![]() |
| Sisi lain Kota Jogja dini hari |
Sebuah ironi, gaya hidup, atau memang tuntutan ekonomi yang
kian hari kian terasa berat dan menyesakkan.
Sebuah bisnis yang tak mengenal kata rugi, yang tak akan
pernah hilang walaupun dengan fatwa-fatwa dari lembaga keagamaan atau cibiran
yang tidak menyenangkan dan hukuman moral dari masyarakat yang bersih ataupun
yang pura-pura bersih.
Yogyakarta, sebuah provinsi yang sering dikenal sebagai kota
budaya, kota pelajar, Indonesia mini dan sebagainya. Banyak hal dari Kota Jogja
yang sangat menarik untuk ditelusuri, dibahas, diperdebatkan dan tentunya,
dinikmati. Banyak yang berkata bahwa, sebuah kota metropolitan mempunyai
berbagai macam sisi yang kelam, tetapi setau saya, Jogja bukan merupakan sebuah
kota metropolitan. Setidaknya itu yang telah diketahui masyarakat banyak
melalui media televisi dan sebagainya.
Namun, jika ditilik lebih lanjut, ditelusuri dan dinikmati,
Jogja juga mempunyai kehidupan yang hitam, yang kelam yang kejam. Berbicara
tentang kenikmatan duniawi yang katanya haram, Kota Jogja memiliki banyak
tempat yang dapat mewujudkan keinginan-keinginan nakal seperti itu. Bagi
mahasiswa-mahasiswa yang kebetulan terlahir sebagai anak dari orang tua yang
seperti tak pernah keabisan uang, tempat-tempat hiburan malam menjadi tempat
untuk melampiaskan segala macam penat. Atau mungkin hanya untuk mencari gengsi
yang semakin dibutuhkan dewasa ini.
Lalu apa yang dicari? Menurut pengalaman saya, mabok dan
joged bukan merupakan tujuan utama, namun yang menjadi tujuan yang sebenarnya
adalah sex! yup!! Dengan bermodal jutaan rupiah, dan ketika berada di dalam
cafe, dengan memesan minuman luar negeri, atau ungkapan gaulnya yaitu open bot,
maka niscaya cewek-cewek manis nan sexy bakal muncul dan merapat menuju table
kita. Tak perduli bagaimanapun tampang dari si pemesan.
Maaf, tapi memang kenyataannya, rata-rata cewek-cewek yang
kebetulan mengecam pendidikan di Jogja mencari tipe cowok-cowok gaul yang
berduit. Tidak semua, tapi jika ingin diprosentasekan, mungkin jumlahnya
mencapai 80 %. Perawan? Anda bisa menebaknya sendiri. Tetapi bukan hal itu yang
akan kita tekankan sekarang, melainkan bisnis esek-esek yang semakin menjamur
di Kota Jogja.
Sarkem, siapa yang tidak mengenal kompleks PSK terbesar dan
yang paling terkenal di Kota Jogja. Entah legal atau ilegal, namun tempat ini
telah bertahuin-tahun menjadi icon Kota Jogja selain Malioboro dan Tugu. Lokasi
yang strategis yaitu dekat dengan stasiun Tugu dan Malioboro membuat tempat ini
semakin ramai dikunjungi, terutama oleh mahasiswa-ahasiswa yang ingin
melepaskan hasrat, atau suami-suami yang mungkin kurang terpuaskan oleh
istrinya.
Sarkem tidak lain adalah merupakan singkatan dari sebuah
nama jalan. Jalan Pasar Kembang. Entah mengapa namanya seperti itu, setau saya,
tidak ada satupun penjual kembang yang mangkal di sana. Kalau anda ingin
mencari kembang berbagai jenis, carilah di Kota Baru. Tidak jauh memang. Harga
yang ditawarkan dari pegawai (saya meyebut pegawai agar kelihatan lebih halus)
Sarkem sangat bervariasi. Mulai dari 50 ribu hinggga 120 ribu.
Mulai dari yang baru lulus SMA sampai yang maaf, sudah
hampir bau tanah. Para pegawai ini biasanya nongkrong di dalam sebuah gang
berlambangkan kupu-kupu. Dengan menyewa kamar-kamar yang memang sengaja di
sewakan oleh pemilik rumah-rumah yang ada di dalam gang tersebut. Selain sarkem
yang sangat terkenal, Kota Jogja juga masih banyak memiliki tempat-tempat
prostitusi yang terselubung. Kali ini saya akan coba membahas tentang
prostitusi yang berkedok salon kecantikan.
Ada puluhan salon yang tersebar di daerah Jogja, Mulai dari
sepanjang ringroad Utara Jogja (daerah Maguwoharjo) dari arah bandara menuju ke
barat, Jalan kaliurang, Salon depan UPN Condong Catur, Jalan Monjali, Tentara
Pelajar, Jalan Kabupaten, Wonosari, Jalan Solo dan mungkin masih banyak lagi
yang belum tersentuh. Mereka menggunakan salon sebagai kedok menawarkan
pelayanan sex yang menggiurkan. Salon-salon seperti ini sangat mudah untuk
diketahui, biasanya mereka memajang spanduk bertuliskan, perawatan tubuh dan
kecantikan.
Ketika masuk, kita hanya perlu bilang ingin massage. Memang,
di dalam bilik-bilik yang telah disediakan di dalam salon, kita akan di berikan
pijatan-pijatan yang tidak biasa. "Mau pijit biasa atau yang plus-plus
Mas?". Biasanya mereka akan bertanya seperti itu. Kita tinggal memilih
saja. "Kalau karaoke 70 ribu-100 ribu Mas. Kalu maen 150 ribu-200 ribu
sekali maen." Sekali lagi, semua tergantung pilihan kita sendiri. Kalau
sarkem biasa memulai aktivitasnya sejak matahari terbenam, salon biasanya memulai
aktivitas dari pagi hingga petang.
Ada lagi yang menawarkan diri melalui iklan baris di koran.
Coba saja Anda baca koran lokal kolom iklan. Coba Anda cari iklan-iklan
pengobatan. "Anda ingin rilex, capek2, pegel2?segera hubungi Winda
085227756***, dijamin anda akan puas dan tidak menyesal, bisa
ditempat/dipanggil." Seperti itulah kiranya iklan yang terpampang di
koran. Jika melihat seperti ini, siapakah yang hendak kita salahkan? Atau
apakah ini memang salah?
Apa tidak ada pekerjaan yang lainnya? Atau memang tidak ada
lagi pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh mereka? Tingkat pendidikan yang
rendah, trauma masa lalu, gaya hidup atau tuntutan ekonomi?Haram? Halal? Sangat
tipis perbedaan di antara semua itu.



No comments
Post a Comment