Responsive Ad Slot

Dibalik Lezatnya Ayam Goreng Pak Kromo

No comments

Friday, September 17, 2021

Kampung Mundusaren (Kampung Mundu) sekitar 1 Km Sebelah Utara Ambarukmo Plaza Jam Buka umum: 06.00-19.00 WIB


Menu ayam tetap saja populer. Baik yang digoreng, dibacem atau dibakar. Ada yang diberi bumbu manis, asin atau pedas. Semuanya  nikmat dan membuat keinginan mencoba selalu ada. Salah satunya di tempat Pak Kromo.

Lokasinya menyempil, di sebuah gang yang berada di pinggiran Yogyakarta. Pada sisi baratnya terdapat bangunan sekolah dan sepetak sawah. Tulisan warung ayam goreng menempel di spanduk yang warnanya kusam. Sebuah rak yang kacanya berminyak menghiasi bagian depan. Di dalamnya puluhan ayam goreng diletakkan di atas nampan besi.

Saat melangkah masuk ke bagian dalam, ada tumpukan kardus untuk arisan. Meja-mejanya berantakan, tak teratur. Pada sisi kanannya ada poster seukuran papan tulis berisikan artikel tentang warung Pak Kromo di sebuah media.

"Daging atau paha atas," tanya ibu muda kepada tim media.  Di dalam rak tadi terdapat rempela ati, paha atas dan dada. Warnanya coklat kehitaman. Ada beberapa bagiannya yang tampak legam.

"Paha atas."

 Lalu, sejurus kemudian paha atas (gending) tersaji di atas meja. Sambalnya terasi dan tomak. Lengkap beserta lalapan timun dan daun kobis. Nasi hangat yang kemebul siap disantap. Lebih nikmat jika menikmatinya menggunakan tangan tanpa sendok dan garpu atau dalam bahasa Jawa-nya disebut muluk.

Sobek ayamnya, tambahkan nasi dan sambal lalu hap...hap...hap. Rasa manis dari ayam bacem langsung terasa di lidah. Ketika digigit, tekstur daging ayamnya agak keras. Bisa jadi karena disajikan dalam keadaan dingin.

Jangan lupa tambahkan sambal tomat dan terasinya.  Aroma khas terasi langsung menyebar. Pedasnya sendiri terasa cukup. Bagi yang suka rasa manis, bisa menambahkan kecap.

Sejak berdiri tahun 1983, ayam bacem khas buatan H. Kromo Sentono dan istri ini sempat mengalami masa jaya. Pernah dalam sehari menghabiskan 150 ekor ayam. Namun, saat ini warung yang berlokasi di kampung Mundusaren, sebelah utara Ambarukmo Plaza ini lebih banyak melayani pesanan nasi ayam dalam kotak. 

Harga:

2 ayam + nasi + teh hangat = Rp 17.000



DJ DEAR GOD TERBARU DUT MIX 2020 | FULL BASS

No comments

Thursday, September 16, 2021

SESUMBAR, Antara Janji Dan Ejekan

No comments

Wednesday, September 30, 2020


Semenjak dahulu kala hingga masa Indonesia modern, tradisi sesumbar dengan memotong bagian tubuh seperti potong telinga lazim digunakan

Semenjak dahulu kala hingga masa Indonesia modern, tradisi sesumbar dengan memotong bagian tubuh seperti potong telinga lazim digunakan. Di zaman masa transisi atau pada awal berdirinya kerajaan Majapahit pun sudah ada aksi potong telinga yang dilakukan Raja Singasari Kertanegara (tahun 1293) yang memotong telinga Meng Ki, utusan Kaisar Cina Khubilai Khan. Kertanegara memotong telinga Meng Ki sebagai jawaban atas surat dari Kaisar Cina agar negara Singasari menjadi koloninya.

Uniknya, dalam rentang masa modern, dalam soal perpolitikan paling mutakhir sesumbar sejenis mulai dari aksi bunuh diri meloncat dari puncak Tugu Monas, potong alat kelamin hingga payudara, jalan mundur,  menggantung diri, hingga potong telinga makin kerap dilakukan.

Namun, dalam kasus ini yang paling mengasyikan untuk dibahas adalah soal janji iris atau potong telinga. Paling awal yang sesumbar akan potong telinga adalah tokoh PPP (dulu) dari Kampung 'Tenabang', Haji Lulung Lunggana. Dia berjanji untuk potong telinga dalam dua hal. Pertama, ketika membalas manuver Ahok yang sesumbar akan maju melalui jalur independen dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta. Lulung menampiknya karena menurut analisanya Ahok hanya 'omong besar' saja.

Nah, janji potong telinga yang kedua dari Lulung adalah ketika menyebut Ahok tak bakal menang dalam Pilkada yang baru berakhir beberapa hari itu.''Iris kuping saya kalau Ahok Menang,'' kata Lulung. Lalu apa hasilnya? Ternyata dikemudian hari apa yang dikatakan Lulung terbukti: Ahok maju melalui dukungan partai dan kalah dalam Pilkada. Di sini, harus diakui, Lulung punya insting politik yang hebat. Dan kala itu menjadi pantas ketika sesuai pilkada Jakarta banyak kader PPP yang mengelukan dia menjabat sebagai Ketua Umum PPP.

Selain Lulung sesumbar iris telinga terkait pilkada Jakarta, juga datang dari pernyataan 'bintang talks show' Ruhut Sitompul. Sesumbar terlontar dari mulut Ruhut ini terjadi di akhir Januari 2017 lalu. 'Si Poltak Raja Minyak' sebutan akrab dari Ruhut, bilang siap potong kuping kalau Ahok tidak menang di Pilkada 2017.

Kala itu, Ruhut diminta menanggapi hasil survei CSIS. Kebetulan, survei menempatkan Ahok sosok pemimpin Jakarta 'tanpa tanding' karena memiliki popularitas paling tinggi (94 persen) dan tingkat elektabilitas tinggi (43,25 persen), dibandingkan tokoh lain yang dinilai layak untuk maju dalam pencalonan gubernur Jakarta.

Tapi suratan tangan Ruhut berbeda dengan Lulung. Ahok yang didukung Ruhut kalah telak dalam Pilkada DKI Jakarta. Maka setelah itu tentu saja di medsos berhamburan tuntutan agar 'Ruhut potong telinga' untuk melunasi janjinya. Salah satunya datang dari 'seteru abadinya' Hotman Paris Hutapea.

"Apakah sekarang tiba waktunya untuk perhelatan potong dua kuping? Kapan dan di mana?" kata Hotman.
"Apakah acara potong kuping perlu dibuat upacara Tor-Tor adat Batak dengan acara Gondang Batak Bertalu-talu. Hotman Paris bersedia menjadi Raja Parhata (pemimpin adat)," ujarnya lagi.

Tak hanya di dalam politik aksi iris potong telinga pernah menjadi polemik seru pada dunia musik Indonesia. Situasi ini muncul pada pertengahan tahun 1970-an ketika ada perseteruan yang keras antara pendukung musik rock dan dangdut. Saat itu kedua kubu saling ejek bahkan caci maki. (Tidak terbayang kalau saat itu sudah ada media sosial).

Kubu musik rock mengolok-olok sampai habis-habisan kubu musik dangdut. Mereka mengatakan musik dangdut musik kampung, kelas comberan, bahkan sampai keluar sumpah serapah tak pantas: Dangdut musik tai kucing! Uniknya, di situlah sebutan musik dangdut muncul yang sebelumnya dikatakan 'musik melayu'. Sebutan dangdut semula dimaksudkan untuk mengejek bunyi kendang atau tabla: dang ..dut..dang..duuuut!

Adanya ejekan itu kemudian dibalas oleh pendukung dangdut dengan tidak kalah keras. Mereka menyebut rock musik syetan, musik tak bertuhan, musik kaum urakan, musik sok kebaratan, musik anak agotukung (anak gondrong tukang kangkung), dan lainnya. Mereka pun makin geram ketika pada saat yang sama beberapa 'elite musisi Indonesia' menyerukan kepada pemerintah atau penguasa rezim keamanan Orde Baru agar melarang musik dangdut.

Aksi ejek mengejek itu juga kemudian beralih ke atas panggung. Setiap kali ada konser dangdut aneka sepatu, sandal, kayu, dan batu dilemparkan ke atas panggung. Bahkan, ketika pentas di Pantai Ancol saat itu Oma Irama hampir saja terkena tikaman pisau dari seorang penonton yang merangsek naik ke panggung.

Tentu saja, aksi balasan juga dilakukan oleh penggemar rock. Setiap kali ada pentas rock berbagai sepatu, sandal, dan batu pun disambitkan ke atas panggung. Di beberapa kesempatan pertunjukan musik, aksi perkelahian antara pendukung rock dan dangdut kala itu pun sudah mulai sering terjadi.

Jejak persaingan itu terekam dalam kliping 'Majalah Aktuil' yang disimpan salah satu wartawannya abang 'Buyunk Aktuil'. Pada edisi Januari 1976 termuat kerasnya pertarungan itu. Bahkan, begitu geramnya masa kubu musik dangdut sudah mendatangi rumah Oma Irama untuk meminta izin memotong telinga dedengkot Grup Rollies: Benny Soebardja, yang menurut mereka sudah bertindak berlebihan dengan merendahkan musik dangdut. Judul beritanya adalah 'DUEL MEET MEET ROCK VS DANGDUT ANTI KLIMAKS.'

Isi berita di majalah itu sebagai berikut:

Perseteruan Rock vs Dangdut semakin meruncing setelah Deddy Dores dan Oma Irama saling melontarkan pernyataan keras di majalah Aktuil,sementara Benny Soebardja biang permasalahan buru2 buka suara minta maaf.Namun tak urung sekelompok penggemar fanatik Oma Irama mendatangi kantor redaksi majalah Aktuil menanyakan alamat gitaris Giant Step dengan tujuan ingin menyumpal cangkemnya supaya jangan asal buka mulut tanpa dasar.

Melihat gejala yang tak sehat ini majalah Aktuil mengadakan pendekatan kepada semua pihak yang berseteru,untuk mempertemukannya dalam sebuah forum terbuka bertajuk "Diskusi Musik Hard Rock vs Dhangdut".
Oma Irama yang semula bersedia hadir,sang kaisar dhangdut hanya mengirim kertas kerja serta salam damai.Dalam kertas kerjanya Oma mengharapkan jangan ada kata2 yang menganggap dhangdut musik kampungan,sementara rock dianggap musik orang kotaan.

"Pada hemat saya anggapan semacam ini bukan keluar dari masyarakat pencinta musik,tapi dari musisi2 sendiri yang omong sesuka hati memperkeruh suasana.Dari diri saya pribadi tidak terlalu merisaukan,karena masyarakat kebanyakan yang kritis menanggapinya"tulis Oma Irama.

Bens Leo yang hadir dalam diskusi Rock vs Dhangdut menceritakan bahwa Oma Irama didatangi fansnya yang bakal menyerahkan telinga Benny seminggu kemudian.Ia bertindak nekad karena tidak terima atas omongan kotor Benny tentang musik dhangdut. Dan Oma mengatakan tak perlu hal itu terjadi seandainya Benny tidak sembarangan omong dihadapan wartawan yang tak bisa disalahkan, karena tugasnya mencari berita sebanyak mungkin.

Adanya perseteruan sengit itu dibenarkan oleh Pegiat Musik Melayu, Geiz Chalifah. Di dua majalah musik yang terbit saat itu, yakni Aktuil dan Top, pertarungan dangdut dan rock jelas terlihat. Bahkan, puncak dari ancaman kekerasan yang membuat adanya keinginan untuk potong telinga, berasal dari omongan Benny Subarja yang mengatakan dangdut musik tai anjing.

"Saya membeli majalahnya. Ucapan Benny Subarja saat itu yangg menjadi ramai: dangdut tai kucing!,'' katanya. Karena dinasihati Oma Irama maka keinginan masa dangdut untuk memotong telinga Beny diurungkan.

Akhirnya, janji akan iris telinga diluar masa awal Majapahit memang terbukti hanya sesumbar saja. Dan kalau ingin disebut kesatria maka lakukan saja seperti yang dicontohkan Raja Kertanegara.

Ingat janji adalah utang yang harus dibayar!

MIEDES PINGGIR SAWAH BANTUL JOGJA, Rasa Pedas nggak Bikin Gila

No comments

Tuesday, March 31, 2020

Namun "MIEDES Pinggir Sawah" yang berlokasi di Sorogenen Jl Imogiri Barat KM 7,5  menyajikan dengan rasa dan selera berbeda, lagian bisa diantar via W.A atau Go Food.
Apa jadinya jika mie idola Santap Mania bukan berasal dari tepung terigu? Enak dan nyamankah di perut dan mampu memuaskan gairah Kuliner Jogja? Redaksi Jogjanesia kali ini mengunjungi kuliner unik dari Desa Sorogenen, Jl. Imogiri Barat KM 7,5 Kecamatan Sewon (shareloc google maps )

Oh Mie Des!

Mie Des ialah mie godog/ goreng yang berarti bakmi pedas godog atau di goreng son..... Bahannya terbuat dari pati ketela yang diiris bukan digiling seperti bakmi biasanya. Redaksi Jogjanesia tertarik mengunjungi Warung Mie Des “Pinggir Sawah” karena kabar menyebutkan mie ini punya cita rasa yang berbeda dan mengasyikkan.

Sebenarnya Miedes ini masakan Khas Pundong yang banyak digemari para pelancong yang berkunjung di kota Jogja. Namun "MIEDES Pinggir Sawah" yang berlokasi di Sorogenen Jl Imogiri Barat KM 7,5  menyajikan dengan rasa dan selera berbeda, lagian bisa diantar via W.A atau Go Food.

EKSPLORASI KULINER


Jogjanesia melaju ke Jalan Imogiri Barat Km 7, 5. Sesampai TKP tepat pukul tujuh malam, Redaksi tiba, duduk di ruang makan yang nyaman sembari memberikan instruksi pesanan pada pelayan warung.

Mie Des terhidang di meja saji. Piringnya yang bercorak batik menambah kesan mewah dengan mie pati ketela yang sudah mengepulkan aroma harum yang menarik minat Redaksi untuk membabat habis Mie Des. Bentuk mie tidak kaya biasa; sedikit kotak dan pendek. Kuahnya kental berwarna cokelat. Potongan kubis, daun loncang, dan telur menambah kesan mantap pada Mie Des ini!

Apa yang dapat kami rasakan dari Mie Des? Wah, luar biasa pedas dan nyaman di mulut! Bagi yang kurang menyukai rasa pedas, Santap Mania bisa memesan terlebih dahulu ke penyaji berapa kadar kepedasan Mie Des!

Nah Kulinerista, bagi kalian yang liburan atau traveling  di Jogja sempatkan nyoba pedasnya miedes khas ini. Kalian bisa kok pesan miedes ini via Go Food. 

Mie Des punya kesan tersendiri bagi kami dari Redaksi Jogjanesia. Selain sensasi perjalanan yang memikat karena berjarak tak jauh dari kota Jogja ke arah Selatan, rasa Mie Des juga menambah wawasan kuliner Jogja yang kaya!

Salam wisata kuliner Jogja!





Ayam Goreng Bu Ismo, Jagoan dari Bantul

No comments


Pada perjalanan santai saya ke Bantul, sebenarnya saya sudah mengantongi beberapa nama tempat yang sekiranya bisa saya liput sekalian sembari dolan. Diantara beberapa nama tersebut, ada nama Ayam Bu Ismo, yang dalam catatan saya terletak di sekitar RSUD Bantul. Berhubung saya berangkat masih cukup pagi dan belum sarapan, saya pun melajukan motor saya mengarah ke lokasi tersebut.

Setelah 30 menit perjalanan dari rumah, akhirnya saya pun sampai di kawasan RSUD Bantul, kini tinggal pasang mata yang jeli agar bisa menemukan tempat ini. Rupanya menemukan rumah makan ini gampang sekali. Selain karena parkirannya yang penuh, warung ini benar-benar dekat dengan RSUD Bantul (tepatnya di Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo 39). Saya pun langsung parkir motor saya dan masuk ke rumah makan tersebut. Saya memesan satu porsi nasi ayam goreng seharga Rp. 15.000 dan segelas es tomat seharga Rp. 4.000.

Berhubung perjalannya cukup jauh, saya pun sedikit meregangkan badan sejenak sembari menanti datangnya pesanan saya. Rupanya es tomat pesanan saya datang cukup cepat. Berhubung cuaca cukup panas, saya pun langsung meminum es tersebut. Rasanya benar-benar menyegarkan. Rasa segarnya tomat berpadu dengan manisnya gula berhasil membuat badan saya kembali segar, sangat pas diminum di saat yang panas.

Akhirnya ayam goreng pesanan saya datang juga. Aromanya sudah menggoda sejak  awal saya duduk. Jika dilihat dari bentuknya, ayam goreng ini dimasak bacem. Untuk saya yang terbiasa dengan masakan Jawa, saya cukup menggemari ayam dimasak cara ini. Saya pun langsung mencicipinya karena sudah tidak bisa menahan nafsu makan saya. Kelezatan rasanya langsung memikat saya.

Perpaduan rasa manis dan gurihnya benar-benar membuat saya ketagihan. Kelezatan ini semakin bertambah ketika saya menambahkan sambalnya yang manis namun menggigit. Wah, pertemuan saya dengan Ayam Goreng Bu Ismo ini membuat referensi saya bertambah, khususnya untuk list kuliner wilayah Bantul yang selama ini belum banyak terisi.

Angkringan Pendopo nDalem

No comments
Jalan Sompilan No 12, Ngasem, Yogyakarta
telp: (0274) 385777


Lazimnya, angkringan menggunakan gerobak kayu sebagai tempat berjualan. Namun angkringan yang satu ini mengusung konsep yang berbeda. Sesuai namanya Angkringan Pendopo nDalem ini menggunakan pendopo rumah jawa (ruang berukuran besar di bagian depan rumah. Biasanya digunakan untuk menyambut tamu atau acara keluarga) sebagai tempat usaha.

Makanan yang disediakan memang tidak jauh berbeda dengan angkringan kebanyakan. Pengunjung pun juga bisa langsung memilih aneka rupa makanan yang sudah diletakkan di meja panjang. Ada beberapa pilihan nasi dalam ukuran mini. Seperti nasi teri, oseng tempe dan nasi bandeng. Sementara lauknya mulai dari sate ayam, sate ati ampela, gorengan sangat khas dengan cita rasa sebuah angkringan.

Perbedaan justru terletak pada jajanan atau snack yang juga turut dihidangkan. Angkringan Pendopo nDalem secara konsisten menyajikan aneka jajan pasar menggugah selera yang sudah jarang ditemui atau bahkan tak dikenal lagi oleh generasi muda. Sebut saja Clorot, Kipo, Semar Mendem, Lupis, Jadah Manten dan lain sebagainya. Bagi pengunjung yang belum pernah mencicipi jajan pasar ini tentunya akan menjadi salah satu pengalaman baru mencicipi kuliner nusantara. Jajan pasar yang tersedia juga terbilang komplit begitu terlihat berkurang maka pegawai dengan sigap menambahkannya lagi.

Untuk urusan minuman, tempat ini menyajikan beragam minuman hangat. Minuman ini diberi nama yang unik seperti Wedang Bleduk, Wedang Gajah, Leser. Ada juga teh rempah atau bajigur. Nah untuk favoritnya pengunjung biasanya akan memilih Wedang Bleduk yang merupakan campuran dari berbagai rempah seperti sereh, jahe, cengkeh serta gula jawa. Jangan lupa untuk mengaduk terlebih dahulu sebelum meminumnya karena gula jawa yang digunakan bukanlah gula jawa cair melainkan bongkahan gula jawa yang kadang masih tertinggal didasar gelas.

Masih tertantang mencoba yang lainnya, cicipi Wedang Gajah yang disajikan dengan gelas jumbo. Merupakan campuran sereh, jahe, kayu manis, bunga cengkeh dan gula jawa. Porsi besarnya mampu menghangatkan perut. Kedua minuman ini bisa juga disajikan dengan susu namun tentu saja dengan harga yang berbeda pula.

Selain itu, nilai plus lainnya berwisata kuliner di angkringan ini adalah tempatnya yang unik. Meski Angkringan hanya menggunakan bagian depan rumah saja namun pengunjung tetap bisa merasakan suasana etnik sembari menikmati sajian makan malam. Apalagi rumah bergaya arsitektur jawa klasik ini memang masih terpelihara baik. Patung Loro Blonyo serta pendar cahaya kuning yang berasal dari lampu klasik langsung menyambut. Kesan etnik inilah yang kemudian beberapa kali juga diabadikan  pengunjung di sela-sela menikmati sajian makanan mereka.

Angkringan Pendopo nDalem
Angkringan Pendopo nDalem rupanya juga ingin memperkenalkan angkringan sebagai alternatif makan malam terutama bagi keluarga atau rombongan. Ini terlihat dari jumlah kursi dan meja sudah disusun berkelompok. Rata-rata terdiri mulai dari 4-10 orang. Pendopo ini mampu menampung hingga 50-an pengunjung sekaligus. Asiknya, pengunjung juga bisa melakukan reservasi terlebih dahulu. Jadi tak perlu takut kehabisan tempat duduk.

Jika tak ingin melewatkan pengalaman kuliner di tempat ini, Angkringan Pendopo nDalem buka setiap hari mulai dari Pkl 18.00 WIB-23.30 WIB.

Wedang Gasu (Gajah Susu)+Nasi +Sate Ayam+Sate Ati = Rp.16.500

Kipo+Ketan+Semar Mendem = Rp.7500

Angkringan Pendopo nDalem
Jalan Sompilan No 12, Ngasem Yogyakarta


(0274) 385777


PECEL BAYWATCH : Menyantap Pecel Kembang Turi Olahan Mbah Warno "Anderson"

No comments
Kasongan, Bantul, Yogyakarta, Indonesia


Mbah Warno menjajakan menu utama pecel dengan beragam lauk sebagai pengiringnya. Mulai dari lele dan belut goreng kering, tahu bacem, mangut belut (belut bersantan yang dibumbui cabai), hingga bakmi goreng. YogYES memesan semuanya agar dapat merasakan aneka rasa masakan Mbah Warno ini.

Sambil menunggu, pikiran saya melayang menelusuri asal-usul pecel yang sama tidak jelasnya dengan soto. Banyak daerah di Jawa memiliki pecel dengan ciri khasnya masing-masing, misalnya Pecel Madiun, Pecel Blitar, Pecel Madura, Pecel Slawi dan lain-lain. Namun setidaknya, seorang sejarawan Belanda bernama H.J Graaf pernah mengungkapkan bahwa ketika Ki Ageng Pemanahan melaksanakan titah Sultan Hadiwijaya untuk hijrah ke hutan yang disebut Alas Mentaok (sekarang Kotagede), rombongan beliau disambut masyarakat di pinggir Sungai Opak dan dijamu dengan berbagai jenis masakan, termasuk pecel.

Mbah Warno "Anderson".
Lamunan saya terputus saat pecel dan beberapa makanan pengiring tiba di meja. Seporsi pecel, lele goreng, dan tahu bacem seolah menantang untuk secepatnya dinikmati. Terdapat empat jenis sayuran dalam hidangan berlumur bumbu kacang ini yakni daun bayam, daun pepaya, kembang turi (Sesbania grandiflora), dan kecambah / taoge. Kita akan disergap rasa manis dari bumbu kacang yang menggelitik lidah. Saat menguyah kembang turi yang agak getir, rasa manis tadi berpadu sehingga menghasilkan kelezatan yang sulit diungkapkan.

Pecel dengan kembang turi merupakan ciri khas pecel "ndeso". Jaman sekarang sudah sulit untuk menemukan penjual pecel seperti ini. Konon kembang turi memiliki khasiat meringankan panas dalam dan sakit kepala ringan. Jadi tidak heran bila orang Jawa, India, dan Suriname (masih keturunan Jawa juga sih, hehehe) sering menyantap kembang turi muda sebagai sayuran.

Pecel akan bertambah nikmat jika ditambah dengan lele goreng atau tahu bacem. Lele goreng di tempat ini dimasak hingga kering sehingga crispy ketika digigit. Sedangkan tahu bacem yang berukuran cukup besar dapat dinikmati sebagai cemilan bersama cabai rawit. Selain itu juga terdapat hidangan lain seperti belut goreng dengan dua variasinya. Pertama, belut goreng kering yang berukuran kecil dan belut goreng basah yang lebih besar. Ada juga bakmi goreng dan mangut belut bagi anda yang menggemari makanan pedas. Asap dari anglo menambah sensasi rasa dari hidangan di warung ini.

Entah karena kenyang atau efek kembang turi, selesai makan kepala saya terasa lebih cerdas dari biasanya. Sambil ngobrol ringan dengan Mbah Warno dan asistennya, saya jadi paham kenapa pecel di tempat ini dijuluki Pecel Baywatch. Hal itu karena Mbah Warno dan asistennya selalu mengenakan sejenis baju yang disebut kaus kutang. Pakaian yang sangat nyaman untuk dikenakan di tengah udara pedesaan Kasongan Bantul yang kering dan panas.

Walau penjual pecel ada dimana-mana, Pecel Baywatch tetap menawarkan sesuatu yang lain bagi anda. Sebuah kombinasi kelezatan makanan, suasana pedesaan yang kental, dan keramahan Mbah Warno "Anderson".
Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde