Responsive Ad Slot

Tembang Gundul Gundul Pacul : Makna dan Filosofinya

No comments

Wednesday, September 3, 2014


Sebuah lagu tradisional populer dari Jawa Tengah berjudul “Gundul Gundul Pacul” .Lagu ini merupakan ciptaan salah seorang Wali 9 penyebar agama Islam di Jawa yaitu Sunan Kalijaga. Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga yang  mempunyai arti filosofis yang dalam & sangat mulia.

Sebelum kita mengenal siapakah Sunan Kalijaga. Inilah lagu pertama « Gundul Gundul Pacul ».   Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta, beliau adalah salah satu murid Sunan Bonang yang juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Beberapa lagu suluk (karya sastra tasawuf)  ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Selain itu, beliau juga yang menciptakan baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.  Pemirsa Lirik utama dari lagu Gundul-gundul Pacul adalah : Gundul Pacul Gembéléngan, Nyunggi Wakul Gembéléngan, Wakul Ngglimpang  Segané Dadi Sak Latar. Gundul artinya  adalah kepala botak tanpa rambut.

Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang.
Sedangkan Pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani sehingga Gundul Pacul artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Gembéléngan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Nyunggi Wakulartinya: membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya. Pemimpin mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya. Wakuladalah simbol kesejahteraan milik rakyat, Kekayaan negara, sumberdaya, Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Jika pemimpin masih gembéléngan (melenggak-lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main). Akibatnya; Wakul ngglimpang segané dadi sak latar ( Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana)  maksudnya sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak terdistribusi dengan baik.

Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat.
  Mereka yang dibesarkan di Jawa, khususnya Jawa Tengah pasti tak asing dengan tembang Ilir-Ilir ciptaan Sunan Kalijaga ini. Melodi yang lembut, syair yang bermakna kuat menuai banyak simpati dan menjadikan lagu ini bagian dari folk music yang banyak digemari. Bagi anak-anak  ilir-ilir lebih dipahami sebagai tembang dolanan. Sekalipun mungkin mereka tidak begitu paham siratan maknanya.

Filsafat Pacul , Makna dan Relevansi Hidup

No comments

Tuesday, September 2, 2014




Dalam ngelmu, seseorang dituntut menggunakan pikirannya untuk membaca dan memahami apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang meguru atau berguru pada orang yang sudah mumpuni dalam hal ilmu rasa, maka dia harus ‘menggerakkan’ otaknya untuk memahami apa yang ada di alam semesta ini. Artinya, alam semesta ini ‘dibaca’ dan diartikan sendiri apa yang menjadi makna sejatinya.
Ki Ageng Sela yang kondang namanya lantaran mampu menangkap petir pun pernah berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Salah satu wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela adalah tentang Pacul. Ketika itu Kanjeng Sunan Kalijaga menyuruh Ki Ageng Sela untuk ‘membaca’ Pacul.
Pacul atau cangkul adalah salah satu alat yang merupakan senjata para petani. Senjata ini digunakan para petani untuk mengolah lahan pertanian. Tampaknya memang sederhana, Pacul. Tapi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi.
Dari wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela, Pacul atau cangkul itu terdiri dari 3 bagian. Ketiga bagian tersebut adalah: Pacul (bagian yang tajam untuk mengolah lahan pertanian), Bawak (lingkaran tempat batang doran), dan Doran (batang kayu untuk pegangan cangkul).
Menurut wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga, sebuah pacul yang lengkap, tidak akan dapat berdiri sendiri-sendiri. Ketiga bagian tersebut harus bersatu untuk dapat digunakan oleh petani. Apa sebenarnya arti dari Pacul, Bawak dan Doran itu?

1. Pacul
Memiliki arti “ngipatake barang kang muncul” Artinya, menyingkirkan bagian yang mendugul atau bagian yang tidak rata. Dari alat Pacul tersebut setidaknya bisa diartikan bahwa kita manusia ini harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego yang berlebih, cepat marah, mau menang sendiri dan sifat-sifat jelek kita lainnya yang dikatakan ‘tidak rata’.

2. Bawak
Memiliki arti “obahing awak”. Arti obahing awak adalah gerak tubuh. Maksudnya, kita manusia hidup ini diwajibkan untuk berikhtiar mencari rezeki dari GUSTI ALLAH guna memenuhi kebutuhan hidup. Disamping itu, arti ikhtiar tersebut juga bukan hanya berarti mencari rezeki semata, tetapi juga ikhtiar untuk senantiasa “manembah GUSTI ALLAH tan kendhat Rino Kelawan Wengi” (menyembah GUSTI ALLAH siang maupun malam).

3. Doran
Memiliki arti “Dongo marang Pengeran” ada juga yang mengartikan “Ojo Adoh Marang Pengeran”. Arti “Dongo Marang Pengeran” adalah doa yang dipanjatkan pada GUSTI ALLAH. Pengeran berasal dari kata GUSTI ALLAH kang dingengeri (GUSTI ALLAH yang diikuti). Sedangkan “Ojo Adoh Marang Pengeran” memiliki arti janganlah kita manusia ini menjauhi GUSTI ALLAH. Manusia harus senantiasa wajib ingat dan menyembah GUSTI ALLAH, bukan menyembah yang lain.

Ketiga bagian Pacul tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Kalau digabung, maka ketiganya memiliki arti, manusia hendaknya mampu menyingkirkan sifat-sifat buruknya, berikhtiar untuk mencari rezeki GUSTI ALLAH dan tidak melupakan untuk selalu berdoa dan menyembah GUSTI ALLAH. Bukankah kini kita mengetahui bahwa benda Pacul itu memiliki nilai filsafat yang tinggi?

Cantik Alami Dengan Buah Tomat

No comments
Siapa bilang untuk tampil cantik harus memerlukan biaya mahal? Ya memang sih, untuk melakukan perawaatan di klinik atau salin kecantikan memang memerlukan biaya yang tidak sedikit, tetapi untuk tampil cantik kaan tidak selalu harus engan perawatan disalon maupun klinik kecantikan kan?

Kalau anda memiliki budget yang minim pun anda bisa tetap melakukan perawatan untuk kecantikan anda. Anda bisa memanfaatkan tumbuh-tumbuhan, dan buah-buahan yang di sediakan oleh alam untuk merawat kecantikan anda. Dengan bahan dari alam tersebut justru akan lebih man untuk kesehatan dan biayanya pun sangat murah.

salah satu bahan dari alam yang dapat membantu masalah anda dlam perawatan adalah buah tomat. Buah berbentuk bulat dengan warna merah menyala dan memiliki rasa agak asam dan sangat unik ini ternyata sangat baik untuk kecantikan. Tidak percaya? Ini dia buktinya.
- Sebagai Tabir Surya

Pasti belum banyak yang tahu kalau tomat bisa di jadikan tabir surya. Ya, karena dalam hal ini tomat sangat ampuh untuk mengatasi masalah kulit kering dan mengatasi masalah peradangan yang di timbulkan akibat ppran sinar mathari.

- Penghilang Jerawat Dan Komedo
Jerawat dan komedo merupakan masalah yang paling mengganggu penampilan. Untuk mengatasinya, anda bisa memanfaatkan buah tomat dan di jadikan sebagai masker.

Resensi Novel " Sepotong Senja untuk Pacarku: Cinta Itu Memabukkan "

No comments
Pertama kali melihat buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku, saya berpikir bagaimanakah cara seorang penulis menceritakan sepotong senja untuk seorang kekasihnya?



Didasari rasa penasaran itu, saya memutuskan untuk membacanya. Sekitar dua hari saya rampung membaca kumpulan cerpen ini, usai membacanya barulah saya mengerti apa yang ingin disampaikan oleh pengarang kelahiran Boston, Amerika Serikat 19 juni 1958 itu.

Cinta tidak melulu harus disampaikan melalui kata-kata, tapi cinta membutuhkan sebuah pembuktian.

Lewat adegan pemotongan senja oleh Sukab, Seno seolah ingin membenarkan, bahwa cinta—sekali lagi—tak butuh banyak kata-kata, ia butuh bukti. Sukab tidak ingin memperbanyak kata-kata yang telah tertulis  tentang cinta di dunia, di mana orang-orang terlalu sibuk dengan kata-katanya sendiri.  Sukab memotong senja untuk kekasihnya dan menggemparkan dunia. Senja yang ia potong dengan sengaja itu kemudian ia kirimkan kepada kekasih yang selalu dicintainya; Alina. Senja yang indah lengkap dengan deburan ombak, pasir putih, perahu yang berlayar di kejauhan dan burung-burung yang beterbangan di sekitarnya. Begitulah Seno menulis dalam ceritanya.

Cerpen ini, seolah ingin memunculkan suatu kritik sosial; begitu sibuknya orang  di tengah kehidupan metropolitan, sehinga waktu untuk menikmati senja yang indah terasa begitu langka. Padahal menyaksikan senja tidak perlu membayar. Yang menikmatinya hanya turis. Kritik sosial itu digambarkan secara tersirat pada percakapan dalam diri tokoh Sukab. Ia beranggapan bahwa polisi mengejarnya bukan karena sepotong senja yang hilang, bukan pula karena Sukab mencurinya, melainkan karena nilai komersil, sebagai objek wisata. Turis suka memotret senja dan ini adalah jualan pariwisata.

Seolah sutradara film Hollywood, dalam cerpen ini Seno memunculkan adegan kejar-kejaran yang menegangkan, mobil yang terbakar, sirine mobil polisi yang meraung, lorong-lorong bawah tanah yang kumuh diramu menjadi adegan yang menegangkan. Sepotong senja yang dicuri oleh Sukab membuat gempar para pengunjung pantai dan polisi tidak tinggal diam.

Cerpen ini konon ditulis berdasarkan sajak Chairil Anwar, Senja di Pelabuan Kecil (1946) dengan seting lokasi yang terpengaruh dari gaya surealis Danarto. Paris Nostradamus (1988) adalah kota persis Paris di bawah tanah. Di dalam sebuah lorong bawah tanah ada sebuah tempat yang sama, di mana Sukab mencuri senja. Seno membuat resolusi konflik dengan membuat Sukab memotong senja di lorong bawah tanah untuk mengganti senja asli yang ia curi.  Untuk menuntaskan cerita, Seno memakai kalimat Sardono W. Kusumo, Di Tengah Hutan Apo Kayan, Kalimantan Timur, 1981 “Untuk siapakah bunga itu mekar di hutan ini kalau tak ada seorangpun yang melihatnya”.

Dalam kumpulan cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku ini, kita disuguhkan penggambaran senja yang indah dan bagaiman cinta yang mendalam biasa membuat kita mengesampingkan logika-logika, betapa sesuatu yang sepertinya mustahil, akan kita lakukan untuk orang yang kita cintai. Penulis juga menggambarkan bagaimana suasana hati yang pilu karena cinta. Seperti cerpen yang berjudul ”Hujan, Senja, dan cinta,” cerpen ini menceritakan seorang perempuan yang sudah menikah dan selalu risih dengan hujan yang di kirimkan oleh mantan kekasihnya. Hujan itu tidak akan berhenti bila sang mantan kekasih masih mencintainya.

Perempuan yang sudah menikah itu ingin hujan itu reda, hampir semua aktivitasnya tertunda gara-gara hujan, namun ketika hujan mulai reda ia menjadi takut kalau mantan kekasihnya mulai mencintai orang lain. Begitu pula di cerpen “Jawaban Alina” atas surat dan sepotong senja yang dikirim oleh Sukab, setelah membaca Balasan Alina ini, kita tahu bahwa Alina tidak peranah mencintai Sukab. Alina sudah bersuami dan memiliki anak, dan ia sangat risih dengan cinta Sukab yang berlebihan. Begitu malang nasib Sukab memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan sepanjang hidupnya.

Membaca cerita-cerita dalam buku ini, kita juga diingatkan pada kisah-kisah pembuktian cinta yang tak masuk akal di zaman-zaman dahulu. Pembangunan TaJ Mahal di India oleh raja Shah Jahan untuk mengenang mendiang istri bernama Muntaz Ul Zamni yang meninggal setelah melahirkan anaknya yang ke-14. Atau cerita-cerita Nusantara sepert Sangkuriang yang mencintai Dayang Sumbi yang tak lain adalah ibunya sendiri, atau tentang pembuatan candi Prambanan di mana Badung Bondowoso harus menyelesaikan pembuatan seribu candi dalam semalam untuk gadis cantik bernama Roro Jongrang.

Membaca kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku ini akan membuat kita berpikir betapa cinta begitu memabukkan sehingga bisa membuat orang melakukan apa saja untuk cinta, namun di sisi lainnya betapa cinta melahirkan begitu banyak penderitan, membuat hati teriris. Sebuah pengorbanan cinta yang begitu dahsyat, namun ditulis dalam bentuk fiksi yang apik.

Kawruh Jawa : Antara Kasunyatan Budhi dan Kejawen

No comments

Sunday, August 31, 2014

Ajaran Jawa belum diketemukan sejarah awalnya, apa lagi dijelaskan dengan data-data. Kita seperti hanya bisa mendengar tanpa bisa menemukannya. Tetapi bukan berarti tidak ada dan tak dapat diketemukan. Di dalam ajaran yang sesungguhnya, hanya dapat dipahami melalui kesadaran instuisi kita. Seperti halnya ajaran Kasunyatan Jawa adalah tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan proses kejadian dari semua fenomena yang ada di alam semesta.
Kasunyatan Jawa adalah sabda nyata dan abadi. Ajaran ini tidak hanya berteori pada kansunyatan semata, namun memiliki banyak ilmu-ilmu kosmologi alamnya, simbol-simbol dan teknik spiritualitasnya yang unggul, serupa dengan masa-masa keunggulan Taoisme/Daoisme di Tiongkok. Kalau Kasunyatan Jawa dianggap tidak ada, maka tidak akan ada sejarah mencatat Siwa dan Budha bisa menemukan peradabannya di Jawa, apalagi seperti di Bali sekarang.
Pada zaman dulu, tidak ada perbedaan antara tradisi religi Jawa dengan Kansunyatannya. Kawruh Jawa sebagai filsafat disebut juga sebagai Kasunyatan, sementara tradisinya dalam tantra mantra dan yantra disebut juga sebagai Budho Jowo, atau juga disebut Siwo Budho Jowo, yang demikian karena tata caranya hampir bertradisi ritual seperti Hindu namun berperilaku seperti Budha.
Pada jamannya dikenal menjadi konsep perpaduan Tantrayana dengan karakter spiritualitas kejawaan tradisional. Kemudian terkondisikan masa keemasan budaya Candi-candi Hindu Budha dengan Candi-candi Pepunden di Jawa menemukan perpaduan konsepsi arsitektur yang unik dan khas, termasuk dalam seni sastra, budaya dan keagamaannya. Meski keragaman Hindu-Budha, namun masyarakat Jawa masih banyak yang memegang teguh pada tradisi candi pepunden dan ajaran keluhurannya.
Alkisah diceritakan banyaknya pendeta-pendeta Budho Jowo merasa sedih karena peperangan saudara di Jawa, hendak mencari kedamaian, hingga akhirnya meninggalkan pulau Jawa dan menetap ke Bali. Belakangan kisah ini menjadi inspirasi tentang Naskah Sabda Palon Naya Genggong. Sebelum pergi, Prabu Kerthabhumi, sang raja Majapahit terakhir, berusaha menahannya agar tidak pergi, namun usahanya gagal. Sabda Palon hanya berjanji akan kembali dengan orang-orang pilihannya beberapa ratus tahun kemudian. Karena terlanjur berjanji pada leluhur di tanah Jawa, akan menjaga keturunan-keturunannya di Bali, agar mereka rukun hidupnya dengan ajaran leluhurnya, pula bahagia dengan tradisi dan budayanya. Bagi Sabda Palon untuk memulihkan peradaban yang sedang sakit di Jawa, kelak akan kembali membawa keluhuran Jawa menyatu dengan alamnya setelah tersebarnya ajaran Budhi.
Kasunyatan Jawa, sebagai sebuah Kawruh Jawa dengan Siwaisme dan Buddhisme, bisa dikatakan telah bersinkretis dalam kehidupan masyarakat Jawa ratusan tahun lamanya, diakhir abad Lima hingga Lima Belas. Dalam sejarah keagamaan di Bali, kedatangan Sri Empu, Begawan, Bujangga maupun Brahmana dari Jawa dianggap sebagai pembawa sinkretis Siwa-Budha tiada henti di Bali. Hingga dalam perkembangannya kemudian, tradisi sastra keagamaan di Jawa berkembang menjadi bahasa persembahan dalam sesajian, banten, upakara maupun sastra-sastra mantranya. Filsafat maupun keagamaannya menjadi lebih khas dan berbaur dengan Hindu Bali sampai sekarang.
Sedangkan Kasunyatan Jawa di masyarakat Jawa sendiri, berkembang menjadi Kawruh Kejawen, menjadi tradisi yang menerapkan moralitas dan politik. Sementara Kawruh Budhi adalah keutamaan individual, yang lebih memusatkan dirinya dalam bentuk-bentuk paguyuban maupun penghayatan sendiri-sendiri. Gejolak bangkitnya Kejawen di Jawa, timbul dari kekecewaan masyarakat di Jawa atas situasi politik Demak akhir hingga Pajang berdiri, pada masa itu banyak sekali perbedaan pendapat antara Jawa Islam dengan kalangan penghayat Jawa tradisionalis.
Masa Sultan Agung, menjadikan Kejawen mulai menemukan tali simpulnya kembali, meski akhirnya berpengaruh menjadi Kejawen Islam di Jawa. Pada masa Kolonial Belanda, Kejawen menjadi lebih dikenal Kejawen Modern, yang menerapkan pola Tasawuf Islam, hingga dikalangan pesantren-pesantren berbasis Islam Jawa, para tokoh-tokohnya dikenal sebagai kalangan Makrifat Islam Jawa. Namun disebagiannya masih banyak yang sepenuhnya menolak adanya ajarannya bersinkretisme budaya Jawa.
Sedangkan masyarakat Jawa yang masih memegung teguh konsep Kasunyatan Jawa era paska Majapahit akhir hingga kekinian, yakni konsep tradisi dan ritualnya pada Pepunden, terus menurun jumlahnya. Perkembangan padepokan silat tradisional Jawa dan paguyuban penghayatan bermunculan spontanitas dan individual.
Dilain sisi, Kawruh Jawa lebih disematkan pada praktek ajaran-ajaran ilmu Dukun Jawa (instruktif & destruktif), ngelmu kedigdayaan, sindiran klenikisme dan sejenisnya. Selain itu di kalangan generasi sekarang, tradisi kejawaan dalam konsep Kasunyatan dianggap mengajarkan pesimisme, sedangkan ngelmu-ngelmu kedigdayaan lebih disukai sebagai ajaran sikap optimisme.

Kawruh Jawa : Lelaku Panembahan Senopati

No comments
TANAH JAWA memiliki banyak sosok tokoh yang bisa diteladani. Yang dimaksud diambil keteladannannya adalah dalam hal olah spiritual. Seperti halnya sosok Raja Mataram Islam pertama yakni Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.

Sebagai seorang raja, Panembahan Senopati yang hidup di lingkup istana, tak lalai dalam mengasah olah rasa dan tapa brata. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mencuri waktu dalam kesendirian dan lelaku.

Semua lelaku tersebut tertuang dalam serat Wedhatama yang berbunyi :


Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama 

Mencontoh laku yang baik
terhadap orang tanah Jawa
Tokoh besar di Ngeksiganda
Panembahan Senopati
berusaha dengan sungguh-sungguh
mengurangi hawa dan nafsu
dengan cara bertapa
yang dilakukan siang dan malam
mewujudkan perasaan senang bagi sesamanya. 

Samangsane pasamuan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kalakalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra

Ketika berada dalam pertemuan
membahas sesuatu dengan kerendahan hati                               
dan pada setiap kesempatan
Sekali-sekali menyepi
berkelana kemana-mana
Berusaha mengambil yang hakiki
Dalam keheningan batinnya
Dengan senantiasa berprihatin
Dengan cara mengurangi makan dan tidur

Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana 
Mrih pana pranaweng kapti 
Tis-tising tyas marsudi
Mardawaning budya tulus
Mesu reh kasudarman
neng tepining jalanidhi
Sruning brata kataman wahyu dyatmika 

Setiap keluar rumah
Selalu berkelana mencari tempat sepi
dengan tujuan meresapi ilmu sepuh
agar mengerti tiap-tiap tingkatan ilmu dan maknanya
ketajaman hati dimanfaatkan untuk menempa jiwa
untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus
dengan bertapa dan mengharapkan wahyu suci

Dari tiga cuplikan serat tersebut, kita bisa belajar dari lelaku dan olahrasa yang telah dicontohkan Panembahan Senopati. Hal yang patut dicatat, bahwa meski Panembahan Senopati sebagai Raja yang bergelimang dengan kenikmatan dunia, tetapi beliau tidak pernah tergoda dan senantiasa lelaku guna seluruh rakyat dan keturunannya.

Berbeda dengan kita yang hidup di dunia modern saat ini. Ketika kita bergelimang harta benda, justru kita malah melupakan yang hakiki dan kita cenderung justru terjerat dalam kenikmatan tersebut. Maka dari itu, alangkah baiknya kita mengkaji lagi lelaku dari hal yang telah dilakukan Panembahan Senopati itu.(

Pandangan Ketuhanan, Neraka dan Surga menurut Ajaran SITI JENAR & KEJAWEN

No comments
PERBANDINGAN ANTARA
AJARAN SYEH SITI JENAR
Dan PANDANGAN KEJAWEN
Mengenai Ketuhanan, Alam, dan Manusia


Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan
    Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.
    Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.
    Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah.  Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.

Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia
    Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya. Jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi (Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi. Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.

    Menurut sabdalangit, perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu, sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodhok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon). 

    Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.

Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia
    Pandangan Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka.  Jika manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.
    Syeh Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia. 

    Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan  sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo). Hidup ini mati, karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.

Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya
    Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma, dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.  

Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka
    Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka adalah dalam hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).

    Menurut Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat. Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.

    Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore, malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang banyak tergiur oleh omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri, jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya; dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah terbius oleh para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas). 

    Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing. Orang bergelimang harta, hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka. Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka. 

    Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi. Manusia terdiri  atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.
    Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).
Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;
    Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama”.

Kesimpulan
    Pandangan Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang  ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah  manusia menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmanisah ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.
    Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al Hallaj, yang menolak segala kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.

Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia
Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia  dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. P

ada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal. 

Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya. 

Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.

Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan

    Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri.  
 
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?

Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.

Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.

Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.

 


Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde