| Bekas Tempat Pesanggrahan Ambarketawang yang tersisa. |
Tidak disebutkan secara pasti berapa lama Sultan Hamengku Buwono I menempati Pesanggrahan Ambarketawang. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan bahwa landscape utama Kraton Yogyakarta diselesaikan 7 Oktober 1756 dan pada saat itu juga Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarganya menempati Kraton Yogyakarta.
Pesanggrahan Ambarketawang sejatinya sudah berdiri sebelum Perjanjian Giyanti ditandatangani. Tempat itu sebelumnya bernama Purapara yang berarti gedung bagi orang yang tengah bepergian. Raja-raja dinasti Mataram Islam menggunakan Purapara sebagai tempat beristirahat setelah berburu. Nama Ambarketawang sendiri berasal dari kata ambar yang berarti harum dan ketawang yang memiliki arti tempat yag tinggi.
Meski hanya ditinggali dalam waktu singkat tentu saja Pesanggrahan Ambarketawang pasti dilengkapi dengan fasilitas paling lengkap pada zamannya. Sebab yang menempati pesanggrahan itu adalah seorang raja yang memiliki kekuasaan cukup luas.
Sayangnya, dua abad kemudian hampir tidak ada lagi bangunan yang tersisa dari Pesanggrahan Ambarketawang. Tidak ada lagi bangunan-bangunan yang layaknya ada pada bangunan milik bangsawan atau raja semisal bangunan utama, patirtaan (pemandian), kandang kuda dan sebagainya. Yang masih tersisa dari Pesanggrahan Ambarketawang saat ini hanyalah sisa-sisa benteng, sisa-sisa bangunan dan urung-urung (saluran air). Saat ini Pesanggrahan Ambarketawang berada dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta.
Menurut Ating (28), petugas BPCB yang menjaga kebersihan situs cagar budaya ini, saat ini sesekali ada kunjungan dari berbagai pihak di Pesanggrahan Ambarketawang. Mahasiswa arkeologi beberapa universitas juga sesekali mengadakan penelitian ditempat itu. Dari buku tamu yang ada disodorkan Ating pada media memang cukup beragam kalangan yang mengunjungi tempat tersebut.
“Dahulu di tempat ini pada waktu-waktu tertentu digunakan acara macapatan penduduk sekitar, namun kegiatan itu terhenti setelah penggiatnya meninggal,” kata Ating.


No comments
Post a Comment