Responsive Ad Slot

Di Jawa Pernah Hidup Kingkong Tingginya Tiga Meter

No comments

Wednesday, November 10, 2021

Fosil rahang bawah Gigantopithecus blacki (Kera Raksasa Purba) yang ditemukan di situs Semedo, Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Tegal, Jawa Tengah. 
Sebagian besar masyarakat selama ini mengetahui Kingkong hanya ada dalam Film saja, tetapi kenyataanya kingkong benar-benar ada dan pernah hidup di pulau Jawa. Hal tersebut berdasarkan penemuan dua buah fosil bagian tulang rahang yang terindetifikasi sebagai rahang dari hewan jenis primata.
Fosil tersebut ditemukan di situs Semedo, Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Tegal, Jawa Tengah yang selama ini dikenal sebagai salah satu situs yang kaya akan fosil kehidupan prasejarah.
Kepala Balai Arkeoogi Yogyakarta, Siswanto, sebagai pihak yang melakukan penelitian atas penemuan tersebut mengatakan, di dua tulang rahang yang ditemukan tersebut, masing-masing tersapat dua dan tiga gigi geraham.
"Kami menganalisis dua buah gigi (M2 dan M3) dan masih menempel di rahang bawahnya. Lebar bagian atas dari gigi geraham tersebut mencapai 13 milimeter," ungkap Siswanto.
Berdasarkan hasil identifikasi dari tulang rahang dan ukuran giginya, kera tersebut memiliki tinggi sekitar 10 hingga 12 kaki atau sekitar tiga meter. Dengan ukuran tersebut maka primata tersebut masuk dalam kategori kera raksasa purba atau kingkong purba (Gigantopithecus).
Siswanto mengatakan jika penemuan kera raksasa purba atau king kong Jawa purba merupakan penemuan yang sangat penting untuk ilmu pengetahuan. Selama ini kera raksasa purba diyakini habitatnya hanya berada di Tiongkok, India, dan Vietnam karena selama ini hewan tersebut hanya ditemukan fosilnya di daratan China, India, dan Vietnam yang perbatasan dengan China.
Penemuan fosil kera raksasa (Gigantopithecus) tersebut barulah yang pertama kali di Pulau Jawa. Dengan penemuan ini, Siswanto yakin akan membuka sebuah toeri baru mengenai penyebaran kera raksasa.
Dari hasil penemuan, ada beberapa jenis Gigantopithecus antara lain Gigantopithecus Giganteus dan Gigantopithecus Bilaspurensis. "Gigantopithecus yang ada di Semedo tersebut adalah Gigantopithecus Blacki," terang Siswanto.

Punya Isteri Hipersex, Suami Pasrah

No comments

 

Kehidupan rumah tangga Dulgepuk –bukan nama sebenarnya. Hubungan intim justru menjadi petaka dalam hidup pria 39 tahun ini.

 

Bahkan pria yang sudah menikah selama 10 tahun itu sampai dibuat frustasi gara-gara persoalan ” nafkah batin” . Sang istri, Sephia –bukan nama sebenarnya– yann hiperseks, membuat Dulgepuk tak sanggup lagi meladeni. Terlebih bila tak terpuaskan, sang istri yang berusia 38 tahun itu kerap menebar ancaman. Dulgepuk akan diberi racun.

 

Dulgepuk mengaku, awalnya bangga dan bahagia karena istrinya ” aktif” di ranjang. Tapi lama-kelamaan ia mulai ” remek” menuruti hawa nafsu istrinya.

 

” Istri sehari bisa minta sampai 10 kali, dia senang, gegerku (punggung) putus,”
kata Dulgepuk di sela-sela sidang gugatan cerainya di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya. Dulgepuk mengaku ingin mencari istri yang hasrat seksualnya normal-normal saja. ” Saya mulai sadar, kalau istri itu hiperseks. Biasanya kan lelaki yang pengenan, ini kebalikan aku kayak diperkosa pagi, siang, malam, sama istri. Iya kalau siangnya aku enggak kerja gitu, ini kerja siangnya angkat-angkat barang,” kata Dulgepuk.

 

Jadi Simpanan

Untuk melayani istrinya, Dulgepuk sebenarnya sudah sering berupaya minum obat penguat sampai ramuan alami. Beberapa kali berhasil, namun beberapa kali gagal, justru sering ereksi dulu sampai jantung berdetak cepat.

 

Maka dari itu, Dulgepuk mulai olahraga supaya mampu memenuhi kebutuhan seks istrinya. ” Dua tahun ini daya tahan tubuhku lemah, aku habis kecelakaan, dan sudah enggak boleh minum obat aneh-aneh. Sekarang justru aku drop, makanya aku ampun-ampun sama istri,” kata Dulgepuk.

 

Namun, sang istri tidak mau mengerti dengan kondisi fisiknya. Justru kini istrinya suka main ancam dengan bakal memberi racun jika tidak bisa memuaskannya.

 

” Aku jadi takut makan di rumah, jadi kayak pobia gitulah. Takut takut sendiri, sampai empat bulan lalu aku depresi, sekarang rutin minum obat,” ujarnya.

 

Sementara itu, Sephia mengaku kalau ancaman kasih racun hanya candaan saja. ” Suamiku itu, ngelayani aku males, tapi selingkuh bolak-balik. Kalau tak ancam sunat, malah akan


dilayani. Ya jadinya sekarang aku ancam pakai racun. Aku ya enggak gilalah, bisa-bisa masuk koran kalau ngasih racun beneran,” kata wanita yang tinggal di Perak tersebut.

 

Ibu tiga anak itu pun mengaku kalau sekarang dirinya meluapkan hasrat seksualnya dengan menjadi simpanan orang saja. Terkadang sering ” dipesan” . ” Dosa sih emang dodolan, tapi terpaksa,” ketusnya.

MODUS, Booking PSK di MiChat Atas Nama Tania, yang Datang ke Hotel Ternyata Asep

No comments

 


SEORANG pria berinisial ED (32) kaget saat bertemu dengan cewek open BO yang dipilihnya melalui aplikasi MiChat. Pasalnya, cewek open BO yang ingin dikencaninya tersanyata seorang waria. Saat ia hendak membatalkan transaksi, harta ED justru dikeroyok oleh tiga waria dan hartanya dirampas.

 

Peristiwa ini terjadi di Surabaya, di salah satu hotel di kawasan Genteng. Tiga waria yang melakukan pengeroyokan akhirnya ditangkap polisi. Cerita bermula saat ED tengah iseng membuka aplikasi MiChat dan tengah memilih-milih jasa layanan seks yang pas untuknya.

 

Sampai kemudian, tawaran itu diberikan oleh seorang pelaku bernama Asep alias Tania (24) warga Bandar Lampung yang kos di Surabaya. Kepada korban, Asep alias Tania mengaku sebagai perempuan. Ia menawarkan jasa seks sekali main dengan harga 1,5 juta rupiah yang sudah termasuk hotel.

 

“Tersangka menginap di sebuah hotel di kawasan Genteng,” ujar Kanit Reskrim Polsek Genteng, Iptu Sutrisno. Setelah bersepakat,korban kemudian datang ke hotel itu dan menemui tersangka.

 

Di dalam kamar, tersangka sengaja membuat remang-remang lampu agar tak mudah diketahui jika dirinya ternyata waria. Korban yang curiga akhirnya mendesak tersangka dan sontak kaget setelah tahu jika calon pelayan seksnya itu adalah seorang pria yang menyerupai wanita.

 

“Korban kemudian komplain dan tidak mau meneruskan transaksi itu. Namun tersangka malah marah,” terangnya.

 

Alhasil, tersangka Asep alias Tania kemudian mengancam korban dan meminta uang bayaran yang sudah disepakati. Karena tak mau memberikan uang, tersangka lalu menelpon dua teman waria lainnya yang kebetulan juga berada di lokasi hotel tersebut.

 

Mereka adalah Doris alias Natasya (23) warga Bandar Lampung dan M Alfandi alias Maudy (27) warga Bone Sulawesi. Kemudian, ketiga tersangka itu kompak mengeroyok korban dan merampas barang berharga miliknya yakni, uang sebesar 1,5 juta rupiah dan sebuah handpone.

 

Atas kejadian itu, korban kemudian lari dan melaporkan kejadian tersebut ke polisi, sedangkan para pelaku sudah check out dan kabur dari hotel. Kejadian itu menimpa ES pada Jumat  malam dan ketiga pelaku baru ditangkap pada Selasa.

 

“Pelaku kami tangkap setelah kami melakukan penyelidikan dan mempelajari tekaman CCTV. Begitu ada informasi jika kembali ke hotel pada Selasanya lalu kami tangkap,” tandasnya.

 

Dua orang tersangka kemudian digelandang ke Mapolsek Genteng Surabaya, sementara satu orang lainnya tengah sakit dan sedang jalani perawatan di rumah sakit. Hasil penyidikan, komplotan waria mi chat ini sudah dua kali beraksi serupa di kawasan Surabaya dan berhasil menggasak barang berharga korbannya.

 

Pesan PSK di Medsos, Saat di Hotel yang Datang Istrinya.

No comments

 

Ilustrasi PSK

Cerita lucu dan heboh pasangan suami istri -sebut saja Paijo dan Tumini- warga Surabaya ini. Keduanya saling memergoki sehingga masing-masing kaget berujung cekcok.Paijo dan Tumini bisa dibilang masih muda. Paijo baru berusia 29 tahun, sedangkan Tumini setahun lebih muda.

 

Namun,  adalah pria kesepian. Kondisi ekonomi rumah tangganya juga di bawah pas-pasan.Sudah delapan bulan belakangan ini Paijo pisah ranjang dengan Tumini. Penyebabnya adalah Tumini tak mau melayani Paijo karena kecewa soal kondisi ekonominya seret.

 

Lantaran tak kuat kesepian, Paijo mencoba ‘jajan’ di luar. Dia memesan seorang pekerja seks komersial melalui medsos pada bulan lalu. Singkat kata, Paijo dijanjikan bakal bertemu PSK pesanannya di sebuah hotel di Surabaya.

 

Pada hari H, Paijo pun bergegas ke hotel yang telah disepakati si muncikari.Namun, betapa kagetnya Paijo ketika sampai di kamar hotel. Sebab, PSK yang dijanjikan sang muncikari tak lain adalah Tumini yang notabene istri sendiri.

 

Sontak Paijo bingung sekaligus malu. Hatinya berkecamuk, apalagi sudah terlanjur mengeluarkan uang untuk booking PSK.”Kadung aku bayar Rp 750 ewu sisan (terlanjur saya bayar Rp 750 ribu, red),” ujarnya saat ditemui di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Kelas IA Surabaya pertengahan pekan lalu.Tentu saja uang yang dibayarkan Paijo mubazir. Bukan hanya batal berindehoi, Paijo bahkan terlibat pertengkaran dengan PSK -eh Tumini maksudnya- di dalam kamar hotel.

 

Paijo tak menyangka istrinya rela menjual diri demi uang. Adapun Tumini juga tak habis pikir lantasan suaminya ternyata gemar main PSK.Dari saling memergoki itulah akhirnya Paijo dan Tumini cekcok di dalam kamar hotel hingga memantik perhatian. Petugas hotel pun turun tangan untuk melerai cekcok itu.”Rame.


Isin yo isin tapi wes ra peduli maneh aku (Ramai. Malu ya malu, tetapi saya sudah tak peduli lagi, red),” ujar Paijo


Menurut Paijo, dirinya sempat menginterogasi Tumini. Namun, Tumini mengaku baru sekali menjual diri dengan alasan terpaksa karena sedang butuh uang untuk berlebaran.


Setelah kejadian itu, perselisihan antara Tumini dan Paijo menjadi-jadi. Tumini akhirnya pulang ke rumah keluarganya di Nganjuk.Selain itu, Tumini juga memaksa Paijo mengurus proses perceraian. Hanya saja, Paijo mengaku ingin mempertahankan rumah tangganya karena dia juga meyakini Tumini masih mencintainya.

”Asline sik pengen bareng-bareng. Lha lek areke mulih nak wong tuwo aku iso opo maneh? (Aslinya masih ingin bersama-sama. Kalau dia pulang ke orang tua terus saya bisa apa lagi?, red),” kata Paijo dengan nada memelas.

Tak Ada Perubahan Yang Begitu Instan

No comments

Monday, November 8, 2021

 

Tak Ada Perubahan Yang Begitu Instan
Walaupun namanya mie instan, tetap saja kita butuh proses untuk membuatnya. Butuh tenaga untuk jalan ke dapur dan menyiapkan bahan-bahannya. Mengisi air di dalam panci, kemudian merebus mie dan bahan-bahan lain. Menunggu kira-kira hingga 4 menit sebelum diangkat. Yang katanya instan saja enggak bisa langsung matang dengan hanya kita melihatnya saja, kan? Nah, apalagi dengan perubahan.

Sering kali dalam Kelas Cinta dikatakan, kamu harus keluar daricomfort zone kamu untuk perubahan pribadi yang lebih baik. Kalau yang dulu cuek dengan penampilan mulai “bebenah” diri. Kalau dulu tak pandai bergaul, sekarang harus keluar dari kamar dan berkenalan dengan orang baru atau setidaknya menemui teman lama. 

Kalau dulu katanya tak pintar bicara, maka sekarang harus latihan lebih sering untuk ngobrol dengan siapa pun. Kalau dia minder karena kekurangan, maka harus usaha untuk menghilangkan hal yang membuat minder itu.

Banyak orang yang bertanya, bagaimana melakukan perubahan diri? Mereka yang kuper bertanya kepada orang yang pintar bergaul bagaimana caranya agar dia bisa seperti orang tersebut. Temannya hanya menjawab: Lo cuma perlu jadi teman yang asyik aja. 

Kemudian si Kuper bertanya bagaimana cara agar jadi teman yang asyik. Begitu dijelaskan akan ada lagi pertanyaan beruntut yang mungkin saja membuat kamu jadi tambah bingung dan akhirnya tak melakukan perubahan saking bingungnya.

Kalau kamu termasuk orang yang seperti itu, maka stop untuk bertanya sama orang lain terlalu sering apalagi sampai membandingkan! Dan perlu kamu sadari bahwa tak ada perubahan yang instan!

Misalnya, kamu membandingkan temanmu yang pintar bergaul dengan kamu yang kuper dari dulu. Si teman kamu ini memang terlatih berbicara dari kecil—bukti bahwa orang tuanya sukses membiarkan si dia untuk berpendapat di rumah. 

Sejak kecil dia selalu diminta pendapat dan berbicara oleh orang tuanya—sedangkan mungkin saja waktu kamu kecil kamu dilarang berbicara dan hanya boleh mengikuti apa kata orang tua. Waktu memasuki SD teman kamu sudah terlatih berbicara di depan orang, sering bertanya kepada guru jika ada materi yang tak mereka ngerti (hal yang sangat simpel).

Memasuki SMP hingga kuliah teman kamu selalu aktif di organisasi, ekskul, dan aktif mengikuti komunitas dan beberapa kali jadi volunteer sehingga ia sering bertemu dan ngobrol dengan orang lain. Hal yang sangat berbeda 180 derajat denganmu.

Ini yang membuat kamu jadi berbeda dengan teman kamu yang gaul itu. Sejak dulu dia membiasakan untuk jago ngomong sedangkan sudah puluhan tahun kamu jadi pribadi yang pendiam dan kuper.

Maka, tak ada perubahan yang instan! Jangan karena kamu HANYA melihat hasilnya—tanpa tahu usaha di balik itu semua, bukan berarti kamu bisa langsung seperti dia, kan? Dia sudah melakukan itu puluhan tahun, sedangkan kamu baru beberapa minggu. 

Karena tak ada perubahan yang instan itulah kamu harus usaha lebih dan pantang menyerah. Karena penyakit banyak orang, mereka akan menyerah begitu perubahan yang dilakukan tak terlihat hasilnya. Kamu hanya usaha yang konsisten hingga benar-benar ada perubahan dalam dirimu.

Cerita Pertemuan Walisongo di Candi Borobodur Dan Prambanan

No comments

 

Jika memakai ilmu perbandingan, bisa dibilang Candi Prambanan dan Candi Borobudur mirip dengan Masjidil Haram soal fungsi keagamaan. Hal itulah yang membuat saya makin kagum pada Walisongo.

Maksudnya begini, kalau ada “Masjidil Haram”, berarti logikanya ada puluhan “masjid agung” kan? Kalau ada tempat ibadah Hindu-Buddha selevel “Masjidil Haram”, berarti bukan tidak mungkin Indonesia zaman dahulu sudah dipenuhi ribuan “mushola” umat Hindu-Buddha.

Orang tidak mungkin bisa membuat sesuatu berskala besar tanpa bisa membuat sesuatu yang berskala kecil-kecil dulu. Tentu kita jadi bisa membayangkan kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu adalah golongan mayoritas. Kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana bisa Walisongo membalik kondisi tersebut?

Kalau Anda belajar sejarah, Anda pasti makin heran dengan Walisongo. Silakan Anda baca dengan teliti isi buku Atlas Walisongo karya sejarawan Agus Sunyoto.

Menurut catatan Dinasti Tang China, pada waktu itu (abad ke-6 M), jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia, dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah kedua, catatan Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; penduduk lokal nusantara tetap tidak ada yang memeluk agama Islam.

Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap tercatat hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi, kalau kita kalkulasi ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima penduduk pribumi. Agama Islam hanya dipeluk oleh orang asing.

Selang beberapa tahun setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Champa (Vietnam).

Beberapa dekade sejak hari kedatangan Sunan Ampel, terutamanya setelah dua anaknya tumbuh dewasa (Sunan Bonang dan Sunan Drajat) dan beberapa muridnya juga sudah tumbuh dewasa (misalnya Sunan Giri), maka dibentuklah suatu dewan yang bernama Walisongo. Misi utamanya adalah mengenalkan agama Islam ke penduduk pribumi.

Anehnya, sekali lagi anehnya, pada dua catatan para penjelajah dari Benua Eropa yang ditulis pada tahun 1515 M dan 1522 M, disebutkan bahwa bangsa nusantara adalah sebuah bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam.

Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, Walisongo berhasil mengislamkan banyak sekali manusia nusantara.
Harap diingat zaman dahulu belum ada pesawat terbang dan telepon genggam. 

Jalanan kala itu pun tidak ada yang diaspal, apalagi ada motor atau mobil. Dari segi ruang maupun dari segi waktu, derajat kesukarannya luar biasa berat. Tantangan dakwah Walisongo luar biasa berat.

Para sejarawan dunia angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana bisa Walisongo melakukan mission impossible: Membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.

Para sejarawan dunia akhirnya bersepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat Walisongo sukses besar.

Menurut saya pribadi, jawaban para sejarawan dunia memang betul, tapi masih kurang lengkap. Menurut saya pribadi, yang tentu masih bisa salah, pendekatan dakwah dengan kebudayaan cuma “bungkusnya”, yang benar-benar bikin beda adalah “isi” dakwah Walisongo.
***
Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis “bungkus” dan “isi” yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu ibaratnya “satu-satunya”.

Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar r.a., sahabat Umar r.a., sahabat Utsman r.a., calon mantunya Ali r.a., dan semua orang di muka Bumi waktu itu tersesat semua. Kanjeng nabi benar-benar the only one yang tidak sesat.

Tetapi, berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mau mengikuti agama baru yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW amat sangat sabar menerangi orang-orang yang tersesat.

Meski kepala beliau dilumuri kotoran, meski wajah beliau diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan. Walisongo pun mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang.

Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya menaruh sesajen di suatu sudut rumah. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, “Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya.”

Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid bertanya, “Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang terlewat tidak diurus?”

Sunan yang ditanyai hal tersebut hanya tersenyum sejuk mendengarnya. Justru beliau minta ditemani murid tersebut menonton pagelaran wayang kulit.

Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, “Bagus ya cerita wayangnya…” Si murid pun menjawab penuh semangat tentang keseruan lakon wayang malam itu. “Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?” tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, “Justru lakon wayangnya bisa bubar. 

Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan.” Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah paham konsep tauhid. Begitulah “isi” dakwah Walisongo; menjaga perasaan orang lain.

Pernah suatu hari ada salah satu anggota lain dari Walisongo mengumpulkan masyarakat. Sunan tersebut dengan sangat bijaksana menghimbau para muridnya untuk tidak menyembelih hewan sapi saat Idul Adha. Walaupun syariat Islam jelas menghalalkan, menjaga perasaan orang lain lebih diutamakan.

Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.

Dengan bercanda, beliau berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja, makan daging kerbau saja juga enak. Tidak perlu cari gara-gara dan cari benarnya sendiri, jika ada barang halal lain tapi lebih kecil mudharatnya.

Kemudian, ketika berbicara di depan khalayak umum, beliau menyampaikan bahwa agama Islam juga memuliakan hewan sapi. Sunan tersebut kemudian memberikan bukti bahwa kitab suci umat Islam ada yang namanya Surat Al-Baqarah (Sapi Betina).

Dengan nuansa kekeluargaan, sunan tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut, untuk dijadikan pegangan hidup siapapun yang mendengarnya.
Perlu diketahui, prilaku Walisongo seperti Nabi Muhammad SAW zaman dahulu, Walisongo tidak hanya menjadi guru orang-orang yang beragama Islam. Walisongo berakhlak baik pada siapa saja dan apapun agamanya.

Justru karena kelembutan dakwah sunan tersebut, masyarakat yang saat itu belum masuk Islam, justru gotong-royong membantu para murid beliau melaksanakan ibadah qurban.

Kalau Anda sekalian amati, betapa gaya berdakwah para anggota Walisongo sangat mirip gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125.

Ud’u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau’izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilihi wa Huwa a’alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. 

Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk.

Menurut ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud’u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah “Ajaklah ke jalan Tuhanmu”, tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra.

Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.
Dakwah artinya adalah “mengajak”, bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. 

Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat “lebih baik” di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, harap diperhatikan.

Para pendakwah justru seharusnya menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya.

Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat niat yang tulus. Apalagi ayat dakwah ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Allah SWT yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapat petunjuk.

Firman dari Allah SWT tersebut sudah merupakan warning untuk para pendakwah jangan pernah merasa sudah suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama berusaha menuju jalanNya.

Ayat dakwah itulah yang dipegang Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya saat berdakwah. Maka dari itu, kita jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, karena kesuksesan dakwah Walisongo sebenarnya bukanlah hal yang aneh.
***
Kanjeng nabi saja bisa mengubah Jazirah Arab hanya dalam waktu 23 tahun, apalagi Walisongo yang “hanya” ditugaskan Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa.
Dakwah bisa sukses pada dasarnya dikarenakan dua faktor saja. 

Pertama, karena niat yang tulus. Walisongo menyayangi bangsa Indonesia, maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan penuh kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak, tetap sangat disayangi.

Sekalipun orang tersebut enggan masuk agama Islam, tapi bila ada yang sedang sakit, ia tetap dijenguk dan dicarikan obat. Kalau orang tersebut sedang membangun rumah, maka Walisongo mengerahkan para santrinya untuk menyumbang tenaga. 

Bahkan, kepada pihak-pihak yang tidak hanya menolak agama Islam, tapi juga mencela sekalipun, Walisongo tetap bersikap ramah.

Kedua, karena “satu kata satu perbuatan”. Walisongo membawa ajaran agama Islam ke nusantara, tentu kesembilan alim ulama tersebut harus menjadi pihak pertama yang mempraktekkan.

Agama Islam adalah agama anugerah untuk umat manusia, maka para wali tersebut selalu berusaha praktek menjadi anugerah bagi umat manusia di sekitarnya.
Semuanya dimanusiakan, karena Walisongo mempraktekkan inti ajaran agama Islam; rahmatan lil ‘alamin. Islam tidak mengenal konsep rahmatan lil muslimin.

Begitulah… Jadi, saya sangat senang kalau bisa berwisata ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur, karena di kedua tempat tersebut saya jadi bisa bertemu Walisongo. Pertemuan secara batin......Karep'e ! hhhhh...

Kisah Pelakor Jaman Now

No comments

 

Walaupun hubungan kami sudah diketahui oleh istrinya, namun kami tetap menjalni hubungan yang terlarang sampai hubungan kami jauh tepat di bulan agustus 2016 aku positif hamil 6 minggu
Sebuah perjalanan cinta yang membuat merinding bagi pasangan yang tersakiti, dan dijaman sekarang nampaknya menjadi hal yang nge-trend walau hal itu sangat tidak baik atau negatip. Simak cerita dibah ini. 

Perkenalkan sebut saja aku ES dan dia IR. Tak pernah terlintas dalam pikiranku untuk jatuh cinta dengan suami orang, tapi inilah jalan hidup yang aku jalani. Awalnya aku tak mengenal IR dan tidak tau bagaimana cerita kehidupan dia yang sebenarnya sampai pada suatu hari kami sering berselisihan jalan sewaktu berangkat kerja.

Dalam hati selalu bertanya ini cowok kerja dimana, pada saat itu aku belum mengetahui kalau ternyata kami satu lokasi kerja. Tiba pada waktunya dia datang ke kantor aku untuk meminta surat berobat untuk istri dan anak-anaknya. Disitu aku masih biasa saja hanya dalam hati berkata, “oh ternyata cowok ini sudah beristri dan mempunyai 2 orang anak”.

Hari terus berlalu sampai pada bulan agustus 2014 saat itu aku mengcover pekerjaan teman aku yang lagi cuti melahirkan. Pada saat itu tepatnya di hari sabtu aku membagi gaji karyawan dan ternyata dia masuk ke dalam group karyawan yang gaji nya aku bagi pada hari itu. Disitulah awal perkenalan kami, dengan lancang dia berani memegang tangan aku dengan sengaja dan pada saat itu aku sangat marah karena dia telah lancang.

Waktu terus berlalu hingga sampai di bulan Januari tahun 2015 aku diberi tugas oleh Bos di tempat aku bekerja bahwasanya aku harus membuat SK untuk perpindahan kerjaan karyawan disitu. nAku sangat terkejut bahwa dia bakal menjadi satu departemen dengan aku yang mana awalnya dia hanya menjadi seorang operator alat berat hingga di rubah menjadi Driver pribadi Bos tempat aku bekerja.

Waktu pun berjalan begitu cepat, tak disangka seiring berjalannya waktu, aku semakin dekat dengan dia karena dia selalu mengantarkan aku kemana aku dinas. Hingga pada tanggal 03 oktober 2015 terjadi masalah dengan dia dan hampir saja dia di keluarkan dari perusahaan karena masalah itu.

Alhamdulillah dia masih diberi kesempatan untuk bekerja kembali dan aku pun merasakan ada yang ngeganjel hati aku. Hati aku berkata lain, rasa cinta mulai tumbuh dan tepat di hari ulang tahun dia yg ke 34 tahun, dia memgungkapkan perasaannya kepadaku, dengan hati senang aku menerimanya karena aku juga sudah mulai mencintainya,

Waktu terus berjalan dan hubungan kami pun tetap berjalan walaupun saat itu aku sudah mengetahui bahwa dia sudah beristri dan mempunyai anak. Hingga pada tanggal 12 februari 2016 aku di datangi oleh istrinya, karena istrinya telah mengetahui hubungan kami dan disitu aku berbohong, aku bilang tidak menjalin hubungan apa-apa dengan suaminya, aku menutupi semuanya karena aku tak ingin kehilangan dia.

Walaupun hubungan kami sudah diketahui oleh istrinya, namun kami tetap menjalni hubungan yang terlarang sampai hubungan kami jauh tepat di bulan agustus 2016 aku positif hamil 6 minggu. Ya aku hamil dari hasil hubungan terlarang aku dengan dia ,”betapa bodohnya aku” memang pada saat itu kami sama-sama belum menginkan kehadiran anak itu sampai akhirnya aku mengambil keputusan untuk membunuh darah daging aku sendiri.

Bodohnya aku aku masih saja melanjutkan hubungan yang terlarang walaupun sudah banyak yang menasehati aku untuk menjauhi dia tetapi aku tetap tidak mendengarkan nasehat mereka, karena rasa sayang aku terhadap dia, makanya aku mengabaikan orang disekeliling aku.

Berulang kali kami ketahuan oleh istrinya namun kami masih saja tetap melangkah lebih jauh sampai pada akhirnya di bulan juli 2017 aku hamil lagi dari dia. Pada kehamilan aku yang kedua, dia tak menginkan lagi anak itu dia memaksa aku untuk menjatuhkan janin itu namun aku tetap bertahan untuk tidak membunuh anak aku lagi.

Waktu berjalan hingga usia kandungan aku sudah mencapai 16 minggu, disitu dia pun sudah mulai berubah dia mulai menjahui aku dia tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan aku. Karena rasa sayang dan cinta aku yang begitu besar kepadanya, yang ada di dalam fikiran aku saat itu aku hanya ingin tetap bersamanya walaupun aku harus bisa menerima kehilangan anak aku.

Betapa bodohnya aku berusaha semampu aku untuk melakukan dosa besar, tepat pada tanggal 01 oktober 2017 aku mengalami keguguran akibat dari obat-obatan yang aku konsumsi. Sungguh sangat luar biasa sakitnya, aku konsumsi obat selama 12 jam pada saat itu aku sudah sangat berputus asa karena belum ada tanda bahwa janin itu akan jatuh.

Namun pada jam 9 malam aku sudah mulai kontraksi, sakit tak kunjung hilang hingga pada pukul 03.00 wib aku keguguran. Disitu sudah kupasrahkan hidup aku karena aku sudah tak sanggup merasakan sakitnya. Aku mengalami pendarahan yang begitu hebat, 2 jam aku tak bisa bangkit dari kamar mandi karena darah yang aku keluarkan begitu banyak, pagi harinya aku sudah tak tahu apa yang terjadi.

Kini status aku dengan IR masih seperti itu, tak ada kejelasan sama sekali. Tapi yang pasti aku sudah dua kali menggugurkan kandungan karenanya. Oh Tuhan maafkan aku yang telah berdosa ini. Semoga aku bisa keluar dari persoalan ini. Aminn. ***

Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde