Kasongan, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
Mbah Warno menjajakan menu utama pecel dengan beragam lauk
sebagai pengiringnya. Mulai dari lele dan belut goreng kering, tahu bacem,
mangut belut (belut bersantan yang dibumbui cabai), hingga bakmi goreng. YogYES
memesan semuanya agar dapat merasakan aneka rasa masakan Mbah Warno ini.
Sambil menunggu, pikiran saya melayang menelusuri asal-usul
pecel yang sama tidak jelasnya dengan soto. Banyak daerah di Jawa memiliki
pecel dengan ciri khasnya masing-masing, misalnya Pecel Madiun, Pecel Blitar,
Pecel Madura, Pecel Slawi dan lain-lain. Namun setidaknya, seorang sejarawan
Belanda bernama H.J Graaf pernah mengungkapkan bahwa ketika Ki Ageng Pemanahan
melaksanakan titah Sultan Hadiwijaya untuk hijrah ke hutan yang disebut Alas
Mentaok (sekarang Kotagede), rombongan beliau disambut masyarakat di pinggir
Sungai Opak dan dijamu dengan berbagai jenis masakan, termasuk pecel.
![]() |
| Mbah Warno "Anderson". |
Lamunan saya terputus saat pecel dan beberapa makanan
pengiring tiba di meja. Seporsi pecel, lele goreng, dan tahu bacem seolah
menantang untuk secepatnya dinikmati. Terdapat empat jenis sayuran dalam
hidangan berlumur bumbu kacang ini yakni daun bayam, daun pepaya, kembang turi
(Sesbania grandiflora), dan kecambah / taoge. Kita akan disergap rasa manis
dari bumbu kacang yang menggelitik lidah. Saat menguyah kembang turi yang agak
getir, rasa manis tadi berpadu sehingga menghasilkan kelezatan yang sulit
diungkapkan.
Pecel dengan kembang turi merupakan ciri khas pecel
"ndeso". Jaman sekarang sudah sulit untuk menemukan penjual pecel
seperti ini. Konon kembang turi memiliki khasiat meringankan panas dalam dan
sakit kepala ringan. Jadi tidak heran bila orang Jawa, India, dan Suriname (masih
keturunan Jawa juga sih, hehehe) sering menyantap kembang turi muda sebagai
sayuran.
Pecel akan bertambah nikmat jika ditambah dengan lele goreng
atau tahu bacem. Lele goreng di tempat ini dimasak hingga kering sehingga
crispy ketika digigit. Sedangkan tahu bacem yang berukuran cukup besar dapat
dinikmati sebagai cemilan bersama cabai rawit. Selain itu juga terdapat
hidangan lain seperti belut goreng dengan dua variasinya. Pertama, belut goreng
kering yang berukuran kecil dan belut goreng basah yang lebih besar. Ada juga
bakmi goreng dan mangut belut bagi anda yang menggemari makanan pedas. Asap
dari anglo menambah sensasi rasa dari hidangan di warung ini.
Entah karena kenyang atau efek kembang turi, selesai makan
kepala saya terasa lebih cerdas dari biasanya. Sambil ngobrol ringan dengan
Mbah Warno dan asistennya, saya jadi paham kenapa pecel di tempat ini dijuluki
Pecel Baywatch. Hal itu karena Mbah Warno dan asistennya selalu mengenakan
sejenis baju yang disebut kaus kutang. Pakaian yang sangat nyaman untuk
dikenakan di tengah udara pedesaan Kasongan Bantul yang kering dan panas.




No comments
Post a Comment