Responsive Ad Slot

Ketika Cinta Bertepuk Sebelah tangan .

No comments

Saturday, September 25, 2021


Perasaan sakit hati dan kecewa memang tak dapat dielakkan jika cinta bertepuk sebelah tangan.

Banyak di antara kita, bahkan mungkin kita sendiri, pernah mengalami hal ini, Berani jatuh cinta, berarti harus siap menanggung segala resikonya, Salah satu resikonya adalah cinta kita ditolak alias hanya bertepuk sebelah tangan.

Sakit hati?
Kecewa?

Perasaan sakit hati dan kecewa memang tak dapat dielakkan jika cinta bertepuk sebelah tangan. Manusiawi Pasti ada perasaan tak nyaman jika keinginan kita tak terpenuhi, termasuk keinginan untuk dicintai oleh orang yang kita cintai, Ada rasa kecewa jika orang kita cintai ternyata tak mencintai kita atau bahkan telah memiliki orang lain untuk dicintai.

Rasa kecewa itu juga bisa muncul karena rasa ego kita. Kita yakin telah memiliki wajah oke, penampilan keren, populer di pergaulan, dan sebagainya…
Kenapa sampai ditolak? Rasa kecewa yang kita alami karena cinta bertepuk sebelah tangan tak selalu dapat kita sikapi seperti yang dikatakan oleh D’Bagindas: “…namun kubalas dengan senyum keindahan…”

Akan tetapi tak perlu pula sampai seperti ungkapan bernada guyon yang terkenal di masyarakat: Cinta ditolak, dukun bertindak, Berbesar hatilah, terimalah kenyataan dengan jiwa besar dan lapang dada, terimalah penolakan itu dengan akal sehat.

Berjuang untuk meraih cinta memang perlu, namun berjuang tidak sama dengan memaksakan kehendak. Jika kita memang mencintai dia, mengapa harus memaksa dia untuk mencintai kita? Pemaksaan hanya akan mengakibatkan orang yang kita cintai itu menjadi tidak berbahagia, Jika kita mencintai dia, kita tentu ingin dia berbahagia, kan?

Cinta bertepuk sebelah tangan bukan akhir dari kehidupan, Kita tak pernah tahu, hikmah apa yang berada di balik penolakan itu, Mungkin saat ini dia terlihat begitu sempurna di mata kita, namun siapa tahu di masa depan ternyata kita tak berbahagia dengannya. Mungkin bukan dia cinta sejati kita.

Cerita Sedih, Izinkan Aku Menciumu Ibu

No comments
Sewaktu masih kecil, saya sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tidak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti mengapa dulu engkau melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. duduk dari jendela kelas, ia masih di seberang sana. Aku tak peduli dengan tumpukan pekerjaan di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel bunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah seringnya, bermain bersama teman-teman meninggalkannya. Tak pernah saya menunggunya ketika sakit, ia membutuhkan pertolonganku saat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, meninggalkannya karena peninggalan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan sengaja aku sengaja memperlihatkannya berjalan satu meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak kecil ibu memang pernah melihat penampilannya, tidak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku cantik, ia pakaikan juga perhiasan yang terlihat di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya.
Padahal juga aku tahu, ia yang penuh kesabaran, kesabaran dan kasih sayangku saat berjalan. Ia mengangkat ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan sering menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya terbatas pada pilihan uang kuliah dan segala keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu tidak berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia membuat bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kaki. Saat itulah aku menyadari, aku juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku lahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang membunuhku pada Ibu.
Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulan untuknya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Ya Allah ampunilah aku dan kedua Orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana meeka menyayangi aku sewaktu aku masih anak anak

Di Zaman Fir`aun, Haman Adalah Menteri Segala Urusan. Di Zaman Jokowi Siapa?

No comments

Friday, September 24, 2021


Dialah Haman; pembisik sekaligus Menteri Segala Urusan di Istana Fir"aun.

MELIHAT ilustrasi gambar ini, barangkali banyak yang tidak mengenali siapa dia sesungguhnya, sebagaimana kita juga tidak pernah tahu bahwa sosok ini ternyata juga berperan penting sebagai "tangan kanan" Fir"aun, kalau saja tidak diinformasikan oleh al-Qur"an.

Hal ini mengindikasikan bahwa ada peran tokoh antagonis dibalik kisah kezhaliman Fir"aun yang peran sentralnya tak kalah dahsyatnya dibandingkan Fir"aun itu sendiri. Dialah Haman; pembisik sekaligus Menteri Segala Urusan di Istana Fir"aun.

Jika kata Fir"aun disebutkan sebanyak 38 kali di dalam al-Qur"an, paling tidak nama "Haman" muncul sebanyak 5 kali pada beberapa surah di dalam al-Qur"an, diantaranya surah al-Qashash ayat 6 dan 38, al-Mu"min ayat 36-37 dan al-Ankabut ayat 38.

Seorang arkeolog Prancis Morris dalam penelitiannya di tahun 1882 dibuat tercengang sekaligus takjub dengan kebenaran informasi al-Qur"an, ternyata nama Haman ditemukan dan disebutkan dalam tulisan Heliograf kuno sebagai seorang kepala urusan istana yang menangani semua urusan Fir"aun.

Sedangkan informasi itu tidak pernah dia dapatkan pada kitab taurat, zabur dan injil. Informasi di dalam al-Qur"an sedemikian akuratnya, hingga disebutkan begitu jelasnya nama dan peran Haman di dalam al-Qur"an. Jelas dia akhirnya mengakui bahwa hal itu menunjukkan kemukjizatan al-Qur"an.

Apa dan bagaiman peran Haman?

Di dalam al-Qur"an dikisahkan Haman merupakan wazir atau Perdana Menteri Fir"aun. Haman juga bertugas sebagai penasehat, kepala istana, pengatur dan pengendali infrastruktur, panglima perang, pengendali stabilitas keamanan, pengontrol ucapan para pengkritik kerajaan, serta pengatur sekaligus pengendali segala bidang dan urusan.

Bahkan Haman merupakan pembisik yang selalu meneguhkan dan menguatkan bahwa Fir"aun adalah seorang titisan dewa Ra; dewa matahari yang patut disembah sekaligus dewa pemilik aliran sungai Nil. Haman selalu memuji tindak tanduk lelaku Fir"aun baik dan buruknya.

Manakala adu tanding antara Nabi Musa dan Fir"aun yang pada akhirnya membuat para penyihir istana mengakui kemenangan di pihak Musa, alih-alih mengakui kekalahannya, Fir"aun justru meminta Haman tampil ke depan publik untuk mempengaruhi rakyatnya agar masih tetap dipercayai.

"Hai Haman, apakah aku ini seorang pendusta?" tanya Fir"aun penuh keangkuhan.

Haman tampil membela dengan penuh meyakinkan dan kecongkakan pula. "Siapa yang berani menuduh paduka sebagai seorang pembohong?!"

"Hai Haman, apakah Tuhan di surga?" tanya Fir"aun lagi.

"Musa itu berdusta. Dia ahli membuat kebohongan!" jawab Haman agar membuat Fir"aun senang.

"Ya, aku tahu Musa tidak lain, hanya tukang sihir yang pandai merangkai kata!" Fir"aun membenarkan.

"Benar Engkau pembesar kami. Semua raja takluk padamu, duhai Fir"aun!" Ujar Haman meyakinkan Fir"aun.

"Sekarang Haman! Kuperintahkan buatkan aku menara pencakar langit agar aku bisa melihat Tuhannya Musa!" ujar Fir"aun tertawa dengan penuh kesombongan disertai gelak tawa Haman dan pengikutnya.

Haman memang terkenal hebat bersilat lidah menjilat penguasa. Haman berkilah dengan argumentasi jeniusnya.

"Wahai Fir"aun, kali ini saya keberatan membuatkan Anda menara pencakar langit itu untuk bisa melihat Tuhannya Musa!" ujar Haman seraya membungkuk.

"Hah! Apa katamu?!! Kamu keberatan?!!" Fir"aun terbelalak matanya.

"Iya paduka, saya keberatan!" jawab Haman penuh tipu muslihat.

"Apa kamu sudah mau berbuat makar seperti Musa?! Apa kamu sudah membangkang seperti para penyihir itu?" tanya Fir"aun mulai geram.

"Tidak paduka Raja Fir"aun yang Mahatinggi! Hamba masih tetap setia!" jawab Haman tersenyum.

"Lantas kenapa kamu keberatan, hah?!! Apa kamu tidak sanggup membangunkan infrakstruktur untuk rajamu ini?!" Fir"aun mulai tak sabar menunggu jawaban Haman.

"Bukan begitu Paduka Raja Fir"aun!"

"Lantas?!" tanya Fir"aun.

"Meskipun kita bangunkan menara langit, kita tidak akan temukan Tuhan Musa di sana!" jawab Haman meyakinkan.

"Kenapa? Ada apa?!" tanya Fir"aun mengernyitkan keningnya.

"Sebab Tuhan Musa itu tidak ada. Hanya engkaulah Tuhan itu. Hanya dirimu pemilik Mesir dan Nil ini. Engkau Fir"aun yang Tinggi!" ujar Haman menyanjung Fir"aun sekaligus melecehkan Tuhan Musa.

Lantas Fir"aun berterik di hadapan rakyatnya "Ana Rabbukumul "Ala! Akulah Tuhan kalian yang Tinggi!"

Demi mendengar sanjungan sedemikian tinggi dari Haman, kian melambunglah kecongkakan Fir"aun dengan segala kepercayaan dirinya. Sujud sembahlah mereka yang terlanjur mengagumi Fir"aun dengan segala keyakinannya.

Itulah sekilas deskripsi Haman yang dideskripsikan oleh Ibnu Katsir di dalam Qishashul Anbiya. Begitulah peran sentral Haman yang monemental dengan segala kejahatan dan sifat penjilatnya. Dia tampil sebagai tokoh antagonis kedua setelah Fir"aun.

Meski dia bukan seorang Fir"aun, boleh jadi peran sentralnya melebihi seorang Fir"aun sekalipun, sebab dialah penasehat dan pembenar segala kesalahan dan kezhaliman Fir"aun.

Dan begitulah sejarah selalu berulang pada setiap zamannya. Begitulah al-Qur"an mengajari kita sejarah.

Tugas kita bukan membenci Fir"aun atau pun Haman, akan tetapi tugas kita hari ini meneguhkan terus berjuang bersama siapa? Bersama Musa ataukah Fir"aun, Haman atau kah ulama Fir"aun bernama Bal"aun bin Aura.

Jika tidak mampu menjadi Musa, minimal kita tak menjadi musuhnya atau menjadi pengikut Bani Israel yang terkesan netral; tidak memiliki prinsip kebenaran yang harus diperperjungkan dengan mengatakan, "Pergilah engkau wahai Musa berperang berdua bersama Tuhan kamu, kami hanya ingin duduk menunggu saja di sini!"

Oleh Ust. Dr. Miftah el-Banjary, MA

Hanya Dengan 2 Menit untuk Tampil Sexy, Bagaimana Dengan Anda ?

No comments

Untuk segala urusan, sebagai wanita tentu kita harus berpikir cerdas, kreatif, dan praktis dong, ya Ladies.
Salah satunya adalah jika ingin tampil 
seksi  untuk menggoda pasangan atau pria-pria yang Anda temui di  club.  

Namun, akan ada saatnya kita memiliki banyak waktu untuk menyiapkan agar terlihat lebih  seksi di depan pria. Namun, tidak percaya atau tidak, Anda hanya membutuhkan waktu maksimal 2 menit untuk seksi secara instan. Kami tak sedang bercanda, Ladies. Berikut caranya.


Ganti  celana dalam

Pasangan Anda sedang di kamar mandi? Segera ganti  celana dalam berbahan katun yang Anda kenakan dengan  lace thong sexy  merah miliki Anda. Dia yang mungkin tidak berniat untuk bercinta saat ini, kemungkinan 90% langsung “menerkam” Anda di tempat tidur.

Merah Tak Pernah Salah

Merah memang menjadi warna terbaik untuk wanita. Apa pun yang Anda kenakan, jika berwarna merah, mampu menarik perhatian para pria. Tak kalah dengan  lipstik  merah! suara bel atau ketukan suara pintu di malam hari? Jika Anda yakin itu adalah pasangan Anda, segera poleskan  lipstik  merah Anda, saat tak sempat untuk bermakeup lama. Hal ini juga berlaku saat kamu melihat seorang pria di tempat umum. Segera pergi ke toilet, lalu poleskan  lipstik.  
Ingat! kebanyakan pria tidak suka melihat wanita berdandan di tempat umum.

Sepatu hak tinggi

Seperti yang dikatakan Marilyn Monroe, " Berikan seorang gadis sepatu yang tepat, dan dia bisa menaklukkan dunia ." Kutipan  tersebut bisa diaplikasikan ke pria juga  lho,  Ladies. Aksesori  fashion  yang satu ini sangat berhasil jika Anda berniat untuk menaklukan pria karena  sepatu yang tepat  "terlebih lagi  high  heelsakan menunjang penampilan Anda . Melangkah dengan percaya diri bersama dia, akan membuat nyaman di sisi Anda.

Postur Sempurna

Sayangnya, tiga hal di atas akan percuma jika Anda tidak bermain dengan postur tubuh yang tepat. Percuma jika Anda memakai  lace thong sexy  jika Anda mencoba menggodanya melalui gestur tubuh. Percuma memakai  lipstik  dan  sepatu hak  jika Anda hanya duduk menunduk dan memandang tinggi matanya. just jika salah satu dari tiga hal di atas Anda mengenakan, jangan lupa untuk padukan dengan postur menggoda. Misalnya seperti membusungkan dada, membangun punggung, atau menganggat dagu saat berjalan. Hal-hal ini akan membuat waktu dua menit yang Anda gunakan untuk mengganti  heels , mengoleskan  lipstik  atau mengganti  lacethong  seksi, tidak terbuang percuma.
Semoga berhasil , Wanita!

Cinta KaLo Kepepet ! Mana Bisa Menghindar

No comments


Halo pemirsa, buat kamu yang masih single, kemungkinan mendapatkan jodoh atau pasangan di tempat kerja pasti ada. Intensitas bertemu yang sering serta mengenali kepribadian dari rekan kerja tersebut akan menjadi faktor yang bisa mendukung terjadinya cinta lokasi ini lho. Cinta lokasi ini boleh saja untuk terjadi, namun Kamu harus memperhatikan beberapa hal berikut ini.

1. Kamu Dan Sasaran Sama-Sama Single
Kamu boleh melakukannya apabila Kamu dan pasangan masih sama-sama berstatus 'single' atau tidak dalam ikatan perkawinan. Hal yang perlu Kamu cermati adalah cari informasi selengkapnya dan sebanyak-banyaknya tentang status calon pasangan Kamu. Apabila memang calon pasangan Kamu terbukti tidak memiliki ikatan perkawinan dan sedang tidak menjalin hubungan dengan seseorang, lancarkan saja aksi-aksi PDKT Kamu berikutnya.

2. Sadar Tempat
Perasaan jatuh cinta sudah jelas membuat banyak orang berbunga-bunga. Kamu pasti selalu ingin berdua dengan si dia, tidak enak makan, tidak enak tidur. Ini yang harus diperhatikan betul. Kamu harus bisa memposisikan diri Kamu. Harus tahu kapan kewajiban bekerja dan kapan saatnya berdua-duaan dengan si dia.

3. Konsentrasi Pada Kerjaan
Kamu harus bisa menganalisa apakah konsentrasi kerja terganggu karena komitmen yang terjalin. Tidak semua orang dapat membagi konsentrasi diri, ada kalanya pertengkaran, selisih pendapat, atau bahkan rasa berbunga-bunga memecahkan konsentrasi seseorang. Apabila Kamu merasa mampu membagi konsentrasi maka Kamu bisa melanjutkan hubungan dengan si dia.

4. Beda Divisi
Ini tidak wajib sih, tapi alangkah lebih baik jika berlainan divisi dengan pasangan. Jika terjadi suatu masalah, pekerjaan tidak akan terganggu. Kamu juga bisa lebih leluasa dalam bekerja dan tidak takut untuk mengambil keputusan.

Well, berani coba Pemirsah ?

Ukuran Kita Memang Berbeda

No comments

"seperti sepatu yang kita pakai, setiap kaki memiliki ukuran. Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan merusak, tanpa ukuran sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan menyesuaikan rapi-rapi"  .

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seolah didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, mengomel-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, 'Utsman ibn 'Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyandingkan udara sejuk dan buah-buahan. Ketika lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” 'Utsman seru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah 'Umar bin Al Khaththab.

“Ya Amirul Mukminin!” teriak 'Utsman tenaga tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai 'Utsman!” 'Umar berteriak dari jarak. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru 'Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas 'Umar, “Masuklah 'Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah itu akan kita dapatkan kembali.”

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai 'Utsman, anginnya semakin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin kencang menyajikan butiran pasir membara. 'Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandarnya &amph,

“Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

'Umar memang bukan 'Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

'Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, beban & ringan tangan turun gelanggang – dibawa 'Umar, ciri khas kepemimpinannya.

'Utsman lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani' Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. 'Umar tahu itu. Maka tak dimintanya 'Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang ditembakkan sendiri. tidak. Itu bukan kebiasaan 'Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai 'Utsman jadi menyuruh sahayanya untuk mengikuti unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & disediakannya bertimbun dinar.

Itulah Umar. Dan inilah 'Utsman. Mereka berbeda.

konsentrasi, Anas ibn Malik bersaksi bahwa 'Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia 'Umar sejauh jangkauan jangkauan. Hidup sederhana sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat 'Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu 'Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . "Aku menghitung tambalan di surban dan jubah 'Utsman", lanjut Anas, "Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan."

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan memaksakan untuk membandingkan dia terus-menerus 'Umar ibn 'Abdul 'Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang berada di tengah kekayaan. Tetapi jangan malas dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya 'Abdurrahman ibn 'Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang di anugerahi ilmu. Tapi jangan merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahasa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugat agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang sama. 'Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan 'Umar” kata lelaki kepada 'Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata 'Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan 'Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, 'Umar, “Utsman atau 'Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa'd ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana mestinya para salafush shalih dan sebelum kawan-kawan perlu sakit hati jika mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut menuntut untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaian dan masing-masing kaki memiliki sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuat lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih terang.

Imam Asy Syafi'i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau, “Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

sepenuh cinta,

Binde
Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde