Responsive Ad Slot

Bagaimana Sih Orgasme Perempuan Itu ? Ini Faktanya

No comments

Wednesday, October 22, 2014

Orgasme adalah puncak dari kegiatan seksual yang ditandai sebagai perasaan nikmat akibat dari kontraksi otot di sekitar alat kelamin.
Dan perlu diketahui bahwa orgasme pada lelaki berbeda dengan perempuan. Pada lelaki, orgasme biasanya dapat diketahui dengan jelas karena proses orgasme yang selalu diikuti dengan ejakulasi sperma dari penis.
Namun, tanda-tanda orgasme pada perempuan lebih sulit diketahui kecuali dengan memperhatikan beberapa gejala fisik yang terlihat ketika berhubungan.
Masih banyak lagi fakta lainnya seputar orgasme perempuan yang menarik untuk diketahui, seperti yang dikemukakan oleh Dr A Chakravarthy, Konsultan Reproduksi & Seksual Kedokteran di International Association of Sexual Medicine.
1. Umumnya perempuan dapat mencapai orgasme hanya melalui hubungan seksual
Fakta:
Satu dari tiga perempuan mendapat orgasme secara teratur selama hubungan seksual. Namun, beberapa dapat mencapai orgasme dengan hubungan seksual, tetapi membutuhkan upaya ekstra untuk membangkitkan reaksinya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orgasme adalah klimaks seksual tak peduli di mana Anda mendapatkannya. Bagaimana seorang perempuan mencapai orgasme tidak ada hubungannya dengan kesehatan mentalnya atau kematangan emosi.
2. Tidak memiliki kekuatan untuk mencapai orgasme berarti ada sesuatu yang salah dengan perempuan
Fakta:
Perempuan yang mampu klimaks seksual di masa lalu, tapi tidak dapat melakukannya di masa sekarang, mungkin terganggu dengan beberapa masalah medis atau dampak dari obat-obatan. Perempuan yang tidak pernah berhasil merasakan puncak kenikmatan dalam bercinta mungkin hanya karena tidak menyadari tentang apa yang mereka butuhkan untuk mencapai orgasme.
3. Stimulasi klitoris atau G-spot selama 5 menit dapat menghasilkan orgasme
Fakta:
Meskipun ada banyak cara untuk bercinta yang dapat membantu seorang perempuan mencapai klimaks seksual, pada akhirnya, seorang perempuan adalah penyebab untuk kesenangannya sendiri. Meski komunikasi dengan pasangan merupakan hal yang penting juga.
4. Faktor keturunan (herediter) dan gen memiliki dampak langsung pada orgasme perempuan
Fakta:
Frekuensi orgasme memiliki komponen hereditable (faktor keturunan), tapi hanya sedikit. Sebab faktanya faktor keturunan hanya terjadi pada sepertiga dari variasi tingkat populasi dalam orgasme perempuan.
5. Beberapa perempuan tidak mampu mencapai orgasme
Fakta:
Sekitar 10 persen dari perempuan memiliki cacat tidak mencapai puncak kenikmatan seks selama hubungan seksual. Ketidakmampuan untuk mencapai orgasme dikenal sebagai Anorgasmia. Ini dapat berupa primer atau sekunder. Primary Anorgasmia adalah tahap di mana seorang perempuan tidak pernah mampu mencapai klimaks seksual dengan cara apapun. Anorgasmia sekunder adalah orgasme dirasakan di beberapa titik di masa lalu atau situasional (orgasme dapat dirasakan di tempat-tempat intim tertentu, tetapi tidak yang lain). Misalnya, dengan foreplay tapi tidak dengan hubungan seksual. (Times of India)

Ini 8 Hal Yang Bisa Membunuh Gairah Anda

No comments
Gairah seks adalah salah satu hal penting dalam kehidupan seseorang. Dan ternyata urusan yang satu ini tak hanya bergantung pada kondisi fisik  seseorang tetapi juga gaya hidup dan kondisi mental mereka. 

Dan berikut delapan hal yang bisa membunuh gairah seseorang: 

1. Pola makan yang buruk
Ini bukan jumlah makanan yang Anda telan, tetapi jenis makanan Anda setor ke dalam perut. Sering mengonsumsi makanan instan bisa mematikan gairah. Jadi mulai kini makanlah makanan sehat untuk mendongkrak gairah Anda.

2. Kurang olahraga
Gairah seks seseorang dipengaruhi hormon, ototbdan sistem sirkulasi darah. Jika tiga hal ini berjalan ideal maka akan berbanding lurus dengan gairah seks seseorang. Jadi, jika ingin kehidupan seks Anda menjadi sehat, salah satunya adalah dengan rajin berolah raga. 

3. Kurang tidur
Kurang tidur akan membuat seseorang merasa lelah, dia juga tidak memiliki cukup neergi agar badannya berfungsi secara optimal. Hal ini juga berlaku pada gairah seks, bagaimana seseorang bisa bergairah jika ia terus menerus merasa lelah. 

4. Stres
Sedikit stres memang bisa memicu gairah, tetapi stres yang kronik bisa mematikan gairah seseorang. Jadi rawat kesehatan seks Anda dengan mengelola stres, salah satunya dengan mengambil kelas meditasi. 

5. Banyak mengeluh
Siapa yang ingin tidur dengan orang yang suka mengeluh. Mengungkapkan uneg-uneg memang normal, jadi jika berlebihan bisa membunuh gairah pasangan. 

6. Main terlalu aman
Mungkin cara ini membuat Anda nyaman, tetapi terlalu aman kadang menimbulkan kebosanan. Jadi sesekali bertingkahlah nakal untuk selingan. 

7. Berpikir negatif tentang diri sendiri
gairah seks tak hanya masalah fisik, tetapi juga mental. Jika Anda mengatakan pada diri Anda sendiri tak seksi maka itu akan mempengaruhi gairah Anda di atas tempat tidur. Jadi mulai sekarang, selalu berpikir positif tentang diri Anda. 

8. Malas belajar
Kita perlu untuk merasa terlibat dan tumbuh dalam hidup kita. Jika Anda tak belajar mengenal tubuh dan pikiran Anda, jangan harap gairah Anda akan tumbuh. (bodyandsoul.com.au)

Hahahaha......Panda Sedang Masturbasi Tertangkap Kamera

No comments
Seekor panda raksasa di Sichuan, Cina, tertangkap kamera tengah bermasturbasi di semak-semak.
Ilmuwan yang merekam gambar tersebut mengatakan bahwa panda bermasturbasi karena tidak dapat melakukan hubungan seksual dengan betina.
Ilmuwan itu menjelaskan bahwa panda betina hanya mengalami hasrat seksual selama tiga hari dalam setahun.
Di luar masa tersebut, panda betina kehilangan hasrat seksualnya, sehingga menolak berhubungan seks.
Sementara itu, World Wildlife Fund (WWF) mengatakan bahwa pihaknya akan menggunakan video ini sebagai bahan promosi penyelamatan panda.
Spesies Panda, kata lembaga tersebut, semakin berkurang dan terancam punah karena sulit untuk berkembang biak.
Bukan binatang pertama
Ditemui terpisah, ilmuwan Margareth Howe menyatakan bahwa panda masturbasi bukanlah hewan pertama yang melakukan kegiatan tersebut.

Margareth mengklaim pernah melihat lumba-lumba yang juga tengah bermasturbasi.
Selain lumba-lumba, kata Margareth, simpanse di kebun binatang Spanyol juga ada yang kecanduan video porno. (Metro)

TENTANG SAWAN MANTEN - Bagian 2, Menghindari Kutukan Sawan

No comments

Tuesday, October 21, 2014

SANGAT dianjurkan agar kedua calon pengantin dan atau sanak keluarganya untuk mewaspadai massa kritis tersebut. Bukan bermaksud menebarkan rasa takut, tetapi sangat disarankan agar kedua calon pengantin maupun sanak saudaranya selalu waspada dan tidak bertindak gegabah. Tidak ada salahnya untuk tetap menjaga kewaspadaan agar proses pernikahan yang sudah direncanakan dapat berjalan lancar. Selain itu, rasa takut bukanlah jawaban terhadap masalah ini. Bahkan, kadang-kadang, memelihara rasa takut atau khawatir saat mempersiapkan pesta pernikahan justru akan menambah beban psikologis yang merupakan katalisator timbulnya sawan manten.
Memang sudah seharusnya ada pihak-pihak yang mengingatkan pada orang-orang yang berkepentingan dengan hal ini, yakni pada mereka yang sedang dan akan melangsungkan pernikahan. Tidak saja bagi pasangan calon pengantin, namun juga pada orang tua dan keluarga yang bersangkutan. Hal ini mendesak dilakukan agar fenomena sawan manten tidak berulang-ulang terjadi pada kita atau kerabat kita. Adapun kasus yang terjadi berulang kali antara lain godaan dari lawan jenis, pertengkaran yang mengarah pada putusnya hubungan kekasih, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan keluarga calon pengantin, kejadian memalukan saat berlangsungnya pernikahan, anak kecil yang rewel, keracunan saat berlangsungnya pesta pernikahan.
Keenam kasus diatas adalah bentuk-bentuk kasus yang berkaitan erat dengan fenomena sawan manten. Namun, keenam peristiwa itulah yang paling sering terjadi dalam sebuah pernikahan. Ada baiknya kita mengenali bentuk-bentuk sawan manten itu agar dapat mengambil pelajaran darinya.
Meski bentuk-bentuk kasus tersebut bervariasi, tetapi hasil akhirnya tetap sama, yakni terputusnya hubungan fisik maupun psikologis (silaturahim) diantara pihak-pihak yang terlibat dalam masalah tersebut. Sebagai contoh, seorang calon suami berpisah, baik secara fisik maupun psikologis, dengan calon isterinya; seorang ayah mengalami keretakan hubungan dengan anaknya; retaknya hubungan kekerabatan kedua calon besan; dan sebagainya.
Renggangnya hubungan psikologis (atau bahkan putusnya hubungan kekerabatan) antara pihak-pihak yang terlibat dalam fenomena sawan manten ini disebabkan oleh dampak psikologis dan atau pengaruh fisik yang ditimbulkan. Sebab, pada hakekatnya manusia sulit sekali melupakan peristiwa memalukan atau menyedihkan pada saat-saat bersejarah dalam hidupnya. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat saja menimbulkan ingatan traumatik pada yang bersangkutan.
Sebagai contoh, dalam kasus-kasus kecelakaan lalu lintas yang, anehnya, mengambil korban jiwa pengiring pengantin yang terdiri dari kerabat dekat maupun tetangga calon pengantin pria, sudah tentu hubungan fisik pihak–pihak yang mengalami musibah terputus oleh karena perpindahan alam (meski mungkin saja hubungan psikologis justru semakin erat karena keterlibatan emosi). Para korban telah berpindah alam dan tidak memungkinkan adanya kontak fisik dengan kerabat atau sanak famili.
Sementara itu, pada kasus lain mungkin terjadi peristiwa yang bisa dianggap memalukan sehingga pihak-pihak yang terlibat dalam sawan manten akan terpisah secara psikologis karena tidak mampu menanggung beban rasa malu. Peristiwa memalukan saat berlangsungnya suatu pernikahan bermacam-macam bentuknya, tetapi yang paling sering terjadi adalah timbulnya pertengkaran antar anggota keluarga. Selain itu ada juga bentuk-bentuk lain dari peristiwa memalukan, misalnya hidangan yang tidak mencukupi jumlah tamu yang menghadiri upacara pernikahan, keracunan yang menimpa tamu undangan saat resepsi pernikahan dan sebagainya.
Apapun bentuknya atau seberapa kecil intensitas sawan manten, tetapi hal itu tetap membekas dan memiliki pengaruh dalam perjalanan hidup pihak-pihak yang terlibat, khususnya bagi kedua calon pengantin. Bayang-bayang peristiwa memalukan saat berlangsungnya pesta pernikahan akan terus teringat sampai kapan saja. Setiap kali sanak saudara bertemu dengan kedua pengantin yang sudah menjadi suami isteri itu, akan terlintas dalam benak mereka peristiwa memilukan atau memalukan itu.
Pernahkah anda bertemu dengan sepasang suami isteri yang belum lama melangsungkan pernikahan dan terbersit dalam benak anda, “Ini dia pasangan suami isteri yang saat pesta pernikahannya terjadi keracunan massal.” Atau, pernahkah suatu ketika isteri anda berbisik pada anda, sambil menunjuk sepasang suami isteri, “Pak, itu kan si Fulan dan si Fulanah yang saat pesta pernikahannya hidangan pestanya kurang?” Singkatnya, suatu kejadian yang berkaitan dengan sawan manten disaat paling monumental bagi sepasang anak manusia pasti akan teringat selamanya.
Bagi yang bersangkutan, tentu akan sedikit menyakitkan bila mendengar komentar semacam itu. Tanpa diminta, ingatan akan membawa kembali pada saat terjadinya peristiwa itu, terutama bila berkaitan dengan peristiwa yang memilukan karena mengambil korban jiwa. Seperti misalnya calon pengantin yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas, baik lalu kecelakaan lalu lintas darat, laut maupun udara.� Oleh sebab itu, para orang tua biasanya mengingatkan putra-putrinya yang sedang mempersiapkan pernikahan untuk tidak melakukan perjalanan jauh.
Demikianlah, kasus-kasus seputar sawan manten terus berulang dari hari ke hari. Kadang suatu kasus hanya meninggalkan sedikit pengaruh psikologis pada pasangan calon pengantin yang telah disahkan menjadi sepasang suami-isteri, tetapi ada juga yang meninggalkan kesan mendalam dari suatu rasa malu atau rasa sedih yang sulit dihapuskan sepanjang hidup.
Untuk itu, seharusnyalah kita mulai waspada dan bersikap hati-hati saat menghadapi sebuah pernikahan. Sebab dalam sebuah pernikahan, terdapat ancaman dari kekuatan-kekuatan internal dan eksternal yang berusaha tanpa kenal lelah memanfaatkan celah-celah kelemahan manusia untuk menggagalkan usaha anak manusia membentuk keluarga baru. Lebih jauh tentang kekuatan-kekuatan internal dan eksternal ini akan dibahas pada bagian lain dari buku ini.

TENTANG SAWAN MANTEN - Bagian 1

No comments
DENDAM iblis kepada Adam yang membuatnya terusir dari surga, hingga sekarang masih membara. Sumpahnya untuk meneysatkan anak keturunan Adam sampai sekarang masih berlaku, maka ia mencanangkan misi penyesatan sepanjang hidupnya.
Fenomena Sawan Manten adalah salah satu bentuk kerja iblis untuk menyesatkan anak keturunan Adam dalam kaitannya dengan hidup berumahtangga. Fenomena ini banyak menimpa mereka yang tengah merancang bahtera rumah tangga. Dalam hal ini, misi diemban adalah menggagalkan anak manusia untuk membina keluarga atau memisahkan pasangan suami istri jika mereka sudah menikah.
‘Sawan’ banyak diartikan sebagai suatu penyakit ringan yang biasanya menimpa anak kecil. Namun secara praktis istilah tersebut juga sering digunakan masyarakat Jawa utnuk menggambarkan naas atau kesialan yang menempel pada diri seseorang. Dan Sawan Manten adalah naas atau kesialan yang menimpa calon pengantin atau keluarga menjelang atau pada saat akan dilaksanakan prosesi pernikahan.
KASUS TERUS BERULANG
PERNIKAHAN merupakan hal yang sangat ditunggu anak manusia. Sejak masa pubertas, keinginan anak manusia untuk membangun rumah tangga dengan lawan jenis pasangan hidupnya semakin lama semakin kuat seiring waktu yang dilaluinya. Hari demi hari dijalani dengan penuh semangat dan gairah menyongsong masa depan cerah. Sejak masa pubertas itu pula anak manusia belajar bersosialisasi dengan lawan jenisnya sebagai upaya mencari pasangan hidupnya.
Dalam perjalanan hidupnya, seorang laki-laki atau perempuan boleh jadi berganti-ganti pasangan atau pacar. Sejak menginjak SMA atau bahkan SMP, seorang remaja laki-laki atau perempuan mulai mengalami ketertarikan pada lawan jenis. Pada saat itu pula hari-hari dijalani dalam proses mencari pasangan hidup yang benar-benar disayangi dan menyayanginya.
Dalam proses tersebut ada yang menjalaninya dengan mulus, seakan tanpa hambatan berarti. Pasangan hidup yang ditemuinya saat menginjak remaja tidak berubah hingga keduanya sepakat untuk menikah. Namun ada juga yang terpaksa harus jatuh bangun merajut kembali jalinan asmara dengan beberapa lawan jenis yang berlainan setelah mengalami keretakan atau ‘pemutusan hubungan kekasih’. Tentu saja hal tersebut sangat menyakitkan, seperti yang dialami oleh Pat Kay, tokoh siluman babi dalam cerita Kera Sakti, yang mengalami ‘1001 siksaan cinta’.
Akhirnya, setelah mengalami proses panjang bersosialisasi dengan lawan jenis, seorang laki-laki atau perempuan menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya. Hal itu dilakukan setelah keduanya merasa sudah cocok dan memahami karakter masing-masing. Keduanya merasa tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan sepakat untuk mengikat hubungan mereka dalam sebuah pernikahan.
Babak baru dalam perjalanan cinta keduanya segera dimulai. Hal itu diawali dengan pinangan pihak calon pengantin laki-laki pada calon pengantin perempuan. Dalam tahap ini, orang tua kedua calon pengantin mulai terlibat dalam jalinan hubungan keduanya. Dengan kata lain, orang tua atau keluarga mulai turun tangan untuk mengikat kedua calon pengantin itu dalam sebuah pernikahan, dimana orang tua calon pengantin laki-laki maupun perempuan berharap, bahkan sangat berharap, rumah tangga keduanya akan berjalan langgeng, rukun dan sejahtera.
Tetapi, tepat setelah orang tua calon pengantin laki-laki melamar calon pengantin perempuan, dimulailah sebuah fenomena supranatural yang kemudian oleh masyarakat yang hidup dalam kultur Jawa dikenal sebagai ‘Sawan Manten’. Seperti ada kekuatan eksternal yang mempengaruhi, kesialan demi kesialan silih berganti menghampiri baik kedua calon pengantin maupun keluarganya. Mulai dari pertengkaran-pertengkaran kecil, emosi yang tidak stabil, hingga godaan-godaan dari lawan jenis yang menghadang kedua calon pengantin.
Berkaitan dengan fenomena sawan manten, ada beberapa kasus yang terjadi berulang-ulang dan menunjukan adanya pola dan skenario tertentu. Mungkin bagi sebagian besar orang kasus yang terjadi berulang-ulang itu merupakan kasus biasa yang terjadi secara kebetulan. Tetapi bagi sebagian orang hal itu sangat menarik untuk diamati dan dipetik pelajaran darinya.
Lebih jauh, menurut pengamatan penulis, pengaruh fenomena sawan manten ini mulai terasa efektif sejak keluarga calon pengantin pria mendatangi keluarga calon pengantin wanita dan secara resmi mengajukan lamaran pada calon pengantin wanita tersebut hingga 35 hari setelah akad nikah. Hal itu terlihat dari kasus-kasus yang menghiasi media massa berkenaan dengan fenomena sawan manten yang biasanya terjadi pada jarak waktu tersebut. Hampir sebagian besar kasus kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa dari rombongan pengantin terjadi dalam jarak waktu sejak terjadinya lamaran hingga 35 hari setelah pernikahan.
Jadi, dalam kaitannya dengan sawan manten, terdapat apa yang penulis sebut sebagai masa kritis, yakni jarak waktu yang mengandung bahaya atau naas yang mengancam calon pengantin atau sanak keluarganya. Massa kritis itu dimulai sejak diadakannya lamaran hingga 35 hari setelah upacara pernikahan dilangsungkan. Ada baiknya setiap pasangan pengantin baru untuk berhati-hati dan tidak berlaku sembrono. Bagaimanapun juga, tidak ada salahnya untuk bersikap hati-hati daripada menyesali ketika terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.

Perempuan Cenderung Tak Suka "One Night Stand"?

No comments

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa pasangan yang sudah saling berkomitmen, hubungan cinta lebih menyenangkan di kamar tidur ketimbang sekadar berhubungan seks bebas.

Temuan ini didasarkan pada suatu penelitian yang dipresentasikan di American Sociological Society, peneliti dari Penn State mewawancarai 95 perempuan heteroseksual berusia 20-68 tahun dari berbagai latar belakang. 

Secara keseluruhan, sebagian besar perempuan percaya bahwa cinta diperlukan untuk menciptakan pengalaman seksual yang menggairahkan, baik dalam hubungan biasa maupun pernikahan. Sehingga para peneliti menyimpulkan bahwa ketika pasangan yang jatuh cinta berhubungan seks, maka pengalaman seksualnya akan lebih menyenangkan.


“Ketika seorang perempuan mencintai pasangannya, kemungkinan besar mereka memiliki hasrat seksual yang lebih besar,” kata dr Beth Montemurro, professor sosiologi dalam sebuah rilis. 

Menurutnya, rasa cinta sangat berpengaruh pada sensasi kontak seksual yang dijalani sebuah pasangan.
Studi ini juga menunjukkan bahwa cinta membuat Anda lebih sehat. Ketika berpadu dengan seks, maka akan menimbulkan dampak yang lebih positif. Kesehatan jantung akan terjaga, bahkan bisa mengurangi stres dan menciptakan kebahagiaan lainnya dalam hidup.

Lebih dari itu, kebanyakan perempuan juga mendapatkan kondisi emosional yang lebih baik setelah berhubungan seks. Keterkaitan dengan kondisi emosional ini karena adanya cara kerja otak yang diatur dari bagian otak yang sama yakni korteks insular. Sehingga dalam penelitian ini bisa disimpulkan bahwa seks dan cinta yang saling berpadu bisa membuat orang mendapatkan pengalaman seksual yang sangat memuaskan. (Medical Daily)

Ada Apa Di balik Bulan Sura

No comments

Monday, October 20, 2014

Bulan Sura adalah bulan pertama dalam kalender Jawa. Tanggal 1 Sura akan jatuh pada minggu depan ( 24 Oktober 2014 ). Secara lugas maknanya adalah merupakan tahun baru menurut penanggalan Jawa. Bagi pemegang tradisi Jawa  hingga kini masih memiliki pandangan bahwa bulan Sura merupakan bulan sakral. Berikut ini saya paparkan arti bulan Sura secara maknawi dan dimanakah letak kesakralannya.

MELURUSKAN BERITA “burung”
Tradisi dan kepercayaan Jawa melihat bulan Sura sebagai bulan sakral. Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam (batin) sepanjang bulan Sura aura mistis dari alam gaib begitu kental melebihi bulan-bulan lainnya. Tetapi sangat tidak bijaksana apabila kita buru-buru menganggapnya sebagai bentuk paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya  pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Musrik atau syirik berkaitan erat dengan cara pandang batiniah dan suara hati, jadi sulit menilai hanya dengan melihat manifestasi perbuatannya saja.  Jika musrik dan syirik diartikan sebagai bentuk penyekutuan Tuhan, maka punishment terhadap tradisi bulan Sura itu  jauh dari kebenaran, alias tuduhan tanpa didasari pemahaman yang jelas dan beresiko tindakan pemfitnahan. Biasanya anggapan musrik dan sirik muncul karena mengikuti trend atau ikut-ikutan pada perkataan seseorang yang dinilai secara dangkal layak menjadi panutan. Padahal tuduhan itu jelas merupakan kesimpulan yang bersifat subyektif dan mengandung stigma, dan sikap menghakimi secara sepihak. 

Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos, bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Seluruh penghuni masing-masing dimensi mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang bersimbiosis mutual, saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta sebagai upaya memanifestasikan rasa sukur akan karunia terindah dari Tuhan YME. Sehingga manusia bukanlah segalanya di hadapan Tuhan, dan dibanding mahluk Tuhan lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos Javanisme bahwa akal-budi ibarat pisau bermata dua, di satu sisi dapat memuliakan  manusia tetapi di sisi lain justru sebaliknya akan menghinakan manusia, bahkan lebih hina dari binatang, maupun mahluk gaib jahat sekalipun. 

Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan bumi ini berikut seluruh isinya untuk dimanfaatkan umat manusia.
Dalam tradisi Jawa sekalipun yang dianggap paling klenik sekalipun, prinsip dasar yang sesungguhnya tetaplah  PERCAYA KEPADA TUHAN YME. Di awal atau di akhir setiap kalimat doa dan mantra selalu diikuti kalimat; saka kersaning Gusti, saka kersaning Allah. Semua media dalam ritual, hanya sebatas dipahami sebagai media dan kristalisasi dari simbol-simbol doa semata. Doa yang ditujukan hanya kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Prinsip tersebut memproyeksikan bahwa kaidah dan prinsip religiusitas ajaran Jawa tetap jauh dari kemusrikan maupun syirik yang menyekutukan Tuhan.
Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tipikal tradisi Jawa kental akan penjelajahan wilayah gaib sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia terhadap lingkungan alam dan seluruh isinya. Lingkungan alam dilihat memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Lingkungan alam tidak sebatas apa yang tampak oleh mata, melainkan meliputi pula lingkungan yang tidak tampak oleh mata (gaib). Boleh dikatakan pemahaman masyarakat Jawa akan lingkungan atau dimensi gaib sebagai bentuk “keimanan“ (percaya) kepada yang gaib. Bahkan oleh sebagian masyarakat Jawa, unsur kegaiban tidak hanya sebatas diyakini atau diimani saja, tetapi lebih dari itu seseorang dapat membuktikannya dengan bersinggungan atau berinteraksi secara langsung dengan yang gaib sebagai bentuk pengalaman gaib. Oleh karena itu, bagi masyarakat Jawa dimensi gaib merupakan sebuah realitas konkrit. Hanya saja konkrit dalam arti tidak selalu dilihat oleh mata kasar, melainkan konkrit dalam arti Jawa yakni termasuk hal-hal yang dapat dibuktikan melalui indera penglihatan  maupun indera batiniah.

Meskipun demikian penjelasan ini mungkin masih sulit dipahami bagi pihak-pihak yang belum pernah samasekali bersinggungan dengan hal-hal gaib. Sehingga cerita-cerita maupun kisah-kisah gaib dirasakan menjadi tidak masuk akal, sebagai hal yang mustahal, dan menganggap pepesan kosong belaka. Pendapat demikian sah-sah saja, sebab tataran pemahaman gaib memang tidak semua orang dapat mencapainya. Yang merasa mampu memahamipun belum tentu tapat dengan realitas gaib yang sesungguhnya. Sedangkan agama sebatas memaparkan yang bersifat universal, garis besar, dan tidak secara rinci. Perincian mendetail tentang eksistensi alam gaib merupakan rahasia ilmu Tuhan Yang Maha Luas, tetapi Tuhan Maha Adil tetap memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk mengetahuinya walaupun sedikit namun dengan sarat-sarat yang berat dan tataran yang tidak mudah dicapai.

MISTERI BULAN SURA
     Bulan Sura adalah bulan baru yang digunakan dalam tradisi penanggalan Jawa.  Di samping itu bagi masyarakat Jawa adalah realitas pengalaman gaib bahwa dalam jagad makhluk halus pun mengikuti sistem penanggalan sedemikian rupa.  Sehingga bulan Sura juga merupakan bulan baru yang berlaku di jagad gaib. Alam gaib yang dimaksudkan adalah; jagad makhluk halus ; jin, setan (dalam konotasi Jawa; hantu), siluman, benatang gaib, serta jagad leluhur ; alam arwah, dan bidadari. Antara jagad fana manusia (Jawa), jagad leluhur, dan jagad mahluk halus berbeda-beda dimensinya.  Tetapi dalam berinteraksi antara jagad leluhur dan jagad mahluk halus di satu sisi, dengan jagad manusia  di sisi lain, selalu menggunakan penghitungan waktu penanggalan Jawa. Misalnya; malam Jum’at Kliwon (Jawa; Jemuah) dilihat sebagai malam suci paling agung yang biasa digunakan para leluhur “turun ke bumi” untuk njangkung dan njampangai (membimbing) bagi anak turunnya yang menghargai dan menjaga hubungan dengan para leluhurnya. Demikian pula, dalam bulan Sura juga merupakan bulan paling sakral bagi jagad makhluk halus. Mereka bahkan mendapat “dispensasi” untuk melakukan seleksi alam. Bagi siapapun yang hidupnya tidak eling dan waspada, dapat terkena dampaknya. 

Dalam siklus hitungan waktu tertentu yang merupakan rahasia besar Tuhan, terdapat suatu bulan Sura yang bernama Sura Duraka.  Disebut sebagai bulan Sura Duraka karena merupakan bulan di mana terjadi tundan dhemit. Tundan dhemit maksudnya adalah suatu waktu di mana terjadi akumulasi para dedemit yang mencari “korban” para manusia yang tidak eling dan waspadha. Karena pada bulan-bulan Sura biasa para dedhemit yang keluar tidak sebanyak pada saat bulan Sura Duraka. Sehingga pada bulan Sura Duraka biasanya ditandai banyak sekali musibah dan bencana melanda jagad manusia. Bulan Sura Duraka ini pernah terjadi sepanjang bulan Januari s/d Februari 2007.  

 Musibah banyak terjadi di seantero negeri ini. 1) Di awali tenggelamnya KM Senopati di laut Banda yang terkenal sebagai palung laut terdalam di wilayah perairan Indonesia. Kecelakaan ini memakan korban ratusan jiwa. 2) Kecelakaan Pesawat Adam Air hilang tertelan di palung laut dekat teluk Mandar, posisi di 40 mil barat laut Majene. 3) Kereta api mengalami anjlok dan terguling sampai 3 kali kasus selama sebulan. 4) Tabrakan bus di pantura, bus menyeruduk rumah penduduk. 5) Kecelakaan pesawat garuda di Yogyakarta. 6) Beberapa maskapai penerbangan mengalami gagal take off, gagal landing, mesin error dsb. 7) Jakarta dilanda banjir terbesar sepanjang masa. 8) Kapal terbakar di Sulawesi dan maluku. 9) Kapal laut di selat Karimun terbakar lalu tenggelam memakan ratusan korban berikut wartawan TV peliput berita. 10) Banjir besar di Jawa Tengah, Angin puting beliung sepanjang Pulau Jawa-Sumatra. Dan masih  banyak lagi kecelakaan pribadi yang waktu itu Kapolri sempat menyatakan sebagai bulan kecelakaan terbanyak meliputi darat, laut dan udara. 

Atas beberapa uraian pandangan masyarakat Jawa tersebut kemudian muncul kearifan yang kemudian mengkristal menjadi tradisi masyarakat Jawa selama bulan Sura.  Sedikitnya ada 5 macam ritual yang dilakukan menjelang dan selama bulan Sura seperti berikut ini;

1.  Siraman malam 1 Sura; mandi besar dengan menggunakan air serta dicampur kembang setaman. Sebagai bentuk “sembah raga” (sariat) dengan tujuan mensucikan badan, sebagai acara seremonial pertanda dimulainya tirakat sepanjang bulan Sura; lantara lain lebih ketat dalam menjaga dan mensucikan hati, fikiran, serta menjaga panca indera dari hal-hal negatif. Pada saat dilakukan siraman diharuskan sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan YME agar senantiasa menjaga kita dari segala bencana, musibah, kecelakaan. Doanya dalam satu fokus yakni memohon keselamatan diri dan keluarga, serta kerabat handai taulan. Doa tersirat dalam setiap langkah ritual mandi. Misalnya, mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan sebanyak 7 kali siraman gayung (7 dalam bahasa Jawa; pitu, merupakan doa agar Tuhan memberikan pitulungan atau pertolongan). Atau 11 kali (11 dalam bahasa Jawa; sewelas, merupakan doa agar Tuhan memberikan kawelasan; belaskasih). Atau 17 kali (17 dalam bahasa Jawa; pitulas; agar supaya Tuhan memberikan pitulungan dan kawelasan). Mandi lebih bagus dilakukan tidak di bawah atap rumah; langsung “beratap langit”; maksudnya adalah kita secara langsung menyatukan jiwa raga ke dalam gelombang harmonisasi alam semesta.

2.  Tapa Mbisu (membisu); tirakat sepanjang bulan Sura berupa sikap selalu mengontrol ucapan mulut agar mengucapkan hal-hal yang baik saja. Sebab dalam bulan Sura yang penuh tirakat, doa-doa lebih mudah terwujud. Bahkan ucapan atau umpatan jelek yang keluar dari mulut dapat “numusi” atau terwujud. Sehingga ucapan buruk dapat benar-benar mencelakai diri sendiri maupun  orang lain.

3.  Lebih Menggiatkan Ziarah; pada bulan Sura masyarakat Jawa lebih menggiatkan ziarah ke makam para leluhurnya masing-masing, atau makam para leluhur yang yang dahulu telah berjasa untuk kita, bagi masyarakat, bangsa, sehingga negeri nusantara ini ada. Selain mendoakan, ziarah sebagai tindakan konkrit generasi penerus untuk menghormati para leluhurnya (menjadi pepunden). Cara menghormati dan menghargai jasa para leluhur kita selain mendoakan, tentunya dengan merawat makam beliau. Sebab makam merupakan monumen sejarah yang dapat dijadikan media mengenang jasa-jasa para leluhur; mengenang dan mencontoh amal kebaikan beliau semasa hidupnya. Di samping itu kita akan selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Asal-usul kita ada di dunia ini adalah dari turunan beliau-beliau. Dan suatu saat nanti kita semua pasti akan berpulang ke haribaan Tuhan Yang maha Kuasa. Mengapa harus datang ke makam, tentunya atas kesadaran bahwa semua warisan para leluhur baik berupa ilmu, kebahagiannya, tanah kemerdekaan, maupun hartanya masih bisa dinikmati hingga sekarang, dan dinikmati oleh semua anak turunnya hingga kini.

Apakah sebagai keturunannya kita masih tega hanya dengan mendoakan saja dari rumah ? Jika direnungkan secara mendalam menggunakan hati nurani, sikap demikian tidak lebih dari sekedar menuruti egoisme pribadi (hawa nafsu negatif) saja. Anak turun yang mau enaknya sendiri enggan datang susah-payah ke makam para leluhurnya, apalagi terpencil nun jauh harus pergi ke pelosok desa mendoakan dan merawat seonggok makam yang sudah tertimbun semak belukar. Betapa teganya hati kita, bahkan dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk kemalasannya sendiri, bisa saja menggunakan alasan supaya menjauhi kemusyrikan. Padahal kita semua tahu, kemusyrikan bukan lah berhubungan dengan perbuatan, tetapi berkaitan erat dengan hati. Jangan-jangan sudah menjadi prinsip bawah sadar sebagian masyarakat kita, bahwa lebih enak menjadi orang bodoh, ketimbang menjadi orang winasis dan prayitna tetapi konsekuensinya tidak ringan.

4.  Menyiapkan sesaji bunga setaman dalam wadah berisi air bening. Diletakkan di dalam rumah. Selain sebagai sikap menghargai para leluhur yang njangkung dan njampangi anak turun, ritual ini penuh dengan makna yang dilambangkan dalam uborampe. Bunga mawar merah, mawar putih, melati, kantil, kenanga. Masing-masing bunga memiliki makna doa-doa agung kepada Tuhan YME yang tersirat di dalamnya (silahkan dibaca dalam forum tanya jawab). Bunga-bungaan juga ditaburkan ke pusara para leluhur, agar supaya terdapat perbedaan antara makam seseorang yang kita hargai dan hormati, dengan kuburan seekor kucing yang berupa gundukan tanah tak berarti dan tidak pernah ditaburi bunga, serta-merta dilupakan begitu saja oleh pemiliknya berikut anak turunnya si kucing.

5.  Jamasan pusaka; tradisi ini dilakukan dalam rangka merawat atau memetri warisan dan kenang-kenangan dari para leluhurnya. Pusaka memiliki segudang makna di balik wujud fisik bendanya. Pusaka merupakan buah hasil karya cipta dalam bidang seni dan ketrampilan para leluhur kita di masa silam. Karya seni yang memiliki falsafah hidup yang begitu tinggi. Selain itu pusaka menjadi situs dan monumen sejarah, dan memudahkan kita simpati dan berimpati oleh kemajuan teknologi dan kearifan lokal para perintis bangsa terdahulu. Dari sikap menghargai lalu tumbuh menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus bangsa agar berbuat lebih baik dan maju di banding prestasi yang telah diraih para leluhur kita di masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya, para pahlawannya, dan para perintisnya. Karena mereka semua menjadi sumber inspirasi, motivasi dan tolok ukur atas apa yang telah kita perbuat dan kita gapai sekarang ini. Dengan demikian generasi penerus bangsa tidak akan mudah tercerabut (disembeded) dari “akarnya”. Tumbuh berkembang menjadi bangsa yang kokoh, tidak menjadi kacung dan bulan-bulanan budaya, tradisi, ekonomi, dan politik bangsa asing. Kita sadari atau tidak, tampaknya telah lahir megatrend terbaru abad ini, sekaligus paling berbahaya, yakni merebaknya bentuk the newest imperialism melalui cara-cara politisasi agama.

6.  Larung sesaji; larung sesaji merupakan ritual sedekah alam. Uborampe ritual disajikan (dilarung) ke laut, gunung, atau ke tempat-tempat tertentu. Tradisi budaya ini yang paling riskan dianggap musrik. Betapa tidak, jikalau kita hanya melihat apa yang tampak oleh mata saja tanpa ada pemahaman makna esensial dari ritual larung sesaji. Baiklah, berikut saya tulis tentang konsep pemahaman atau prinsip hati maupun pola fikir mengenai tradisi ini. Pertama; dalam melaksanakan ritual hati kita tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Kedua; adalah nilai filosofi, bahwa ritual larung sesaji merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia, sehingga untuk melangsungkan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan alam.
Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Ketiga; selain kedua hal di atas, larung sesaji merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan bersifat kasat mata atau jagad fisik, maupun  gaib atau jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya,  bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.
Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde