Dalam perhelatan Pilkada DKI yang kala itu memang banyak membawa dampak permasalahan baik politik maupun psikologis seseorang. Saya membaca tulisan sahabat Edriana Nurdin yang aktivis HAM itu menjadi tergelitik dan ingin mengomentarinya.
Begini tulisan dari Edriana Nurdin tersebut, seperti dikutip dari teropongsenayan.com :
Tadi malam saya menghadiri rapat Pleno KPUD DKI Jakarta tentang penetapan hasil pilkada DKI putaran 1 dan penetapan Paslon yang akan maju pada putaran kedua di Hotel Borobudur, Jakarta.
Ada pepatah yang mengatakan :
Begini tulisan dari Edriana Nurdin tersebut, seperti dikutip dari teropongsenayan.com :
Tadi malam saya menghadiri rapat Pleno KPUD DKI Jakarta tentang penetapan hasil pilkada DKI putaran 1 dan penetapan Paslon yang akan maju pada putaran kedua di Hotel Borobudur, Jakarta.
Ruangan yang digunakan rapat pleno terbuka tersebut sangat besar. Dihiasi secara meriah dengan dua (2) screen raksasa kiri kanan, dipenuhi oleh wartawan dan kamera TV, dan di luar banyak sekali staff KPUD sebagai penerima tamu.
Sebelum acara dimulai saya menunggu di Coffee Shop dekat Flores room. Mas Anies dan Bang Sandi sudah berada diruang VIP sejak pukul 19.20 WIB karena dalam undangan acara tersebut dimulai jam 19.30 WIB.
Sekitar jam 19.50 WIB rombongan Pak Ahok, yang cukup banyak orangnya, melintas didepan coffee shop menuju ruangan Flores room.
Kemudian saya berjalan pelan-pelan di belakang rombongan tersebut. Begitu rombongan pak Ahok masuk ruangan saya menuju meja penerima tamu untuk mengisi buku tamu. Sambil bertanya pada penerima tamu kenapa acara baru dimulai. Mereka mengatakan karena menunggu pak Ahok yang baru datang.
Sekitar pukul 19.55 WIB, ketika masuk ruangan saya berpapasan dengan Pak Ahok yang sedang Marah marah. Pak Ahok mengeluarkan kata-kata penuh kemarahan antara lain yang jelas saya dengar yaitu "saya mau di diskualifikasi juga ga takut", dan banyak lagi umpatan kata-kata lainnya.
Suasananya sangat tegang karena Pak Ahok keluar ruangan dengan penuh kemarahan, sambil tergesa-gesa serta suasana sangat kacau berhubung banyak sekali wartawan yang mengikutinya. Mungkinkah ini memang cara pak Ahok untuk mendapatkan perhatian wartawan? Wallahualam.
Saya melihat pak Djarot justru sedang senyum-senyum. Sedang anggota rombongan lainnya hanya mengikuti di belakang beliau dengan raut muka bingung.
Kemudian rombongan tersebut keluar dan naik keruangan di lantai dua, namun ada beberapa anggota rombongannya yang tetap berada dibawah walau teman-temannya meneriaki agar naik dan kumpul di lantai dua.
Saya bertanya-tanya kenapa pak Ahok sudah menyiapkan ruangan di lantai dua? Ruangan apakah itu?
Kemudian saya ke arah depan untuk menghampiri serta menyalami Mas Anies dan Bang Sandi. Waktu itu jam menunjukkan sekitar pukul 19.55 WIB. Lalu saya bertanya kepada Mas Anies dan Bang Sandi kenapa Pak Ahok keluar sembari ngamuk marah-marah? Mas Anies dan Bang Sandi mengatakan tidak tahu dan juga terlihat bingung. Begitu pun tamu-tamu yang duduk di bangku paling depan tersebut juga mengatakan pak Ahok masuk dan tiba tiba keluar dengan rombongannya sambil marah-marah.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 20.07 WIB, setelah semua kehebohan tersebut berlalu, acara dimulai dengan dibuka oleh tarian Bekasi. Lalu disusul dengan pembacaan doa dan kemudian pidato penetapan hasil pilkada putaran pertama (1) dan pengumuman Paslon yang masuk pada putaran kedua (2).
Acara tetap berjalan sesuai dengan susunan acara yg sudah ditetapkan dalam Undangan.
Saya sangat shock menyaksikan seorang pemimpin yang bisa begitu tiba-tiba meletup-letup kemarahannya didepan publik hanya karena kesalahpahamannya sendiri. Bila ada berita pembenaran atas sikap pak Ahok di media saya rasa itu upaya "damage control" saja karena saya menyaksikan sendiri luapan kemarahan beliau.
Pelajaran yang saya ambil dari kejadian tersebut adalah: kalau kita hidup bermasyarakat maka kita harus punya tata krama, tepo seliri dan sopan santun agar kita bisa menahan emosi dan tidak merasa selalu paling benar serta kurang sensitif pada situasi di sekeliling kita.
Semoga kita semua terhindar dari hal-hal yang buruk dikemudian hari Amiin Yarobbalalamiin.(*)
Nah diambil dari pengalaman diatas, ada hikmahnya dan pada kenyataannya masyarakat ( manusia ) yang punya dasar hati nurani yang lembut, dan pola pikir yang luas dan cerdas tanpa embel-embel fanatisme terhadap junjungannya akan lebih memilih pemimpin yang tidak arogan atau mempunyai hati yang lembut, mengayomi siapapun tanpa membedakan agama, rasa maupun pandangan politiknya. Itu fakta dan sudah terbukti.
Memang harus diakui, banyak yang belum bisa move on atas kekalahan dari pihak petahana karena mereka sudah tekontaminasi oleh sosok seseorang yang sangat dekat dengan Ahok bahkan digadang-gadang akan menjadi pasangan Pilpres 2019 mendatang. Pasangan Jokowi-Ahok akan menjadi penguasa di negeri ini menurut keyakinan mereka sebagai umatnya. Dan ini sah sah saja.
Menurut mereka sebagai ahoker yang sejatinya jokowimania, tak rela orang lain mengkritik junjungannya karena mereka tidak pernah salah layaknya nabi. Fanatisme sangat kuat dihati mereka dan itu perlu diacungi jempol dua, dan itu boleh dicontoh oleh pihak yang berseberangan. Tetapi tentu saja tidak meninggalkan logika yang jernih tanpa emosional yang membabi buta.
Mengapa Ahok menjadi arogan dan begitu emosional menghadapi setiap permasalahan terhadap dirinya ?
Ada pepatah yang mengatakan :
" Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua berubah tidak.”
“Artinya adalah karakteristik seseorang tidak akan berubah karena sudah terjadi internalisasi".
Menurut pakar psikologi dari Jerman Kurt Kunkel, bahwa manusia membawa karakter dirinya saat menjadi figur karena rasa tenang, aman dan enjoy akibat dari kedekatan dengan penguasa. Dia sadar akan hal itu, makanya ceplas ceplos setiap mengungkapkan isi hatinya tanpa merasa takut.
Namun dari hal itu semua kita patut memberi applaus pada Mr Ahok yang telah berani dengan tegas menentang dari pihak-pihak yang mempunyai niat jahat terhadap rakyat, yaitu tindakan yang mengarah pada korupsi berjamaah dari ('mungkin') para anggota dewan beserta relasinya.
Dari sisi yang lain kita juga was-was terhadap perilaku Ahok yang arogan dan selalu berlindung pada penguasa. Dalam dataran politik kekuasaan Jokowi-Ahok merupakan senjata pamungkas bagi partai-partai penguasa sekarang untuk melanggengkan kekuasaan bagi kesejahteraan lingkungannya dan bukan kesejahteraan rakyat keseluruhan secara murni.
Hal itu semua memang biasa terjadi di kancah perpolitikan didunia ini. Kita tidak perlu heran dengan carut marutnya hukum di negara kita ini karena sesungguhnya hukum di Indonesia dipegang olek penguasa, terutama kasus-kasus hukum yang besar dan terkait dengan politik.
Bisakah hukum di Indonesia ditegakkan dan berkeadilan soaial bagi seluruh rakyat Indonesia ?
Hukum di Indonesia hanya bisa ditegakkan oleh penguasa yang benar-benar amanah, takut akan balasan di akherat kelak serta punya otoritas dan kekuatan dibelakangnya. Pemimpin yang disetir oleh pihak-pihak yang berkepentingan jelas tak bisa berkutik memperbaiki persoalan hukum di negeri ini, karena kekuatan dan kebijakan krusial dibelakang pemimpin ini jelas dari pihak-pihak yang berkepentingan. Apalagi pihak-pihak ini menguasai media yang ada di negeri ini, jelas ini sulit ! Sesulit merokok sambil menyelam di pantai Parangtritis ( maksudnya imposible ).
Nah selanjutnya untuk pemilu 2019, tergantung masyarakat Indonesia nantinya saat memilih pemimpin yang tidak arogan, cerdas, amanah, tidak korup, menjunjung tinggi agamanya maupun hukum yang berkeadilan serta tidak disetir oleh kekuatan asing maupun pihak-pihak yang mementingkan golongannya sendiri.
Semoga kedepannya Indonesiaku Jaya, Sentosa, Makmur Sejahtera mengalahkan negera-negara tetangga. Karena kita sadar bahwa Indonesia bangsa yang besar, kaya SDM maupun SDAnya, sehingga tidak sulit untuk mengapainya asal semua pejabat otaknya demi kebesaran Indonesia dan bukan perutnya sendiri. Amin. *** binde
Nah, untuk menghilangkan stress krn baca2 diatas tonton aja video dibawah ini :
Nah, untuk menghilangkan stress krn baca2 diatas tonton aja video dibawah ini :



No comments
Post a Comment