Responsive Ad Slot

Menguak Filosofi SOSRO KARTONO (Bagian 2), Meramal Kebangkitan Sukarno

No comments

Wednesday, September 3, 2014



Berhubungan apakah beliau dengan Bung Karno? Cukup dekat. Pertama, keduanya berdiam di Bandung semasa pergerakan. Kedua, Sosrokartono bolehlah disebut sebagai salah satu guru spiritual Bung Karno.,
Alkisah, ketika 18 Agustus 1930 Bung Karno dihadapkan di depan pengadilan Hindia Belanda di Landraad Bandung, adalah para teman dan pembela Bung Karno yang sejenak terlintas nama Sosrokartono. Pembelaan Bung Karno yang monumental: “Indonesia Menggugat” tak juga meloloskannya dari jerat.
 penjara.

Perdebatan sengit Bung Karno dengan tuan-tuan hakim, tak juga melepaskannya dari jeruji besi.
Meski sejatinya, pasal-pasal yang dituduhkan kepada Bung Karno, sangat berlebihan. Bung Karno dijerat dengan Kitab Undang Undang Hukum Pidana Hindia Belanda, pasal 169. Selain pasal itu, Bung Karno juga dituding menyalahi pasal 161, 171 dan 153. Ini adalah pasal-pasal “de Haatzaai Artikelen”, yaitu pasal-pasal pencegah penyebaran rasa benci. Formalnya, ia dituduh “mengambil bagian dalam suatu organisasi yang mempunyai tujuan menjalankan kejahatan di samping… usaha menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda….”

Dalam suatu perdebatan di ruang sidang, Bung Karno menggeledek, “Pengadilan menuduh kami telah menjalankan kejahatan. Kenapa? Dengan apa kami menjalankan kejahatan, Tuan-tuan Hakim yang terhormat? Dengan pedang? Dengan bedil? Dengan bom? Senjata kami hanyalah rencana….”

Selanjutnya Bung Karno berteriak, “Tujuan kami adalah exorbitante rechten, hak-hak luar biasa Gubernur Jenderal, yang secara peri-kemanusiaan tidak lain adalah pengacauan yang dihalalkan. Satu-satunya dinamit yang pernah kami tanamkan adalah suara jeritan penderitaan kami. Medan perjuangan kami tak lain daripada gedung-gedung pertemuan dan suratkabar-suratkabar umum.”

Berikutnya, Bung Karno makin berani menyuarakan suara hati rakyat Indonesia, “Ya, kami memang kaum revolusioner. Kata ‘revolusioner’ dalam pengertian kami adalah ‘radikal’, mau mengadakan perubahan dengan lekas. Tuan-tuan Hakim yang terhormat, sedangkan seekor cacing kalau disakiti, dia akan menggeliat dan berbalik-balik. Begitu pun kami. Tidak berbeda daripada itu!”

Hakim dan seluruh hadirin di ruang sidang bungkam. Hening. Suara yang membahana di ruang itu hanya suara Sukarno. “Golok. Bom. Dinamit. Keterlaluan! Seperti tidak ada senjata yang lebih tajam lagi daripada golok, bom, dan dinamit. Semangat perjuangan rakyat yang berkobar-kobar akan dapat menghancurkan manusia lebih cepat daripada ribuan armada perang yang dipersenjatai lengkap. Suatu negara dapat berdiri tanpa tank dan meriam. Akan tetapi suatu bangsa tidak mungkin bertahan tanpa kepercayaan. Ya, kepercayaan, dan itulah yang kami punyai. Itulah senjata rahasia kami.”

Masih mengalun dan bergelombang-gelombang pernyataan-pernyataan Sukarno di persidangan itu. Ia menutupnya dengan kalimat, “Saya menolak tuduhan mengadakan rencana rahasia mengadakan pemberontakan bersenjata. Sungguhpun begitu, jikalau sudah menjadi Kehendak Yang Maha Kuasa, bahwa gerakan yang saya pimpin akan memperoleh kemajuan pesat dengan penderitaan saya, maka saya menyerahkan diri dengan pengabdian yang setinggi-tingginya ke hadapan Ibu Indonesia, dan mudah-mudahan ia menerima nasib saya sebagai pengorbanan yang harum semerbak di atas pangkuan persadanya. Tuan-tuan hakim, saya, bersama-sama dengan rakyat dari bangsa ini, siap sedia mendengarkan putusan tuan-tuan Hakim.”

Nah, di malam sebelum majelis hakim mengetukkan palu putusan, enam orang pembela Bung Karno, diam-diam pergi ke kediaman Dr. R. Sosrokartono. Selain kakak kandung RA. Kartini, lelaki ningrat ini juga dikenal sebagai ahli kebatinan yang sangat dihormati di Kota Kembang. Kisah itu baru diceritakakan kepada Bung Karno kemudian hari.

Malam itu, sekalipun malam telah jauh terbenam, keenam orang itu tetap menuju kediaman Sosrokartono, sekalipun tidak ada janji-temu sebelumnya. Ajaib! Sesampai di depan pintu, belum lagi tangan mengetuk daun pintu, seorang pembantu membukakan pintu dan menyampaikan, “Pak Sosro sudah menunggu….”
Ajaib yang kedua. Di dalam, sudah ada enam kursi setengah melingkar menghadap Raden Sosrokartono. Mata batin Sosrokartono begitu tajam, sehingga ia bisa mengetahui bahwa tengah malam akan datang enam orang kawan-kasan Sukarno. Makin takjub saja keenam orang tadi demi melihat dan merasakan semua yang dialaminya malam itu. Dan… belum lagi ada yang mengucap kata, Sosrokartono langsung membuka kalimat, “Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja jatuh, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.”

Apa yang terjadi keesokan harinya? Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Paling berat. Sementara tiga kawan seperjuangan, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata diganjar penjara separuh waktu Sukarno. Upaya banding ke Raud van Justitie gagal. Hukuman Sukarno pun dikukuhkan.

Catatan-catatan yang lain dari RMP Sosro Kartono:

“Kula dermi ngelampahi kemawon.”
Maksudnya, “Saya hanya menjalankan saja.”

“Namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti.”
Maksudnya, “Saya hanya mencari sesuatu yang baik, semuanya saya serahkan kepada Tuhan.”

“Kula saged nindhakaken ibadat inggih punika kuwajiban bakti lan suwita kula dhateng sesami.”
Maksudnya, “Saya bisa menjalankan ibadah, yaitu kewajiban berbakti dan pengabdian saya kepada sesama.”

“Pring padha pring Weruh padha weruh Eling tanpa nyanding.”
Artinya, “Bambu sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat tanpa mendekat.”
Versi lain berbunyi:

“Susah padha susah; seneng padha seneng; eling padha eling; pring padha pring.”
Artinya, “Susah sama-sama susah; senang sama-sama senang; ingat sama-sama ingat; bambu sama- sama bambu.”

“Kula dermi ngelampahi kemawon.”
Maksudnya, “Saya hanya menjalankan saja.”

“Namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti.”
Maksudnya, “Saya hanya mencari sesuatu yang baik, semuanya saya serahkan kepada Tuhan.”

“Kula saged nindhakaken ibadat inggih punika kuwajiban bakti lan suwita kula dhateng sesami.”
Maksudnya, “Saya bisa menjalankan ibadah, yaitu kewajiban berbakti dan pengabdian saya kepada sesama.”

“Pring padha pring Weruh padha weruh Eling tanpa nyanding.”

Artinya, “Bambu sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat tanpa mendekat.”
Versi lain berbunyi:

“Susah padha susah; seneng padha seneng; eling padha eling; pring padha pring.”
Artinya, “Susah sama-sama susah; senang sama-sama senang; ingat sama-sama ingat; bambu sama- sama bambu.”

Jaka adalah jejaka/laki-laki yang belum (tidak) menikah dan Pring adalah bambu. Pohon bambu adalah pohon yang sekujur tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dengannya. Pohon Bambu dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah, mulai dari tiang, atap, dinding, pagar, sampai atap-atapnya. Bukankah orang-orang dahulu menjadikan daun bambu sebagai genteng rumah mereka? Ranting-rantingnya dapat dijadikan kayu bakar atau pagar. Bambu dapat digunakan untuk membuat balai-balai, sangkar, keranjang, tempayan, tembikar, kursi, dan lainnya.

Cikal bakal dari pohon bambu dapat dimanfaatkan untuk sayur/dimakan. Yang jelas, semuanya dapat dimanfaatkan, semuanya dapat difungsikan atau dibutuhkan sesuai kehendak orang yang bersangkutan. Satu hal lagi, jenis bambu itu bermacam-macam. Sesuai dengan hajat seseorang dalam memfungsikan bambu, maka ia mempunyai pilihan terhadap jenis bambu yang mana ia butuhkan. Apakah bambu pethung, bambu ori, bambu wuluh, bambu apus dan lain sebagainya.

Kutipan di atas juga mengutarakan bahwa, apapun jenis kita, bangsa kita, agama kita, ras, warna kulit, perbedaan bahasa dan suku kita, kita tetap sama, sama-sama tahu, sama-sama manusia. Apapun jenis, warna dan bentuknya bambu, tetap bambu. Tak ada perbedaan, semua sama belaka. Manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Seperti ketika beliau melakukan perjalanan ke luar Jawa, kemudian beliau bertemu oleh sekian jenis manusia dengan status sosial yang berbeda. Bagi beliau, semua manusia disejajarkan. Sikap egalitarisme tetap dijaga dan dilestarikan. Dalam kondisi dan situasi bagaimanapun dan di manapun, ingat akan keterciptaan, teringat akan sesama, saling mengingatkan dan ingat kepada ALLAH SWT, Yang Maha Pemurah. Ketika manusia itu ingat kepada ALLAH SWT, maka ALLAH SWT akan ingat kepadanya.

Trimah Mawi Pasrah
“Trimah mawi pasrah. Suwung pamrih, tebih ajrih. Langgeng tan ana susah, tan ana seneng. Antheng mantheng sugeng jeneng.”
Artinya, “Menerima dengan pasrah. Tiada pamrih, jauh dari takut. Abadi tiada duka, tiada suka. Tenang memusat, bahagia bertakhta.”

Konsep “trimah mawi Pasrah”
“Ikhlas marang apa sing wes kelakon. Trimah apa kang dilakoni. Pasrah marang apa bakal ana.”
Artinya, “Ikhlas terhadap apa yang telah terjadi. Menerima apa yang dijalani. Pasrah terhadap apa yang akan ada.”

Jadi, selain bergandengan dengan ilmu sabar, ilmu pasrah dan ilmu trimah juga bergandengan dengan ilmu ikhlas, tidak mencari pamrih, tidak karena ingin dipuji, tidak pamer kepada orang lain. Apa yang telah terjadi, biarlah terjadi, karena kepasrahan akan membawa keridhaan, dan keridhaan akan membawa keikhlasan, dan itulah sabar, sebuah sifat yang sangat disukai oleh Tuhan.

“Trimah mawi Pasrah” juga dapat diartikan bahwa manusia hanya dapat berusaha, sedangkan Tuhanlah yang menentukan segalanya. Oleh karena itu, janganlah terlalu menyesali nasib, karena dibalik derita ada bahagia, dibalik kesusahan ada kemudahan. Yang pasrah akan mendapat kemudahan, yang ridha akan mendapatkan ganti, yang sabar akan mendapatkan kemuliaan dan yang ikhlas akan mendapat ketenangan dan kebahagiaan hati.

” Ing donya mung kebak kangelan, sing ora gelem kangelan aja ing donya. “
” Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia. ”
Mandor Klungsu
“… para Pangeran ingkang sesami rawuh perlu manggihi pun Klungsu, …”
“… para pangeran yang berdatangan perlu menemui si Klungsu, …”
“Salam alaikum, Kula pun Mandor Klungsu.”
“Salam alaikum, Saya si Mandor Klungsu.”
“Taklim’ipun Mandhor … Pak Klungsu.”
“Taklimnya Mandhor … Pak Klungsu.”
“Salam taklimipun lan padonganipun. Pak Klungsu.”
“Salam taklimnya dan do’anya. Pak Klungsu.”
Kutipan- kutipan di atas menunjukkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono menyebut dirinya sebagai “Mandor Klungsu”.

Klungsu artinya biji asam, bentuknya kecil tapi keras (kuat) yang ketika ditanam dan dirawat sebaik-baiknya, maka akan menjelma sebuah pohon yang besar-kekar, berdaun rimbun dan berbuah lebat.
Bukan sekedar biji buah asam, melainkan kepala/pimpinannya.
Pohon asam mulai dari pohon sampai bijinya, semua dapat dimanfaatkan. Selain itu, mempunyai sifat kokoh dan tegar.

Ketika melihat kiprahnya sehari-hari, maka beliau hanya seorang Mandor, Mandor Klungsu, yang harus menjalankan perintah Sang Pimpinan (Tuhan), serta mempertanggungjawabkan semua karyanya selama itu kepada Tuhannya.
Suwung Pamrih Tebih Ajrih

” … Suwung pamrih, suwung ajrih, namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti … “

Artinya, ” … Tiada pamrih, tiada takut, hanya mencari sesuatu yang baik, semua saya serahkan kepada Tuhan … ”

“Yen kula ajrih, kenging dipun wastani ngandut pamrih utawi ancas ingkang boten sae.”
Artinya, “Jika saya takut, boleh dikatakan (bahwa saya) menyimpan pamrih atau niat yang tidak baik.”
“Luh ingkang medal sangking manah punika, dede luh ipun tangis pamrih, nanging luh peresanipun manah suwung pamrih.”
Artinya, “Air mata yang keluar dari hati ini, bukanlah air matanya tangis pamrih, tetapi air mata perasan hati yang kosong pamrih.”

Ketika anda menangis, menangislah karena syukur dan ikhlas, bukan karena menginginkan imbalan yang tak kunjung tiba. Apalah artinya menantikan imbalan, jika semua yang ada tak mengizinkan. Apalah artinya tangisan hanya gara-gara ingin dipuji, dibalas atau diberi, jika kemuliaan jauh dari kita. Yang terpenting adalah kedamaian, ketentraman, aman, kebahagiaan dan kemuliaan.
Pamrih itu hanya membuat seseorang menjadi penakut, picik, menderita, menjenuhkan, bahkan dapat membuat orang menjadi hina.

Apalah artinya berpegang kepada kesementaraan, jika di alam baka kita dicambuk derita ?!
Padhang Ing Petheng
” … Wosipun inggih punika ngupadosi padhang ing peteng; seneng ing sengsara, tunggaling sewu yuta … “
Artinya, “Yang jelas adalah mencari terang di dalam gelap; senang dalam kesengsaraan, ribuan juta contohnya.”
Apa saja yang ada di dunia ini relatif. Di bumi ini selalu ada dualisme, seperti padhang-peteng; seneng-sengsara; sehat-sakit; hujan-panas dan lain sebagainya. Demikianlah yang namanya kehidupan. Peteng terus itu tidak ada. Padhang terus juga tidak ada. Seneng terus itu juga tidak ada. Sengsara terus itupun tidak ada. Oleh karena itu, yang bertentangan itu dibutuhkan dalam kehidupan ini. Dengan adanya panjang, kita tahu pendek; dengan adanya sakit, kita bisa merasakan sehat. Dengan mengetahui baik, maka kita tahu apa itu buruk.

Hujan dan panas, keduanya dibutuhkan dalam kehidupan ini. Kalau orang tidak mau peteng dan selalu ingin yang padhang saja, apa jadinya dunia ini? Kapan kita istirahat, kapan kita tidur? Kalau peteng terus, apa saja yang semula tumbuh pasti mati. Sebab tidak terkena sinarnya matahari. Kalau panas terus, bumi ini akan kering kerontang, kematian akan tersebar di muka bumi. Kalau hujan terus, pasti terjadi banjir di mana-mana. Daratan akan tenggelam, kelaparan melanda dunia disertai kematian umat manusia. Dimana-mana yang ada cuma air! Apa jadinya bumi ini?

Senang dan sengsara harus diterima seperti apa adanya, karena kedua-duanya membawa manfaat dan didalamnya ada hikmah yang tersembunyi. Janganlah kita terikat atau terbelenggu oleh senang dan susah. Jika kesengsaraan datang, terimalah. Jika kesenangan datang, sambutlah. Mengapa? Supaya hidup ini dapat dijalani dengan tenang.

Di manapun anda temukan kegelapan, maka terangilah. Di manapun anda temukan kesengsaraan, maka berilah kesenangan. Janganlah berhenti melakukan tugas itu, karena berjuta-juta yang membutuhkan cahaya terang dan sinar kebahagiaan.
Mutiara-mutiara

“… Kula badhe nyobi prabotanipun wong lanang, inggih punika: bares, mantep, wani. …”

“… Saya akan mencoba identitas seorang lelaki, yaitu: jujur, mantab, wani …”

“Boten kenging tiyang jaler ngunduri utawi nyingkiri bebaya utami, saha cidra dhateng pengajeng-ajeng lan kepercadosipun sesami.”

Intinya, seorang pemberani jangan takut menghadapi apapun..
“Yen kapergok aja mlayu.”
..dan jika bertemu suatu bahaya, jangan lari. (Bertanggungjawab)

“Ing donya mung kebak kangelan, seng ora gelem kangelan aja ing donya.”
“Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia.”

“Ajinipun inggih boten sanes naming aji tekad, ilmunipun ilmu pasrah, rapalipun adiling Gusti.”
Intinya, tak perlu mempelajari ajian-ajian, cukup dengan tekad yang baik, dengan kepasrahan yang benar dan selalu berlindung di bawah sifat adil tuhan.

“Kula bade ngukur dedeg kula, nimbang botin kamantepan, njajagi gayuhanipun budi.”
Intinya, di dalam sebuah pengembaraan, sebaiknya seseorang juga perlu mempertimbangkan keyakinan yang dimilikinya dan mendalami raihan budi. Sejauh mana keyakinan dan raihan budinya, dapat dilihat setelah seseorang menjalani pengembaraan, karena di sanalah kedua hal tersebut dapat teruji dan terbukti.

“Pakerti asor numusi anak putu lan mbekta kasengsarane tiyang katah.”
Intinya, harus tahu bahwa perbuatan atau akhlak yang buruk dapat terwarisi oleh sang anak dan dapat mendatangkan kesengsaraan orang lain.

“Aja dumeh, tepa slira, ngerti kuwalat.”
Intinya, janganlah merasa hebat. Terhadap siapapun harus tenggang rasa. Dan harus tahu kena tuah (semisal hukum karma).

“Wani mengku: anteping ati, kencenging pikir, boboting kekuatane.”
Intinya, kemantapan dan kekuatan hati, pikiran yang kuat atau teguh dan bobotnya kekuatan harus dimiliki.

“Nekad: Kekendelan, ngluwihi kekuatan.”
Intinya, bertekad bahwa kepastian (di dalam diri) itu melebihi kekuatan.

“Dede tekad pamrih, nanging tekad asih.”
Intinya, berdasarkan pada tekad asih, bukan tekad pamrih.

“Tiyang mlampah punika, sangunipun lan gembolanipun satunggal, inggih punika : “maksudipun”.”
Intinya, orang berjalan hanya mempunyai satu bekal, yaitu niat.

“Barang sanesipun saged dipun wastani ngriribedi lan ngrawati lampah, kenging dipun wastani ugi : Ngendoni niyat utawi “ngeker ancas lan tujuning lampah”.”
Intinya, barang lainnya selain niat yang baik, hanya akan menjadi penghalang dan memperberat langkah, dapat juga dinamakan sesuatu yang bisa mengendorkan niat, bisa memutar tujuan perjalanan. Gara-gara mencari sesuatu yang tak jelas, niat seseorang dapat berubah.

“Ingkang tansah dados ancasipun lampah kula mboten sanes namung sunyi pamrih, puji kula mboten sanes namung sugih, senengipun sesami.”
Intinya, dalam menjalankan tugasnya niat beliau tak lain adalah sunyi pamrih, tidak mencari imbalan, sedangkan puji beliau adalah puji cukup, selamat dan kesenangan orang lain.

“Prabot kula boten sanes badan lan budi.”
Intinya, atribut yang hanya bisa dibawa kapan saja adalah badan dan budi.

“Nyebar wiji sederekan lan wiji utamining kejawen ing manca negari.”
Intinya, benih-benih persaudaraan dan keutamaan orang Jawa-lah yang harus diperjuangkan. Itu jika anda orang Jawa. Jika bukan, ya keutamaan bangsa anda yang harus anda perjuangkan, sebarkan ke mana saja anda berada. Namun yang terpenting disini ialah persaudaraan bukan permusuhan. (Perlu diingat bahwa sewaktu beliau menulis mutiara-mutiara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia belum berdiri.)

“Tumraping kula piyambak, kejawi urun batos, raos, kula kedah wani urun badan, urun dada, urun bahu.”
Intinya, memberikan pertolongan kepada sesama, bahkan dalam sebuah pengembaraan, selain menyumbangkan batin dan rasa, juga harus berani menyumbangkan badan, dada dan bahu. Sekujur tubuh, lahir dan batin harus bersedia disumbangkan demi kebahagiaan bersama.

“Ngawula dateng kawulaning Gusti lan memayu ayuning urip, tanpa pamrih tanpa ajrih, jejeg mantep, mawi pasrah. Sebab payung kula Gusti kula, tameng kula inggih Gusti kula.”
Intinya, dalam menjalani kehidupan disarankan mengabdikan diri kepada abdinya ALLAH SWT, menyempurnakan kebahagiaan hidup, tanpa pamrih tanpa takut, tegak, mantap dengan jalan tawakkal. Sebab, yang patut dijadikan tempat berlindung dan bergantung hanyalah ALLAH SWT.

“Yen kula mundur sebab ajrih, kula kenging dipun wastani kirang dhateng Gusti.”
Intinya, seseorang yang mundur dari sebuah pertempuran (perjalanan dalam hidupan) karena takut, itu dapat dinilai sebagai orang yang kurang pasrah kepada ALLAH.
“Angungkup kabeh, anyandak siji.
Intinya, semuanya harus diraih, tapi hanya satu yang menjadi sumbernya, yaitu ridha Ilahi.

“Ambuka netra, tegesipun anutup netra. Anggelar pemandeng, tegesipun angringkes pemantheng.”
Intinya, mata yang dibuka adalah mata yang ditutup. Meluaskan pandangan adalah konsentrasi. Mata bathinlah yang harus diutamakan, agar tidak mudah tergiur oleh gemerlap dunia yang hanyalah semu.

“Perlunipun lan maksudipun inggih punika nyukani urunan piwulang, pitedah lan tulada dhateng para sederek ing ngriki, ingkang asor inggih ingkang luhur, ingkang mlarat ingkang sugih.”
Intinya, semua yang dilakukan itu dijadikan pelajaran untuk diri sendiri dan orang lain, sebagai petunjuk bersama, bahwa sesungguhnya yang hina itulah yang luhur, yang miskin itulah yang kaya. Penampilan seseorang tidak dapat dijadikan pertanda, melainkan apakah ada yang baik dibalik penampilan yang baik, atau mungkin orang yang seakan baik tapi berhati jahat.

” Je moet leren om te doorvoelen. dat het leven een is, Ti. Alles is in dat ene. En dat leven is juist in jou. Onthou dat. Alles is in jou. En jij, je ben in alles. . . . . ”
“Kamu harus belajar untuk merasakan. bahwa kehidupan itu adalah satu, Ti Semuanya ada didalam satuan itu. Dan kehidupan itu justru ada di dalam mu. Ingatlah. Semuanya ada didalam mu Dan kamu, kamu adalah semuanya”

“Ikhlas marang apa sing wis kelakon. Trimah apa kang dilakoni. Pasrah marang apa kang bakal ana. “
Artinya, ikhlas terhadap apa yang telah dijalani. Menerima apa yang sedang dialami. Pasrah terhadap apa yang akan dihadapi.

“Jen kersa njangoni, sampun njangoni uwas, nanging njangoni mantep lan pasrah. Punika sangunipun wong lanang.”

Sang Alif

“… Ping kalihipun perlu babat lan ngatur papan kangge masang Alif. (Masang Alif punika inggih kedah mawi sarana lampah. Boten kenging kok lajeng dipun canthelaken kemawon, lajeng dipun tilar kados mepe rasukan).”
Artinya, “Yang keduanya perlu membuka dan mengatur tempat untuk memasang Alif. (Memasang Alif itu harus dengan sarana penghayatan. Tidak boleh hanya dicantolkan begitu saja, lalu ditinggal layaknya menjemur pakaian.)

“Ngawula dateng kawulaning Gusti lan memayu ayuning urip, …”
Maksudnya adalah mengabdi kepada abdinya Tuhan dan memperbaiki keindahan hidup.

Diungkapkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono memiliki tiga buah Alif, yaitu :
1. Sang Alif warna hitam, dengan dasar putih.
2. Sang Alif warna putih, dengan dasar biru muda.
3. Sand Alif warna putih, dengan dasar merah.

Ketika melayani dan mengobati orang-orang yang sakit, Drs. R.M.P. Sosrokartono selalu berdiri. Beilau kuat sekali berdiri berjam-jam atau berhari-hari. Setelah mengobati orang-orang sampai pukul 12 malam, Dar-Oes-Salam ditutup. Namun beliau tidak langsung tidur, beliau seringkali bermain catur sampai jam 3, 4 pagi, itupun beliau lakukan sambil berdiri.

Catur Murti
Catur itu empat, sedangkan Murti itu penjelmaan. Jadi yang dimaksudkan adalah empat yang dijelmakan menjadi satu. Menurut Aksan, Catur Murti adalah bersatunya empat faal, yaitu pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.

Berawal dari keinginan atau kehendak (perasaan), itulah yang menyebabkan berpikir dan tindak lanjutnya adalah berkata, terakhir berbuat. Pikiranlah yang mendorong kita untuk berkata maupun berbuat. Sekarang tergantung kepada pikirannya. Kalau pikirannya baik/benar, maka akan mengeluarkan kata-kata yang baik/benar. Kalau pikirannya baik/benar, akan mendorong untuk berbuat baik/benar. Jika pikirannya jahat/tidak benar, akan mendorong orang untuk berkata yang jahat dan berbuat jahat.

Kebencian jangan diberi kesempatan untuk merajalela di alam pikiran kita. Kita harus menjinakkan kebencian yang ada di dalam pikiran kita, kemudian kita pudarkan atau kita kecilkan, agar pikiran jahat itu dapat kita hilangkan. Kalau sudah begitu, jangan diingat-ingat lagi orang yang pernah membuat anda jadi benci. KAta-katanya, perilakunya, jangan diingat lagi. Dengan berjalannya waktu, anda akan melupakan itu semuanya. Berterima kasihlah kepada Tuhan, karena anda dikaruniai sifat lupa, kalau anda tidak diberi lupa, maka anda akan ingat segala-galanya, apakah anda tidak bertambah pusing?

Ada kalanya kita menggunakan pikiran yang baik, namun masih dianggap kurang cukup. Menggunakan perasaan yang baik pun masih ada kekurangannya.

Sebagai contoh : Anda sedang berjalan dengan seorang teman. Kebetulan teman itu tidak punya uang sama sekali. Dan sama-sama lapar, tetapi uang anda hanya Rp 2000. Anda mampir di warung, nasi satu piring Rp 2000. jadi yang makan hanya anda sendiri. Sebab, uang itu adalah uang anda sendiri dan anda sangat lapar. Teman anda menunggu sambil berdiri, di luar warung. Sampai hatikah anda berbuat begitu?

Contoh lainnya : Uang Rp 2000 anda berikan kepada teman anda, teman anda yang makan. Anda hanya duduk saja di dalam warung, sambil mengamati teman anda yang sedang menikmati makanannya.
Pada contoh yang pertama, anda egoistis. Sekalipun berpikir benar. Pada contoh yang kedua, anda adalah orang gila yang baik hati. Sekalipun berperasaan benar. Nah, coba anda mencari makanan yang harganya Rp 1000 saja. Anda dan teman anda sama-sama dapat makan. Anda makan tidak kenyang, tetapi sudah makan. Teman anda tidak kelaparan. Jadi sebelum anda berbuat, pikiran yang benar harus diselaraskan dengan perasaan yang benar. Artinya, ada unsur penyelarasan. Dengan begitu, dalam konteks tersebut, perbuatan anda adalah “Perbuatan benar”.

Dengan demikian, Catur Murti itu merupakan kesatuan, tidak boleh dipisahkan, jangan ambil protholannya saja, ambillah kesatuannya, keseluruhannya. itu baru namanya Catur Murti. Selain itu, Catur Murti bukan hanya sekedar dihafalkan, tapi harus dihayati dan diamalkan. Berlatih Catur murti tanpa berhenti, baru ada manfaatnya. Sehingga menyatu dengan jiwa kita, sehingga kita terbiasakan untuk berpikir benar, berperasaan benar, berkata benar dan berbuat benar. Dalam situai dan kondisi apapun reaksi kita jadi cepat dan dalam mengambil keputusan bisa dengan tepat dan benar.

Tuhan telah memberi kita 2 buah mata, 2 buah telinga dan 1 mulut. 2 buah mata, artinya banyak-banyaklah melihat. 2 buah telinga, artinya banyak-banyaklah mendengar. 1 buah mulut, kalau tidak perlu sebaiknya ditutup. Sebab mulut adalah pintu gerbang yang mendatangkan bahaya.

Benci (kebencian)
Hidup ini jadi tegang dan gelisah. Kebencian dapat melahirkan dendam. Dendam dapat melahirkan ketidaktenangan. Gelisah dan gundah gulana itu juga akibat dari sebuah kebencian.

Serakah
Keserakahan menyebabkan hati kita tertutup. Hati yang tertutup tidak dapat melihat kepentingan orang lain, tidak dapat merasakan penderitaan orang lain. Yang dipikirkan hanya kepentingan, kesenangan dan keselamatan dirinya sendiri.

Iri Hati
Orang yang iri hati selalu merasa tidak senang, jika orang lain senang. Ia tidak merasa bahagia kalau orang lain bahagia. Ia merasa kecil hati melihat orang lain sukses. Orang yang iri hati itu hatinya kerdil, karena ia tidak mau menerima kenyataan dengan lapang dada atau mengakui kesuksesan orang lain, kegembiraan orang lain, kebahagiaan orang lain. Orang iri hati cepat sekali untuk memfitnah orang, menggunjing atau menjelekkan orang lain yang sukses.

Fitnah
Selama kita benar, jangan takut terhadap fitnah. Kalau kita tak berbuat yang neko-neko, kita merasa benar, tak perlu memikirkan fitnah itu. Biarkan saja, diamkan saja dan hadapi dengan kesabaran.

Bodoh (kebodohan)
Bilamana kita sedang marah, sedang membenci, sedang iri hati, sedang serakah, pada saat itu kita dalam keadaan bodoh, yang artinya tidak punya kemampuan untuk mengendalikan diri/lepas kontrol. Saat itu pikiran kita jadi gelap, tidak sadar, tidak bijaksana, kita jadi bodoh (tidak seperti biasanya, cerdas, bijaksana). Karena bodoh, ada kemungkinan kita memukul atau membunuh tanpa kesadaran. Melakukan hal-hal membahayakan untuk diri sendiri dan orang lain, dan kita pun menderita lahir batin. Kita baru sadar, setelah itu semua terjadi. Kesadaran yang datangnya terlambat.

Tulisan ini semoga menjadikan bahan renungan kita semua, dan membuka mata kita semua bahwa sejak Republik ini belum lahir sudah ada anak bangsa yang berperan vital dalam sebuah organisasi Dunia. Konon redaksional tulisan RA. Kartini yg berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” berasal dari tulisan beliau, sayang tdk banyak orang tahu betul akan siapa sebenarnya beliau.

Memang penulisan sejarah di negara kita di masa lampau sarat dengan kepentingan politis dan kekuasaan. Lebih dari itu karakter masyarakat Jawa yang sangat hiperbolis dalam memandang ketokohan beliau, secara tidak disadari turut berperan dalam mengaburkan riwayat karier beliau yang sangat spektakuler di luar negeri. Banyak masyarakat Jawa memandang beliau sbg tokoh sakti mandraguna yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit, sampai sekarang masih banyak kalangan masyarakat KEJAWEN menganggap beliau sebagai tokoh panutan.

Semoga tulisan ini juga mampu mengembalikan sejarah beliau yang sudah ter-distorsi-kan sedemikian rupa, sehingga kita sebagai generasi penerus bangsa mampu mengambil nilai-nilai positif dari ajaran beliau untuk kita jadikan cambuk bagi diri kita masing-masing agar kita bisa mencontoh beliau untuk berperan aktif di dunia International. Bukan sekedar menjadi bangsa kacung. JAZAKALLAH…

Kepustakaan :
• Indy G. Hakim, Tafsir Surat-surat & Mutiara-mutiara Drs. R.M.P. Sosrokartono, (Pustaka Kaona, April 2008)
• Pa’ Roesno, Karena Panggilan Ibu Sejati : Riwayat Hidup dari Drs. R.M.P. Sosrokartono, (Djakarta : 1954)
• Panitya Buku Riwayat Drs. R.M.P. Sosrokartono, Kempalan Serat-serat : Drs. Sosrokartono, (Surabaya : Panitya Buku Riwayat Drs. R.M.P. Sosrokartono, 1992)
• Serat Saking Medan, 12 Mei 1931 dalam Suxmantojo, Kempalan Serat-serat Drs. R.M.P. Sosrokartono
• Serat Saking Binjei, 5 Juli 1931
• Serat Saking Binjei, 9 Juli 1931
• Serat Saking Tanjung Pura (Langkat), 26 Oct. 1931
• Serat Saking Tanjung Pura, 11 Oct. 1931
• Djoko Pring, “Aji Pring”, (Binjei, 12 Nov. 1931)
• Djoko Pring, Omong Kosong, (Binjei, 12 Nov. 1931)
• R. Mohammad Ali, Ilmu Kantong Bolong, Ilmu Kantong Kosong, Ilmu Sunji Drs. R.M.P. Sosrokartono
• Djoko Pring, Lampah lan Maksudipun, (Binjei 12 Nov. 1931)
• Blog Inggra @ http://parandaru.multiply.com/journal/item/1/Coba_direnungkan_saja
• Artikel Ir. Budi Setiaji di Kedaulatan Rakyat

Menguak Filosofi SOSRO KARTONO (Bagian 1)

No comments

Banyak yang tak mengenal tokoh satu ini, manusia berhati luhur, cerdas dan mempunyai daya linuwih yang mengagumkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui tentangnya, beliau bernama RMP Sosro Kartono kakak kandung RA Kartini, yang konon sempat menjadi guru spiritual Albert Einstein yang melegenda itu. Pengalaman maupun pengetahuannya luar biasa dan perilaku beliau sangat bagus menjadi suri tauladan bagi kita semua, namun sayang tokoh yang satu ini sudah terlupakan oleh generasi muda.


Sang Poliglot

Raden Mas Panji Sosrokartono lahir di Mayong pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 M. Beliau adalah putera R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau juga merupakan kakak kandung dari RA. Kartini. Semenjak kecil beliau sudah mempunyai keistimewaan, beliau cerdas dan mempunyai kemampuan membaca masa depan. Kakak dari ibu kita Kartini ini, setelah tamat dari Eropesche Lagere School di Jepara, melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda. Mula-mula masuk di sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tetapi merasa tidak cocok, sehingga pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur.

Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda, yang pada urutannya disusul oleh putera-putera Indonesia lainnya. Dengan menggenggam gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, beliau mengembara ke seluruh Eropa, menjelajahi pelbagai pekerjaan.

Pada tahun 1917, koran Amerika The New York Herald Tribune, di kota Wina, Ibukota Austria, membuka lowongan kerja sebagai wartawan perang untuk meliput Perang Dunia I. Salah satu tes adalah menyingkat-padatkan sebuah berita dalam bahasa Perancis yang panjangnya satu kolom menjadi berita yang terdiri atas kurang lebih 30 kata, dan harus ditulis dalam 4 bahasa yaitu Inggris, Spanyol, Rusia dan Perancis sendiri. Drs Raden Mas Panji Sosrokartono, putra Bumiputra yang ikut melamar, berhasil memeras berita itu menjadi 27 kata, sedangkan para pelamar lainnya lebih dari 30 kata. Persyaratan lainnya juga bisa dipenuhi oleh RMP Sosrokartono sehingga akhirnya ia terpilih sebagai wartawan perang surat kabar bergengsi Amerika, The New York Herald Tribune.

Agar supaya pekerjaannya lancar ia juga diberi pangkat Mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat.
RMP Sosrokartono seorang poliglot, ahli banyak bahasa. Ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di tanah Nusantara. Sebelum ia menjadi wartawan the New York Herald Tribune, ia bekerja sebagai penterjemah di Wina, ibukota Austria. Di Wina ia terkenal sebagai seorang “jenius dari Timur”. Ia juga bekerja sebagai wartawan beberapa surat kabar dan majalah di Eropa. Di dalam buku ‘Memoir’ Drs Muhammad Hatta diceritakan kalau RMP Sosrokartono mendapat gaji 1250 Dollar dari surat kabar Amerika. Dengan gaji sebesar itu ia dapat hidup mewah di Eropa.

Sebelum Perang Dunia I berakhir, pada bulan November 1918, RMP Sosrokartono terpilih oleh blok Sekutu menjadi penterjemah tunggal, karena ia satu-satunya pelamar yang memenuhi syarat-syarat mereka yaitu ahli bahasa dan budaya di Eropa dan juga bukan bangsa Eropa. Dalam ‘Memoir’ tulisan Drs Muhammad Hatta ditulis kalau RMP Sosrokartono juga menguasai bahasa Basque, menjadi penterjemah pasukan Sekutu kala melewati daerah suku Basque. Suku Basque adalah salah satu suku yang hidup di Spanyol. Ketika Perang Dunia I menjelang akhir, diadakan perundingan perdamaian rahasia antara pihak yang bertikai.

Pihak-pihak yang berunding naik kereta api yang kemudian berhenti di hutan Compaigne di Perancis Selatan. Di dalam kereta api, pihak yang bertikai melakukan perundingan perdamaian rahasia. Di sekitar tempat perundingan telah dijaga ketat oleh tentara dan tidak sembarangan orang apalagi wartawan boleh mendekati tempat perundingan dalam radius 1 km. Semua hasil perundingan perdamaian rahasia tidak boleh disiarkan, dikenakan embargo sampai perundingan yang resmi berlangsung. Dalam Sejarah Dunia, Perundingan Perdamaian Perang Dunia ke I yang resmi berlangsung di kota Versailles, di Perancis.

Ketika banyak wartawan yang mencium adanya ‘perundingan perdamaian rahasia’ masih sibuk mencari informasi, koran Amerika The New York Herald Tribune ternyata telah berhasil memuat hasil perundingan rahasia tersebut. Penulisnya ‘anonim’, cuma menggunakan kode pengenal ‘Bintang Tiga’. Kode tersebut di kalangan wartawan Perang Dunia ke I dikenal sebagai kode dari wartawan perang RMP Sosrokartono. Konon tulisan itu menggemparkan Amerika dan juga Eropa. Yang menjadi pertanyaan bagaimana RMP Sosrokartono bisa mendapat hasil perundingan perdamaian yang amat dirahasiakan dan dijaga ketat? Apakah RMP Sosrokartono menjadi penterjemah dalam perundingan rahasia tersebut?

Kalau ia menjadi penterjemah dalam perundingan rahasia itu lalu bagaimana ia menyelundupkan beritanya keluar? Seandainya ia tidak menjadi penterjemah dalam perundingan perdamaian rahasia itu, sebagai wartawan perang, bagaimana caranya ia bisa mendapat hasil perundingan perdamaian rahasia tersebut? Sayangnya dalam buku Biografi RMP Sosrokartono tidak ada informasi mengenai hal ini. Namun tak dapat disangkal lagi, berita tulisan RMP Sosrokartono di koran New York Herald Tribune mengenai hasil perdamaian rahasia Perang Dunia I itu merupakan salah satu prestasi luar biasa Sosrokartono sebagai wartawan perang.

Tahun 1919 didirikan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) atas prakarsa Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson. Dari tahun 1919 sampai 1921, RMP Sosrokartono, anak Bumiputra, mampu menjabat sebagai Kepala Penterjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa. Ia berhasil mengalahkan poliglot-poliglot dari Eropa dan Amerika sehingga meraih jabatan tersebut. Liga Bangsa-Bangsa kemudian berubah nama menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Organization) pada tahun 1921. Tahun 1919 RMP Sosrokartono juga diangkat menjadi Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Perancis di Belanda.

RMP Sosrokartono pulang ke tanah air tahun 1925. Ia kemudian menetap di kota Bandung,kepulangannya di tanah air membuat Pemerintah Hindia Belanda berpikir untuk agar RMP Sosrokartono tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan politik yang sedang marak saat itu. RMP Sosrokartono kemudian ditawari berbagai jabatan dari Pemerintah Kolonial Belanda seperti jabatan Bupati, Adviseur Voor Inlandse Zaken dan Direktur pada Museum Bataviaasch Genootschaap Van Kunsten en Wetenschappen di Jakarta. Namun tawaran jabatan itu ditolak RMP Sosrokartono. RMP Sosrokartono memilih menjadi Kepala Sekolah di Perguruan Taman Siswa, nationale Middlebare School yang baru didirikan di Bandung.

Guru-guru di sekolah Taman Siswa itu antara lain Ir Soekarno, Dr Samsi, Mr Sunario dan Mr Usman Sastroamidjoyo. RMP Sosrokartono juga ikut aktif dalam kegiatan politik saat zaman pergerakan nasional Indonesia. Kegiatan Sosrokartono dapat dilihat dari laporan para pejabat kolonial Belanda. Dalam laporan rahasia tahun 1962 yang dibuat Van Der Plas pejabat Adviseur Voor Inlandse Zaken tertulis kalau Drs Sosrokartono termasuk pelopor gerakan nasional Indonesia dan tidak dapat dipercaya oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Laporan ‘Komisi Istimewa’ yang terdiri Herwerden dan Toxopeus langsung kepada Ratu Wilhelmina berisikan kalau Sosrokartono penganjur swadesi dan sangat berbahaya bagi berlangsungnya ketentraman dan kedamaian di Hindia Belanda.

Tahun 1927, RMP Sosrokartono terpaksa keluar dari Perguruan Taman Siswa karena tekanan Pemerintah Kolonial Belanda terhadapnya sudah tak tertahankan lagi.
Beliau tidak menikah, tidak punya murid dan wakil.
Pada hari Jum’at Pahing, tanggal 8 februari 1952 di rumah Jl. Pungkur No. 19 Bandung, yang terkenal dengan sebutan Dar-Oes-Salam, Drs. R.M.P. Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram.

Presiden Soekarno memerintahkan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) untuk mengantarkan jenazah RMP Sosrokartono dengan pesawat terbang militer ke kota Semarang. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Sedhomukti di kota Kudus. Dalam buku Biografi RMP Sosrokartono tulisan Solichin Salam, Mr Ahmad Soebardjo, mantan ketua organisasi Perhimpunan Indonesia di Belanda, berkomentar kalau Drs Sosrokartono memang luar biasa di segala bidang kehidupan manusia baik lahir maupun batin. Sosrokartono senantiasa dicurigai oleh penjajah karena pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat besar. Dan Drs Sosrokartono dapat dibanggakan sebagai Putra Indonesia Sejati.

Kutipan komentar Prof Mr Muhammad Yamin tentang RMP Sosrokartono,

“..seorang putera Indonesia yang pernah berjuang, menderita dan mendapat kemenangan sampai pulang ke pangkuan bumi di makam Sedhomukti, setelah bekerja dengan menggerakkan perbagai tenaga untuk kebahagiaan manusia dan kemajuan bangsa. Bapak Sosrokartono adalah penganjur orang berilmu yang mengendalikan tenaga jasmani dan rohani untuk kebahagiaan Indonesia dan dunia, “

Kutipan komentar Bung Karno tentang RMP Sosrokartono.

“..Drs Sosrokartono almarhum adalah salah seorang sahabat saya dan beliau adalah seorang putera Indonesia yang besar, “

Bpk Ahmad Soebardjo, Bpk Muhammad Yamin dan Bung Karno adalah pahlawan-pahlawan Indonesia. Komentar-komentar mereka menunjukkan kalau RMP Sosrokartono seorang tokoh Indonesia yang besar. Raden Mas Panji Sosrokartono adalah pahlawan Indonesia yang kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia sendiri. Banyak orang menyepelekan jabatan Sosrokartono sebagai Kepala Penerjamah di Liga Bangsa-Bangsa. Padahal jabatan itu yang sangat prestisius, seperti di organisasi kelas dunia seperti Liga Bangsa-Bangsa pasti seorang ahli bahasa luar biasa. Menjadi penterjemah bertaraf internasional itu susah sekali, apalagi kalau berhasil bekerja sebagai penterjemah di lembaga dunia seperti Liga Bangsa-Bangsa yang sekarang namanya Perserikatan Bangsa Bangsa.

Berikut ini beberapa kutipan tentang tulisan beliau:

Guru Sejati
“Murid, gurune pribadi Guru, muride pribadi Pamulangane, sengsarane sesami Ganjarane, ayu lan arume sesami.”

Artinya, “Murid gurunya diri pribadi. Guru, muridnya diri pribadi. Tempat belajarnya/pelajarannya, penderitaan sesama. Balasannya, kebaikan dan keharuman sesama.”
Untaian itu mengandung pengertian bahwa sesungguhnya dalam diri seseorang terdapat seorang guru dan diri seseorang itu sendiri menjadi murid, murid dari guru sejati. Sebab, pada intinya, segala bentuk ilmu dan pengetahuan itu hanya datang dari ALLAH SWT, karena guru selain ALLAH SWT itu hanya sebagai perantara belaka.

“Sinau ngarosake lan nyumerepi tunggalipun manungsa, tunggalipun rasa, tunggalipun asal lan maksudipun agesang.”
Artinya, “Perlu belajar ikut merasakan dan mengetahui bahwa manusia itu satu, rasa itu satu, berasal dari tempat yang sama, dan belajar memahami arti dari tujuan hidup.”

“Tansah anglampahi dados muriding agesang.”
Artinya, “Selalu menjalani jadi murid kehidupan/sesama hidup.” Kehidupan itulah sang guru, karena kehidupan itu juga mengajarkan kepada kita.

“… Ping kalihipun perlu babat lan ngatur papan kangge masang Alif. (Masang Alif punika inggih kedah mawi sarana lampah. Boten kenging kok lajeng dipun canthelaken kemawon, lajeng dipun tilar kados mepe rasukan).”
Artinya, “Yang keduanya perlu membuka dan mengatur tempat untuk memasang Alif. (Memasang Alif itu harus dengan sarana penghayatan. Tidak boleh hanya dicantolkan begitu saja, lalu ditinggal layaknya menjemur pakaian.)

“Ngawula dateng kawulaning Gusti lan memayu hayuning urip, …”
Maksudnya adalah mengabdi kepada abdinya Tuhan dan memperbaiki keindahan hidup.

Kanthong Bolong “Nulung pepadhane, ora nganggo mikir wayah, wadhuk, kanthong. Yen ana isi lumuntur marang sesami.”
Artinya, “Menolong sesama, tidak perlu memakai pikiran waktu, perut, saku. Jika (saku) berisi mengalir kepada sesama.”

Dengan demikian, maksud dari “Ilmu Kanthong Bolong” adalah sebuah pengetahuan konkrit tentang sebentuk tempat yang selalu kosong, yang secara pasti tempat itu tak pernah membiarkan sesuatu yang dimilikinya tetap ada, karena tempat itu berlobang, maka apapun yang ditaruh di sana selalu mengalir, sehingga menjadi kosong dan sunyi dari apa saja.

“Nulung tiyang kula tindakaken ing pundi-pundi, sak mangsa-mangsa, sak wanci-wanci.”
Maksudnya, menolong orang itu dilaksanakan di mana-mana, sewaktu-waktu, kapan saja.

Sugih Tanpa Bandha

“Sugih tanpa bandha. Digdaya tanpa hadji. Ngalurug tanpa bala. Menang tanpa ngasoraken.”
Artinya, “Kaya tanpa harta. Sakti tanpa azimat. Menyerang tanpa balatentara. Menang tanpa merendahkan.”
Demikianlah kata-kata mutiara yang tertera pada salah satu batu nisan makam Drs. R.M.P. Sosrokartono di Sidhomukti Kudus.

Ajaran Drs. R.M.P. Sosrokartono ini tidak mengajak orang-orang Indonesia jadi orang yang melarat, miskin, tak punya harta, sehingga mudah dipermainkan oleh mereka yang berharta. Tapi sesungguhnya, kembali pada penjelasan bahwa orang kaya itu bukanlah karena banyak harta bendanya, melainkan orang kaya itu adalah orang yang kaya hatinya, yang kaya mentalnya.

“Puji kula mboten sanes namung sugih-sugeng-seneng-ipun sesami.”
Maksudnya, si miskin akan akan tetap jadi miskin atau makin miskin karena bermental miskin.

Bukankah orang kaya itu orang yang sudah tak lagi membutuhkan sesuatu, karena semuanya telah terpenuhi? Meskipun anda tak berharta, tapi anda sudah merasa cukup dengan apa yang anda dapatkan di dunia ini, maka andalah orang kaya itu. Sebaliknya, meskipun anda banyak berharta, tapi anda masih menginginkan dan membutuhkan sesuatu yang begini dan begitu, maka anda bukanlah orang kya, karena anda masih fakir (butuh) dan kebutuhan anda belum tercukupi.

Digdaya Tanpa Aji

“Ajinipun inggih boten sanes namung aji tekad; ilmunipun ilmu pasrah; rapalipun adilipun Gusti.”
Artinya, “Ajiannya tidak lain hanyalah ajian tekad, ilmunya ilmu pasrah, manteranya keadlan Tuhan.”
Perbuatan taat dan meninggalkan maksiat itulah sumber energi yang dapat membuat seseorang sakti mandraguna, disamping kemampuan diri mengekang gejolak syahwat dan dari perintah nafsu yang buruk.

Rumusan beliau “Digdaya tanpa Aji” ada pada tiga tahapan, yaitu :

Tekad : adalah sifat yang merujuk pada semangat dan keberanian diri dalam menghadapi segala masalah, seperti rekayasa hidup, fitnah dan bujukan dunia. Tekad ada karena ada niat, sementara segala sesuatu itu tergantung pada niatnya. Jika niatnya itu baik, maka baiklah jadinya. Selain itu, dengan tekad manusia dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Tekad bukan berarti spekulasi miring, tapi lebih mengarah pada sikap tidak takut pada apapun dan siapapun, sehingga hasil yang dicapaipun menjadi maksimal. Tekad dapat dijadikan senjata, yakni senjata psikis dalam menghadapi setiap masalah. Oleh karena itu tekad dapat dijadikan ajian, azimat pamungkas dalam segala urusan. Untuk mendapatkan “aji tekad” tidak perlu melakukan laku (tirakat), tidak pula belajar ilmu kanuragan dahulu, tetapi “aji tekad” dapat diperoleh dengan menanam keberanian, kepasrahan, keadilan dan niat yang baik dalam diri.

Pasrah: Ilmu pasrah dapat juga disebut ilmu tawakal. Memasrahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Ilmu tawakal ini bisa diperoleh dengan menanamkan pemahaman dalam diri bahwa tak ada kuasa dan daya selain kuasa dan daya ALLAH Yang Maha Agung. Hidup dan mati itu urusan Tuhan, sukses dan gagal atas kehendak ALLAH SWT. Intinya, menyerahkan permasalahan hidup ini kepada Tuhan, karena Dialah sebaik-baiknya Wakil. Pasrahkan jiwa dan raga kepada-Nya; Dibalik tawakkal ada keselamatan, karena ketika manusia telah menyerahkan hidup-matinya, segala urusannya kepada Yang Maha Esa, maka Dialah yang akan melindungi dan menyelamatkannya dari bahaya dan bencana.

Keadilan: Keadilan disini adalah lafal, kata/tanda yang disandarkan kepada ALLAH. Keadilan ini sulit didapat dan sulit dipraktekkan, kaena keadilan adalah puncak dari kebaikan. Ketika manusia tak dapat berbuat adil, maka ALLAH lah yang akan memberikan keadilan. Keadilan ALLAH SWT ini sangat menakutkan, karena Yang Maha Adil itu takkan memandang siapa yang akan diadili, sehingga keadilan benar-benar ditegakkan. Ketika keadilan-Nya telah berbicara, maka kebenaranlah yang ada. Ketika keadilan ALLAH SWT telah menjadi ucapan seseorang dalam denyut kehidupannya, maka kebenaran dan kebaikanlah yang diperolehnya.

“Tanpa aji, tanpa ilmu, kula boten gadhah ajrih, sebab payung kula Gusti kula, tameng kula inggih Gusti kula, Gusti ALLAH TA’ ALA.”
Artinya, “Tanpa ajian, tanpa ilmu (kanuragan), saya tidak takut, sebab payung atau pelindung saya adalah ALLAH SWT dan perisai saya juga hanya ALLAH SWT.”

Bertempur Tanpa Pasukan

“Ngalurug tanpa Bala” adalah merupakan sebagian kebenaran hidup yang harus dihayati dan diamalkan, karena ungkapan ini merujuk pada istilah berkarya dengan tangan sendiri. Tak perlu bantuan, tak perlu teriak-teriak meminta pertolongan, karena diri pribadi sudah dapat mengatasi apa yang dialami.
Sesungguhnya musuh manusia adalah setan, baik setan manusia maupun setan jin, maka kepada keduanyalah manusia harus melakukan perlawanan.

Sekali lagi, setan-setan itulah yang harus dilawan, diperangi, dan kalau bisa, dimusnahkan saja. Dengan bekal teksd dan keberanian yang suci, maka tak ada yang tak dapat dihancurkan, karena semua mahluk akan binasa kecuali Dzat-Nya. Kasih sayang dapat melunakkan musuh, dapat menolong, dapat dijadikan pelindung, dan dengan tekad asih, kita tidak akan merasa takut terhadap siapapun dan apapun.

“Ingkang kula dalaken dede tekad pamrih, ananging tekad asih.”
Artinya, “Yang saya pergunakan bukan tekad pamrih, tapi tekad asih.”
“Anglurug tanpa bala, tanpa gaman; Ambedhah, tanpa perang tanpa pedhang.”
Maksudnnya, mengejar (musuh) tanpa tentara, tanpa senjata; menundukkan (musuh) tanpa perang tanpa pedang.Tak perlu teman, tak perlu senjata. Hindarilah peperangan, pertarungan, atau kekerasan. Yakinlah bahwa orang yang berjalan dengan membawa cinta kasih kepada sesama mahluk akan senantiasa mendapatkan pertolongan dan perlindungan Tuhan.

Meskipun manusia tidak mencari masalah atau musuh, permasalahan atau musuh itu datang dengan sendirinya dan akan meniupkan gangguan-gangguan. Akan tetapi, permasalahan dan musuh yang ada di dalam diri kita sendiri. Tekanan batin, penderitaan mental, atau nafsu-nafsu kotor yang menghuni lembah diri kita itulah permasalahan dan musuh kita yang berat lagi membahayakan, karena tak tampak tetapi dapat kita rasakan.

Nafsu-nafsu jahat yang menghuni diri manusia bermacam-macam. Nafsu-nafsu itulah yang pada umumnya membuat manusia menjadi sombong, kikir, dengki, jahat dan segala bentuk sifat buruk sering bercokol dalam dirinya, sehingga kehinaan dan kenestapaanlah yang diperoleh, bukan kemuliaan dan keselamatan.

Maka, sangat elegan jika Drs. R.M.P. Sosrokartono mencetuskan rumusan “Ngalurug tanpa Bala” yang mempunyai muatan ajaran spiritual dalam rangka menghalau segala bentuk keburukan yang ada didalam diri manusia, supaya manusia tidak menjadi hina, karena barang siapa yang dikalahkan dengan hawa nafsunya maka kehinaanlah yang akan bersanding mesra dengannya.

Bagaimana Pemirsa ? Apakah anda bisa menangkap maksud dari tulisan-tulisan diatas ? kalau belum paham bisa datang ke tempat saya….tp bawa gula, teh dan rokok sebungkus saja :D ( malah ngemis )

Oke, sambil merenung-renung…nikmati video dibawah ini yang yang berirama Hip Hop tapi liriknya mengandung falsafah jawa tingkat tinggi juga.

Menang Tan Ngasorake ( Menang Tanpa Mengalahkan )

No comments


MENANG sejati, sejatining menang. Itulah yang semestinya menjadi falsafah oleh setiap petarung sejati. Dalam ungkapan RM Sosrokartono yang amat populer itu, menang tanpa ngasorake, menang tanpa mengalahkan, begitulah yang dianggap sebagai kemenangan yang paling sublime. 

Paradoks kesannya, jika tidak malah bisa dianggap ‘ngayawara’ atau muskil realitanya. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa menang kalau tidak mengalahkan. Bukankah jika yang berada di satu ujung menang, yang berada di ujung lain pastilah yang kalah. Bila yang satunya memenangi, pastilah yang satunya terkalahkan.

Namun begitulah salah satu dari khasanah ungkapan Jawa yang kaya akan paradoks itu. Bukankah dalam ungkapan yang tergolong isbat, kita juga akan menemu ungkapan semacam ‘’goleka tapake kuntul nglayang’’ (carilah bekas telapak bangau melayang) atau ‘’golek’ana galihe kangkung’’ (carilah galih kangkung). Memang ‘’menang tan ngasorake’’ bukanlah sebuah ungkapan yang ‘’berdiri sendiri’’. Ini lazim dirangkaikan dengan ungkapan seperti ‘’nglurug tanpa bala’’ (menyerbu tanpa pasukan), ‘’sekti tanpa aji’’ (sakti tanpa ajian), atau bahkan ‘’dhuwur tan ngungkuli’’ (tinggi tak melampaui) dan ‘’kebat tan nglancangi’’ (cepat tidak menyalip). Ada pula ‘’punjul ing apapak’’ dan ‘’mrojol ing akerep’’. Semua itu sering dianggap sebagai pertanda jalma limpad seprapat tamat, yakni manusia pinunjul atau janma kinacek ( manusia yang mempunyai daya lebih ).

Lagi-lagi, deretan ungkapan itu penuh dengan aroma paradoksal. Namun justru di sana sebenarnya bersemayam spirit yang paling khas dalam pola pergaulan Jawa yang ditentukan oleh dua prinsip utama: rukun dan kurmat ( hormat ). Di manakah letaknya?

Sebagaimana sering disebut dalam etika Jawa, orang Jawa sebisa mungkin menghindari konflik fisik (termasuk adu mulut) secara terbuka, apalagi bertemu muka, dengan orang lain. Kalaupun pandangan dengan orang lain berbeda, biasanya diungkapan dengan cara yang halus, entah lewat pasemon( pertemuan ) yang lain . Sebab, sebagaimana termaktub dalam Wedhatama, janma ingkang wus waspadeng semu, sinamun ing samudana, sesadon ing adu manis.

Pilihan dengan cara ungkap semacam itu sama sekali bukan karena rasa takut. Bukan, melainkan sebagai pengejawantahan ( manifestasi ) sikap yang mengutamakan kerukunan. Boleh saja pendapat atau sikap itu berbeda dari yang lain, atau boleh saja ada anggapan bahwa pendapat orang lain itu salah atau lemah, tetapi semua itu tidak perlu ditunjukkan secara thok-leh ( begitu saja ) sehingga membuat orang lain terpermalukan atau menjadi malu.
Cara ungkap semacam itu bukannya tanpa prasyarat. Kemampuan untuk mengendalikan diri, kesanggupan untuk selalu menahan hawa nafsu (meper hardaning nepsu ) menaklukkan merupakan prasyarat utamanya. Tanpa itu, justru yang terekspresikan adalah hasrat untuk meraih keunggulan dengan jalan mengalahkan, tak peduli itu akan meng-asor-kan atau mempermalukan.

Dengan demikian, menang tanpa ngasorake sebagai sebuah imperatif halus untuk senantiasa rendah hati (bukan rendah diri!) dan tidak sombong.
Dengan begitu pula, tidak akan terjebak pada sikap adigang, adigung, adiguna, sapa sira sapa ingsun. Yakni tidak menyombongkan kekuatan, kekuasaan-kekayaan, maupun kepintaran dengan memandang sebelah mata mitra tarung.

Nglenggana KalahSungguh tak mudah untuk menjalankan tata kelola atas kemenangan, apalagi kekalahan. Lebih-lebih jika harus menjadi pemenang sejati yang tidak lupa diri atau menjadi petarung yang bisa nglenggana atas kekalahannya dengan penuh kelapangan dada.

Sebagaimana semua pertarungan, selalu ada yang keluar sebagai pemenang. Ada pula yang belum menang —jika boleh disebut kalah. Siapa pun yang menang pasti senang, sebaliknya yang terpecundangi akan sebaliknya. Sekalipun demikian, ukuran atas kemenangan bagi setiap orang tidaklah selalu sama. Itu lantaran setiap orang memiliki persepsi yang tak sama terhadap kemenangan. Itu lantaran setiap orang bisa jadi pula berbeda dalam memaknai pertempuran yang dihadapi.

Dalam pertarungan, menang dan kalah itu biasa. Kalau sudah mau bertarung, mesti pula siap menang. Jika siap menang, mesti juga siap kalah. Kalau belum berhasil dalam pertarungan itu, bukan berarti sudah hilang segala kesempatan. Nglenggana terhadap kekalahan adalah kemenangan tersendiri yang bukan tidak mungkin akan menjadi investasi besar untu menggapai menggapai menang tan ngasorake kemenangan yang lebih besar dan bahkan agung. Di situlah optimisme mesti diletakkan dengan lambaran sikap ksatria.

Kekalahan bukanlah akhir segalanya. Orang yang berpikir positif dan tak kenal putus asa akan mampu mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Sebaliknya, orang yang berpikir negatif menjadikan kekalahan sebagai awal keterpurukan yang lebih dalam. Begitu pula kemenangan, bukanlah puncak dari segalanya. Kemenangan bukan tidak mungkin akan berubah menjadi kekalahan, setiadaknya bukan tergolong sebagai kemengan sejati. Kemenangan bisa membuat seseorang lupa diri sehingga hanya memikirkan diri sendiri atau paling tidak hanya mengutamakan diri sendiri. Itu seperti dicontohkan oleh Arjuna selepas mengalahkan Niwatakawaca dan di depan lawanging kanugrahan dan harus menerima imbalan atas kemenangan yang teraih.

Arjuna lupa bahwa kemenangan dan anugerah dewata sebagai buah atas kemenangannya itu bukan untuk dirinya sendiri, bukan pula hanya bagi keluarga inti Pandawa yang hanya terdiri atas lima orang itu. Arjuna lupa bahwa kemenangan dalam Bharatayuda bahkan lebih dari sekadar kemenangan seluruh keluarga besar Pandawa, tetapi kemenangan seluruh warga negeri yang telah menyumbangkan jiwa-raga-harta dan cinta mereka.

Akhirnya, dengan menang tanpa ngasorake, yang menang tidak akan lupa diri dan tampak jumawa. Yang kalah juga tidak akan menjadi pihak yang ‘’sudah jatuh tertimpa tangga pula’’. Dengan penerimaan macam begini, yang kalah tetap bisa menegakkan kepalanya tanpa harus diselimuti perasaan nista dan hina-dina. Itu lagi-lagi, karena yang menang menempuh kemenangan dengan cara elegan, tanpa harus mempermalukan lawan yang dikalahkan. Semua mengatributi diri dengan sikap ksatria, bahkan ksatria pinandhita.

Ngelmu Urip : Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

No comments
Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan  manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi  berbagai kepentingan.

Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan budaya bangsa hasil olah cipta, rasa dan karsa leluhur yang adiluhung dianggap sebagai suatu yang ketinggalan jaman. Sehingga tonggak pegangan dalam menghadapi gempuran budaya dan ideology global tersebut malah terpinggirkan dan ditinggalkan.
Keprihatinan ini yang oleh para leluhur waskitha jaman dulu telah di’jangka’ dalam bentuk kidungan Wecan Sabdopalon :

Rakyat Nusa Sedarum nampi panodhining Hyang Widhi, Kalambangnya wong nyabrang, Prapteng tengah katempuh santering kali kang bena,
Rakyat Nusantara diibaratkan orang yang sedang menyeberang sungai, sesampai di tengah diterjang banjir bandang, sehingga dalam kedaaan yang sangat sulit dengan tiadanya pegangan.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, menjawab tantangan jaman, Ki Sondong Mandali, tokoh budayawan Jawa, menggagas ‘Gerakan Renaisance Jawa’, kebangkitan budaya Jawa sebagai suatu falsafah pandangan hidup bangsa. Diharapkan wacana ‘Gerakan Renaisance Jawa’ ini dapat terus bergulir menjadi gerakan masif kebangkitan budaya dan kearifan local di seluruh Nusantara.

Kerja  nyatanya adalah sebagai narasumber di berbagai sarasehan budaya dan berbagai website dan milis ke-Jawa-an, juga sebagai salah satu pendiri dan ketua umum Yayasan Sekar Jagad, yang telah banyak dikenal kiprahnya dalam penyebaran ide dan wacana kebangkitan budaya Jawa.

Dalam buku dari Ki Sondong Mandali, tulisan-tulisan beliau yang tersusun dalam empat buah buku: ‘Kawruh Kejawen-Bawarasa Kanggo Kekadangan’ versi Bahasa Jawa, ‘Bawarasa Kawruh Kejawen’ versi Bahasa Indonesia, ‘Piwulang kautaman’ dan ‘Penanggalan dan Pawukon’ dikumpulkan,  diringkas  dan diterbitkan dalam sebuah buku berjudul: ‘Ngelmu Urip – Bawarasa Kawruh Kejawen’.
Sebuah buku yang mencoba menghadirkan bahasan (bawarasa) tentang Jawa dan ke-Jawa-an dari sudut pandang orang Jawa. Sebagai falsafah tuntunan hidup (Ngelmu Urip) orang Jawa, yang sarat dengan kearifan pencapaian budaya yang adiluhung, yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa yang bisa diselisik dan dirunut secara rasional untuk mudah dipahami.

Diharapkan pengertian Kejawen yang sering dikonotasikan negatif, dianggap tahayul atau klenik ini bisa dimengerti dan dipahami dengan benar sampai ke dasar falsafahnya. Sehingga Ngelmu Urip Orang Jawa bisa menjadi tonggak pegangan dalam mengarungi era globalisasi tanpa harus kehilangan jati diri dan karakter ke-Jawa-annya (Jawan).

Ngelmu Urip adalah hasil pemikiran dan olah rasa orang Jawa yang berkesadaran ’ketuhanan, kesemestaan, dan keberadaban’ yang menjadi dasar yang melandasi budaya dan peradaban Jawa:
  1. Landasan peri kehidupan berdasar ‘Falsafah Panunggalan’, suatu pandangan hakiki bersatunya manusia dengan alam semesta yang dalam istilah Jawa dinyatakan sebagai ‘jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’.
  2. Landasan peri kehidupan ‘Agraris Paradesa’, suatu kehidupan social yang berdasarkan kerukunan dan keselarasan. Mulai komunitas kecil (desa) sampai kepada bentuk negara.
  3. Landasan peri kehidupan ’Spiritual Magis’, merupakan karakter umum insan Jawa yang spiritualis dan mempercayai adanya kekuatan-kekuatan magis dari alam semesta dan jagad raya.
  4. Landasan peri kehidupan ’Kalangwan’ (Mempersembahkan Keindahan), merupakan implementasi melaksanakan misi ’Memayu Hayuning Bawana’.
  5. Landasan peri kehidupan ’Kejawen’, merupakan piwulang Jawa dalam menyikapi berbagai perbedaan-perbedaan keyakinan dan kepercayaan umat manusia.

Panembahan Senopati, Meresapi Hidup Dengan Lelaku

No comments
Tanah Jawa memiliki banyak sosok tokoh
Sebagai seorang raja, Panembahan Senopati yang hidup di lingkup istana, tak lalai dalam mengasah olah rasa dan tapa brata. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mencuri waktu dalam kesendirian dan lelaku.  Panembahan Senopati merupakan Raja pertama Mataram Islam, yang kerap dihubungkan dengan legenda Ratu Kidul, penjaga laut selatan atau disebut Ratu Pantai Selatan. Beliau adalah anak angkat dari Raja Pajang yang bernama Sultan Hadiwijaya yang diwaktu mudanya bernama Jaka Tingkir. Sedangkan Panembahan Senopati dikala mudanya bernama Danang SutoWijaya, dan dalam peperangannya dengan Aryo Penangsang yang akan merebut kekuasaan Pajang berhasil dibunuhnya. sehingga oleh Sultan Hadiwijaya dijanjikan akan diberi wilayah kekuasaan Pajang yang dinamakan Alas Mentaok. Kemudian Alas Mentaok itu oleh Danang Sutowijaya didirikan Kerajaanyang dinamakan Mataram.Dalam pengembaraannya Panembahan Senopati mengalami banyak hal dan semua lelaku tersebut tertuang dalam serat Wedhatama yang berbunyi :
 
Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama 

Mencontoh laku yang baik
terhadap orang tanah Jawa
Tokoh besar di Ngeksiganda
Panembahan Senopati
berusaha dengan sungguh-sungguh
mengurangi hawa dan nafsu
dengan cara bertapa
yang dilakukan siang dan malam
mewujudkan perasaan senang bagi sesamanya. 

Samangsane pasamuan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kalakalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra

Ketika berada dalam pertemuan
membahas sesuatu dengan kerendahan hati
dan pada setiap kesempatan
Sekali-sekali menyepi
berkelana kemana-mana
Berusaha mengambil yang hakiki
Dalam keheningan batinnya
Dengan senantiasa berprihatin
Dengan cara mengurangi makan dan tidur

Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana 
Mrih pana pranaweng kapti 
Tis-tising tyas marsudi
Mardawaning budya tulus
Mesu reh kasudarman
neng tepining jalanidhi
Sruning brata kataman wahyu dyatmika 

Setiap keluar rumah
Selalu berkelana mencari tempat sepi
dengan tujuan meresapi ilmu sepuh
agar mengerti tiap-tiap tingkatan ilmu dan maknanya
ketajaman hati dimanfaatkan untuk menempa jiwa
untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus
dengan bertapa dan mengharapkan wahyu suci
Dari tiga cuplikan serat tersebut, kita bisa belajar dari lelaku dan olahrasa yang telah dicontohkan Panembahan Senopati. Hal yang patut dicatat, bahwa meski Panembahan Senopati sebagai Raja yang bergelimang dengan kenikmatan dunia, tetapi beliau tidak pernah tergoda dan senantiasa lelaku guna seluruh rakyat dan keturunannya.

Berbeda dengan kita yang hidup di dunia modern saat ini. Ketika kita bergelimang harta benda, justru kita malah melupakan yang hakiki dan kita cenderung justru terjerat dalam kenikmatan tersebut. Maka dari itu, alangkah baiknya kita mengkaji lagi lelaku dari hal yang telah dilakukan Panembahan Senopati itu.
yang bisa diteladani. Yang dimaksud diambil keteladannannya adalah dalam hal olah spiritual. Seperti halnya sosok Raja Mataram Islam pertama yakni Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.
Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde