Responsive Ad Slot

Menang Tan Ngasorake ( Menang Tanpa Mengalahkan )

No comments

Wednesday, September 3, 2014



MENANG sejati, sejatining menang. Itulah yang semestinya menjadi falsafah oleh setiap petarung sejati. Dalam ungkapan RM Sosrokartono yang amat populer itu, menang tanpa ngasorake, menang tanpa mengalahkan, begitulah yang dianggap sebagai kemenangan yang paling sublime. 

Paradoks kesannya, jika tidak malah bisa dianggap ‘ngayawara’ atau muskil realitanya. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa menang kalau tidak mengalahkan. Bukankah jika yang berada di satu ujung menang, yang berada di ujung lain pastilah yang kalah. Bila yang satunya memenangi, pastilah yang satunya terkalahkan.

Namun begitulah salah satu dari khasanah ungkapan Jawa yang kaya akan paradoks itu. Bukankah dalam ungkapan yang tergolong isbat, kita juga akan menemu ungkapan semacam ‘’goleka tapake kuntul nglayang’’ (carilah bekas telapak bangau melayang) atau ‘’golek’ana galihe kangkung’’ (carilah galih kangkung). Memang ‘’menang tan ngasorake’’ bukanlah sebuah ungkapan yang ‘’berdiri sendiri’’. Ini lazim dirangkaikan dengan ungkapan seperti ‘’nglurug tanpa bala’’ (menyerbu tanpa pasukan), ‘’sekti tanpa aji’’ (sakti tanpa ajian), atau bahkan ‘’dhuwur tan ngungkuli’’ (tinggi tak melampaui) dan ‘’kebat tan nglancangi’’ (cepat tidak menyalip). Ada pula ‘’punjul ing apapak’’ dan ‘’mrojol ing akerep’’. Semua itu sering dianggap sebagai pertanda jalma limpad seprapat tamat, yakni manusia pinunjul atau janma kinacek ( manusia yang mempunyai daya lebih ).

Lagi-lagi, deretan ungkapan itu penuh dengan aroma paradoksal. Namun justru di sana sebenarnya bersemayam spirit yang paling khas dalam pola pergaulan Jawa yang ditentukan oleh dua prinsip utama: rukun dan kurmat ( hormat ). Di manakah letaknya?

Sebagaimana sering disebut dalam etika Jawa, orang Jawa sebisa mungkin menghindari konflik fisik (termasuk adu mulut) secara terbuka, apalagi bertemu muka, dengan orang lain. Kalaupun pandangan dengan orang lain berbeda, biasanya diungkapan dengan cara yang halus, entah lewat pasemon( pertemuan ) yang lain . Sebab, sebagaimana termaktub dalam Wedhatama, janma ingkang wus waspadeng semu, sinamun ing samudana, sesadon ing adu manis.

Pilihan dengan cara ungkap semacam itu sama sekali bukan karena rasa takut. Bukan, melainkan sebagai pengejawantahan ( manifestasi ) sikap yang mengutamakan kerukunan. Boleh saja pendapat atau sikap itu berbeda dari yang lain, atau boleh saja ada anggapan bahwa pendapat orang lain itu salah atau lemah, tetapi semua itu tidak perlu ditunjukkan secara thok-leh ( begitu saja ) sehingga membuat orang lain terpermalukan atau menjadi malu.
Cara ungkap semacam itu bukannya tanpa prasyarat. Kemampuan untuk mengendalikan diri, kesanggupan untuk selalu menahan hawa nafsu (meper hardaning nepsu ) menaklukkan merupakan prasyarat utamanya. Tanpa itu, justru yang terekspresikan adalah hasrat untuk meraih keunggulan dengan jalan mengalahkan, tak peduli itu akan meng-asor-kan atau mempermalukan.

Dengan demikian, menang tanpa ngasorake sebagai sebuah imperatif halus untuk senantiasa rendah hati (bukan rendah diri!) dan tidak sombong.
Dengan begitu pula, tidak akan terjebak pada sikap adigang, adigung, adiguna, sapa sira sapa ingsun. Yakni tidak menyombongkan kekuatan, kekuasaan-kekayaan, maupun kepintaran dengan memandang sebelah mata mitra tarung.

Nglenggana KalahSungguh tak mudah untuk menjalankan tata kelola atas kemenangan, apalagi kekalahan. Lebih-lebih jika harus menjadi pemenang sejati yang tidak lupa diri atau menjadi petarung yang bisa nglenggana atas kekalahannya dengan penuh kelapangan dada.

Sebagaimana semua pertarungan, selalu ada yang keluar sebagai pemenang. Ada pula yang belum menang —jika boleh disebut kalah. Siapa pun yang menang pasti senang, sebaliknya yang terpecundangi akan sebaliknya. Sekalipun demikian, ukuran atas kemenangan bagi setiap orang tidaklah selalu sama. Itu lantaran setiap orang memiliki persepsi yang tak sama terhadap kemenangan. Itu lantaran setiap orang bisa jadi pula berbeda dalam memaknai pertempuran yang dihadapi.

Dalam pertarungan, menang dan kalah itu biasa. Kalau sudah mau bertarung, mesti pula siap menang. Jika siap menang, mesti juga siap kalah. Kalau belum berhasil dalam pertarungan itu, bukan berarti sudah hilang segala kesempatan. Nglenggana terhadap kekalahan adalah kemenangan tersendiri yang bukan tidak mungkin akan menjadi investasi besar untu menggapai menggapai menang tan ngasorake kemenangan yang lebih besar dan bahkan agung. Di situlah optimisme mesti diletakkan dengan lambaran sikap ksatria.

Kekalahan bukanlah akhir segalanya. Orang yang berpikir positif dan tak kenal putus asa akan mampu mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Sebaliknya, orang yang berpikir negatif menjadikan kekalahan sebagai awal keterpurukan yang lebih dalam. Begitu pula kemenangan, bukanlah puncak dari segalanya. Kemenangan bukan tidak mungkin akan berubah menjadi kekalahan, setiadaknya bukan tergolong sebagai kemengan sejati. Kemenangan bisa membuat seseorang lupa diri sehingga hanya memikirkan diri sendiri atau paling tidak hanya mengutamakan diri sendiri. Itu seperti dicontohkan oleh Arjuna selepas mengalahkan Niwatakawaca dan di depan lawanging kanugrahan dan harus menerima imbalan atas kemenangan yang teraih.

Arjuna lupa bahwa kemenangan dan anugerah dewata sebagai buah atas kemenangannya itu bukan untuk dirinya sendiri, bukan pula hanya bagi keluarga inti Pandawa yang hanya terdiri atas lima orang itu. Arjuna lupa bahwa kemenangan dalam Bharatayuda bahkan lebih dari sekadar kemenangan seluruh keluarga besar Pandawa, tetapi kemenangan seluruh warga negeri yang telah menyumbangkan jiwa-raga-harta dan cinta mereka.

Akhirnya, dengan menang tanpa ngasorake, yang menang tidak akan lupa diri dan tampak jumawa. Yang kalah juga tidak akan menjadi pihak yang ‘’sudah jatuh tertimpa tangga pula’’. Dengan penerimaan macam begini, yang kalah tetap bisa menegakkan kepalanya tanpa harus diselimuti perasaan nista dan hina-dina. Itu lagi-lagi, karena yang menang menempuh kemenangan dengan cara elegan, tanpa harus mempermalukan lawan yang dikalahkan. Semua mengatributi diri dengan sikap ksatria, bahkan ksatria pinandhita.

Ngelmu Urip : Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

No comments
Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan  manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi  berbagai kepentingan.

Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan budaya bangsa hasil olah cipta, rasa dan karsa leluhur yang adiluhung dianggap sebagai suatu yang ketinggalan jaman. Sehingga tonggak pegangan dalam menghadapi gempuran budaya dan ideology global tersebut malah terpinggirkan dan ditinggalkan.
Keprihatinan ini yang oleh para leluhur waskitha jaman dulu telah di’jangka’ dalam bentuk kidungan Wecan Sabdopalon :

Rakyat Nusa Sedarum nampi panodhining Hyang Widhi, Kalambangnya wong nyabrang, Prapteng tengah katempuh santering kali kang bena,
Rakyat Nusantara diibaratkan orang yang sedang menyeberang sungai, sesampai di tengah diterjang banjir bandang, sehingga dalam kedaaan yang sangat sulit dengan tiadanya pegangan.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, menjawab tantangan jaman, Ki Sondong Mandali, tokoh budayawan Jawa, menggagas ‘Gerakan Renaisance Jawa’, kebangkitan budaya Jawa sebagai suatu falsafah pandangan hidup bangsa. Diharapkan wacana ‘Gerakan Renaisance Jawa’ ini dapat terus bergulir menjadi gerakan masif kebangkitan budaya dan kearifan local di seluruh Nusantara.

Kerja  nyatanya adalah sebagai narasumber di berbagai sarasehan budaya dan berbagai website dan milis ke-Jawa-an, juga sebagai salah satu pendiri dan ketua umum Yayasan Sekar Jagad, yang telah banyak dikenal kiprahnya dalam penyebaran ide dan wacana kebangkitan budaya Jawa.

Dalam buku dari Ki Sondong Mandali, tulisan-tulisan beliau yang tersusun dalam empat buah buku: ‘Kawruh Kejawen-Bawarasa Kanggo Kekadangan’ versi Bahasa Jawa, ‘Bawarasa Kawruh Kejawen’ versi Bahasa Indonesia, ‘Piwulang kautaman’ dan ‘Penanggalan dan Pawukon’ dikumpulkan,  diringkas  dan diterbitkan dalam sebuah buku berjudul: ‘Ngelmu Urip – Bawarasa Kawruh Kejawen’.
Sebuah buku yang mencoba menghadirkan bahasan (bawarasa) tentang Jawa dan ke-Jawa-an dari sudut pandang orang Jawa. Sebagai falsafah tuntunan hidup (Ngelmu Urip) orang Jawa, yang sarat dengan kearifan pencapaian budaya yang adiluhung, yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa yang bisa diselisik dan dirunut secara rasional untuk mudah dipahami.

Diharapkan pengertian Kejawen yang sering dikonotasikan negatif, dianggap tahayul atau klenik ini bisa dimengerti dan dipahami dengan benar sampai ke dasar falsafahnya. Sehingga Ngelmu Urip Orang Jawa bisa menjadi tonggak pegangan dalam mengarungi era globalisasi tanpa harus kehilangan jati diri dan karakter ke-Jawa-annya (Jawan).

Ngelmu Urip adalah hasil pemikiran dan olah rasa orang Jawa yang berkesadaran ’ketuhanan, kesemestaan, dan keberadaban’ yang menjadi dasar yang melandasi budaya dan peradaban Jawa:
  1. Landasan peri kehidupan berdasar ‘Falsafah Panunggalan’, suatu pandangan hakiki bersatunya manusia dengan alam semesta yang dalam istilah Jawa dinyatakan sebagai ‘jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’.
  2. Landasan peri kehidupan ‘Agraris Paradesa’, suatu kehidupan social yang berdasarkan kerukunan dan keselarasan. Mulai komunitas kecil (desa) sampai kepada bentuk negara.
  3. Landasan peri kehidupan ’Spiritual Magis’, merupakan karakter umum insan Jawa yang spiritualis dan mempercayai adanya kekuatan-kekuatan magis dari alam semesta dan jagad raya.
  4. Landasan peri kehidupan ’Kalangwan’ (Mempersembahkan Keindahan), merupakan implementasi melaksanakan misi ’Memayu Hayuning Bawana’.
  5. Landasan peri kehidupan ’Kejawen’, merupakan piwulang Jawa dalam menyikapi berbagai perbedaan-perbedaan keyakinan dan kepercayaan umat manusia.

Panembahan Senopati, Meresapi Hidup Dengan Lelaku

No comments
Tanah Jawa memiliki banyak sosok tokoh
Sebagai seorang raja, Panembahan Senopati yang hidup di lingkup istana, tak lalai dalam mengasah olah rasa dan tapa brata. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mencuri waktu dalam kesendirian dan lelaku.  Panembahan Senopati merupakan Raja pertama Mataram Islam, yang kerap dihubungkan dengan legenda Ratu Kidul, penjaga laut selatan atau disebut Ratu Pantai Selatan. Beliau adalah anak angkat dari Raja Pajang yang bernama Sultan Hadiwijaya yang diwaktu mudanya bernama Jaka Tingkir. Sedangkan Panembahan Senopati dikala mudanya bernama Danang SutoWijaya, dan dalam peperangannya dengan Aryo Penangsang yang akan merebut kekuasaan Pajang berhasil dibunuhnya. sehingga oleh Sultan Hadiwijaya dijanjikan akan diberi wilayah kekuasaan Pajang yang dinamakan Alas Mentaok. Kemudian Alas Mentaok itu oleh Danang Sutowijaya didirikan Kerajaanyang dinamakan Mataram.Dalam pengembaraannya Panembahan Senopati mengalami banyak hal dan semua lelaku tersebut tertuang dalam serat Wedhatama yang berbunyi :
 
Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama 

Mencontoh laku yang baik
terhadap orang tanah Jawa
Tokoh besar di Ngeksiganda
Panembahan Senopati
berusaha dengan sungguh-sungguh
mengurangi hawa dan nafsu
dengan cara bertapa
yang dilakukan siang dan malam
mewujudkan perasaan senang bagi sesamanya. 

Samangsane pasamuan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kalakalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra

Ketika berada dalam pertemuan
membahas sesuatu dengan kerendahan hati
dan pada setiap kesempatan
Sekali-sekali menyepi
berkelana kemana-mana
Berusaha mengambil yang hakiki
Dalam keheningan batinnya
Dengan senantiasa berprihatin
Dengan cara mengurangi makan dan tidur

Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana 
Mrih pana pranaweng kapti 
Tis-tising tyas marsudi
Mardawaning budya tulus
Mesu reh kasudarman
neng tepining jalanidhi
Sruning brata kataman wahyu dyatmika 

Setiap keluar rumah
Selalu berkelana mencari tempat sepi
dengan tujuan meresapi ilmu sepuh
agar mengerti tiap-tiap tingkatan ilmu dan maknanya
ketajaman hati dimanfaatkan untuk menempa jiwa
untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus
dengan bertapa dan mengharapkan wahyu suci
Dari tiga cuplikan serat tersebut, kita bisa belajar dari lelaku dan olahrasa yang telah dicontohkan Panembahan Senopati. Hal yang patut dicatat, bahwa meski Panembahan Senopati sebagai Raja yang bergelimang dengan kenikmatan dunia, tetapi beliau tidak pernah tergoda dan senantiasa lelaku guna seluruh rakyat dan keturunannya.

Berbeda dengan kita yang hidup di dunia modern saat ini. Ketika kita bergelimang harta benda, justru kita malah melupakan yang hakiki dan kita cenderung justru terjerat dalam kenikmatan tersebut. Maka dari itu, alangkah baiknya kita mengkaji lagi lelaku dari hal yang telah dilakukan Panembahan Senopati itu.
yang bisa diteladani. Yang dimaksud diambil keteladannannya adalah dalam hal olah spiritual. Seperti halnya sosok Raja Mataram Islam pertama yakni Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.

Tembang Gundul Gundul Pacul : Makna dan Filosofinya

No comments

Sebuah lagu tradisional populer dari Jawa Tengah berjudul “Gundul Gundul Pacul” .Lagu ini merupakan ciptaan salah seorang Wali 9 penyebar agama Islam di Jawa yaitu Sunan Kalijaga. Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga yang  mempunyai arti filosofis yang dalam & sangat mulia.

Sebelum kita mengenal siapakah Sunan Kalijaga. Inilah lagu pertama « Gundul Gundul Pacul ».   Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta, beliau adalah salah satu murid Sunan Bonang yang juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Beberapa lagu suluk (karya sastra tasawuf)  ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Selain itu, beliau juga yang menciptakan baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.  Pemirsa Lirik utama dari lagu Gundul-gundul Pacul adalah : Gundul Pacul Gembéléngan, Nyunggi Wakul Gembéléngan, Wakul Ngglimpang  Segané Dadi Sak Latar. Gundul artinya  adalah kepala botak tanpa rambut.

Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang.
Sedangkan Pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani sehingga Gundul Pacul artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Gembéléngan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Nyunggi Wakulartinya: membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya. Pemimpin mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya. Wakuladalah simbol kesejahteraan milik rakyat, Kekayaan negara, sumberdaya, Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Jika pemimpin masih gembéléngan (melenggak-lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main). Akibatnya; Wakul ngglimpang segané dadi sak latar ( Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana)  maksudnya sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak terdistribusi dengan baik.

Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat.
  Mereka yang dibesarkan di Jawa, khususnya Jawa Tengah pasti tak asing dengan tembang Ilir-Ilir ciptaan Sunan Kalijaga ini. Melodi yang lembut, syair yang bermakna kuat menuai banyak simpati dan menjadikan lagu ini bagian dari folk music yang banyak digemari. Bagi anak-anak  ilir-ilir lebih dipahami sebagai tembang dolanan. Sekalipun mungkin mereka tidak begitu paham siratan maknanya.

Filsafat Pacul , Makna dan Relevansi Hidup

No comments

Tuesday, September 2, 2014




Dalam ngelmu, seseorang dituntut menggunakan pikirannya untuk membaca dan memahami apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang meguru atau berguru pada orang yang sudah mumpuni dalam hal ilmu rasa, maka dia harus ‘menggerakkan’ otaknya untuk memahami apa yang ada di alam semesta ini. Artinya, alam semesta ini ‘dibaca’ dan diartikan sendiri apa yang menjadi makna sejatinya.
Ki Ageng Sela yang kondang namanya lantaran mampu menangkap petir pun pernah berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Salah satu wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela adalah tentang Pacul. Ketika itu Kanjeng Sunan Kalijaga menyuruh Ki Ageng Sela untuk ‘membaca’ Pacul.
Pacul atau cangkul adalah salah satu alat yang merupakan senjata para petani. Senjata ini digunakan para petani untuk mengolah lahan pertanian. Tampaknya memang sederhana, Pacul. Tapi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi.
Dari wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela, Pacul atau cangkul itu terdiri dari 3 bagian. Ketiga bagian tersebut adalah: Pacul (bagian yang tajam untuk mengolah lahan pertanian), Bawak (lingkaran tempat batang doran), dan Doran (batang kayu untuk pegangan cangkul).
Menurut wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga, sebuah pacul yang lengkap, tidak akan dapat berdiri sendiri-sendiri. Ketiga bagian tersebut harus bersatu untuk dapat digunakan oleh petani. Apa sebenarnya arti dari Pacul, Bawak dan Doran itu?

1. Pacul
Memiliki arti “ngipatake barang kang muncul” Artinya, menyingkirkan bagian yang mendugul atau bagian yang tidak rata. Dari alat Pacul tersebut setidaknya bisa diartikan bahwa kita manusia ini harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego yang berlebih, cepat marah, mau menang sendiri dan sifat-sifat jelek kita lainnya yang dikatakan ‘tidak rata’.

2. Bawak
Memiliki arti “obahing awak”. Arti obahing awak adalah gerak tubuh. Maksudnya, kita manusia hidup ini diwajibkan untuk berikhtiar mencari rezeki dari GUSTI ALLAH guna memenuhi kebutuhan hidup. Disamping itu, arti ikhtiar tersebut juga bukan hanya berarti mencari rezeki semata, tetapi juga ikhtiar untuk senantiasa “manembah GUSTI ALLAH tan kendhat Rino Kelawan Wengi” (menyembah GUSTI ALLAH siang maupun malam).

3. Doran
Memiliki arti “Dongo marang Pengeran” ada juga yang mengartikan “Ojo Adoh Marang Pengeran”. Arti “Dongo Marang Pengeran” adalah doa yang dipanjatkan pada GUSTI ALLAH. Pengeran berasal dari kata GUSTI ALLAH kang dingengeri (GUSTI ALLAH yang diikuti). Sedangkan “Ojo Adoh Marang Pengeran” memiliki arti janganlah kita manusia ini menjauhi GUSTI ALLAH. Manusia harus senantiasa wajib ingat dan menyembah GUSTI ALLAH, bukan menyembah yang lain.

Ketiga bagian Pacul tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Kalau digabung, maka ketiganya memiliki arti, manusia hendaknya mampu menyingkirkan sifat-sifat buruknya, berikhtiar untuk mencari rezeki GUSTI ALLAH dan tidak melupakan untuk selalu berdoa dan menyembah GUSTI ALLAH. Bukankah kini kita mengetahui bahwa benda Pacul itu memiliki nilai filsafat yang tinggi?

Cantik Alami Dengan Buah Tomat

No comments
Siapa bilang untuk tampil cantik harus memerlukan biaya mahal? Ya memang sih, untuk melakukan perawaatan di klinik atau salin kecantikan memang memerlukan biaya yang tidak sedikit, tetapi untuk tampil cantik kaan tidak selalu harus engan perawatan disalon maupun klinik kecantikan kan?

Kalau anda memiliki budget yang minim pun anda bisa tetap melakukan perawatan untuk kecantikan anda. Anda bisa memanfaatkan tumbuh-tumbuhan, dan buah-buahan yang di sediakan oleh alam untuk merawat kecantikan anda. Dengan bahan dari alam tersebut justru akan lebih man untuk kesehatan dan biayanya pun sangat murah.

salah satu bahan dari alam yang dapat membantu masalah anda dlam perawatan adalah buah tomat. Buah berbentuk bulat dengan warna merah menyala dan memiliki rasa agak asam dan sangat unik ini ternyata sangat baik untuk kecantikan. Tidak percaya? Ini dia buktinya.
- Sebagai Tabir Surya

Pasti belum banyak yang tahu kalau tomat bisa di jadikan tabir surya. Ya, karena dalam hal ini tomat sangat ampuh untuk mengatasi masalah kulit kering dan mengatasi masalah peradangan yang di timbulkan akibat ppran sinar mathari.

- Penghilang Jerawat Dan Komedo
Jerawat dan komedo merupakan masalah yang paling mengganggu penampilan. Untuk mengatasinya, anda bisa memanfaatkan buah tomat dan di jadikan sebagai masker.

Resensi Novel " Sepotong Senja untuk Pacarku: Cinta Itu Memabukkan "

No comments
Pertama kali melihat buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku, saya berpikir bagaimanakah cara seorang penulis menceritakan sepotong senja untuk seorang kekasihnya?



Didasari rasa penasaran itu, saya memutuskan untuk membacanya. Sekitar dua hari saya rampung membaca kumpulan cerpen ini, usai membacanya barulah saya mengerti apa yang ingin disampaikan oleh pengarang kelahiran Boston, Amerika Serikat 19 juni 1958 itu.

Cinta tidak melulu harus disampaikan melalui kata-kata, tapi cinta membutuhkan sebuah pembuktian.

Lewat adegan pemotongan senja oleh Sukab, Seno seolah ingin membenarkan, bahwa cinta—sekali lagi—tak butuh banyak kata-kata, ia butuh bukti. Sukab tidak ingin memperbanyak kata-kata yang telah tertulis  tentang cinta di dunia, di mana orang-orang terlalu sibuk dengan kata-katanya sendiri.  Sukab memotong senja untuk kekasihnya dan menggemparkan dunia. Senja yang ia potong dengan sengaja itu kemudian ia kirimkan kepada kekasih yang selalu dicintainya; Alina. Senja yang indah lengkap dengan deburan ombak, pasir putih, perahu yang berlayar di kejauhan dan burung-burung yang beterbangan di sekitarnya. Begitulah Seno menulis dalam ceritanya.

Cerpen ini, seolah ingin memunculkan suatu kritik sosial; begitu sibuknya orang  di tengah kehidupan metropolitan, sehinga waktu untuk menikmati senja yang indah terasa begitu langka. Padahal menyaksikan senja tidak perlu membayar. Yang menikmatinya hanya turis. Kritik sosial itu digambarkan secara tersirat pada percakapan dalam diri tokoh Sukab. Ia beranggapan bahwa polisi mengejarnya bukan karena sepotong senja yang hilang, bukan pula karena Sukab mencurinya, melainkan karena nilai komersil, sebagai objek wisata. Turis suka memotret senja dan ini adalah jualan pariwisata.

Seolah sutradara film Hollywood, dalam cerpen ini Seno memunculkan adegan kejar-kejaran yang menegangkan, mobil yang terbakar, sirine mobil polisi yang meraung, lorong-lorong bawah tanah yang kumuh diramu menjadi adegan yang menegangkan. Sepotong senja yang dicuri oleh Sukab membuat gempar para pengunjung pantai dan polisi tidak tinggal diam.

Cerpen ini konon ditulis berdasarkan sajak Chairil Anwar, Senja di Pelabuan Kecil (1946) dengan seting lokasi yang terpengaruh dari gaya surealis Danarto. Paris Nostradamus (1988) adalah kota persis Paris di bawah tanah. Di dalam sebuah lorong bawah tanah ada sebuah tempat yang sama, di mana Sukab mencuri senja. Seno membuat resolusi konflik dengan membuat Sukab memotong senja di lorong bawah tanah untuk mengganti senja asli yang ia curi.  Untuk menuntaskan cerita, Seno memakai kalimat Sardono W. Kusumo, Di Tengah Hutan Apo Kayan, Kalimantan Timur, 1981 “Untuk siapakah bunga itu mekar di hutan ini kalau tak ada seorangpun yang melihatnya”.

Dalam kumpulan cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku ini, kita disuguhkan penggambaran senja yang indah dan bagaiman cinta yang mendalam biasa membuat kita mengesampingkan logika-logika, betapa sesuatu yang sepertinya mustahil, akan kita lakukan untuk orang yang kita cintai. Penulis juga menggambarkan bagaimana suasana hati yang pilu karena cinta. Seperti cerpen yang berjudul ”Hujan, Senja, dan cinta,” cerpen ini menceritakan seorang perempuan yang sudah menikah dan selalu risih dengan hujan yang di kirimkan oleh mantan kekasihnya. Hujan itu tidak akan berhenti bila sang mantan kekasih masih mencintainya.

Perempuan yang sudah menikah itu ingin hujan itu reda, hampir semua aktivitasnya tertunda gara-gara hujan, namun ketika hujan mulai reda ia menjadi takut kalau mantan kekasihnya mulai mencintai orang lain. Begitu pula di cerpen “Jawaban Alina” atas surat dan sepotong senja yang dikirim oleh Sukab, setelah membaca Balasan Alina ini, kita tahu bahwa Alina tidak peranah mencintai Sukab. Alina sudah bersuami dan memiliki anak, dan ia sangat risih dengan cinta Sukab yang berlebihan. Begitu malang nasib Sukab memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan sepanjang hidupnya.

Membaca cerita-cerita dalam buku ini, kita juga diingatkan pada kisah-kisah pembuktian cinta yang tak masuk akal di zaman-zaman dahulu. Pembangunan TaJ Mahal di India oleh raja Shah Jahan untuk mengenang mendiang istri bernama Muntaz Ul Zamni yang meninggal setelah melahirkan anaknya yang ke-14. Atau cerita-cerita Nusantara sepert Sangkuriang yang mencintai Dayang Sumbi yang tak lain adalah ibunya sendiri, atau tentang pembuatan candi Prambanan di mana Badung Bondowoso harus menyelesaikan pembuatan seribu candi dalam semalam untuk gadis cantik bernama Roro Jongrang.

Membaca kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku ini akan membuat kita berpikir betapa cinta begitu memabukkan sehingga bisa membuat orang melakukan apa saja untuk cinta, namun di sisi lainnya betapa cinta melahirkan begitu banyak penderitan, membuat hati teriris. Sebuah pengorbanan cinta yang begitu dahsyat, namun ditulis dalam bentuk fiksi yang apik.
Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde