Responsive Ad Slot

Pemukim Yahudi Serbu Al-Aqsa, Lukai 2 Anak hingga Kritis

No comments

Monday, October 20, 2014

PULUHAN pemukim Yahudi pada hari Ahad (19/10/2014) dikabarkan telah memaksa masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki.
“Sekelompok mahasiswa Yahudi menyerbu kompleks bersama dengan pasukan Israel, dan secara verbal menyerang para mahasiswa Palestina,” penjaga, yang minta tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Menurut penjaga, polisi Israel memberlakukan pembatasan masuknya jamaah Muslim ke dalam kompleks sejak dini hari.

Dalam insiden lain, seorang pemukim Yahudi menabrak dua anak-anak Palestina di dekat Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, meninggalkan dua anak itu dalam kondisi kritis. Direktur Rumah Sakit Ramallah Ahmed Bitawi mengatakan bahwa dua anak itu sedang dalam keadaan koma dan tim medis tengah berusaha menyelamatkan nyawa mereka.

Otoritas Palestina dan Israel belum mengomentari insiden tersebut.
Beberapa bulan terakhir pemukim Yahudi telah meningkatkan serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Pejabat Palestina menuduh tentara dan polisi Israel menutup mata terhadap serangan. [worldbulletin]

Padang Mahsyar, Bumi Lain Diakhir Zaman- Bagian 1

No comments
BUMI tempat hamba-hamba Allah dikumpulkan pada hari kiamat adalah bumi lain, bukan bumi ini. Allah SWT berfirman, “(Yaitu) hari ketika bumi diganti dengan bumi lain dan langit pun diganti dan mereka keluar menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Panakluk,” (QS. Ibrahim: 48). Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kita tentang keadaan bumi yang baru tempat manusia dikumpulkan ini.

Dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim diriwayatkan dari Sahl ibn Sa’d yang mengaku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di bumi yang putih ‘afra’ seperti lembaran roti naqi.” Sahl atau yang lain menambahkan, “Di sana tidak ada ma’lam bagi seorang pun.”

Al-Khaththabi mengatakan, ‘afr (tunggal ‘afra) berarti putih tidak jernih. ‘Iyadh mengatakan, ‘afr berarti putih dengan sedikit kemerah-merahan. Ibn Faris mengatakan, ‘afra’ berarti putih bersih.
Kata naqi berarti tepung yang bersih dari campuran dan ampas.

Kata ma’lam berarti tanda yang menunjukkan jalan ke suatu tempat, seperti gunung dan batu besar, atau sesuatu yang dibuat oleh manusia untuk menunjukkan jalan atau pembagian wilayah.

Banyak nas dari sejumlah sahabat, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang bermaksud sama dengan hadis yang telah kami kemukakan di sini.

 ‘Abd ibn Humaid dan ath-Thabari dalam tafsir mereka serta al-Baihaqi dalam buku Syu’b al-Iman telah menukil dari jalur ‘Amr ibn Maimun dari ‘Abd Allah ibn Mas’ud tentang firman Allah SWT, “(Yaitu) hari ketika bumi diganti dengan bumi lain.” Ibn Mas’ud mengatakan, “Bumi diganti dengan bumi yang bagaikan perak, tidak terkena noda dan kesalahan.” Para perawi hadis ini shahih, tetapi hadis ini mauquf (sanadnya hanya sampai ke sahabat).

Al-Baihaqi menukil dari jalur lain yang marfu’ (sanadnya sampai ke Nabi). Tetapi menurutya, yang mauquf lebih shahih. Ath-Thabari dan al-Hakim juga menukil hadis ini dari jalur ‘Ashim dari Zirr ibn Hubaisy dari Ibn Mas’ud dengan redaksi, “Bumi yang putih bagaikan batangan perak,” dan para perawinya juga terpercaya.*** islampost
BERSAMBUNG

Inikah Kebiasaan Wanita di Setiap Hari Minggu ?

No comments
Kadang, kita malas untuk melakukan liburan di hari Minggu. Memang sih, banyak yang jalan-jalan dan memiliki acara di hari Minggu. Namun, tidak sedikit dari kita yang lebih memilih untuk istirahat panjang saat libur agar keesokan harinya bisa menyambut tantangan dengan energi yang penuh.
Nah Ladies, berikut ini merupakan beberapa kebiasaan yang sering kita lakukan di hari Minggu saat sedang tidak ada acara, dilansir dari elitedaily.com. Dan yang pastinya, bermalas-malasan yang
  • Tidak ingin jauh dari kasur dan selimut.
  • Malas masak dan cenderung untuk delivery order.
  • Online dan membuka beberapa sosial media.
  • Meng-upload beberapa foto.
  • Sebelumnya, tidur larut malam biar bisa bangun siang.
  • Malas menggunakan bra.
  • Menggunakan underwear yang sama dengan semalam.
  • Atau, tidak menggunakan underwear
  • Malas mandi.
  • Malas menggosok gigi hingga sore.
  • Makan di atas kasur.
  • Nonton film.
  • Menggunakan kostum olahraga dan berpura-pura sedang melakukan olahraga.
  • Mengonsumsi sisa-sisa makanan di kulkas.
  • Menggunakan dada sebagai food tray.
  • Mengecat kuku.
  • Membatalkan semua rencana liburan karena sibuk.
  • Sering masuk ke dalam kamar mandi.
  • Menghabiskan banyak waktu bermain sosial media.
  • Download beberapa film atau drama Korea.
  • Nge-tweet hingga ratusan tweets.
  • Bingung memikirkan mau ngapain saat liburan.
  • Memikirkan rencana ke depan.
  • Stalking di Facebook.
  • Stalking akun sosial media mantan.
Lalu, bagaimana dengan Anda Ladies? Apa kebiasaan Anda saat tidak ada acara di hari Minggu?

Memaknai Bulan Suro 1947 ( 2014 masehi ) Dalam Pandangan Jawa Terhadap Situasi di Indonesia

No comments

Saturday, October 18, 2014

Sebentar lagi tahun Jawa 1947 Alip gunung dengan sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad akan segera berlalu. Sebelum meninggalkan tahun 1947 disampaikan sedikit ulasan sebagai evaluasi. Semoga ada manfaat yang dapat kita ambil dari berbagai peristiwa dan fenomena alam yang telah terjadi selama tahun 1947 Alip  atau 5 Nopember 2013 sampai dengan 25 Oktober 2014.

Sebelum mengulas Sura Pinunjul yang akan datang kita perlu flashback karena di antara kedua fase yang sedang berlangsung dan yang akan datang saling berkaitan erat secara runtut. Sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad mempunyai makna ganda yang meliputi dimensi makrokosmos dan mikrokosmos. Yakni makna yang menunjukkan fenomena yang terjadi pada alam semesta dan pada individu manusia. Panca agni dalam dimensi mikrokosmos atau diri manusia mempunyai makna bahwa selama rentang waktu tersebut terjadi kobaran “api” atau hawa nafsu angkara dari dalam diri manusia. Bergolaknya kobaran “api” itu telah membakar emosi dan hawa nafsu manusia. Kobaran itu lebih dirasakan dalam kancah politik makro. Di mana dinamika politik diwarnai dengan gejolak manusia untuk berkuasa dan saling memukul lawan, maupun “kawan”. Dalam scope yang lebih luas, “api” hawa nafsu telah “menembus bumi”, menyeruak sendi-sendi kehidupan sosial dan politik masyarakat. Hilangnya rasa malu dan takut dosa atau karma menjadi gambaran (sebagian)  manusia masa kini. Bahkan sangat ironis lambaian tangan dan senyum manis seolah menjadi ikon para pejabat koruptor yang sedang ditangkap KPK. Seolah mereka ingin membuat kesan dan pencitraan bahwa dirinya tetap pede karena menganggap penangkapan KPK sebagai hal yang lucu karena telah salah menangkap orang.

Sangat ironis, sepertinya orang sudah tidak ada lagi yang  merasa telah melakukan kesalahan besar atas bangsa dan negara ini. Dalih yang lazim dilakukan oleh para tersangka kejahatan penyalahgunaan wewenang adalah kata-kata bernada menyalahkan orang lain, misalnya akibat difitnah, dijebak atau terjebak. Tapi rakyat yang tak berdaya secara politik, tetap semakin pandai menilai keadaan sesungguhnya.

Bulan Sura tahun 1947 Alip atau 2014 masehi yang masih berjalan, masuk dalam siklus Sura Moncer, akan tetapi hari pertamanya jatuh pada weton tiba pati. Itu yang menjadi terasa berat sekali dalam meraih kehidupan “moncer” (sukses atau mukti). Bahkan bagi yang lengah, bukannya kamukten dan moncer yang didapat sebaliknya mendapatkan pati. Pati nasibnya, atau pati kesehatannya.

Itu menandakan, sesungguhnya selama tahun 1947 Alip, Nusantara dan setiap pribadi sedang berproses meraih kehidupan yang “moncer” atau sukses. Akan tetapi untuk mencapai tataran “moncer” orang harus melewati rintangan berat dan mematikan. Mati artinya bisa mati fisiknya atau mati non-fisiknya. Mati fisiknya adalah kematian raga. Mati non fisik di antaranya kematian nasib, kematian pola pikir, kematian jiwanya.  Sebagaimana telah saya posting setahun yang lalu dengan judul Sura Moncer 2014: Mukti Opo Mati. Kiprah manusia dalam kancah sosial, ekonomi, dan politik, didominasi oleh unsur api dari dalam diri atau hawa nafsu dan angkara murka. Dan api dari alam semesta, berupa sinar matahari yang terasa sangat panas, gunung berapi, semburan api dari dalam tanah, kebakaran hutan, hawa panas, terjadi silih berganti dengan banjir besar dan hujan salah musim. Selama fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad pada kenyataannya telah makan banyak korban. Sing sapa lena bakal kena, siapa yang kendor untuk bersikap eling dan waspada akan menerima akibatnya. Banyak politisi dan pejabat tumbang oleh kasus dan karena tidak mampu meredam sikap temperamennya sendiri. Bahkan dalam menjalankan kehidupan politik bernegara, Indonesia boleh dikatakan kurang sukses melaksanakan suksesi dengan menuai berbagai sikap pro-kontra yang cukup tajam.

Fase saat ini adalah fase jagad sedang bersih-bersih diri. Banyak tokoh-tokoh “hitam” yang dominan muncul meramaikan panggung politik Nasional. Kualitas legislatif dan eksekutif yang baru terpilih sangat beresiko lebih buruk dari sebelumnya. Hal itu wajar karena memang fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad ini merupakan fase untuk bersih-bersih dari yang kotor-kotor. Barulah kemudian akan tampil sang SP sejati. Apapun yang terjadi nanti, sebentar lagi siklus tahun Jawa akan berganti. Yakni warsa 1948 Ehe yang akan dimulai pada Sabtu Pahing 25 Oktober 2014. Diawali dengan bulan Sura Pinunjul yang jatuh pada hari Sabtu Pahing (18) atau tiba gedhong (kesinungan sugih dan kuat nyunggi drajat) merupakan momentum perubahan lebih baik lagi untuk kita semua.

Tanning Bisa Bikin Kecanduan ! Kayak Wanita Ini !

No comments
Orang-orang di negara Barat, menggunakan teknik penggelapan kulit dengan produk tanning atau tanning bed merupkan bagian dari regime kecantikan mereka. Bagi mereka, memiliki kulit coklat nan eksotis merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

Meski begitu, tanning buatan dapat berisiko terjadinya kanker kulit. Walau sudah banyak orang yang mengetahui dampak buruknya, nyatanya menggunakan tanning khususnya tanning bed terus meningkat.

Salah satu orang yang mengabaikan risiko tanning bed adalah wanita bernama Hannah Norman. Gadis 19 tahun itu melakukan tanning bed setiap harinya. Tidak tanggung-tanggung, wanita yang berasal dari South Wales, Inggris itu melakukan empat kali tanning setiap harinya di salong yang berbeda-beda.


Kebiasaan melakukan tanning bed bahkan sudak ia jalanjan sejak usianya 14 tahun. Padahal, usia yang dilegalkan untuk melakukan tanning bed adalah 18 tahun.

Tanning bed merupakan proses penggelapan kulit yang menggunakan mesin khusus. Prosesnya adalah, klien masuk ke sebuah alat sambil berbaring. Alat tersebut memancarkan radiasi ultra violet. Idealnya tanning bed dilakukan selama 10 menit.

Berbeda dengan Hannah, ia memanfaatkan waktu maksimal tanning bed di setiap salon hingga 15 menit karena lebih dari waktu tersebut pihak salon tidak mau melayani. Waktu tersebut masih dirasa kurang oleh Hannah. Setiap harinya, ia pergi ke empat salon agar mendapatkan 60 menit sesi tanning.

Setelah melakukan tanning bed, Hannah biasanya kembali menyemprotkan produk tanning agar kulitnya semakin gelap. Terlalu banyak penggunaan produk tanning malah membuat warna kulitnya jadi aneh karena terlihat tidak alami. Bukan mendapatkan kulit coklat eksotis, warna kulit gadis bertubuh sintal itu malah menguning.

Meski begitu, ia sudah terlanjur kecanduan dengan tanning bed bahkan tidak ragu menghamburkan banyak uang demi mendapatkan warna kulit idamannya. Setiap bulannya Hannah mengeluarkan biaya hingga 1.000 poundsterling atau sekitar Rp 20 juta.
Hannah sudah masuk kategori sebagai orang yang kecanduan tanning. Ia sangat terobsesi memiliki kulit bronze-coklat sejak lama.

PEREMPUAN Dalam Perspektif Ke-Jawa-an

No comments

Wednesday, October 15, 2014

Postingan  ini khusus saya persembahkan kepada pembaca Kabar Jogja Lho dan seluruh pemerhati gender, kepada seluruh pembaca yang budiman, untuk berbicara, memberikan sumbang sih, membahas, berdiskusi seputar falsafah hidup, pandangan, persepsi, terhadap kaum perempuan. Tentu saja hal ini akan membawa kita ke dalam khasanah ideologi gender –feminisme– di mana ideologi feminisme bermula dari adanya PENILAIAN yang dilakukan oleh (terutama) otoritas/kekuasaan/dominasi kaum laki-laki (maskulin) terhadap kaum perempuan. Pada gilirannya penilaian tersebut mengkonstruksi SISTEM NILAI, di mana di dalamnya terdapat cara pandang (mind set) masyarakat terhadap kaum perempuan. Sistem nilai yang telah mengakar ke dalam tatanan masyarakat, mengkristal menjadi sistem sosial yang berlaku menjadi pedoman hidup, yang “dibakukan” ke dalam norma sosial, bahkan seringkali norma sosial tentang feminisme dijustifikasi dan dilegitimasi melalui norma hukum (hukum positif).
Celakanya, ideologi feminisme, terkonstruksi bukan melalui mekanisme sosial yang bersifat OBYEKTIF, alias tidak berlagsung apa adanya secara alamiah. Sebaliknya ideologi feminisme lebih merupakan PRODUK dari DOMINASI MASKULIN. Produk yang bersumber dari kekuasaan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan. Bahkan seringkali dalam ranah spiritual, kaum perempuan tetap saja dipandang remeh atau prioritas kedua setelah kaum laki-laki. Dengan kata lain perempun sekedar berperan sebagai pelengkap penderita. Jika kita mau jujur mengakui, isi kitab suci pun memberikan kesan seolah tuhan itu berjenis kelamin laki-laki. Lebih parah lagi, pada akhirnya tak sedikit dari kaum perempuan sendiri pun ikut-ikutan memberikan penegasan dominasi maskulin, melalui berbagai stigma yang dilekatkan pada dirinya sendiri.
Walau begitu tidak seluruh sistem sosial demikian adanya, terutama di dalam tatanan sosial masyarakat modern, masyarakat dengan tingkat kemakmuran yang tinggi seperti negara-negara di belahan Skandinavia, Eropa Barat, beberapa wilayah Amerika Serikat, Latin. Namun terasa ideologi gender yang cenderung berat sebelah, menampakkan dominasi kaum laki-laki (patriarchard dan patrilineal) terjadi di negara-negara benua Asia meliputi Timur Tengah, China, Indonesia, India, Malaysia.
Sebagai bukti bahwa ideologi gender yang bersifat berat sebelah, tidak adil, tidak seimbang,  telah sedemikian dalam mengkonstruksi pola pikir masyarakat dunia, yakni dirasukinya isi kitab suci dengan dominasi nilai-nilai maskulin. Sementara itu nilai feminin hanya menjadi obyek penderita saja, sebagai subordinat dari otoritas konsep tuhan yang cenderung maskulinisme. Sehingga membuat imajinasi kita sulit sekali membayangkan tuhan sebagai figur perempuan, oleh karena doktrin agama yang telah dijejalkan bertubi-tubi sejak kecil, baik melalui telinga, mata, maupun hidung. Saya berandai-andai, jika tuhan adalah perempuan, sepertinya dunia ini akan lebih tenteram dan damai. Tak ada lagi perang antar agama. Karena kaum perempuan, kenyataannya tidak memiliki nafsu mendominasi, mengalahkan, menghancurkan, yang berujung pada peperangan  sebesar yang dimiliki kaum laki-laki.
Pada kenyataannya, manusia telah membuat definisi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian menampakkan kadar subyektif dan berat sebelah dalam menilai. Diakui atau tidak, munculnya stigma (“stempel” negatif) terhadap kaum perempuan, hanya berdasar penilaian pada sisiminus-nya saja, bukan pada sisi plus dan esensinya.

EMPU
Coba sekarang kita buka lagi lembaran lama khasanah spiritual nusantara. Di mana kaum wanita disebut sebagai PER-EMPU-AN. Empuadalah istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki daya linuwih, waskita, berilmu tinggi, ahli sastra, menguasahi ilmu kasampurnaning urip, pembuat suatu karya agung.  Maka sangatlah tepat para leluhur bangsa Nusantara ini memberikan istilah per-EMPU-an untuk kaum wanita, tidak hanya sekedar menyebutnya sesuai jenis kemaluannya saja, tetapi lebih mulia karena menyebutnya melalui aspek esensinya yang lebih manusiawi, dan sekaligus sebagai bentuk apresiasi rasa penghormatan tinggi terhadap kaum wanita. Ya…per-empu-an. Merupakan satu-satunya sebutan paling tepat dan hebat di muka bumi untuk menyebut kaum wanita.

Abu Aisha, Mualaf yang Mengatakan, “I’m Muslim. My Brand is Akhlaq”

No comments

POLANDIA sebagaimana Rusia termasuk sebagai negara dengan mayoritas Kristen. Interaksi dengan Islam terbilang minim kecuali dengan orang-orang muslim. Maka inilah pentingnya akhlak kita sebagai brand dakwah kepada orang-orang di luar Islam.
Petunjuk Allah jualah, lelaki bernama Abu Aisha berinteraksi dengan seorang muslim yang bernama Abdullah saat datang ke Norwegia. Brother ini yang membantu Abu Aisha mempersiapkan dokumen untuk bekerja. Dalam pikiran Abu Aisha siapalah beliau sampai-sampai mau membantu. Kenal akrab juga tidak. Hidup di Eropa memang terbilang individualis. Itulah mengapa para imigran terkesan hanya berkumpul dengan orang-orang dari negara yang sama.
Di beberapa negara Eropa, para pekerja dari Polandia hampir menyebar ke semua sektor dan terbilang pekerja dari negara lahir Abu Aisha selalu menduduki tingkat statistik teratas.
Tapi Abu Aisha justru tidak berkumpul dengan orang-orang Polandia dan sebaliknya mendekat ke perkumpulan orang Arab mengikuti brother Abdullah. Hidayah Allah memang luar biasa. Tingkah brother Abdullah yang mengerjakan shalat mengundang tanya. Belum selesai di situ, muncul dilema melihat tingkah beberapa orang Arab yang bertolak belakang dengan Islam.
Tapi justru pertentangan ini melahirkan kesadaran dalam benak Abu Aisha untuk mempelajari Islam lebih jauh bahwa Islam agama sempurna. Pemeluknya belum tentu. Dan Alhamdulillah, Allahu Akbar, perjalanan menuju Islam. Abu Aisha mengucap syahadat di tanah Viking, Norwegia.
Abu Aisha kemudian menikahi seorang muslimah Indonesia yang juga seorang penulis. Mereka dikarunia putri yang cantik. Namanya tentu Aisha. Aisha Pisarzewska. Nama Muslim dan Polandia yang cantik. Abu Aisha, lelaki mualaf itu yang sering mengucapkan “I’m Muslim. My brand is Manner (akhlaq).” [sa/Islampos]
Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde