Responsive Ad Slot

Cerita Sedih, Izinkan Aku Menciumu Ibu

Saturday, September 25, 2021

/ by Jogjanesia
Sewaktu masih kecil, saya sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tidak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti mengapa dulu engkau melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. duduk dari jendela kelas, ia masih di seberang sana. Aku tak peduli dengan tumpukan pekerjaan di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel bunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah seringnya, bermain bersama teman-teman meninggalkannya. Tak pernah saya menunggunya ketika sakit, ia membutuhkan pertolonganku saat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, meninggalkannya karena peninggalan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan sengaja aku sengaja memperlihatkannya berjalan satu meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak kecil ibu memang pernah melihat penampilannya, tidak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku cantik, ia pakaikan juga perhiasan yang terlihat di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya.
Padahal juga aku tahu, ia yang penuh kesabaran, kesabaran dan kasih sayangku saat berjalan. Ia mengangkat ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan sering menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya terbatas pada pilihan uang kuliah dan segala keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu tidak berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia membuat bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kaki. Saat itulah aku menyadari, aku juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku lahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang membunuhku pada Ibu.
Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulan untuknya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Ya Allah ampunilah aku dan kedua Orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana meeka menyayangi aku sewaktu aku masih anak anak

No comments

Post a Comment

Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde