Responsive Ad Slot

Showing posts with label Kawruh Jawa. Show all posts
Showing posts with label Kawruh Jawa. Show all posts

Di Jawa, Perias Manten Wajib Menjalankan Ritual Puasa

No comments

Sunday, November 2, 2014

Juru Paes Penganten
SAWAN MANTEN, ANTARA PROBLEM DAN PSIKOLOGIS
ADA dua pendekatan yang dapat kita gunakan untuk membedah masalah sawan manten, yakni pendekatan agamis dan pendekatan psikologis. Kedua pendekatan itu tidak bertentangan satu sama lain, bahkan saling melengkapi. Pendekatan agamis memandang sawan manten sebagai problem agama dan tidak lain adalah buah dari perseteruan antara Iblis dan Adam yang akhirnya diwariskan kepada anak keturunannya masing-masing. Sementara itu, pendekatan psikologis memandang sawan manten sebagai problem psikologis yang bersumber pada ketidakmampuan pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pernikahan menghadapi tekanan-tekanan psikologis yang tercipta selama mempersiapkan pesta pernikahan. Tekanan psikologis itu begitu kuat sehingga mempengaruhi ketahanan fisik dan psikis.
1. Problem Agamis
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa Iblis telah bersumpah pada Allah swt untuk menjerumuskan anak keturunan Adam kedalam lembah kesesatan sehingga mereka akan jauh dari hidayah Allah swt. Harap diingat, bahwa ancaman Iblis sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat suci pada bab terdahulu berlaku universal. Artinya, tidak peduli dari agama atau budaya atau bangsa apapun anak keturunan Adam pasti akan menerima gangguan dari syetan sebagai kepanjangan tangan Iblis.
Sesungguhnyalah, ancaman Iblis itu benar-benar nyata. Sebab, informasi tentang ancaman itu diberikan oleh Tuhan yang menciptakan alam semesta, termasuk juga Iblis dan Adam. Tuhan juga menjadi saksi dari pembangkangan Iblis yang berujung pada ancaman Iblis pada anak keturunan Adam.
Sayangnya, informasi yang dikategorikan A1 (meminjam istilah intelijen yang berarti tepat dan akurat) itu sama sekali tidak mendapat perhatian semestinya. Kebanyakan orang akan memusatkan seluruh perhatiannya pada persiapan menjelang pelaksanaan pesta pernikahan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa kebanyakan orang akan lebih merasa khawatir bila persediaan makanan dan minuman tidak mencukupi jumlah tamu yang diundang daripada mengkhawatirkan ancaman Iblis terhadap anak keturunan Adam yang hendak melangsungkan pernikahan.
Padahal ancaman Iblis itu jelas jauh lebih berbahaya daripada akibat yang ditimbulkan kurangnya makanan dan minuman yang dihidangkan.Pihak-pihak yang berkompeten dalam masalah-masalah agama juga jarang yang secara khusus memberikan warning terhadap calon pasangan suami – isteri akan adanya ancaman dari Iblis itu. Para penghulu yang sering memberikan kutbah nikah juga jarang sekali menyinggung hal tersebut. Biasanya penghulu hanya memaparkan tugas dan tanggung jawab suami – isteri dan mungkin juga kiat-kiat melanggengkan sebuah perkawinan. Namun masalah ancaman Iblis itu tidak mendapat porsi signifikan dalam kutbahnya.
Biasanya, justru dari para perias calon pengantin mendapat wejangan dan saran untuk melakukan puasa sambil berdoa kepada Tuhan agar rangkaian upacara yang akan dilaluinya tidak menemui hambatan dan agar rumah tangga yang akan dibina dapat berlangsung hingga akhir hayat keduanya. Rupanya pengalaman hidup dalam merias calon pengantin telah memberi pengetahuan mendalam akan perlunya sandaran pada Yang Maha Kuasa bagi calon pengantin yang diriasnya.
Itulah sebabnya, kebanyakan orang hilang kewaspadaan ketika menghadapi saat-saat krusial dalam hidupnya, semisal menjelang upacara pernikahan itu. Sebab, jarang ada orang yang mencoba mengingatkan akan ancaman Iblis. Tidak semua orang akan mengalami naas yang sama berupa sawan manten saat melangsungkan pernikahannya. Namun justru itulah yang menyebabkan orang kehilangan kewaspadaan. Strategi acak yang diterapkan syetan untuk menjerumuskan manusia terbukti cukup efektif untuk melancarkan tipu dayanya.
2. Problem Psikologis
Tidak diragukan lagi, pernikahan merupakan saat-saat yang paling ditunggu oleh sepasang anak manusia. Bayang-bayang manis akan kehidupan baru melekat erat dalam benak mereka. Sudah pasti, angan-angan mereka penuh dengan gambaran manis dan ideal. Bayangan menjadi raja dan ratu sehari terus mendominasi pikiran. Dikelilingi sanak-saudara, kerabat dan teman-teman penuh suka cita. Para orang tua akan memberi doa restu, teman-teman memberikan ucapan selamat, bahkan famili yang berada di negeri seberang dan tidak sempat hadir juga menelpon hanya untuk mengucapkan selamat.
Sudah tentu pihak-pihak yang terkait dengan perhelatan pernikahan akan memiliki berbagai macam perasaan. Namun, dua perasaan yang paling sering mendominasi adalah perasaan senang dan khawatir. Pihak orang tua merasa senang karena akan segera menikahkan anak perempuan atau anak lelakinya dan dengan demikian sedikit berkurang beban tanggung jawabnya. Tetapi, seringkali justru pada saat-saat menjelang upacara pernikahan itu orang tua merasa khawatir bila nantinya perhelatan yang diselenggarakan akan menemui rintangan-rintangan.
Demikian pula dengan pihak calon pengantin. Jelas keduanya merasa sangat senang sebab akan mendapatkan status sosial yang jelas, yakni keluarga baru. Selain itu mereka juga merasa senang karena mendapat kehalalan dari perbuatan yang sebelumnya haram dilakukan. Namun, seperti juga dengan para orang tua, kedua calon pengantin itu juga merasakan kekhawatiran bila rangkaian upacara pernikahan yang akan mereka jalani menemui hambatan-hambatan.
Masalah-masalah psikologis, seperti misalnya rasa senang yang meluap-luap atau kekhawatiran yang mencekam sebagaimana tersebut diatas secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pernikahan itu. Hal paling buruk dari pengaruh suasana hati yang sangat senang adalah hilangnya kewaspadaan diri sebagai mekanisme pertahanan diri manusia.
Sebagai contoh, kasus-kasus kecelakaan lalu lintas yang menimpa rombongan pengantar calon pengantin biasanya berawal dari hilangnya kewaspadaan diri akibat suasana hati yang terbius oleh rasa senang yang meluap-luap. Rombongan pengantin yang biasanya terdiri dari sanak saudara dan tetangga sekitar tentu saja berangkat menuju upacara pernikahan dengan rasa senang. Dapat dipastikan, rombongan pengantin akan berangkat menempuh perjalanan dengan penuh tawa canda dan senda gurau.
Sebenarnya, tawa dan canda itu adalah hal yang biasa. Hanya saja, dalam kasus-kasus tersebut diatas, kegembiraan itu menyebabkan hilangnya kewaspadaan diri orang-orang yang berada dalam rombongan tersebut, termasuk juga pengemudi kendaraan. Akibatnya mudah ditebak. Ditengah buaian rasa senang yang menghilangkan kewaspadaan itu, setan hanya tinggal mencari pemicu kecil untuk meluluh-lantakan mimpi-mimpi indah mereka.

SAWAN MANTEN (Bagian 4) : Cek Cok Hingga Kecelakaan Maut

No comments

Friday, October 24, 2014

2. Pertengkaran yang mengarah pada putusnya hubungan kekasih
Boleh jadi beberapa orang mengetahui atau bahkan pernah mengalami fenomena sawan manten jenis ini. Tetapi, hampir sebagian besar orang tidak menyadarinya. Akibatnya, banyak terjadi putusnya hubungan kekasih, bahkan pada saat kedua calon pengantin sedang mempersiapkan pernikahannya. Sebagai contoh, coba anda perhatikan kisah para selebritis dunia hiburan, baik dari dalam maupun luar negeri, yang secara sepihak maupun bersama-sama sepakat memutuskan hubungan cintanya pada hari-hari terakhir menjelang pernikahannya.

Atau, bila anda merupakan jenis manusia yang tidak menyukai dunia entertainment, maka coba perhatikan fenomena sawan manten yang berupa pertengkaran sepasang calon pengantin disekitar anda. Boleh jadi hal seperti itu terjadi pada tetangga depan rumah, belakang rumah, samping rumah dan sebagainya. Tetapi hal ini bukan berarti penulis menganjurkan pembaca buku ini untuk memiliki kecenderungan ingin tahu aib atau keburukan tetangga sekitar. Sama sekali tidak!

Mengamati fenomena sawan manten, berupa pertengkaran antara kedua calon pengantin, sangat bermanfaat bila kita memandangnya sebagai studi kasus yang dapat diambil manfaatnya baik bagi diri kita sendiri, bagi kedua calon pengantin (bila kita bersedia mengingatkan keduanya), bagi kedua keluarga calon besan, maupun bagi semua orang. Paling tidak, harus ada pihak yang mengingatkan pada kedua calon pengantin atau keluarganya bahwa mereka sedang menjadi incaran kekuatan-kekuatan internal dan eksternal yang berusaha menggagalkan hajadnya.

Selain menimbulkan kejadian yang dapat dianggap memalukan dan dapat mengarah pada putusnya hubungan kekasih, pertengkaran yang terjadi antara sepasang calon pengantin menjelang pernikahan tidak jarang juga mengakibatkan kematian salah satu atau kedua calon pengantin tersebut. Kisah-kisah asmara dibalik tindak kriminal pembunuhan seorang laki-laki terhadap kekasihnya sangat sering kita temui baik di media cetak maupun elektronik.

3. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan keluarga calon pengantin 

Kecelakaan lalu lintas merupakan hal yang sangat lumrah terjadi. Tetapi, kecelakaan yang melibatkan calon pengantin dan atau rombongan pengiring pengantin merupakan kasus yang sangat menarik perhatian dan hal itu sangat sering terjadi. Agak mengherankan bila kita memperhatikan bahwa sebagian besar kecelakaan lalu lintas dalam kaitannya dengan sawan manten justru mengambil korban jiwa pengiring pengantin, bukan calon pengantin itu sendiri. Hanya ada beberapa kasus dimana salah satu atau kedua calon pengantin termasuk menjadi korban jiwa dari suatu kecelakaan.

Kebanyakan orang akan menganggap bahwa kecelakaan lalu lintas adalah hal yang biasa, termasuk juga kecelakaan lalu lintas yang melibatkan rombongan pengantin. Berbagai alasan dikemukakan orang menyangkut sebuah kecelakaan lalu lintas. Mulai dari jalanan licin karena hujan, sopir kendaraan yang tidak menguasai jalan, sopir kendaraan yang kelewat kencang memacu kendaraannya, hingga alasan kendaraan yang kelebihan muatan penumpang.

Tapi toh, alasan-alasan itu tidak dapat menjelaskan mengapa sangat sering kecelakaan lalu lintas yang melibatkan rombongan pengantin, mengapa bukan rombongan kampanye pemilu yang bergelantungan di truk-truk terbuka, atau rombongan supporter sepakbola yang berjejal-jejal memenuhi kendaraan terbuka. (Bersambung)

Sawan Manten ( Bagian 3 ) : Pengantin Luar Jawa Bisa Saja Kena

No comments
Apakah Sawan Manten Itu ?
 Menurut pakar bahasa Jawa, secara etimologis sawan berarti suatu penyakit ringan yang biasanya menimpa anak kecil. Seorang anak kecil yang terkena sawan akan bersikap rewel dan menangis terus-menerus. Biasanya, untuk menghilangkan sawan para orang tua melakukan usaha batin dengan doa tertentu yang biasa disebut suwuk. Tetapi secara praktis, istilah sawan juga sering digunakan masyarakat Jawa untuk menggambarkan naas atau kesialan yang menempel pada diri seseorang. Dengan pengertian praktis seperti itu, maka seringkali para orang tua di Jawa memperkenalkan istilah-istilah seperti sawan layon (sawan orang meninggal), sawan dalan (sawan jalan), sawan kuburan, sawan lelungan (sawan bepergian), dan sebagainya.

Sebagai sebuah fenomena yang terjadi dalam masyarakat, sawan manten berlaku universal. Artinya, tidak peduli seseorang beretnis Jawa, Sunda, Sumatera atau bahkan berasal dari suku bangsa atau negara lain seperti Cina, Eropa, Amerika maupun Afrika, akan terkena dampak sawan manten ini. Pembaca tentu sudah sering membaca melalui surat kabar atau melihat tayangan televisi bagaimana para selebritis Hollywood membatalkan pernikahannya dengan pasangannya hanya beberapa hari sebelum upacara pernikahan Julia Robert dan Kiefer Sutherland adalah salah satu contohnya.
Peristiwa yang menimpa Julia Robert diatas sejatinya adalah salah satu bentuk sawan manten yang seringkali menimpa pasangan calon pengantin.

Kasus diatas juga membuktikan bahwa sawan manten bersifat universal yang menimpa semua pihak, tak peduli apapun suku bangsanya. Sawan manten dapat mengancam siapa saja yang terlena saat menjelang hari bahagia.

Dapat dikatakan, sawan manten adalah cara masyarakat Jawa untuk menyebut sebuah fenomena kesialan atau naas yang menimpa calon pengantin dan atau keluarga kedua calon pengantin menjelang dan pada saat dilaksanakannya prosesi pernikahan. Boleh jadi, di lain tempat, ada sebutan lain untuk menggambarkan fenomena tersebut. Dengan kata lain, fenomena ini berlaku disembarang tempat dimana ada perhelatan anak keturunan Adam yang berkeinginan membentuk keluarga baru.
Meskipun kejadiannya sangat bervariasi, tetapi pola yang membentuk kejadian itu sama, atau setidaknya memiliki kemiripan satu sama lain. Dibawah ini adalah bentuk-bentuk sawan manten yang seringkali terjadi di tengah masyarakat.

1. Godaan dari lawan jenis pada kedua calon pengantin

Godaan dari lawan jenis pada kedua calon pengantin merupakan jenis sawan manten yang sangat sering terjadi. Biasanya godaan dari lawan jenis mulai terjadi tepat setelah calon pengantin laki-laki secara resmi melamar calon pengantin perempuan. Sejak saat itu mulailah lawan jenis lain seakan mencoba menarik perhatian kedua calon pengantin. Bahkan seseorang yang tadinya ‘jomblo’ lias tidak laku dalam pergaulan antar lawan jenis, menjadi laris manis. Calon pengantin itu sering menjadi pusat perhatian lawan jenis. Seakan semua lawan jenis menyodorkan diri mereka padanya, mencoba menarik perhatiannya dan memikatnya. Ini disebabkan pamor (aura) kedua calon pengantin yang memancar cerah dan menarik perhatian orang lain. Tidak terkecuali jenis.

Bila tidak disadari bahwa semua itu merupakan godaan sawan manten, maka akhir cerita sangat mudah ditebak. Baik salah satu maupun kedua calon penganten akan tergoda untuk meninggalkan pasangan yang sudah melamarnya dan beralih pada lawan jenis lain. Kalau terjadi, tentu saja hal ini sangat berbahaya. Bukan hanya kedua calon pengantin yang akhirnya putus hubungan, tetapi kedua keluarga yang sedianya bakal berbesanan itupun akan patah arang dan putus silaturahimnya.

Mengingat betapa jauh akibat yang ditimbulkan dari sawan manten jenis seperti disebutkan diatas, maka sudah seharusnya anda, khususnya para calon pengantin yang sedang mempersiapkan pernikahan untuk mewaspadai godaan fenomena sawan manten dalam ujud godaan dari lawan jenis setelah melakukan proses melamar. Anda tidak perlu merasa ketakutan secara berlebihan terhadap fenomena itu, tetapi cukup anda waspada dan menanamkan pengertian dalam sanubari bahwa orang pertama yang anda terima lamarannya adalah satu-satunya pihak yang berhak menjadi pendamping hidup anda. Anda tidak bisa seenaknya membatalkan lamaran secara sepihak dan berpaling pada orang lain.

Membatalkan lamaran yang sudah diterima dan berpaling pada pihak lain bukan saja sebuah kejahatan moral yang menyengsarakan, tetapi juga kejahatan kemanusiaan yang kejam. Rasa malu yang diakibatkan pembatalan lamaran tentu tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Bahkan boleh jadi peristiwa itu akan membekas hingga akhir hayatnya.(Bersambung)

TENTANG SAWAN MANTEN - Bagian 2, Menghindari Kutukan Sawan

No comments

Tuesday, October 21, 2014

SANGAT dianjurkan agar kedua calon pengantin dan atau sanak keluarganya untuk mewaspadai massa kritis tersebut. Bukan bermaksud menebarkan rasa takut, tetapi sangat disarankan agar kedua calon pengantin maupun sanak saudaranya selalu waspada dan tidak bertindak gegabah. Tidak ada salahnya untuk tetap menjaga kewaspadaan agar proses pernikahan yang sudah direncanakan dapat berjalan lancar. Selain itu, rasa takut bukanlah jawaban terhadap masalah ini. Bahkan, kadang-kadang, memelihara rasa takut atau khawatir saat mempersiapkan pesta pernikahan justru akan menambah beban psikologis yang merupakan katalisator timbulnya sawan manten.
Memang sudah seharusnya ada pihak-pihak yang mengingatkan pada orang-orang yang berkepentingan dengan hal ini, yakni pada mereka yang sedang dan akan melangsungkan pernikahan. Tidak saja bagi pasangan calon pengantin, namun juga pada orang tua dan keluarga yang bersangkutan. Hal ini mendesak dilakukan agar fenomena sawan manten tidak berulang-ulang terjadi pada kita atau kerabat kita. Adapun kasus yang terjadi berulang kali antara lain godaan dari lawan jenis, pertengkaran yang mengarah pada putusnya hubungan kekasih, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan keluarga calon pengantin, kejadian memalukan saat berlangsungnya pernikahan, anak kecil yang rewel, keracunan saat berlangsungnya pesta pernikahan.
Keenam kasus diatas adalah bentuk-bentuk kasus yang berkaitan erat dengan fenomena sawan manten. Namun, keenam peristiwa itulah yang paling sering terjadi dalam sebuah pernikahan. Ada baiknya kita mengenali bentuk-bentuk sawan manten itu agar dapat mengambil pelajaran darinya.
Meski bentuk-bentuk kasus tersebut bervariasi, tetapi hasil akhirnya tetap sama, yakni terputusnya hubungan fisik maupun psikologis (silaturahim) diantara pihak-pihak yang terlibat dalam masalah tersebut. Sebagai contoh, seorang calon suami berpisah, baik secara fisik maupun psikologis, dengan calon isterinya; seorang ayah mengalami keretakan hubungan dengan anaknya; retaknya hubungan kekerabatan kedua calon besan; dan sebagainya.
Renggangnya hubungan psikologis (atau bahkan putusnya hubungan kekerabatan) antara pihak-pihak yang terlibat dalam fenomena sawan manten ini disebabkan oleh dampak psikologis dan atau pengaruh fisik yang ditimbulkan. Sebab, pada hakekatnya manusia sulit sekali melupakan peristiwa memalukan atau menyedihkan pada saat-saat bersejarah dalam hidupnya. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat saja menimbulkan ingatan traumatik pada yang bersangkutan.
Sebagai contoh, dalam kasus-kasus kecelakaan lalu lintas yang, anehnya, mengambil korban jiwa pengiring pengantin yang terdiri dari kerabat dekat maupun tetangga calon pengantin pria, sudah tentu hubungan fisik pihak–pihak yang mengalami musibah terputus oleh karena perpindahan alam (meski mungkin saja hubungan psikologis justru semakin erat karena keterlibatan emosi). Para korban telah berpindah alam dan tidak memungkinkan adanya kontak fisik dengan kerabat atau sanak famili.
Sementara itu, pada kasus lain mungkin terjadi peristiwa yang bisa dianggap memalukan sehingga pihak-pihak yang terlibat dalam sawan manten akan terpisah secara psikologis karena tidak mampu menanggung beban rasa malu. Peristiwa memalukan saat berlangsungnya suatu pernikahan bermacam-macam bentuknya, tetapi yang paling sering terjadi adalah timbulnya pertengkaran antar anggota keluarga. Selain itu ada juga bentuk-bentuk lain dari peristiwa memalukan, misalnya hidangan yang tidak mencukupi jumlah tamu yang menghadiri upacara pernikahan, keracunan yang menimpa tamu undangan saat resepsi pernikahan dan sebagainya.
Apapun bentuknya atau seberapa kecil intensitas sawan manten, tetapi hal itu tetap membekas dan memiliki pengaruh dalam perjalanan hidup pihak-pihak yang terlibat, khususnya bagi kedua calon pengantin. Bayang-bayang peristiwa memalukan saat berlangsungnya pesta pernikahan akan terus teringat sampai kapan saja. Setiap kali sanak saudara bertemu dengan kedua pengantin yang sudah menjadi suami isteri itu, akan terlintas dalam benak mereka peristiwa memilukan atau memalukan itu.
Pernahkah anda bertemu dengan sepasang suami isteri yang belum lama melangsungkan pernikahan dan terbersit dalam benak anda, “Ini dia pasangan suami isteri yang saat pesta pernikahannya terjadi keracunan massal.” Atau, pernahkah suatu ketika isteri anda berbisik pada anda, sambil menunjuk sepasang suami isteri, “Pak, itu kan si Fulan dan si Fulanah yang saat pesta pernikahannya hidangan pestanya kurang?” Singkatnya, suatu kejadian yang berkaitan dengan sawan manten disaat paling monumental bagi sepasang anak manusia pasti akan teringat selamanya.
Bagi yang bersangkutan, tentu akan sedikit menyakitkan bila mendengar komentar semacam itu. Tanpa diminta, ingatan akan membawa kembali pada saat terjadinya peristiwa itu, terutama bila berkaitan dengan peristiwa yang memilukan karena mengambil korban jiwa. Seperti misalnya calon pengantin yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas, baik lalu kecelakaan lalu lintas darat, laut maupun udara.� Oleh sebab itu, para orang tua biasanya mengingatkan putra-putrinya yang sedang mempersiapkan pernikahan untuk tidak melakukan perjalanan jauh.
Demikianlah, kasus-kasus seputar sawan manten terus berulang dari hari ke hari. Kadang suatu kasus hanya meninggalkan sedikit pengaruh psikologis pada pasangan calon pengantin yang telah disahkan menjadi sepasang suami-isteri, tetapi ada juga yang meninggalkan kesan mendalam dari suatu rasa malu atau rasa sedih yang sulit dihapuskan sepanjang hidup.
Untuk itu, seharusnyalah kita mulai waspada dan bersikap hati-hati saat menghadapi sebuah pernikahan. Sebab dalam sebuah pernikahan, terdapat ancaman dari kekuatan-kekuatan internal dan eksternal yang berusaha tanpa kenal lelah memanfaatkan celah-celah kelemahan manusia untuk menggagalkan usaha anak manusia membentuk keluarga baru. Lebih jauh tentang kekuatan-kekuatan internal dan eksternal ini akan dibahas pada bagian lain dari buku ini.

TENTANG SAWAN MANTEN - Bagian 1

No comments
DENDAM iblis kepada Adam yang membuatnya terusir dari surga, hingga sekarang masih membara. Sumpahnya untuk meneysatkan anak keturunan Adam sampai sekarang masih berlaku, maka ia mencanangkan misi penyesatan sepanjang hidupnya.
Fenomena Sawan Manten adalah salah satu bentuk kerja iblis untuk menyesatkan anak keturunan Adam dalam kaitannya dengan hidup berumahtangga. Fenomena ini banyak menimpa mereka yang tengah merancang bahtera rumah tangga. Dalam hal ini, misi diemban adalah menggagalkan anak manusia untuk membina keluarga atau memisahkan pasangan suami istri jika mereka sudah menikah.
‘Sawan’ banyak diartikan sebagai suatu penyakit ringan yang biasanya menimpa anak kecil. Namun secara praktis istilah tersebut juga sering digunakan masyarakat Jawa utnuk menggambarkan naas atau kesialan yang menempel pada diri seseorang. Dan Sawan Manten adalah naas atau kesialan yang menimpa calon pengantin atau keluarga menjelang atau pada saat akan dilaksanakan prosesi pernikahan.
KASUS TERUS BERULANG
PERNIKAHAN merupakan hal yang sangat ditunggu anak manusia. Sejak masa pubertas, keinginan anak manusia untuk membangun rumah tangga dengan lawan jenis pasangan hidupnya semakin lama semakin kuat seiring waktu yang dilaluinya. Hari demi hari dijalani dengan penuh semangat dan gairah menyongsong masa depan cerah. Sejak masa pubertas itu pula anak manusia belajar bersosialisasi dengan lawan jenisnya sebagai upaya mencari pasangan hidupnya.
Dalam perjalanan hidupnya, seorang laki-laki atau perempuan boleh jadi berganti-ganti pasangan atau pacar. Sejak menginjak SMA atau bahkan SMP, seorang remaja laki-laki atau perempuan mulai mengalami ketertarikan pada lawan jenis. Pada saat itu pula hari-hari dijalani dalam proses mencari pasangan hidup yang benar-benar disayangi dan menyayanginya.
Dalam proses tersebut ada yang menjalaninya dengan mulus, seakan tanpa hambatan berarti. Pasangan hidup yang ditemuinya saat menginjak remaja tidak berubah hingga keduanya sepakat untuk menikah. Namun ada juga yang terpaksa harus jatuh bangun merajut kembali jalinan asmara dengan beberapa lawan jenis yang berlainan setelah mengalami keretakan atau ‘pemutusan hubungan kekasih’. Tentu saja hal tersebut sangat menyakitkan, seperti yang dialami oleh Pat Kay, tokoh siluman babi dalam cerita Kera Sakti, yang mengalami ‘1001 siksaan cinta’.
Akhirnya, setelah mengalami proses panjang bersosialisasi dengan lawan jenis, seorang laki-laki atau perempuan menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya. Hal itu dilakukan setelah keduanya merasa sudah cocok dan memahami karakter masing-masing. Keduanya merasa tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan sepakat untuk mengikat hubungan mereka dalam sebuah pernikahan.
Babak baru dalam perjalanan cinta keduanya segera dimulai. Hal itu diawali dengan pinangan pihak calon pengantin laki-laki pada calon pengantin perempuan. Dalam tahap ini, orang tua kedua calon pengantin mulai terlibat dalam jalinan hubungan keduanya. Dengan kata lain, orang tua atau keluarga mulai turun tangan untuk mengikat kedua calon pengantin itu dalam sebuah pernikahan, dimana orang tua calon pengantin laki-laki maupun perempuan berharap, bahkan sangat berharap, rumah tangga keduanya akan berjalan langgeng, rukun dan sejahtera.
Tetapi, tepat setelah orang tua calon pengantin laki-laki melamar calon pengantin perempuan, dimulailah sebuah fenomena supranatural yang kemudian oleh masyarakat yang hidup dalam kultur Jawa dikenal sebagai ‘Sawan Manten’. Seperti ada kekuatan eksternal yang mempengaruhi, kesialan demi kesialan silih berganti menghampiri baik kedua calon pengantin maupun keluarganya. Mulai dari pertengkaran-pertengkaran kecil, emosi yang tidak stabil, hingga godaan-godaan dari lawan jenis yang menghadang kedua calon pengantin.
Berkaitan dengan fenomena sawan manten, ada beberapa kasus yang terjadi berulang-ulang dan menunjukan adanya pola dan skenario tertentu. Mungkin bagi sebagian besar orang kasus yang terjadi berulang-ulang itu merupakan kasus biasa yang terjadi secara kebetulan. Tetapi bagi sebagian orang hal itu sangat menarik untuk diamati dan dipetik pelajaran darinya.
Lebih jauh, menurut pengamatan penulis, pengaruh fenomena sawan manten ini mulai terasa efektif sejak keluarga calon pengantin pria mendatangi keluarga calon pengantin wanita dan secara resmi mengajukan lamaran pada calon pengantin wanita tersebut hingga 35 hari setelah akad nikah. Hal itu terlihat dari kasus-kasus yang menghiasi media massa berkenaan dengan fenomena sawan manten yang biasanya terjadi pada jarak waktu tersebut. Hampir sebagian besar kasus kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa dari rombongan pengantin terjadi dalam jarak waktu sejak terjadinya lamaran hingga 35 hari setelah pernikahan.
Jadi, dalam kaitannya dengan sawan manten, terdapat apa yang penulis sebut sebagai masa kritis, yakni jarak waktu yang mengandung bahaya atau naas yang mengancam calon pengantin atau sanak keluarganya. Massa kritis itu dimulai sejak diadakannya lamaran hingga 35 hari setelah upacara pernikahan dilangsungkan. Ada baiknya setiap pasangan pengantin baru untuk berhati-hati dan tidak berlaku sembrono. Bagaimanapun juga, tidak ada salahnya untuk bersikap hati-hati daripada menyesali ketika terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.

Ada Apa Di balik Bulan Sura

No comments

Monday, October 20, 2014

Bulan Sura adalah bulan pertama dalam kalender Jawa. Tanggal 1 Sura akan jatuh pada minggu depan ( 24 Oktober 2014 ). Secara lugas maknanya adalah merupakan tahun baru menurut penanggalan Jawa. Bagi pemegang tradisi Jawa  hingga kini masih memiliki pandangan bahwa bulan Sura merupakan bulan sakral. Berikut ini saya paparkan arti bulan Sura secara maknawi dan dimanakah letak kesakralannya.

MELURUSKAN BERITA “burung”
Tradisi dan kepercayaan Jawa melihat bulan Sura sebagai bulan sakral. Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam (batin) sepanjang bulan Sura aura mistis dari alam gaib begitu kental melebihi bulan-bulan lainnya. Tetapi sangat tidak bijaksana apabila kita buru-buru menganggapnya sebagai bentuk paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya  pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Musrik atau syirik berkaitan erat dengan cara pandang batiniah dan suara hati, jadi sulit menilai hanya dengan melihat manifestasi perbuatannya saja.  Jika musrik dan syirik diartikan sebagai bentuk penyekutuan Tuhan, maka punishment terhadap tradisi bulan Sura itu  jauh dari kebenaran, alias tuduhan tanpa didasari pemahaman yang jelas dan beresiko tindakan pemfitnahan. Biasanya anggapan musrik dan sirik muncul karena mengikuti trend atau ikut-ikutan pada perkataan seseorang yang dinilai secara dangkal layak menjadi panutan. Padahal tuduhan itu jelas merupakan kesimpulan yang bersifat subyektif dan mengandung stigma, dan sikap menghakimi secara sepihak. 

Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos, bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Seluruh penghuni masing-masing dimensi mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang bersimbiosis mutual, saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta sebagai upaya memanifestasikan rasa sukur akan karunia terindah dari Tuhan YME. Sehingga manusia bukanlah segalanya di hadapan Tuhan, dan dibanding mahluk Tuhan lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos Javanisme bahwa akal-budi ibarat pisau bermata dua, di satu sisi dapat memuliakan  manusia tetapi di sisi lain justru sebaliknya akan menghinakan manusia, bahkan lebih hina dari binatang, maupun mahluk gaib jahat sekalipun. 

Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan bumi ini berikut seluruh isinya untuk dimanfaatkan umat manusia.
Dalam tradisi Jawa sekalipun yang dianggap paling klenik sekalipun, prinsip dasar yang sesungguhnya tetaplah  PERCAYA KEPADA TUHAN YME. Di awal atau di akhir setiap kalimat doa dan mantra selalu diikuti kalimat; saka kersaning Gusti, saka kersaning Allah. Semua media dalam ritual, hanya sebatas dipahami sebagai media dan kristalisasi dari simbol-simbol doa semata. Doa yang ditujukan hanya kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Prinsip tersebut memproyeksikan bahwa kaidah dan prinsip religiusitas ajaran Jawa tetap jauh dari kemusrikan maupun syirik yang menyekutukan Tuhan.
Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tipikal tradisi Jawa kental akan penjelajahan wilayah gaib sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia terhadap lingkungan alam dan seluruh isinya. Lingkungan alam dilihat memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Lingkungan alam tidak sebatas apa yang tampak oleh mata, melainkan meliputi pula lingkungan yang tidak tampak oleh mata (gaib). Boleh dikatakan pemahaman masyarakat Jawa akan lingkungan atau dimensi gaib sebagai bentuk “keimanan“ (percaya) kepada yang gaib. Bahkan oleh sebagian masyarakat Jawa, unsur kegaiban tidak hanya sebatas diyakini atau diimani saja, tetapi lebih dari itu seseorang dapat membuktikannya dengan bersinggungan atau berinteraksi secara langsung dengan yang gaib sebagai bentuk pengalaman gaib. Oleh karena itu, bagi masyarakat Jawa dimensi gaib merupakan sebuah realitas konkrit. Hanya saja konkrit dalam arti tidak selalu dilihat oleh mata kasar, melainkan konkrit dalam arti Jawa yakni termasuk hal-hal yang dapat dibuktikan melalui indera penglihatan  maupun indera batiniah.

Meskipun demikian penjelasan ini mungkin masih sulit dipahami bagi pihak-pihak yang belum pernah samasekali bersinggungan dengan hal-hal gaib. Sehingga cerita-cerita maupun kisah-kisah gaib dirasakan menjadi tidak masuk akal, sebagai hal yang mustahal, dan menganggap pepesan kosong belaka. Pendapat demikian sah-sah saja, sebab tataran pemahaman gaib memang tidak semua orang dapat mencapainya. Yang merasa mampu memahamipun belum tentu tapat dengan realitas gaib yang sesungguhnya. Sedangkan agama sebatas memaparkan yang bersifat universal, garis besar, dan tidak secara rinci. Perincian mendetail tentang eksistensi alam gaib merupakan rahasia ilmu Tuhan Yang Maha Luas, tetapi Tuhan Maha Adil tetap memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk mengetahuinya walaupun sedikit namun dengan sarat-sarat yang berat dan tataran yang tidak mudah dicapai.

MISTERI BULAN SURA
     Bulan Sura adalah bulan baru yang digunakan dalam tradisi penanggalan Jawa.  Di samping itu bagi masyarakat Jawa adalah realitas pengalaman gaib bahwa dalam jagad makhluk halus pun mengikuti sistem penanggalan sedemikian rupa.  Sehingga bulan Sura juga merupakan bulan baru yang berlaku di jagad gaib. Alam gaib yang dimaksudkan adalah; jagad makhluk halus ; jin, setan (dalam konotasi Jawa; hantu), siluman, benatang gaib, serta jagad leluhur ; alam arwah, dan bidadari. Antara jagad fana manusia (Jawa), jagad leluhur, dan jagad mahluk halus berbeda-beda dimensinya.  Tetapi dalam berinteraksi antara jagad leluhur dan jagad mahluk halus di satu sisi, dengan jagad manusia  di sisi lain, selalu menggunakan penghitungan waktu penanggalan Jawa. Misalnya; malam Jum’at Kliwon (Jawa; Jemuah) dilihat sebagai malam suci paling agung yang biasa digunakan para leluhur “turun ke bumi” untuk njangkung dan njampangai (membimbing) bagi anak turunnya yang menghargai dan menjaga hubungan dengan para leluhurnya. Demikian pula, dalam bulan Sura juga merupakan bulan paling sakral bagi jagad makhluk halus. Mereka bahkan mendapat “dispensasi” untuk melakukan seleksi alam. Bagi siapapun yang hidupnya tidak eling dan waspada, dapat terkena dampaknya. 

Dalam siklus hitungan waktu tertentu yang merupakan rahasia besar Tuhan, terdapat suatu bulan Sura yang bernama Sura Duraka.  Disebut sebagai bulan Sura Duraka karena merupakan bulan di mana terjadi tundan dhemit. Tundan dhemit maksudnya adalah suatu waktu di mana terjadi akumulasi para dedemit yang mencari “korban” para manusia yang tidak eling dan waspadha. Karena pada bulan-bulan Sura biasa para dedhemit yang keluar tidak sebanyak pada saat bulan Sura Duraka. Sehingga pada bulan Sura Duraka biasanya ditandai banyak sekali musibah dan bencana melanda jagad manusia. Bulan Sura Duraka ini pernah terjadi sepanjang bulan Januari s/d Februari 2007.  

 Musibah banyak terjadi di seantero negeri ini. 1) Di awali tenggelamnya KM Senopati di laut Banda yang terkenal sebagai palung laut terdalam di wilayah perairan Indonesia. Kecelakaan ini memakan korban ratusan jiwa. 2) Kecelakaan Pesawat Adam Air hilang tertelan di palung laut dekat teluk Mandar, posisi di 40 mil barat laut Majene. 3) Kereta api mengalami anjlok dan terguling sampai 3 kali kasus selama sebulan. 4) Tabrakan bus di pantura, bus menyeruduk rumah penduduk. 5) Kecelakaan pesawat garuda di Yogyakarta. 6) Beberapa maskapai penerbangan mengalami gagal take off, gagal landing, mesin error dsb. 7) Jakarta dilanda banjir terbesar sepanjang masa. 8) Kapal terbakar di Sulawesi dan maluku. 9) Kapal laut di selat Karimun terbakar lalu tenggelam memakan ratusan korban berikut wartawan TV peliput berita. 10) Banjir besar di Jawa Tengah, Angin puting beliung sepanjang Pulau Jawa-Sumatra. Dan masih  banyak lagi kecelakaan pribadi yang waktu itu Kapolri sempat menyatakan sebagai bulan kecelakaan terbanyak meliputi darat, laut dan udara. 

Atas beberapa uraian pandangan masyarakat Jawa tersebut kemudian muncul kearifan yang kemudian mengkristal menjadi tradisi masyarakat Jawa selama bulan Sura.  Sedikitnya ada 5 macam ritual yang dilakukan menjelang dan selama bulan Sura seperti berikut ini;

1.  Siraman malam 1 Sura; mandi besar dengan menggunakan air serta dicampur kembang setaman. Sebagai bentuk “sembah raga” (sariat) dengan tujuan mensucikan badan, sebagai acara seremonial pertanda dimulainya tirakat sepanjang bulan Sura; lantara lain lebih ketat dalam menjaga dan mensucikan hati, fikiran, serta menjaga panca indera dari hal-hal negatif. Pada saat dilakukan siraman diharuskan sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan YME agar senantiasa menjaga kita dari segala bencana, musibah, kecelakaan. Doanya dalam satu fokus yakni memohon keselamatan diri dan keluarga, serta kerabat handai taulan. Doa tersirat dalam setiap langkah ritual mandi. Misalnya, mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan sebanyak 7 kali siraman gayung (7 dalam bahasa Jawa; pitu, merupakan doa agar Tuhan memberikan pitulungan atau pertolongan). Atau 11 kali (11 dalam bahasa Jawa; sewelas, merupakan doa agar Tuhan memberikan kawelasan; belaskasih). Atau 17 kali (17 dalam bahasa Jawa; pitulas; agar supaya Tuhan memberikan pitulungan dan kawelasan). Mandi lebih bagus dilakukan tidak di bawah atap rumah; langsung “beratap langit”; maksudnya adalah kita secara langsung menyatukan jiwa raga ke dalam gelombang harmonisasi alam semesta.

2.  Tapa Mbisu (membisu); tirakat sepanjang bulan Sura berupa sikap selalu mengontrol ucapan mulut agar mengucapkan hal-hal yang baik saja. Sebab dalam bulan Sura yang penuh tirakat, doa-doa lebih mudah terwujud. Bahkan ucapan atau umpatan jelek yang keluar dari mulut dapat “numusi” atau terwujud. Sehingga ucapan buruk dapat benar-benar mencelakai diri sendiri maupun  orang lain.

3.  Lebih Menggiatkan Ziarah; pada bulan Sura masyarakat Jawa lebih menggiatkan ziarah ke makam para leluhurnya masing-masing, atau makam para leluhur yang yang dahulu telah berjasa untuk kita, bagi masyarakat, bangsa, sehingga negeri nusantara ini ada. Selain mendoakan, ziarah sebagai tindakan konkrit generasi penerus untuk menghormati para leluhurnya (menjadi pepunden). Cara menghormati dan menghargai jasa para leluhur kita selain mendoakan, tentunya dengan merawat makam beliau. Sebab makam merupakan monumen sejarah yang dapat dijadikan media mengenang jasa-jasa para leluhur; mengenang dan mencontoh amal kebaikan beliau semasa hidupnya. Di samping itu kita akan selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Asal-usul kita ada di dunia ini adalah dari turunan beliau-beliau. Dan suatu saat nanti kita semua pasti akan berpulang ke haribaan Tuhan Yang maha Kuasa. Mengapa harus datang ke makam, tentunya atas kesadaran bahwa semua warisan para leluhur baik berupa ilmu, kebahagiannya, tanah kemerdekaan, maupun hartanya masih bisa dinikmati hingga sekarang, dan dinikmati oleh semua anak turunnya hingga kini.

Apakah sebagai keturunannya kita masih tega hanya dengan mendoakan saja dari rumah ? Jika direnungkan secara mendalam menggunakan hati nurani, sikap demikian tidak lebih dari sekedar menuruti egoisme pribadi (hawa nafsu negatif) saja. Anak turun yang mau enaknya sendiri enggan datang susah-payah ke makam para leluhurnya, apalagi terpencil nun jauh harus pergi ke pelosok desa mendoakan dan merawat seonggok makam yang sudah tertimbun semak belukar. Betapa teganya hati kita, bahkan dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk kemalasannya sendiri, bisa saja menggunakan alasan supaya menjauhi kemusyrikan. Padahal kita semua tahu, kemusyrikan bukan lah berhubungan dengan perbuatan, tetapi berkaitan erat dengan hati. Jangan-jangan sudah menjadi prinsip bawah sadar sebagian masyarakat kita, bahwa lebih enak menjadi orang bodoh, ketimbang menjadi orang winasis dan prayitna tetapi konsekuensinya tidak ringan.

4.  Menyiapkan sesaji bunga setaman dalam wadah berisi air bening. Diletakkan di dalam rumah. Selain sebagai sikap menghargai para leluhur yang njangkung dan njampangi anak turun, ritual ini penuh dengan makna yang dilambangkan dalam uborampe. Bunga mawar merah, mawar putih, melati, kantil, kenanga. Masing-masing bunga memiliki makna doa-doa agung kepada Tuhan YME yang tersirat di dalamnya (silahkan dibaca dalam forum tanya jawab). Bunga-bungaan juga ditaburkan ke pusara para leluhur, agar supaya terdapat perbedaan antara makam seseorang yang kita hargai dan hormati, dengan kuburan seekor kucing yang berupa gundukan tanah tak berarti dan tidak pernah ditaburi bunga, serta-merta dilupakan begitu saja oleh pemiliknya berikut anak turunnya si kucing.

5.  Jamasan pusaka; tradisi ini dilakukan dalam rangka merawat atau memetri warisan dan kenang-kenangan dari para leluhurnya. Pusaka memiliki segudang makna di balik wujud fisik bendanya. Pusaka merupakan buah hasil karya cipta dalam bidang seni dan ketrampilan para leluhur kita di masa silam. Karya seni yang memiliki falsafah hidup yang begitu tinggi. Selain itu pusaka menjadi situs dan monumen sejarah, dan memudahkan kita simpati dan berimpati oleh kemajuan teknologi dan kearifan lokal para perintis bangsa terdahulu. Dari sikap menghargai lalu tumbuh menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus bangsa agar berbuat lebih baik dan maju di banding prestasi yang telah diraih para leluhur kita di masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya, para pahlawannya, dan para perintisnya. Karena mereka semua menjadi sumber inspirasi, motivasi dan tolok ukur atas apa yang telah kita perbuat dan kita gapai sekarang ini. Dengan demikian generasi penerus bangsa tidak akan mudah tercerabut (disembeded) dari “akarnya”. Tumbuh berkembang menjadi bangsa yang kokoh, tidak menjadi kacung dan bulan-bulanan budaya, tradisi, ekonomi, dan politik bangsa asing. Kita sadari atau tidak, tampaknya telah lahir megatrend terbaru abad ini, sekaligus paling berbahaya, yakni merebaknya bentuk the newest imperialism melalui cara-cara politisasi agama.

6.  Larung sesaji; larung sesaji merupakan ritual sedekah alam. Uborampe ritual disajikan (dilarung) ke laut, gunung, atau ke tempat-tempat tertentu. Tradisi budaya ini yang paling riskan dianggap musrik. Betapa tidak, jikalau kita hanya melihat apa yang tampak oleh mata saja tanpa ada pemahaman makna esensial dari ritual larung sesaji. Baiklah, berikut saya tulis tentang konsep pemahaman atau prinsip hati maupun pola fikir mengenai tradisi ini. Pertama; dalam melaksanakan ritual hati kita tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Kedua; adalah nilai filosofi, bahwa ritual larung sesaji merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia, sehingga untuk melangsungkan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan alam.
Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Ketiga; selain kedua hal di atas, larung sesaji merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan bersifat kasat mata atau jagad fisik, maupun  gaib atau jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya,  bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.

Memaknai Bulan Suro 1947 ( 2014 masehi ) Dalam Pandangan Jawa Terhadap Situasi di Indonesia

No comments

Saturday, October 18, 2014

Sebentar lagi tahun Jawa 1947 Alip gunung dengan sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad akan segera berlalu. Sebelum meninggalkan tahun 1947 disampaikan sedikit ulasan sebagai evaluasi. Semoga ada manfaat yang dapat kita ambil dari berbagai peristiwa dan fenomena alam yang telah terjadi selama tahun 1947 Alip  atau 5 Nopember 2013 sampai dengan 25 Oktober 2014.

Sebelum mengulas Sura Pinunjul yang akan datang kita perlu flashback karena di antara kedua fase yang sedang berlangsung dan yang akan datang saling berkaitan erat secara runtut. Sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad mempunyai makna ganda yang meliputi dimensi makrokosmos dan mikrokosmos. Yakni makna yang menunjukkan fenomena yang terjadi pada alam semesta dan pada individu manusia. Panca agni dalam dimensi mikrokosmos atau diri manusia mempunyai makna bahwa selama rentang waktu tersebut terjadi kobaran “api” atau hawa nafsu angkara dari dalam diri manusia. Bergolaknya kobaran “api” itu telah membakar emosi dan hawa nafsu manusia. Kobaran itu lebih dirasakan dalam kancah politik makro. Di mana dinamika politik diwarnai dengan gejolak manusia untuk berkuasa dan saling memukul lawan, maupun “kawan”. Dalam scope yang lebih luas, “api” hawa nafsu telah “menembus bumi”, menyeruak sendi-sendi kehidupan sosial dan politik masyarakat. Hilangnya rasa malu dan takut dosa atau karma menjadi gambaran (sebagian)  manusia masa kini. Bahkan sangat ironis lambaian tangan dan senyum manis seolah menjadi ikon para pejabat koruptor yang sedang ditangkap KPK. Seolah mereka ingin membuat kesan dan pencitraan bahwa dirinya tetap pede karena menganggap penangkapan KPK sebagai hal yang lucu karena telah salah menangkap orang.

Sangat ironis, sepertinya orang sudah tidak ada lagi yang  merasa telah melakukan kesalahan besar atas bangsa dan negara ini. Dalih yang lazim dilakukan oleh para tersangka kejahatan penyalahgunaan wewenang adalah kata-kata bernada menyalahkan orang lain, misalnya akibat difitnah, dijebak atau terjebak. Tapi rakyat yang tak berdaya secara politik, tetap semakin pandai menilai keadaan sesungguhnya.

Bulan Sura tahun 1947 Alip atau 2014 masehi yang masih berjalan, masuk dalam siklus Sura Moncer, akan tetapi hari pertamanya jatuh pada weton tiba pati. Itu yang menjadi terasa berat sekali dalam meraih kehidupan “moncer” (sukses atau mukti). Bahkan bagi yang lengah, bukannya kamukten dan moncer yang didapat sebaliknya mendapatkan pati. Pati nasibnya, atau pati kesehatannya.

Itu menandakan, sesungguhnya selama tahun 1947 Alip, Nusantara dan setiap pribadi sedang berproses meraih kehidupan yang “moncer” atau sukses. Akan tetapi untuk mencapai tataran “moncer” orang harus melewati rintangan berat dan mematikan. Mati artinya bisa mati fisiknya atau mati non-fisiknya. Mati fisiknya adalah kematian raga. Mati non fisik di antaranya kematian nasib, kematian pola pikir, kematian jiwanya.  Sebagaimana telah saya posting setahun yang lalu dengan judul Sura Moncer 2014: Mukti Opo Mati. Kiprah manusia dalam kancah sosial, ekonomi, dan politik, didominasi oleh unsur api dari dalam diri atau hawa nafsu dan angkara murka. Dan api dari alam semesta, berupa sinar matahari yang terasa sangat panas, gunung berapi, semburan api dari dalam tanah, kebakaran hutan, hawa panas, terjadi silih berganti dengan banjir besar dan hujan salah musim. Selama fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad pada kenyataannya telah makan banyak korban. Sing sapa lena bakal kena, siapa yang kendor untuk bersikap eling dan waspada akan menerima akibatnya. Banyak politisi dan pejabat tumbang oleh kasus dan karena tidak mampu meredam sikap temperamennya sendiri. Bahkan dalam menjalankan kehidupan politik bernegara, Indonesia boleh dikatakan kurang sukses melaksanakan suksesi dengan menuai berbagai sikap pro-kontra yang cukup tajam.

Fase saat ini adalah fase jagad sedang bersih-bersih diri. Banyak tokoh-tokoh “hitam” yang dominan muncul meramaikan panggung politik Nasional. Kualitas legislatif dan eksekutif yang baru terpilih sangat beresiko lebih buruk dari sebelumnya. Hal itu wajar karena memang fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad ini merupakan fase untuk bersih-bersih dari yang kotor-kotor. Barulah kemudian akan tampil sang SP sejati. Apapun yang terjadi nanti, sebentar lagi siklus tahun Jawa akan berganti. Yakni warsa 1948 Ehe yang akan dimulai pada Sabtu Pahing 25 Oktober 2014. Diawali dengan bulan Sura Pinunjul yang jatuh pada hari Sabtu Pahing (18) atau tiba gedhong (kesinungan sugih dan kuat nyunggi drajat) merupakan momentum perubahan lebih baik lagi untuk kita semua.

PEREMPUAN Dalam Perspektif Ke-Jawa-an

No comments

Wednesday, October 15, 2014

Postingan  ini khusus saya persembahkan kepada pembaca Kabar Jogja Lho dan seluruh pemerhati gender, kepada seluruh pembaca yang budiman, untuk berbicara, memberikan sumbang sih, membahas, berdiskusi seputar falsafah hidup, pandangan, persepsi, terhadap kaum perempuan. Tentu saja hal ini akan membawa kita ke dalam khasanah ideologi gender –feminisme– di mana ideologi feminisme bermula dari adanya PENILAIAN yang dilakukan oleh (terutama) otoritas/kekuasaan/dominasi kaum laki-laki (maskulin) terhadap kaum perempuan. Pada gilirannya penilaian tersebut mengkonstruksi SISTEM NILAI, di mana di dalamnya terdapat cara pandang (mind set) masyarakat terhadap kaum perempuan. Sistem nilai yang telah mengakar ke dalam tatanan masyarakat, mengkristal menjadi sistem sosial yang berlaku menjadi pedoman hidup, yang “dibakukan” ke dalam norma sosial, bahkan seringkali norma sosial tentang feminisme dijustifikasi dan dilegitimasi melalui norma hukum (hukum positif).
Celakanya, ideologi feminisme, terkonstruksi bukan melalui mekanisme sosial yang bersifat OBYEKTIF, alias tidak berlagsung apa adanya secara alamiah. Sebaliknya ideologi feminisme lebih merupakan PRODUK dari DOMINASI MASKULIN. Produk yang bersumber dari kekuasaan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan. Bahkan seringkali dalam ranah spiritual, kaum perempuan tetap saja dipandang remeh atau prioritas kedua setelah kaum laki-laki. Dengan kata lain perempun sekedar berperan sebagai pelengkap penderita. Jika kita mau jujur mengakui, isi kitab suci pun memberikan kesan seolah tuhan itu berjenis kelamin laki-laki. Lebih parah lagi, pada akhirnya tak sedikit dari kaum perempuan sendiri pun ikut-ikutan memberikan penegasan dominasi maskulin, melalui berbagai stigma yang dilekatkan pada dirinya sendiri.
Walau begitu tidak seluruh sistem sosial demikian adanya, terutama di dalam tatanan sosial masyarakat modern, masyarakat dengan tingkat kemakmuran yang tinggi seperti negara-negara di belahan Skandinavia, Eropa Barat, beberapa wilayah Amerika Serikat, Latin. Namun terasa ideologi gender yang cenderung berat sebelah, menampakkan dominasi kaum laki-laki (patriarchard dan patrilineal) terjadi di negara-negara benua Asia meliputi Timur Tengah, China, Indonesia, India, Malaysia.
Sebagai bukti bahwa ideologi gender yang bersifat berat sebelah, tidak adil, tidak seimbang,  telah sedemikian dalam mengkonstruksi pola pikir masyarakat dunia, yakni dirasukinya isi kitab suci dengan dominasi nilai-nilai maskulin. Sementara itu nilai feminin hanya menjadi obyek penderita saja, sebagai subordinat dari otoritas konsep tuhan yang cenderung maskulinisme. Sehingga membuat imajinasi kita sulit sekali membayangkan tuhan sebagai figur perempuan, oleh karena doktrin agama yang telah dijejalkan bertubi-tubi sejak kecil, baik melalui telinga, mata, maupun hidung. Saya berandai-andai, jika tuhan adalah perempuan, sepertinya dunia ini akan lebih tenteram dan damai. Tak ada lagi perang antar agama. Karena kaum perempuan, kenyataannya tidak memiliki nafsu mendominasi, mengalahkan, menghancurkan, yang berujung pada peperangan  sebesar yang dimiliki kaum laki-laki.
Pada kenyataannya, manusia telah membuat definisi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian menampakkan kadar subyektif dan berat sebelah dalam menilai. Diakui atau tidak, munculnya stigma (“stempel” negatif) terhadap kaum perempuan, hanya berdasar penilaian pada sisiminus-nya saja, bukan pada sisi plus dan esensinya.

EMPU
Coba sekarang kita buka lagi lembaran lama khasanah spiritual nusantara. Di mana kaum wanita disebut sebagai PER-EMPU-AN. Empuadalah istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki daya linuwih, waskita, berilmu tinggi, ahli sastra, menguasahi ilmu kasampurnaning urip, pembuat suatu karya agung.  Maka sangatlah tepat para leluhur bangsa Nusantara ini memberikan istilah per-EMPU-an untuk kaum wanita, tidak hanya sekedar menyebutnya sesuai jenis kemaluannya saja, tetapi lebih mulia karena menyebutnya melalui aspek esensinya yang lebih manusiawi, dan sekaligus sebagai bentuk apresiasi rasa penghormatan tinggi terhadap kaum wanita. Ya…per-empu-an. Merupakan satu-satunya sebutan paling tepat dan hebat di muka bumi untuk menyebut kaum wanita.

" Pasrah dan Prihatin " Dalam Pandangan Sikap Hidup Orang Jawa

No comments

Monday, October 6, 2014

Orang yang prihatin bukan berarti selalu bersedih-sedih, tidak menikmati hidup, senantiasa berpuasa, bersemedi, tetapi prihatin berarti bersikap, berpikir dan bertindak dengan penuh kesederhanaan, sesuai dengan kemampuan & kompetensi masing-masing.

Sikap hidup orang Jawa yang diwarisi dari leluhurnya terjelma didalam lelaku dan usahanya untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup. Sikap hidup yang demikian itu tampak dan diwujudkan sebagai sikap ‘prihatin’, yang intinya sikap hidup yang sederhana tidak berfoya-foya menghamburkan waktu & uang atau melampiaskan hawa nafsu untuk mendapatkan kenikmatan semu yang sementara saja.

Ajaran keprihatinan mengandung unsur kesederhanaan yang senantiasa terjelma dalam tatanan kehidupan tradisi, budaya dan spiritual kejawen. Dengan prinsip keprihatinan dan kesederhanaan tersebut setiap orang pasti akan dapat mencapai sesuatu yang maksimal sesuai dengan tolok ukur dan kemampuan masing-masing pribadi, tidak dengan tolok ukur orang lain terutama untuk sesuatu yang sifatnya berlebihan dibandingkan dengan kemampuan pribadinya. Sikap laku prihatin diatas sejalan dengan sikap yang selalu bersyukur dan ikhlas menerima setiap karunia Illahi.

Ajaran tentang lelaku dan ngelmu kejawen juga menunjukkan konsep kesederhanaan dalam berpikir dan berbuat, intinya sebaiknya kita tidak memimpikan menggapai bintang dilangit, tetapi hendaknya meraih saja apa yang mampu kita raih, yaitu belajar ngelmu yang bermanfaat dan mampu menjadi bekal hidup dan sarana untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan alam kelanggenggan nantinya.

Berserah diri hakekatnya sama dengan “tapa ngeli” menghayutkan diri pada “aliran sungai” kehendak Hyang Widhi (kareping rahsa) yang akan menjamin kita sampai pada muara keberuntungan memasuki samodra anugrah Tuhan. Tapi orang kadang tanpa sadar telah salah pilih, menghanyutkan diri pada “air bah” (rahsaning karep/keinginan jasad) sehingga arahnya berbalik  meninggalkan samodra anugrah Tuhan menuju ke daratan, menyapu dan merusak apa saja yang dilewatinya. Menerjang wewaler, merusak kedamaian dan ketentraman, tata krama, aturan, dan segala macam tatanan.

Pun, bagi yang dapat melakukan “tapa ngeli” tetap harus sambil berenang (eling dan waspadha) agar tidak tewas tenggelam.  Bukan berarti, kita menyerahkan 100 % kemauan (inisiatif) kita kepada Tuhan. Karena sikap ini sama saja membangun sikap fatalistis. Lantas menganggap nasib buruk, kegagalan, penderitaan, kesulitan yang menimpa dirinya sebagai takdir Tuhan. Secara tidak sadar sikap itu seperti halnya mengkambinghitamkan Tuhan dan menafikkan tugas ihtiar manusia.

Berserah diri 100 % artinya kita tetap memiliki inisiatif untuk berjuang dan berusaha, hanya saja harus menempuh cara-cara atau prosedur yang mentatati rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Sebab letak kodrat ada di dalam prosedur dan cara-caranya, bukan pada garis nasib. Merubah nasib itu menjadi tanggungjawab kita sendiri. Hanya saja tata cara dan rumus-rumus merubah nasib, sudah disediakan Tuhan.

Bila kita menggunakan rumus Tuhan, pastilah akan menuai sukses besar. Sebaliknya akan menuai kerusakan diri sendiri, orang lain, dan bumi. Manusia jenis inilah yang menjadi seteru Tuhan.
Proses tetap menjadi tugas utama manusia. Kegagalan bisa jadi karena manusia tidak mentaati rumus Tuhan. Atau Tuhan sengaja menggagalkan upaya manusia sebab Tuhan maha mengetahui dan selalu menentukan yang terbaik untuk manusia.

Hidup ibarat seni, perlu manajemen seni untuk menjalankan irama kehidupan sehari-hari sesuai kehedak Tuhan. Kejadian yang sama belum tentu memiliki makna dan hikmah yang samapula. Itulah sulitnya menerjemahkan kehendak Tuhan, krn Tuhan “bekerja” dengan cara  yang misterius. Akan tetapi Tuhan Maha Adil, telah memberikan instrumen dalam jati diri kita berupa rahsa sejati dan guru sejati, sebagai alat paling canggih yang dapat menangkap bahasa isyarat dan kehendak Tuhan.  Sayangnya masih banyak orang yang belum mengenali instrumen dalam diri pribadi setiap manusia tersebut.

Kodrat meliputi rumus-rumus ilmu Tuhan yang Mahaluas tak terbatas.  Discovery, penemuan ilmiah bidang sains, teknologi dan knowledge, teori-teori filsafat, sosial ekonomi, politik, psikologi, kedokteran merupakan bukti nyata kesuksesan manusia dalam mengejawantah rumus-rumus (kodrat) dan kehendak Tuhan. Bahkan banyak di antara tokoh penemu sains dan teknologi, temuan mereka berkat diawali oleh sebuah ilham atau wisik gaib.

Kadang dengan didahului oleh kejadian unik yang menjadi jalan penunjuk ke arh penemuan baru. Dalam bahasa yang lebih ilmiah disebut sebagai talenta atau bakat alami. Seorang ilmuwan penemu, tidak akan tergantung apa sukunya, bangsanya, bahkan agamanya. Inilah salah satu bukti jika Tuhan itu tidak primordial, anti sektarian dan puritan. Tapi mengapa ya manusia sering kebangeten dengan berulah dan bertabiat kontraversi dengan “sikap” Tuhan tersebut ?

Sebagai bangsa yang agamis, harus berani jujur mengakui, telah kalah langkah dari orang-orang dan bangsa yang justru sering dianggap sekuler dan kafir yang kenyataannya mampu membuktikan diri berhasil menangkap rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Hal ini terjadi mungkin karena orang sibuk bertengkar gara-gara perbedaan nilai-nilai pada tataran “kulit”, sekedar “baju” . Sehingga hidupnya selalu dirundung rasa curiga mencurigai sesama (su’udhon).

Manakah yang lebih religius ? Mana pula yang sekedar agamis ? Jika kita tetap negatif thinking dan menutup mata, jangan menyalahkan siapa-siapa bila selamanya ketinggalan dalam segala hal dan jatuh dalam keterpurukan. Padahal, kenyataannya orang yang dapat meraih kemajuan dan kemuliaan hidup, adalah orang yang selalu berpikiran positif. Sebaliknya, tiada bosan-bosannya mengkritik diri sendiri.

Kawruh Jawa : Makna " Legi Legine Wong Ngemut Gula "

No comments

Wednesday, October 1, 2014

Pemirsa, pernahkah anda mendengar ungkapan ini? Bagi masyarakat jawa terutama yang menggeluti budaya Jawa pasti sudah, tapi saya yakin generasi sekarang terasa asing dengan ungkapan tersebut. Memang ungkapan ini tidak begitu terkenal seperti ungkapan - ungkapan lainnya.

Namun ungkapan ini memiliki makna yang dalam, terutama saat situasi jaman seperti sekarang ini, di mana korupsi terjadi di mana - mana, sementara pelayanan publik jauh dari memuaskan. Legi - legine wong ngemut gula arti harafiahnya kurang lebih manisnya orang mengulum gula. Legi : manis, legine : manisnya, ngemut : mengulum, gula : gula. Aji mumpung, kalau ungkapan ini saya yakin sudah biasa kita dengar.

Makna ungkapan legi - legine wong ngemut gula kurang lebih memiliki makna yang mirip. Jadi ungkapan ini digunakan untuk menggabarkan seseorang yang mengambil keuntungan pribadi sebesar - besarnya, tanpa mempedulikan kerugian orang lain.

Biasanya orang - orang yang diberi tugas/jabatan tertentu dan menggunakan jabatan itu untuk mengutungkan dirinya sendiri. mengambil keuntungan sebesar - besarnya saat ini, tanpa mempedulikan kepentingan hari esok. Pokoknya mumpung berkuasa, perkara nanti tidak dipikirkan sama sekali.

Tidak adanya pemikiran akan kepentingan hidup yang jauh ke depan. Pad situasi negara seperti sekarang ini, ungkapan ini sangat tepat untuk diangkat kembali. Para pamong praja, pejabat negera pelayan masyarakat hendaknya menjadi sadar dan berubah bijak bukan justru bersikap sebaliknya, legi - legine wong ngemut gula. Setelah berhenti dari jabatan, ternyata penjara telah menanti karena sikapnya yang lupa diri. Semoga ini jadi pengingat bagi para pejabat yang sedang berkuasa.

The Misuh ( 1 ) : Misuh Itu Soal Rasa

No comments

Tuesday, September 30, 2014


Ekspresi Misuh
Saat  matahari bersinar cukup terik, Kru  menemui R Bima Slamet Raharja SS MA atau yang akrab disapa Mas Bimo ini di rumahnya, Jalan Balirejo, Timoho, Yogyakarta. Tanpa basa-basi, beliau langsung memberikan pendapatnya mengenai definisi misuh.

“Misuh itu dalam Bahasa Jawa punya dua arti. Arti yang pertama, misuh dari kata wisuh, yang artinya mencuci, yang kedua misuh yang artinya mengeluarkan kata-kata yang kurang enak didengarkan, atau pun dirasakan.”

Mas Bimo yang sehari-harinya aktif mengajar di Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini berpendapat pisuhan itu bisa muncul dengan berbagai tujuan. “Misuh itu bisa dilakukan untuk mengekspresikan ketidaksukaan terhadap pihak lain, menyatakan kekaguman, atau bahkan untuk mengumpat diri sendiri karena menyesal atas perbuatan sendiri. Ia adalah bahasa verbal yang muncul apa adanya, karena situasi hati orang yang mengeluarkan kata-kata pisuhan.”

Seperti halnya bahasa, lanjutnya, pisuhan itu lahir karena adanya kesepakatan antara penggunanya. Kosa kata yang dipakai sebagai kata pisuhan pun berkembang seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia. Kata-kata yang mengacu pada bagian tubuh, hewan, atau profesi tertentu jadi berubah fungsi jadi kata pisuhan dan dikenal luas.

Bahkan, dalam seni tradisi seperti pewayangan, misuh juga dikenal, meski tidak sembarangan dipakai, tergantung strata sosial dalam pertunjukkan wayang tersebut. Penggunaannya bisa secara langsung mau pun berupa sindiran (dalam bahasa Inggris disebut sarcasm.

“Kalau misuh itu disebut tradisi, memang benar, karena misuh itu sesuatu yang diturunkan, walau secara etika misuh jelas tidak pantas,” jelas pria kelahiran 24 Januari, 31 tahun yang lalu ini.
“Di dalam masyarakat kita, misuh itu sudah menjadi kebiasaan yang umum. Masalah bermoral tidaknya itu tergantung bagaimana masing-masing individu menyikapinya, karena masing-masing individu tumbuh dan berkembang di lingkungan pergaulan yang beda satu dengan yang lainnya.”
Sebenarnya, apa sih yang membuat pisuhan itu kasar, Mas?

“Yang jelas, kasar tidaknya pisuhan itu dimunculkan dari rasa yang dilahirkan dari si pengucap kata pisuhan. Bahasa itu memunculkan rasa, kalau kita terbiasa menggunakan bahasa yang halus, pasti orang akan menganggap kita pribadi yang halus dan santun.

Nah, kalau kita terbiasa menggunakan bahasa kasar seperti pisuhan, pasti orang memandang kita sebagai orang yang kasar. Selain itu, tentu saja situasi dan tempat juga akan mempengaruhi,” jawabnya.

Untuk perilaku misuh di lingkar pergaulan remaja, menurut Mas Bimo, ini adalah hasil dari budaya tiru yang diterima oleh remaja secara komunal. Ketika seorang remaja masuk ke dalam komunitas-komunitas yang ia temui, pasti ada satu istilah yang hanya dipahami oleh komunitas itu sendiri, salah satunya istilah yang digunakan untuk misuh.

“Ya di situ gaulnya remaja, ketika dia mengenal dan menggunakan kata-kata pisuhan, ada keakraban antar teman. Dan biasanya tiap daerah berbeda dalam menentukan kriteria gaul itu, karena tentu saja ada perbedaan budaya dan bahasa di setiap daerah,” ujarnya. *** Citta

FALSAFAH PANUNGGALAN DALAM ILMU JAWA

No comments

Sunday, September 21, 2014

Wacana pemikiran ini dari ranah ‘panggraita pribadi’ dan ‘spiritual forecasting’ (penerawangan batin, istilah alm. Prof. Budyapradipta – UI). Karena itu lontaran wacana pemikiran saya perlu pengkajian dan penelisikan secara logic rasional lebih lanjut.

Wacana ‘panggraita’ saya ini berpijak kepada ‘jejak peradaban Jawa’ yang masih ada dan berlaku sampai saat ini, namum tidak/belum ada penelitian ilmiah akademik. Kalau toh ada, selalu dalam nuansa ‘kooptasi budaya/peradaban’ asing dan bermuara pada kesimpulan budaya/peradaban Jawa sebagai ‘turunan’ (derivate) budaya dan peradaban Hindu dan Islam. Dengan kata lain, Jawa tidak pernah berbudaya sebelum ‘tersebari’ budaya/peradaban India (melalui sebaran agama Hindu/Buda) dan budaya/peradaban Arab/Ngatas Angin (melalui sebaran agama Islam).

Anggapan kebanyakan peneliti Jawa dan ke-Jawa-an yang demikian terasa ‘menyakitkan’ mengingat adanya unsur-unsur budaya/peradaban Jawa yang bertingkat tinggi yang diabaikan dan tidak pernah ‘digarap’. Dengan kemampuan seadanya saya menekuni wilayah kebatinan untuk menggali jatidiri saya yang Jawa. Ketemunya adalah sistim atau falsafah Panunggalan sebagai dasar budaya dan peradaban Jawa. Unsur-unsur budaya/peradaban asli Jawa dimaksud adalah:
- Sistim Religi yang khas Jawa: ‘Sesembahan (Tuhan) tan kena kinayangapa nanging nglingkupi lan murbawasesa jagad saisine’ yang diikuti konsep Panunggalan: ‘Manunggaling Kawula Gusti’.
- Konsep ‘Sedulur Papat Kalima Pancer’ sebagai konsep panunggalan struktur roh yang tidak ada dalam ajaran agama apapun.

- Sistim penanggalan Jawa ‘Panunggalan’ yang mengandung ‘petung’ (analisis) keadaan ‘alam semesta’ sebagai dasar penentuan ‘ala ayuning dina’.
- Sistim pranata sosial dan sistim pemerintahan ‘Panunggalan’ yang berbasis budaya/peradaban ‘Agraris Pertanian Sawah/Padi’. Diantaranya berupa sistim ‘kabuyutan’ yang merdeka berdaulat namun saling mengikatkan diri dalam ‘panunggalan’ guna menggapai kesejahteraan bersama dan perdamaian antar komunitas. Jejak yang masih ada sampai saat ini berupa penggiliran keramaian pasar berdasar hari pasaran (Kliwon, Legi, Paing, Pon, Wage).

Ketika mencoba menelusuri seluk beluk hal-hal tersebut di atas, saya ketemukan suatu kenyataan bahwa semuanya didasarkan kepada suatu sistim atau falsafah ‘Panunggalan’ sebagai ‘turunan’ sistim yang membangun ‘alam semesta’. Antar semua unsur di alam semesta saling berhubungan secara ‘kosmis magis’ sebagaimana ‘hubungan antar jaringan sel dalam membangun tubuh manusia hidup’. Hubungan ‘kosmis magis’ tersebut dipurbawasesa Kang Murbeng Dumadi sebagaimana hubungan antar sel dalam jaringan tubuh manusia dipurbawasesa oleh ‘Ruh’ atau ‘Sang Urip’.

Sistim Religi Panunggalan
Berbagai pernyataan para ahli, Kejawen merupakan sinkretisme: Hindu-Islam-Kepercayaan Jawa. Demikian pula agama Syiwa-Buda di jaman Majapahit dikatakan sebagai sinkretisme agama Hindu Syiwa dan Budha. Wacana seperti itu yang (barangkali) membuat para ahli sejarah menyatakan bahwa Jawa dikatakan ‘bersejarah’ dimulai sejak masuknya budaya dan peradaban India. Masa sebelumnya dinyatakan sebagai ‘jaman prasejarah’ dengan kepercayaan animisme.

Tanda kepercayaan animisme disebutkan berupa tempat bersembah kepada arwah leluhur pada ‘bangunan berundak’. Wacana yang demikian menjadikan lahirnya pendapat umum bahwa Jawa belum ber-Tuhan ketika belum masuknya agama-agama dari Asia Daratan. Wacana yang demikian yang mengganggu pikiran saya sebagai orang yang terkodratkan sebagai ‘wong Jawa’. Karena itu, saya memasuki wilayah ‘penekunan kebatinan’ Jawa untuk mencari jawab terhadap pendapat ‘Jawa belum ber-Tuhan sebelum menerima sebaran agama-agama dari Asia Daratan.’


Pada petualangan dan penjelajahan di ranah penekunan kebatinan ini, saya bertemu dengan konsep falsafah ‘Panunggalan’. Kalimat pentingnya berupa “Manunggaling Kawula Gusti”. Sungguh mengejutkan bahwa pada konsep ini mengajarkan adanya ‘kesatuan’ antara ‘Dzat Tuhan’ dengan alam semesta berikut isinya, termasuk manusia. Makna pengertian mudahnya, ada ‘Dzat Tuhan’ (sebagai Gusti) pada diri manusia (sebagai Kawula). Dengan dasar pengertian awal yang demikian, maka saya pahami bahwa maksud ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah upaya manusia mengoperasionalkan ‘kesadaran’ sebagai ‘kawula’ dalam berkontribusi ikut ‘menyangga’ panunggalan semesta. Dalam ranah ajaran Kejawen disebut ‘melu memayu hayuning bawana’.

Sedemikian rupa pengenalan saya terhadap sistim panunggalan hingga memahami struktur hubungan yang disebut dalam unen-unen ‘Manunggaling Kawula Gusti’ tersebut. Struktur hubungannya sebagaimana hubungan yang saya kenali sebagai hubungan ‘inti-plasma’ yang dalam istilah Jawa dinyatakan sebagai hubungan ‘pancer-mancapat’. Bangun hubungan dimaksud mulai unsur terkecil (misalnya: atom) sampai yang besar tak terhingga (misalnya: alam semesta). Semua terbangun dalam hubungan yang harmonis ‘inti-plasma’ atau ‘pancer-mancapat’.

Sistim religi yang demikian kiranya tidak kita ketemukan dalam ajaran agama apapun. Dan juga tidak bisa kita ketemukan ‘pakem’ panembah (ritual sembah) kepada Tuhan oleh manusia, karena adanya pengertian dan kesadaran bahwa manusia adalah ‘derivasi’ Tuhan. Yang dalam istilah Jawa dinyatakan: “Kawula iku rahsaning Gusti, Gusti rahsaning Kawula”. Oleh karena itu, ritual Jawa yang selama ini dianggap ritual sembah, ternyata merupakan ‘ritual panunggalan’ yang ditujukan kepada sesama ‘Kawula’ atau ‘titah dumadi’ ciptaan Tuhan. Ritual panunggalan dimaksud sebagai upaya mewujudkan keharmonisan (keselarasan) dalam hidup bersama. Baik sesama umat manusia maupun sesama ‘titah dumadi’ yang diciptakan dan ‘dikodratkan’ untuk tinggal bersama-sama di alam semesta.

Dengan demikian, sangat gampang dimengerti adanya anggapan Jawa terhadap semua ‘titah dumadi’ sebagai saudara sebagaimana disebut dalam ‘Wejangan Paseksen”:
Yaiku wejangan jumenenge urip kita pribadi angakoni dadi “warganing Pangeran Kang Sejati” kinen aneksekake marang sanak sedulur kita, yaiku: bumi, langit, srengenge, rembulan, lintang, geni, angin, banyu, lan sakabehing dumadi kang gumelar ing jagad.

Pada masyarakat Jawa yang basis budaya dan peradabannya pada ‘pertanian sawah’, maka simbul ‘pusat kehidupan bersama’ adalah ‘patirtan’ (sumber mata air). Maka ‘ritual kehidupan bersama’ selalu berpusat kepada ‘patirtan’. Pada patirtan-patirtan diselenggarakan ritual yang diantaranya memberikan sesaji. Juga diberi penanda ‘kesakralan’ berupa patung ‘lingga-yoni’. Dan, memang merupakan kekhasan Jawa yang selalu memberi patung lingga-yoni pada tempat-tempat yang diposisikan ‘sakral’ atau kuat ‘pancaran enerji kosmis bumi’-nya.

Oleh suatu proses sejarah terjadi ‘penyebaran’ agama Hindu dan Buda dari India. Kedua agama tersebut kemudian dipeluk para elit yang ada di Jawa. Maka ada ‘proses’ kooptasi terhadap ‘Sistim Religi Jawa’ yang asli oleh agama Hindu dan Buda. Tempat-tempat sakral yang semula bertanda ‘patung lingga-yoni’ atau bangunan berundak di-Hindu-kan dan di-Buda-kan. Diantaranya dengan cara memisahkan patung lingga dari yoni, atau dijadikan bagian dari kompleks percandian.
Sebuah sistim religi asli tidak mudah hilang atau lenyap. Maka meskipun orang Jawa sudah banyak menjadi pemeluk agama-agama dari luar, realitas yang ada berupa ‘ritual’ atas dasar ‘panunggalan’ masih berjalan hingga saat ini meskipun sudah ada perubahan-perubahan. Diantaranya berupa ritual bersih desa, slametan kelahiran bayi, slametan pengantenan, dan slametan orang meninggal. Berbagai ‘ritual slametan’ tidak dikenal pada ajaran agama apapun.

Maka meskipun banyak anggapan/penilaian bahwa ‘slametan’ merupakan perbuatan syirik atau bid’ah, orang Jawa masih ‘ngeyel’ menyelenggarakan. Nampaknya tidak takut ancaman ‘neraka’ dan lebih takut mendapat ‘aral hidup’ ketika tidak mau menjalankan ‘ritual slametan’. Demikian pula ritual ‘bersih desa’ yang bermetamorfosa menjadi tradisi ‘Sadranan’ dan ‘Apitan’, sampai saat ini diselenggarakan banyak desa. Bersih desa berubah menjadi ‘bersih kubur’, upacara slametan ‘digiring’ dari patirtan ke kuburan kemudian ke halaman masjid dan ujung-ujungnya ‘diarahkan’ untuk ditinggalkan karena dianggap ‘bertentangan’ dengan ajaran agama. Sebagian desa sudah meninggalkan ritual itu namun sebagian masih menyelenggarakan karena takut mendapat ‘walat’ dari yang ‘mbau reksa’ desa.

Sistim Religi Panunggalan menyatakan bahwa ‘penciptaan’ alam semesta dari ‘antiga’ (bebakalan) yang kemudian dijadikan tiga unsur oleh ‘Kang Murbeng Dumadi’, berupa: bumi lan langit (materi), cahya lan teja (cahaya terindera dan yang tidak terindera). Dan Manikmaya (Ruh alam semesta, Sejatining Urip). Ketiganya merupakan ‘pangejawantahan’ (emanasi, derivasi) dari Kang Murbeng Dumadi. Manikmaya dijelaskan terdiri dari Hyang Manik dan Hyang Maya. Hyang Manik simbul ‘pengendali’ alam semesta, sedang Hyang Maya sebagai ‘pamomong’ jagad. Kedua Hyang tersebut yang kemudian mengendalikan dinamika alam semesta. Yang dalam pewayangan disimbulkan sebagaimana peran Bethara Guru dan Semar.


Sistim Religi Panunggalan sebagaimana saya uraikan, kiranya tidak sama dengan Hinduisme atau Budaisme, tetapi juga bukan animisme. Bahkan sangat jelas ekspresi ber-Tuhan (kesadaran religius) meski dianggap bukan agama. Dengan demikian, diperlukan kajian mendalam tentang ‘sistim religi Jawa’ sebelum divonis sebagai animisme.

Demikian pula perlu dikaji kembali tentang wacana memasukkan ‘sistim religi asli’ Jawa sebagai agama ‘Syiwa-Buda’ yang merupakan sinkretisme agama Hindu Syiwa dengan Buda. Panggraita saya, bahwa ‘sistim religi asli Jawa’ sedemikian rupa bisa ‘ngemot’ berbagai sistim religi sehingga dianggap sebagai ‘perpaduan’ agama Hindu Syiwa dengan agama Buda. Anggapan seperti itu, sangat jelas menggambarkan kalau orang Jawa (Nusantara) tak mengenal sistim religi sebelum mendapat sebaran agama Hindu dan Budha. 
Sementara bukti nyata di tengah masyarakat, setelah agama Hindu dan Buda surut dari bumi Jawa (Nusantara) tidak meninggalkan komunitas Hindu maupun Buda yang signifikan. Bahkan agama asli Bali yang semula bernama agama Tirta juga dinyatakan sebagai agama Hindu.
Kiranya banyak hal yang ‘bias’ terjadi dalam menilai sistim religi Jawa oleh para peneliti budaya, peradaban, maupun keagamaan. Bias-bias tersebut lebih banyak dikarenakan tidak tahu atau kesengajaan demi berbagai kepentingan, utamanya untuk ‘penjajahan’.

Sedulur Papat Kalima PancerAwal mula saya ‘tertarik’ dengan ‘falsafah panunggalan’ karena sering mendapatkan piwulang dan pitutur untuk selalu memule (memuliakan) ‘sedulur papat kalima pancer’. Suatu istilah yang begitu rumit untuk saya pahami karena yang dimaksud ‘sedulur papat kalima pancer’ adalah ‘struktur ruh’ manusia. Pancer adalah ruh manusianya, sedulur papat adalah ruh dari ‘ketuban, placenta, darah, dan puser’. Dinyatakan pula bahwa ruh ‘ketuban-placenta-darah-puser’ merupakan ‘penghubung spiritual’ ruh manusia dengan ruh alam semesta yang diperlambangkan dengan unen-unen ‘jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’.

Penajaman piwulang tersebut menyatakan bahwa jumbuhing (hubungan spiritual) dimaksud atas kendali ‘Kang Murbeng Dumadi’ yang kemudian diperlambangkan sebagai ‘Manunggaling Kawula Gusti’. Maknanya, bahwa ‘panunggalan semesta’ (panunggalan jagad saisine termasuk manusia) dilingkupi dan di-‘purbawasesa’ oleh Kang Murbeng Dumadi (Tuhan).

Dalam banyak hal, sedulur papat kalima pancer ini maunya ‘diadobsi’ oleh beberapa ajaran agama. Tetapi tidak pernah ‘nyambung’ karena menjadi aneh. Dalam agama Hindu, sedulur papat maunya disamakan dengan 4 dewa penunggu ‘janin’ dalam kandungan. Dalam Islam sedulur papat ‘disamakan’ dengan 4 nafsu: Amarah, Luamah, Sufiah, Mutmainah. Bahkan di awal penyebaran Islam di Jawa ada upaya menyamakan 4 dewa dalam agama Hindu dengan 4 malaikat dalam khasanah Islam: Jibril, Mikhail, Israfil, dan Ijrail. Uniknya keempat nama malaikat tersebut ditulis dalam aksara Jawa nglegena sebagai: Jâbârâlâ, Mâkâhâlâ, Hâsârâpâlâ, dan Hâjârâlâ. Nama-nama malaikat Islam versi Jawa ini terdapat di ‘kepek pedalangan’ untuk ruwatan dan tertulis dalam aksara Kawi (Ngawi Gaib).

Dalam ajaran Jawa, yang disebut ‘sedulur papat kalima pancer’ itu sangat jelas dan membumi. Yang dimaksud adalah struktur roh manusia dan hubungannya dengan alam semesta. Ketika manusia (dan semua mahluk hidup) masih dalam kandungan atau berupa telur ‘dilengkapi’ sebentuk jaringan sel yang bersamaan terciptanya ketika terjadi ‘pembuahan’. Pada manusia atau binatang menyusui, jaringan sel itu berupa: air ketuban (kawah), placenta (ari-ari, aruman), darah dan tali pusat (puser). 

Semua jaringan sel itu berfungsi sebagai penghubung janin dengan alam semesta yang diwakili oleh ‘raga’ ibu/induk-nya. Ketika janin lahir menjadi bayi, tugas/fungsi fisik semua jaringan penyerta di rahim ibu/induk berakhir. Namun pada pandangan Jawa, yang berakhir itu Cuma bentuk fisik, sementara bentuk ‘ruh’ terus belanjut. Ruh-ruh jaringan penyerta terciptanya janin tersebut kemudian menyatu dan menjadi mancapat (plasma) bagi roh si mahluk yang sudah berpindah alam, dari kandungan ke bumi/alam semesta. Maka sebagaimana fungsinya dulu di dalam kandungan, maka ruh-ruh penyerta terciptanya tersebut juga menjadi penghubung ruh si mahluk dengan ruh alam semesta. Maka menjadi tidak mudah dipahami ketika ‘sedulur papat’ dimaksud disamakan sebagai ‘dewa’ (dalam hinduisme) atau malaikat (dalam teologi Timur Tengah). Lebih-lebih memposisikan bahwa ‘sedulur papat’ sebagai ‘utusan Tuhan’ atau disamakan dengan ‘empat nafsu’.
Barangkali yang mendekati makna ‘sedulur papat Jawa’ adalah ‘malaikat pribadi’ yang disebut novelis Paulo Coelho dalam beberapa cerita roman spiritualisnya….

Petung Panunggalan dalam Sistim Penanggalan
Kiranya hanya Jawa yang memiliki ‘sistim petung’ berdasarkan unsur-unsur penanggalan (kalender). Meski di Bali ada juga sistim petung tersebut yang disebut ‘Wariga’, namun sistim itu diakui berasal dari Jawa. Dan literatur rujukan ‘Wariga’ di Bali adalah ‘Lontar Medang Kamulan’ yang isinya cerita tentang Prabu Watugunung di negeri ‘Kundhadwipa’. (Sundha Dwipa ?)

Cerita itu merupakan catatan lahirnya wuku (pekan, minggu) dalam sistim kalender Jawa. Unsur-unsur (perabotan) wuku diantaranya yang terpenting: Pancawara (siklus 5 hari: Kliwon, Legi, Paing, Pon, Wage), Sadwara (siklus 6 hari: Tungle, Aryang, Wurukung, Paningron, Uwas, Mawulu), dan Saptawara (siklus 7 hari: Radhite, Soma, Anggara, Buddha, Wrahaspati, Sukra, dan Saniscara). Ketiga siklus (5,6,7) digabung menjadi satu dalam siklus wuku selama: 210 hari.

Siklus pancawara (5 hari) dan sadwara (6 hari) bisa dipastikan dari Jawa/Nusantara, karena tidak ada negeri atau bangsa lain mengenal perhitungan siklus itu. Meski belum bisa dipastikan siklus ‘saptawara’ berasal dari Jawa/Nusantara, namun ada jejak yang bisa untuk dikaji. Siklus perhitungan hari pada kenyataannya sudah dicantumkan dalam banyak prasasti maupun kakawin di Jawa/Bali.
Masyarakat Jawa basis budayanya adalah pertanian sawah maka sangat mengenal dinamika perubahan situasi dan kondisi alam karena ‘budidaya pertanian’ membutuhkan pengenalan perubahan-perubahan musim. Karena itu, di Jawa kalender yang digunakan bukan sebagai pencatat suatu kejadian semata, tetapi juga berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari.

Oleh karena itu, di Jawa dikenal adanya kalender ‘surya sangkala’ (solar, berdasar peredaran bumi mengelilingi matahari), kalender ‘candra sangkala’ (lunar, berdasar perdaran bulan mengelilingi bumi), dan kalender ‘Pawukon’ (petung, gabungan siklus Pancawara, Sadwara, dan Saptawara). Ketiga kalender Jawa tersebut digunakan secara terpadu pada prasasti atau kakawin.
Yang menarik, dalam petung kalender Pawukon, masing-masing unsur ditempatkan pada posisi (dunung, Jw.) yang mengikuti ‘sistim panunggalan’, pancer-mancapat (inti-plasma), diantaranya:
Kiblat & Pancer untuk Pancawara & Saptawara :
Lor
Wage
Rebo & Kemis
|
|
Kulon _________ Tengah ___________ Wetan
Pon Kliwon Legi
Senen & Selasa Jumuwah
|
|
Kidul
Paing
Saptu & Minggu (Ahad)
Dununging (Posisi) Wuku :
Utara
8 Warigagung, 18 Marakeh
28 Kulawu
Barat Laut Timur Laut
5 Tolu, 15 Julungpujut, 1 Shinta, 11 Galungan,
25 Bala 21 Maktal
Atas 7 Warigalit, 17 Kuruwelut,
27 Wayang
Barat Timur
2 Landhep, 12 Kuningan 10 Sungsang, 20 Madhangkungan
22 Wuye 30 Watugunung
Bawah
4 Kurantil, 14 Mandasiya
24 Prangbakat
Barat Daya Tenggara
9 Julungwangi, 19 Tambir, 3 Wukir, 13 Langkir,
29 Dukut 23Manail
Selatan
6 Gumbreg, 16 Pahang
26 Wugu
Penempatan posisi (dunung) Weton (Pancawara & Saptawara) dan Pawukon pada sistim panunggalan merupakan panduan untuk menghitung (petung) yang berkaitan dengan wariga (ala ayuning dina). Dan posisi (dunung) dimaksud sesuai dengan arah posisi berbagai benda angkasa yang dipandang dari ‘posisi tengah’, Nusa Jawa. Bukan dari India atau China. Dengan demikian, petung kalender Panunggalan semakin pasti berasal dari Jawa. Dan dikarenakan menurut dongeng atau lontar-lontar yang terwariskan, petung kalender tersebut lahir di Negeri Medhang Kamulan, maka boleh disebutkan bahwa falsafah/sistim panunggalan adalah warisan Medhang.

Panunggalan Pranata Sosial dan PemerintahanPiwulang Kejawen ‘Panunggalan’ ini kemudian ‘diturunkan’, ‘diekspresikan’, dan ‘melandasi’ semua pakem (ajaran) ‘lakuning urip’ wong Jawa. Bahwa pada hubungan antara ‘pancer’ (inti) dengan mancapat (plasma) bersifat ‘kosmis-magis’. Sangat sulit dijelaskan namun riil nyata. Pengibaratannya: hubungan semua unsur alam semesta sebagaimana hubungan antar jaringan sel dalam membangun ‘manungsa urip’. Yang mampu saya tarik makna pemahamannya, bahwa ekspresi dan landasan budaya/peradaban Jawa mengutamakan ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ (harmoni). Yang seperti ini bukan hanya ada di ranah wacana (teori) semata, tetapi diujudkan dalam praktek kehidupan. Misal dalam membangun sistim ‘pemerintahan yang teratur’ maka sel-sel unsur panunggalan berupa ‘kabuyutan’ (paradesa) yang merupakan daerah perdikan (merdeka berdaulat), namun saling ‘berhubungan’ dengan azas : ‘kesetaraan’, ‘perdamaian’, dan menuju kepada ‘kesejahteraan bersama’.

Membangun sistim pemerintahan yang teratur yang menuju kesejahteraan diekspresikan dengan cara membangun sistim pranata sosial ekonomi yang mampu mencakup seluas-luasnya wilayah. Maka di Jawa ada sistim ‘penggiliran keramaian pasar’ yang menggunakan kalender khas Jawa, ‘Pasaran’ (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage). Azas panunggalan juga diterapkan dalam membangun jaringan pasar ini. Pada umumnya (jaman dahulu), pusat komunitas (misal ibukota Kabupaten) hari pasarannya Kliwon. Hari pasaran lain digunakan untuk keramaian di pasar-pasar sekeliling (pasar plasma) pusat komunitas. Namun ‘pasar plasma’ tersebut juga merupakan ‘plasma’ jaringan pasar dari pusat komunitas lain. Contohnya: pasaran Legi di Prambanan merupakan plasma dari jaringan berpusat di Kliwon untuk Klaten, Kliwon untuk Wonosari Gunung Kidul, dan Kliwon untuk Bantul Yogya. Pasaran Wage di Pedan merupakan plasma Kliwon Klaten, Delanggu dan Wonosari Gunung Kidul. Pasaran Pon Ambarawa merupakan plasma dari pusat komunitas (Kliwon) di Salatiga, Magelang, dan menuju Semarang (kalau masih ada).


Meski masih pengamatan (butuh pembuktian) bisa dipetakan bahwa sistim penggiliran hari pasaran tersebut merupakan ‘jejaring’ kegiatan pasar (ekonomi) yang cerdas, demokratis, dan ‘tahan banting’ (sampai saat ini masih berjalan). Pengamatan selanjutnya, jejaring pasar tersebut mencakup wilayah hulu (pedalaman) hingga ke hilir (bebandaran, pesisir). Dengan demikian, di peradaban Jawa sejak kuno sudah memiliki sistim pranata sosial ekonomi yang ‘canggih’. Adanya jaringan pasar sudah pasti ada jaringan sarana dan prasarana transportasi. Maka kemungkinan pembangunan jalan raya Daendels pada dasarnya sekedar melakukan pengerasan jalan dan membangun jembatan untuk menggantikan ‘jembatan tambang’ (penyeberangan) sungai saja.
Demikian pula, bisa dipahami adanya keramik Cina dan kaca Persia di Prambanan (pedalaman Jawa) karena sudah sejak jaman kuno ada jaringan pasar dan transportasi tersebut.

Hari Pasaran (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage) adanya hanya di bumi Jawa yang saya berpendapat adalah wilayah budaya dan peradaban ‘Medhang Kamulan’. Maka meskipun penggiliran hari pasaran (pancawara) dikenal di Bali, Sundha, dan tempat lain di Nusantara, akan kita ketahui sumbernya selalu menyebut nama negeri ‘Medhang Kamulan’. Yang nyata tertulis ada di Bali, yaitu pada ‘Lontar Medhang Kamulan’. Meski perkembangannya disinergikan dengan Hindu (budaya dan peradaban India), kenyataan yang terwariskan sampai sekarang hari pasaran asal Jawa di Bali itu berbahasa Jawa Kuna. Tidak ada yang berbahasa Sanskerta atau bahasa India lainnya.

Peradaban yang sudah mengenal adanya pasar untuk bertransaksi merupakan peradaban yang maju dan ‘teratur tertib’. Karena adanya pasar sebagai tempat bertransaski merupakan faktor penting untuk mengurangi kesenjangan antar komunitas. Dampak selanjutnya menghilangakan kecenderungan akan terjadi konflik komunitas karena ada distribusi kesejahteraan. Maka dimungkinkan Jawa pada jaman dulu tidak mengenal ‘peperangan’ sebelum hadirnya sistim kerajaan yang diadobsi dari Asia Daratan. Untuk itu bisa diselisik bunyi prasasti yang kebanyakan memberikan pembebasan upeti kepada suatu ‘shima’ (kabuyutan) dikarenakan telah berjasa kepada kerajaan. Diantara jasa tersebut, memberikan lahan untuk didirikan tempat peribadatan agama tertentu. Bolehkan itu kita terjemahkan sebagai ‘penjajahan budaya’?


Sekelumit tulisan saya tentang Falsafah Panunggalan kiranya bisa menggugah kita, para lajer Jawa, untuk menelisik ulang tentang sejarah peradaban yang ada di ranah Jawa. Rasanya masih banyak yang masih merupakan misteri dan tidak pernah ada yang tertarik untuk meneliti. Karena itu banyak hal-hal yang butuh ‘klarifikasi ilmiah’ yang inti pokoknya : “Benarkah Jawa itu bersejarah setelah menerima sebaran budaya dan peradaban India ?“

Wacana bahwa budaya dan peradaban Jawa ‘turunan’ India didasarkan pada penemuan prasasti yang tertua berbahasa Sanskerta dan beraksara Devanagari. Sementara prasasti berbahasa dan beraksara Jawa Kuna (Kawi) selalu dianggap lebih muda. Hal ini menarik untuk dikaji, mengingat adanya keganjilan-keganjilan sebagai berikut:

1. Penyebaran bahasa Sanskerta dan aksara Brahmic India mengarah ke Tenggara saja. Adakah penyebaran ke Barat (Persia, Yunani, Timur Tengah) dan ke Timur (China) ? Kalau tak ada jejak penyebaran ke arah Barat dan Timur, maka India bukan episentrum penyebaran budaya dan peradaban, tetapi sebagai penerima sebaran yang berepisentrum di wilayah lain. Wilayah itu pastilah suatu wilayah yang orang-orangnya mampu melanglang buana dengan kapal/perahu. Nusantara merupakan kemungkinan terbesar sebagai episentrum budaya dan peradaban umat manusia sedunia. Maka Bahasa Sanskerta dan aksara Brahmic yang sebenarnya mengadobsi dari bahasa dan aksara bangsa-bangsa bahari yang pasti lebih mampu melanglang buana tersebut.

2. Bahasa Jawa Kuna selalu dinyatakan sebagai ‘turunan’ bahasa Sanskerta, mungkinkah wacana itu dibalik ? Bahasa Sanskerta merupakan turunan dari bahasa Jawa Kuna yang ternyata pernah eksis di seluruh Asia Tenggara. Bahwa sejak jaman kuno, bangsa Nusantara adalah bangsa bahari yang pasti mampu melakukan penjelajahan samudra, sementara bangsa India tidak mampu melakukan itu.

3. Peninggalan bangunan-bangunan kuno di Jawa berupa candi-candi perlu diteliti ulang kemungkinannya merupakan bangunan peribadatan asli agama di Jawa bukan Hindu atau Budha dari India. Kasusnya bisa merujuk ke agama Hindu Bali yang ketika didaftarkan ke Kementerian Agama RI dengan nama ‘Agama Tirta’. Tetapi diputuskan dengan nama ‘Hindu Bali’, mengapa?
Demikian tulisan panggraita saya dan mohon kiranya untuk bisa dibawarasa dengan baik bagi yang berkenan. Semoga bermanfaat,Matur Nuwun. 

Penulis : Ki S Mandali ( Supranaturalist )
Don't Miss
© all rights reserved 2023
Created by Mas Binde