penghayatan bermunculan spontanitas dan individual.
Dilain sisi, Kawruh Jawa lebih disematkan pada praktek ajaran-ajaran ilmu Dukun Jawa (instruktif & destruktif), ngelmu kedigdayaan, sindiran klenikisme dan sejenisnya. Selain itu di kalangan generasi sekarang, tradisi kejawaan dalam konsep Kasunyatan dianggap mengajarkan pesimisme, sedangkan ngelmu-ngelmu kedigdayaan lebih disukai sebagai ajaran sikap optimisme.

Kawruh Jawa : Lelaku Panembahan Senopati

No comments
TANAH JAWA memiliki banyak sosok tokoh yang bisa diteladani. Yang dimaksud diambil keteladannannya adalah dalam hal olah spiritual. Seperti halnya sosok Raja Mataram Islam pertama yakni Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.

Sebagai seorang raja, Panembahan Senopati yang hidup di lingkup istana, tak lalai dalam mengasah olah rasa dan tapa brata. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mencuri waktu dalam kesendirian dan lelaku.

Semua lelaku tersebut tertuang dalam serat Wedhatama yang berbunyi :


Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama 

Mencontoh laku yang baik
terhadap orang tanah Jawa
Tokoh besar di Ngeksiganda
Panembahan Senopati
berusaha dengan sungguh-sungguh
mengurangi hawa dan nafsu
dengan cara bertapa
yang dilakukan siang dan malam
mewujudkan perasaan senang bagi sesamanya. 

Samangsane pasamuan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kalakalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra

Ketika berada dalam pertemuan
membahas sesuatu dengan kerendahan hati                               
dan pada setiap kesempatan
Sekali-sekali menyepi
berkelana kemana-mana
Berusaha mengambil yang hakiki
Dalam keheningan batinnya
Dengan senantiasa berprihatin
Dengan cara mengurangi makan dan tidur

Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana 
Mrih pana pranaweng kapti 
Tis-tising tyas marsudi
Mardawaning budya tulus
Mesu reh kasudarman
neng tepining jalanidhi
Sruning brata kataman wahyu dyatmika 

Setiap keluar rumah
Selalu berkelana mencari tempat sepi
dengan tujuan meresapi ilmu sepuh
agar mengerti tiap-tiap tingkatan ilmu dan maknanya
ketajaman hati dimanfaatkan untuk menempa jiwa
untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus
dengan bertapa dan mengharapkan wahyu suci

Dari tiga cuplikan serat tersebut, kita bisa belajar dari lelaku dan olahrasa yang telah dicontohkan Panembahan Senopati. Hal yang patut dicatat, bahwa meski Panembahan Senopati sebagai Raja yang bergelimang dengan kenikmatan dunia, tetapi beliau tidak pernah tergoda dan senantiasa lelaku guna seluruh rakyat dan keturunannya.

Berbeda dengan kita yang hidup di dunia modern saat ini. Ketika kita bergelimang harta benda, justru kita malah melupakan yang hakiki dan kita cenderung justru terjerat dalam kenikmatan tersebut. Maka dari itu, alangkah baiknya kita mengkaji lagi lelaku dari hal yang telah dilakukan Panembahan Senopati itu.(

Pandangan Ketuhanan, Neraka dan Surga menurut Ajaran SITI JENAR & KEJAWEN

No comments
PERBANDINGAN ANTARA
AJARAN SYEH SITI JENAR
Dan PANDANGAN KEJAWEN
Mengenai Ketuhanan, Alam, dan Manusia


Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan
    Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.
    Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.
    Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah.  Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.

Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia
    Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya. Jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi (Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi. Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.

    Menurut sabdalangit, perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu, sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodhok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon). 

    Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.

Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia
    Pandangan Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka.  Jika manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.
    Syeh Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia. 

    Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan  sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo). Hidup ini mati, karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.

Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya
    Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma, dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.  

Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka
    Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka adalah dalam hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).

    Menurut Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat. Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.

    Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore, malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang banyak tergiur oleh omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri, jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya; dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah terbius oleh para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas). 

    Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing. Orang bergelimang harta, hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka. Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka. 

    Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi. Manusia terdiri  atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.
    Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).
Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;
    Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama”.

Kesimpulan
    Pandangan Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang  ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah  manusia menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmanisah ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.
    Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al Hallaj, yang menolak segala kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.

Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia
Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia  dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. P

ada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal. 

Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya. 

Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.

Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan

    Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri.  
 
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?

Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.

Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.

Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.

 


Goa Pindul Dan Mitosnya

No comments

Goa Pindul yang kini menjadi primadona objek wisata Gunungkidul, bukan hanya menyimpan banyak keindahan, tetapi juga mempunyai banyak cerita terkait Kerajaan Mataram. Bahkan ada mitos terkait dengan stalaktit atau stalakmit di dalamnya.
 
Nama Pindul sendiri terkait cerita keluarga Kerajaan Mataram. Konon, kata 'pindul' berasal dari dua kata, yakni 'pipi kejendul' alias bagian wajah terbentur, yakni terbentur bagian gua yang sempit. Konon, hal ini dialami salah satu keluarga Kraton Yogyakarta.
 
Karena posisi goa di sepanjang aliran sungai, konon bagian dalam goa ini sering digunakan untuk semedi atau bertapa. Di samping keadaan gelap, suasaa juga sangat sepi, sehingga hening dan pas untuk mengheningkan cipta. Lokasi tempat bertapa berada di kanan-kiri sungai, di antara stalaktit dan stalakmit.
 
Sementara itu sejumlah mitos mewarnai isi goa tersebut. Di antaranya ada batu berbentuk lonjong menjulang ke atas. Konon, batu tersebut mempunyai khasiat membuat pria menjadi perkasa. Caranya adalah dengan memegang batu tersebut. "Jika ada pria memegang batu ini, maka ia akan menjadi pria perkasa," kata seorang pemandu wisata.
 
Kalau yang ini terkait dengan kaum pria, di sisi lain juga ada mitos terkait kaum hawa. Yakni pada bagian atap goa yang secara terus menerus meneteskan air. Konon, setiap perempuan yang terkena tetesan air tersebut, maka ia akan menjadi seorang wanita yang cantik nan jelita.
 
Kalau anda mengunjungi Goa Pindul, semua ini akan dijelaskan secara gamblang oleh pemandu. Bahkan kalau kurang jelas atau masih penasaran bisa ditanyakan lebih lanjut. Silakan mencoba!

Demi Mirip Gambar Karikatur, Wanita Ini Operasi Payudara Ukuran Jumbo

No comments

Di masa kini, makin banyak wanita yang melakukan operasi plastik, mulai dari wajah, payudara dan sebagainya. Ada bermacam-macam faktor pendorong operasi plastik tersebut, bahkan ada juga alasan yang aneh, salah satunya adalah ingin meniru gambar karikatur buatan sendiri saat masih remaja. Wanita ini rela melakukan 5 kali operasi pembesaran payudara agar mirip dengan karikatur dirinya.

Krystina Butel (30 tahun) adalah satu dari banyak wanita yang terobsesi dengan operasi plastik. Kisah ini dimulai ketika Krystina masih berusia 15 tahun. Saat itu dia membuat karikatur dirinya, dari gambaran itu, Krystina menemukan sosok wanita yang sempurna dan berniat untuk mengubah tubuhnya seperti gambar karikatur, (dilansir oleh Dailymail.co.uk.)

"Karikatur saya menggambarkan impian saya. Tubuh saya tampak seperti yang saya inginkan. Saya tahu impian saya sudah hampir terwujud saat ini dibanding 15 tahun yang lalu, tetapi selalu ada operasi plastik lain yang saya butuhkan untuk semakin mirip," ujar Krystina. "Saya tidak pernah merasa puas dengan operasi plastik yang sudah saya kerjakan," lanjutnya.
Jangan ditanya berapa uang yang sudah dikeluarkan Krystina untuk melakukan operasi plastiknya. Inilah beberapa operasi dan treatment kecantikan yang dilakukan oleh Krystina sejak berusia 17 tahun.

1. Operasi payudara pertama dari ukuran 32DD ke 34FF
2. Operasi payudara kedua dari mencapai ukuran 36GG
3. Operasi payudara ketiga mencapai ukuran 36H
4. Injeksi bibir setiap 6 bulan sekali
5. Suntik botox
6. Tato alis setiap 2 tahun sekali
7. Tato eyeliner setiap 2 tahun sekali
8. Tato bibir setiap 2 tahun sekali
9. Operasi payudara keempat mencapai ukuran 36J
10. Operasi payudara kelima mencapai ukuran 36K
11. Perubahan bentuk puting payudara menjadi bentuk hati (Mei 2014)

Selain perubahan itu, Krystina melakukan perawatan pemutihan gigi, ekstensi bulu mata dan sebagainya. Masih panjang daftar perubahan bagian tubuh yang akan dilakukan Krystina. Jika dibandingkan dengan foto saat masih kecil dan remaja, tubuh dan wajah Krystina sudah jauh berubah. Wanita ini juga tidak peduli dengan pendapat orang-orang, yang penting keluarga dan pasangannya mendukung.

"Saya hanya ingin seperti dia (gambar karikatur), saya ingin berbeda dari kebanyakan orang dan saya tidak butuh persetujuan dari semua orang," lanjut Krystina
Saat ini Krystina merasa jauh lebih bahagia dan percaya diri dengan tubuhnya, tidak peduli dengan komentar negatif orang-orang bahwa penampilannya sangat aneh dan mengerikan. Bagi Krystina, omongan pedas dari orang lain tidak akan menghentikan langkahnya agar semakin mirip sosok sempurna dalam karikatur buatannya. (Dailymail.co.uk)

Sepatu Flatform Bikin Kaki Risiko Tinggi Cedera

No comments

Anda suka sekali mengenakan sepatu flatform? Para ahli memperingatkan pemakai sepatu tersebut memiliki risiko membuat kaki cedera yang lebih besar.
Sepatu flatform sepatu memiliki sol sepatu dengan ketebalan yang sama dari bagian depan hingga belakang sepatu. Bagian telapak kaki umumnya memiliki bentuk datar.

Meski modelnya yang retro dan kekanak-kanakan, tapi model sepatu tersebut berbahaya, apalagi saat pemakainya berjalan di permukaan tidak rata.

Penulis Vogue, Liana Satenstein mengatakan belum lama ini ia menderita robek pada ligamennya setelah jatuh saat menggunakan flatforms. Di Jepang banyak kejadian kecelakaan karena menggunakan sepatu jenis tersebut.

Yamune Zake, instruktur yoga yang mengajar tentang bagaimana berjalan elegan dengan sepatu hak tinggi, menyebutkan hal yang harus semua orang perhatikan ketika menggunakan flatform. Yaitu pemakaiannya harus mengatur menempatkan beban berat badannya.

"Jika Anda menjaga berat badan di tumit, lebih mudah untuk menjaga pergelangan kaki yang kuat dan tidak mudah goyah serta tetap tampil feminin, ini juga mencegah pembengkakan," jelas dia.

Melansir dailymail, konsep sepatu tersebut pertama kali populer tahun 90-an, yaitu oleh Spice Girls. Sepatu tersebut kembali populer sejak tiga tahun lalu.

Bedanya Gangnam Style dan Gangnam Smile

No comments

Gangnam -- Jika Anda ke Korea Selatan (Korsel) saat ini, sempatkan mengunjungi Gangnam, sebuah distrik di Seoul. Anda pasti akan menemukan banyak wanita dengan muka dan kepala terbalut perban, sebagian atau seluruh.

Mereka mengenakan payung yang ditarik ke bawah, untuk menyembunyikan wajah dari pandangan orang, dan berperilaku tak ubahnya korban tabrakan mobil yang sedang menjalani penyembuhan pasca operasi.

Mereka adalah korban Korea Wave yang sedang menjalani operasi plastik. Mereka datang dari Tiongkok ke Gangnam khusus untuk mengubah wajah.

Gangnam populer di seluruh dunia berkat Gangnam Style, lagu dengan tarian yang dinyanyikan Psy. Kini, Gangnam adalah daerah tujuan wisata calon pasien bedah plastik.

Hong Sung-bum, ahli bedah plastik dan direktur klinik BK, mengatakan gadis-gadis Tiongkok datang ke Gangnam dan meminta para dokter mengubah wajahnya seperti bintang tertentu.

"Ini semua berkat popularitas bintang-bintang K-Pop," ujar Hong.

Klini BK menempati gedung 15 lantai, dan mempekerjakan 30 staf pandai Bahasa Tionghoa.

Saat ini, kebanyakan pasien dari Tiongkok meminta wajah mereka disulap seperti wajah Jun Ji-hyun -- bintang My Love from the Star, opera sabun Korsel yang sedang populer. Lainnya ingin berwajah seperti Kim Soo-hyun, karakter alien dalam film itu.

Popularitas Gangnam sebagai ibu kota bedah plastik lebih disebabkan gencarnya promosi wisata medis pemerintah Korsel. KTO, organisasi pariwisata Korsel, secara teratur menyelenggarakan pameran bedah plastik di Beijing dan Shanghai, dengan artis-artis K-Pop menari sepanjang pameran.

Kim Su-jin, pejabat KTO, mengatakan dokter di Korsel bukan sekadar pakar bedah plastik tapi desainer kecantikan. Promosi ini cukup sukses, dengan membludaknya pendatang dari Tiongkok.

Tahun lalu, misalnya, jumlah pendatang dari Tiongkok untuk perawatan kecantikan mencapai 56 ribu, atau naik 26,5 persen dari tahun sebelumnya. Jika dibanding tahun 2009, yang hanya 4.725, kenaikan ini sungguh luar biasa.

Memang hanya 10 ribu lebih yang menjalani bedah plastik, lainnya sekadar konsultasi, atau menjalani perawatan ringan.

Xu Xiao Hong adalah pendatang dari Tiongkok yang ingin mengubah wajah. "Tulang pipi saya terlalu menonjol, yang membuat saya tidak percaya diri saat melihat foto wajah saya," ujarnya.

Xu akan menikah tahun depan. Ia ingin tampil sempurna saat di pelaminan. Tunangannya setuju dirinya permak wajah, begitu pula calon menantunya.

Prosedur umum yang akan dijalani Xu mencakup operasi Caucasian-style double-eyelids dengan biaya antara 700 dolar sampai 1.500 dolar AS, atau Rp 7,7 juta sampai Rp 16 juta, operasi hidung (1.500 sampai 4.500 dolar AS atau Rp 16 juta sampai Rp 50 juta).

Xu juga menginginkan facial contouring, operasi invasif yang melibatkan pemotongan tulang pipi. Tidak diketahui berapa biaya operasi ini.

"Khusus yang terakhir ini disebut operasi senyum super, karena dokter akan melayani semua keinginan pasien. Misal, pemotongan dagu, tulang pipi, dan tulang rahang," ujar Hong.

Operasi hanya berlangsung tiga jam, tapi pemulihan memakan waktu enam bulan.

Risiko paling umum adalah ketidak-puasan pasien. Hong mengantisipasi semua itu dengan meminta calon pasien melakukan konsultasi sebelum operasi.

"Kami selalu mengatakan BK bukan toko pakaian," ujarnya.

BK bukan satu-satunya klinik di Gangnam, tapi satu dari ratusan. Hampir di setiap sudut Gangnam terdapat klinik. Iklan mereka terpasang di dinding stasiun kereta bawah tanah, dan tempat-tempat umum lainnya.

Chen Mao, pengunjung dari Tiongkok lainnya, sadar kecantikan artis Korsel tidak alami alias palsu. Namun, katanya, kepalsuan wajah Korea benar-benar menyihir gadis-gadis Tiongkok.

"Saya datang ke sini untuk mengubah wajah saya agar seperti artis Korea," ujar wanita berusia 35 tahun itu.

Ide Kreatif Dekorasi Pesta Kebun

No comments

Cuaca yang sedang cerah memang cocok untuk acara pesta kebun. Selain bisa menikmati segarnya udara di taman, Anda juga bisa menjadikan aktivitas ini untuk mendekatkan diri dengan keluarga atau sahabat Anda.
Anda tidak perlu bingung harus menghidangkan apa untuk acara pesta kebun. Aneka pernak pernik buatan lokal (asli Indonesia), fashion, bunga nusantara, dan jajanan tradisional bisa dipilih untuk menciptakan suasana pesta kebun yang berkesan.

Hidangan tradisional Indonesia juga cocok untuk acara outdoor ini. Anda juga bisa menghadirkan berbagai jenis minuman seperti berbagai jenis teh, jamu, atau jus. Selain lebih sehat, menyiapkannya pun juga lebih mudah.

Nah, yuk intip ide kreatif menyiapkan pesta berikut ini.

Slide5

No comments

Slide5

No comments

KAU SUDAH

No comments

Saturday, August 30, 2014


Tembang Kidang Talun : Tahukah Anda?

No comments

Lagu dolanan merupakan lagu yang ditujukan untuk anak-anak untuk memperkenalkan segala sesuatu tentang kebudayaan jawa, nilai-nilai luhur, lingkungan sekitar, dan lain sebagainya. Seperti halnya lagu dolanan Kidang Talun, lagu ini memperkenalkan tentang berbagai jenis hewan. Hewan yang ditonjolkan dalam lagu dolanan ini adalah kijang dan gajah.

Kidang talun mangan kacang talun
Mil kethemil-mil kethemil
Si kidang mangan lembayung
Gajah belang saka tanah plembang
Nuk legenuk-nuk legenuk
Gedhene meh kaya gunung


Terjemahan :
Kijang talun makan kacang talun
Mil kethemil-mil kethemil
Si kijang makan lembayung
Gajah belang dari tanah Palembang
Nuk legenuk-nuk legenuk
Rasanya hampir seperti gunung


Lagu dolanan “Kidang Talun” tersebut mengandung budaya Jawa mengenai pendeskripsian atau penggambaran kebiasaan hewan Kijang yang suka makan kacang  dan lembayung. Penggambaran lainnya adalah gajah dari Palembang itu bentuknya besar dan gemuk. Hal tersebut perlu dikenalkan kepada anak agar anak mengetahui kebiasaan dan karakteristik hewan khususnya kijang dan gajah. Jika anak mengenali hewan-hewan tersebut maka anak dapat menyayangi hewan sehingga dapat melestarikan kelangsungan hidup mereka. Jika bukan kita yang memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan kita kepada generasi muda terutama ana-anak, masih yakin kalau budaya kita tidak akan luntur?

KEJAWEN : Kenapa Ajaran Luhur Jawa ini Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan ?

No comments
KEJAWEN
Kenapa “Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai Dan Dikambing hitamkan ?"


Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai

Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini. 

Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst. 

Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;

Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.
Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta.  Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja,  sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.
Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.


Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati

Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.
Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.
Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas  pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.

Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen

Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya. 
Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan

NAFSU
Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.
Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.
Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.
Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya. 
Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.

PAMRIH

Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya.  Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti

Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting saya kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :
  1. Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
  2. Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
  3. Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.
 Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.( sumber media)

Makna dan Filosofi Lagu Dolanan Sluku-sluku bathok

No comments

Pemirsa, bagi sampeyan  yang lahir tahun 90an keatas pastu sangat sedikit yang tahu, barangkali sudah terkontaminasi oleh hal-hal yang sifatnya  ' gaul ' sehingga pada nggak ngerti tembang ini, apalagi yang tinggal diperkotaan.  Eh...tahu ngak pemirsa, bahwa tembang dolanan ini ternyata  mengandung banyak makna dan filosofi seperti yang saya rangkum di bawah ini..

SLUKU-SLUKU BATOK (dalam bahasa jawa/original)

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Oleh-olehe payung motha
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah
Nek urip goleka dhuwit.


 dalam bahasa Indonesia 
‘Ayun-ayun kepala’
‘Kepalanya geleng geleng’
‘Si bapak pergi ke Solo’
‘Oleh-olehnya payung mutha’
‘Secara tiba-tiba begerak
‘Orang mati tidak bergerak’
‘Kalau bergerak menakuti orang’
‘Kalau hidup carilah uang’

english lyrics :

'Swing-swing head'
'His head was shaking his head'
'The father went to Solo'
'By-by her umbrella mutha'
'All of a sudden stir
'The dead do not move'
'If it moves to scare people'
'If life look for money'

Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo (sluku-sluku bathok, bathoknya geleng-geleng-red), berasal dari kata “Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah” (masuk masuklah bathinmu , bathinmu kepada Tuhan), atau bathinmu harus lailaha illallah. Ada juga yang berpendapat, itu dari kata “Ghuslu Ghuslu Bathnaka…” (sucikanlah batinmu) . Entah mana yang benar, yang jelas, kita juga tahu saat seseorang berdzikir Laa ilaa ha illallah, kepalanya akan bergeleng2 ke kiri ke kanan, persis seperti bathok kelapa yang ela-elo (geleng-geleng). Oya, bathok adalah tempurung kelapa, yang secara filosofi dan bentuknya seperti kepala manusia
Sirama menyang sala (bapak pergi ke sala), dari kata Sharimi Yasluka (petik dan ambillah satu jalan masuk) *Tentunya yang dimaksud adalah jalan kebahagiaan dan keselamatan, melalui beragama secara benar, berIslam secara benar.

Oleh-olehe payung mutha (oleh-olehnya payung mutha), dari kata “Laailaha illaallah hayun wal mauta”, artinya meng-Esakan Allah dari hidup sampai maut. * Payung mutha adalah payung jadul dari kertas semen yang sangat besar, biasanya untuk mengiringi keranda jenazah.

Mak jenthit lolobah, dari kata “mandzalik muqarabah“, artinya maka siapa yang dekat (pada Allah). Mak jenthit juga menunjukkan bahwa nyawa manusia itu singkat, gampang saja putus jika Allah berkehendak.

Wong mati ora obah (jasad yang sudah meninggal tidak dapat bergerak), dari kata “hayun wal mauta innalillah”, artinya dari hidup hingga mati adalah milik Allah.

Yen obah medeni bocah (kalau dia bergerak akan membuat takut anak-anak), dari kata “mahabbatan mahrajuhu taubah”, artinya kecintaan yang menuju pada taubat

Yen urip goleka dhuwit (tapi kalau dia masih hidup, cari uanglah), dari kata “yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq” artinya sesungguhnya manusia diciptakan dari air yang memancar. Mungkin yang bait ke tujuh ini ringkasan dari surah At Tariq ayat 6 - 7, Falyandhuri insanu mima khuliqa, khuliqa min maa’in daafiqin (Maka perhatikan manusia dari apa ia diciptakan, ia diciptakan dari air yang memancar).
(Sumber:Media)

Nah pemirsa ...nih lagunya tapi sengaja saya bikin video kocaknya biar pemirsa gak bosen hehehe

gendong

No comments

Thursday, August 28, 2014


JODHANGAN, Budaya Masyarakat Sekitar Goa Cerme Bantul Jogja

No comments

Tuesday, August 26, 2014

Desa Selopamioro memiliki berbagai kegiatan sosial dan seni budaya. Salah satu kegiatan budaya adalah Jodhangan. Upacara ini dilaksanakan di pelataran Goa Cerme di perbukitan Imogiri yang terletak di dusun atau Srunggo I dan Srunggo II. Upacara Jodhangan yang sudah berlangsung turun temurun. Sesuai tradisi, upacara tersebut dilaksanakan Ahad Pahing di bulan Besar (Dzulhijjah) menurut kalender Jawa. 

Upacara diawali dengan menggunting buntal kemudian dilaksanakan kirab 18 jodhang di Balai desa Selopamioro menuju gua cerme sejauh 1 kilometer, dipikul dengan jalan kaki. Sebagian besar warga Srunggo, terutama yang mengikuti kirab, mengenakan busana jawa. Sebagai rangkaian upacara budaya, sebelumnya diadakan bersih desa yang mengandung makna menjauhkan warga Srunggo dari hal-hal yang sifatnya negatif, seperti hubungan antar warga yang tidak harmonis, lunturnya semangat untuk memajukan daerah dan sebagainya.

Di dalam jodhang atau usungan itu berisi nasi beserta lauk pauk untuk kenduri, sayur mayur, buah-buahan serta padi yang sudah menguning. Seluruh isi jodhang itu melambangkan kemakmuran dari warga dua desa, Srunggo I dan II. Mereka bersyukur atas limpahan rahmat, berkat dan rejeki. Mereka juga memohon agar di tahun-tahun mendatang tetap mendapatkan limpahan rejeki, rahmat dan berkat Tuhan. 



Selain jodhang buatan warga 18 RT di dua dusun Srunggo tersebut, ada satu jodhang besar yang dibuat secara khusus atas pesanan 15 warga di luar desa Srunggo. Mereka mempunyai ujub khusus yang berbeda-beda. Ada yang minta kepada Tuhan YME agar hasil panen padi miliknya hasilnya tetap bagus; ada yang berujub agar usahanya berhasil, diberi ketentraman lahir batin dan ada yang memohon kepada Tuhan agar penyakit yang diderita keluarganya segera sembuh. 

Di jaman para Wali dulu, konon gua ini tempat bermusyawarah para tokoh Islam itu. Sebagian masalah yang menjadi bahan pembicaraan adalah bagaimana kiat-kiat para wali dalam memberikan ceramah dan syiar agar warga masyarakat dengan rela memeluk agama Islam.

Empu Sungkowo Harumbrodjo, Empu Keris Dari Yogyakarta

No comments
Tentang Empu Sungkowo Harumbrodjo Empu Sungkowo Harumbrodjo satu-satunya pembuat keris di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ia putra dari Empu Djeno Harumbrodjo. Ia sudah membuat keris sejak tahun 1997.

Jenis-jenis pamor (motif keris):
Ujung Ujung Gunung
Rojo Gumbolo
Lawesetukel
Pari Sewuli
 Uler Lulut
Blarak Ngirit
Nogo Rangsang
Ronduru Kembang
Anggrek Rambut Keli
Rekep Bayu
Tunjung Batu
Lapak Tunggak
 Semi Pancuran
Emas Rupotolo
Tebu Sauyun
Lintang Purbo
Pangeran Welang
dan masih banyak lagi ...

Lama Pembuatan Satu Keris Antara 20 - 30 hari Harga per keris Antara 8 - 20 juta rupiah. Harga tergantung pada tingkat kesulitan dan bahan pembentuknya Jalur Menuju Kediaman Empu Sungkowo Harumbrodjo: Dari arah timur menuju jalan Godean sampai di perempatan ring road Demak Ijo.

Dari Demak Ijo terus ke arah barat sampai ke Pasar Godean. Dari perempatan pasar Godean terus ke barat melewati satu perempatan lagi. Dari perempatan itu terus ke barat kira-kira 1 kilometer sampai ke pasar Ngijon di kiri jalan. Pas di pasar Ngijon ada belokan ke kiri. Ada papan penunjuk arah bertuliskan Empu Sungkowo Harumbrodjo - 700 meter. Belok ke kiri saja kira-kira 500 meter sampai menemukan masjid pertama di kanan jalan. Kediaman Empu Sungkowo di belakang masjid itu.

Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde